Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 45. Jabatan Suami atau Karir Istri


__ADS_3

#Gea.


Kejadian malam pertama semalam, benar-benar pengalaman mendebarkan sekaligus yah begitulah, akhirnya aku sudah melepas hal yang sangat aku jaga selama ini, kepada suamiku sendiri.


Kini aku tengah duduk di pinggir ranjang, menunggu Mas Ozan yang tengah mandi di kamar mandi, jam sudah menunjukkan pukul delapan, kami terlambat bangun sebenarnya karena kejadian semalam.


Dan setelah memasak sarapan, aku memilih menyetrika baju dinas Mas Ozan, karena dia akan ke balai desa untuk urusan sejenak.


"Dek," Mas Ozan membuka pintu kamar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Iya, Mas."


"Besok, kita pulang ke kota yah, harus melakukan akad ulang soalnya," jawab Mas Ozan mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


Aku berdiri dan menghampiri Mas Ozan, meraih handuk kecil itu dan membantu Mas Ozan mengeringkan rambutnya, kurasa ini adalah adegan romantis pagi ini.


"Ngapain akad ulang, kan malam pertamanya udah," bisikku yang membuat pipi Mas Ozan memerah.


Oke, menggoda Mas Ozan adalah bagian dari hal yang paling aku favoritkan sekarang, setelah mengeringkan rambut Mas Ozan, aku berjalan ke ranjang dan mengambil baju yang aku setrika tadi.


Mas Ozan tampak memakai pakaian dalamnya dan setelah selesai dia mengambil baju dinasnya dan memakainya.


"Makasih yah dek," ujar Mas Ozan yang tidak membuatku hilang fokus dari mengancing kemeja dinas berwarna coklat itu.


"Untuk?"


"Semuanya, Mas gak nyangka aja bisa dapat istri kayak kamu," jawab Mas Ozan.


"Aku juga bukan istri yang baik Mas, aku masih ada kurangnya," jawabku balik.


"Mas juga, masih banyak kurangnya dek, apalagi masa lalu-"


Aku mengangkat telunjuk dan menaruhnya dibibir Mas Ozan mengisyaratkan dirinya untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


Ku angkat kedua tanganku untuk menangkup pipi Mas Ozan kemudian menatapnya dalam. "Karena kita banyak kurangnya, maka dari itulah Allah membawa kita bersama untuk saling melengkapi, tidak usah bahas masa lalu Mas, cukup ingat yang sekarang, karena masa lalu itu untuk kita belajar lebih baik, sedangkan Masa depan Mas, ada didepan Mas sendiri."


Mas Ozan terdiam, mungkin dia speechless, kenapa aku tiba-tiba bersikap dewasa begini yah, aku rasa aku kerasukan penunggu rumah ini.

__ADS_1


"Udah rapi, yuk makan," Kuraih tangan Mas Ozan dan mengajaknya menuju meja makan yang ada di dapur.


Aku hari ini masak nasi goreng lagi, tapi nasi goreng ikan asin sih, sebenarnya terakhir aku masak nasi goreng ikan asin itu dua tahun lalu, karena tidak ada ikan asin, jadinya aku pake asinnya aja yah, garamnya aja dibanyakin, tapi kali ini gak kok.


Takut aja, nanti Mas Ozan pingsan karena keasinan, kami berdua tengah duduk di meja makan sebelum sebuah ketukan pintu memaksaku dan Mas Ozan untuk keluar sejenak.


"Gea! Lo gak balik?"


Aku mendelik, sosok pria dihadapanku sekarang ah, dia adalah Dito, dia adalah atasan dalam Agency notaris yang membawahi ku saat ini.


"Kak Dito, ngapain?"


"Jemput kamulah, kamu kan notaris terkenal, kamu gak cuma punya job klien, tapi juga job seminar, ngapain sih disini, desa gini," jawab kak Dito yang membuat Mas Ozan menunduk.


Aku tahu isi hati Mas Ozan, jadinya aku memilih tenang saja. "Gak bisa, kak."


"Lah kok, kenapa? Kamu betah banget disini, norak, tahu gak desa gini," Kak Dito benar-benar membuatku muak.


"Lebih norak kakak, orang kota baru masuk desa yah?" Aku mengajukan pernyataan menusuk.


"Gea! Ayok kamu banyak jadwal."


"Maksudnya?"


"Aku udah punya suami, aku punya anak, dan aku merasa gak etis aja harus mengejar karir sekarang, menjadi wanita karir ketika berumah tangga memang itu adalah impian, tapi situasi dan kondisi juga harus sesuai, aku punya suami dan kemana suamiku pergi begitupun aku juga, kalau suamiku nyuruh aku berhenti yah aku berhenti, buat apa aku kerja kalau suamiku gak ridho, melepas surga dari suamiku demi sebuah duniawi itu kayak, ah bodoh banget sih."


Kak Dito terdiam, aku gatau kenapa aku bisa berbicara begini.


"Kamu kuliah, terus karir kamu naik dan kamu malah milih tinggal di desa?"


"Asal sama suami aku, kemana aja aku mau, aku udah bilang aku keluar, ini bukan tentang karir atau apa yang sudah ku bangun, tapi tentang kewajiban dan apa sebenarnya strataku sebagai seorang istri," jawabku kembali.


"Gaji kamu lebih gede loh daripada dia," Lak Dito menunjuk Mas Ozan.


Itu Fakta sih.


"Seberapa banyakpun nominal, tidak akan bisa ditukar dengan ridho dan restu suami kak, surga seorang istri ada pada suaminya dan nominal tidak bisa menjamin surgaku, kakak balik aja, bilang aku keluar, dan aku mau stop dulu jadi notaris, kalaupun ada job tanpa aku kejar juga pasti ada, aku yakin rejeki istri ada pada rejeki suaminya."

__ADS_1


Kak Dito tampak kesal, dia memilih pergi begitu saja tanpa sepatah katapun, aku yang melihatnya hanya menghela napas, lagipula kenapa dia bisa sampai disini.


"Dek, apa gak sebaiknya kita ke kota saja, biar Mas yang melepaskan jabatan Mas," Mas menghampiriku.


Aku meraih tangan Mas Ozan dan menaruhnya di pipiku. "Mas dengerin aku, disini masih banyak yang butuh Mas, aku gapapa kok ngelepas karirku demi suamiku, bagi aku itu apalagi sih yang harus aku kejar, suami ada, anak ada, Mas bisa bimbing aku secara agama juga, tinggal banyakin pahala aja, aku sadar aku bukan istri yang baik, tapi sama Mas Ozan itu aku merasa bahwa aku bisa ngelakuin itu."


"Terlepas dari Mas Ozan itu brengsek, jadi jangan mikirin hal lain lagi, Allah itu baik, biar kerjaan yang ngejar aku, bukan aku yang ngejar kerjaan, lagipula aku naruh percayanya sama Allah, jadi yah aku yakin aja sama keputusanku," lanjutku.


Mas Ozan terdiam, dia menarikku ke dalam badannya sehingga membuat wajahku terbenam di dadanya yang bidang, sampai aku rasa dia mengecup puncak kepalaku.


"Makasih dek, Mas janji akan menjadi suami dan ayah yang baik, Mas janji itu," Mas Ozan mengecup keningku berkali-kali. "Mas gatau kamu bisa hidup tanpa Mas atau gak, tapi yang pasti Mas gak bisa hidup tanpa kamu, makanya Mas minta sama Allah nanti biar dipanggil duluan aja."


"Jangan ngomong gitu ih, kita bakal selalu bersama, biarpun maut yang memisahkan, tapi cinta yang didasari dengan cinta kepada Allah, akan berlanjut ke surga, kan Mas Ozan yang bilang itu."


Mas Ozan mencubit hidungku pelan kemudian kembali memelukku, rasanya aku benar-benar dibuat nyaman oleh suamiku ini.





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Pict Bonus






__ADS_1



__ADS_2