Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 29. Pukul Ozan, Bah!


__ADS_3

#Gea


"Dek Gea?"


Eh! Vall berteriak kalau itu suamiku, aku membalikkan badan dengan antusias dan astaga, bahuku melorot seketika, dasar Vall sialan.


Itu adalah Pak Ed, suaminya Enjel, Pak Ed berjalan ke arah kami semua dan duduk disamping Enjel, istrinya.


"Dek Gea, udah selesai mewakili mahasiswi saya?" tanya Pak Ed yang membuatku hilang mood seketika.


Aduh, bagaimana yah menjelaskannya, aku kan baru seminggu, sedangkan Vall disana ketawa puas karena berhasil membuatku mengira bahwa yang datang itu adalah Mas Ozan.


"Begini, Pak Ed, Gea mohon maaf banget yah Pak Ed, Gea kayaknya gak bisa ngelanjutin ini, Gea nyerah," ujarku jujur.


Iyalah! Nyerah! Bukannya ngerjain laporan anak kuliah sama balas dendam, eh malah nikah disana, dasar Gea! Kelakukanmu.


"Sebagai gantinya, Gea siap bayar uang kompensasi kok Pak Ed," lanjutku tidak enak hati. "Nanti Gea juga bakal bayar biaya kuliah mahasiswi yang Gea gantikan ini, karena Gea malah buat laporan dia jadi berantakan."


Horang kaya! FYI aja yah! Tabunganku banyak bund.


"Gak perlu, lagipula kamu baru seminggu dan masih banyak waktu buat Mahasiswi ini, nanti biar saya kasih keringanan buat dia," jawab Pak Ed dengan penuh kewibawaan.


Sama seperti Enjel dan Vall, aku berbicara menggunakan bahasa Indonesia formal seperti biasa juga kepada Pak Ed, karena pada dasarnya mereka bertiga bukanlah asli Sulawesi Selatan.


"Oh iya, Dek Gea, tadi ada laki-laki datang ke kampus tempat saya ngajar, nyariin kamu, kayaknya dari desa tempat kamu kerja lapangan ini."


Ucapan Pak Ed membuatku melongo, dan kalian tahu siapa tersangka utama didalam pikiranku sekarang, Mas Ozan.


Apa benar Mas Ozan menyusul kesini? Aku hanya berharap besok sewaktu wawancara seminar Mas Ozan sibuk dengan urusan kepala desa, karena mau tidak mau besok aku akan bertemu Bunda Dikta.


Mertuaku, sendiri.


Malam Jumat kelabu, rasanya, aku menatap wajah Pak Ed dalam yang membuat dia balik menatapku.


"Tolong yah Pak Ed, jangan kasih tahu alamat atau info tentang aku sedikitpun sama dia," pintaku dengan sedikit memohon.


Pak Ed meraih gagang kacamatanya kemudian mengedarkan pandangan menusuk kepadaku.


"Kenapa?"


"Ada sesuatu, yang gak bisa aku jelasin sekarang, Pak."

__ADS_1


Pak Ed mengangguk paham, mungkin dia mengerti bahwa aku sekarang tengah menyinggung perihal privasi atas alasanku meminta hal barusan.


"Saya juga tidak langsung kasih info, tapi tampaknya dia benar-benar pengen ketemu kamu," jelas Pak Ed yang membuatku bernapas lega.


"Apapun itu, aku minta banget sama Pak Ed, jangan kasih tahu apapun tentang aku," jawabku yang membuat Pak Ed mengangkat jempolnya.


Astaga! Beban pikiran! Bisa gak sih kalian semua datangnya satu-satu jangan keroyokan begini.


Aku rasa hidupku tuh memang permainan semesta yang sejenis gunduh, is Painful.


Hahaha sad.


Demi apapun, aku tidak ingin ada jadwal bertemu dan Mas Ozan, dan jika ditanya bagaimana kelanjutan pernikahan kami, ya Allah ini sudah jelas jadi selanjutnya gimana, biarlah nanti aku mengurus ini.


Pak Ed dan Enjel kemudian pamit pulang dengan dalih alasan anak mereka, padahal seingatku mereka belum punya anak, alasan jenis apa itu.


Sementara Vall, dia sekarang sudah pergi kemana dan ENDINGNYA! Bakso ini aku yang bayar.


Bayangkan betapa laknatnya para sahabat kurang ajarku ini, sangat halal di tumbuk, dan jika ada piala citra nominasi paling halal disumpah aku rasa mereka akan menang.





Saya sudah sampai di kota Makassar, siang harinya menjelang sholat Azar, setelah beristirahat sebentar di daerah Maros tadi dan saya menyempatkan diri makan di sekitar daerah Mall Panakukang.


Karena perjalanan dari kabupaten Pangkep, sampai ke Maros saja itu cukup menguras tenaga, apalagi saya mengendarai motor.


Di sekitar Maros saya melewati sebuah Mall terbesar disana yang bernama Grand Mall, saya sebenarnya sangat ingin Gea dan Gibran untuk sekedar berjalan-jalan disana.


Sesampainya di kota, tujuan utama saya adalah universitas yang menjadi naungan Gea membuat alasan agar bisa melakukan praktek kerja palsu di desa.


Disana saya menemui salah satu dosen yang namanya ada dalam surat persetujuan yang diajukan ke saya dulu, dia adalah Pak Ted.


Dia mengatakan tidak tahu keberadaan Gea sekarang dimana, walaupun saya tahu dia menyimpan sejuta ekspresi lain di dalam dirinya.


Setelah puas mencari Gea, saya memilih melanjutkannya besok saja, karena sudah masuk Maghrib dan besok akan ada seminar siang dari Bunda saya.


Dan tujuan saya sekarang adalah Apartemen Greenheels tempat Bunda, Babah dan Kakak saya menginap selama di Makassar, sebenarnya ketiganya sudah sampai di Makassar sejak kemarin itu.

__ADS_1


Dan malam ini juga saya akan jujur kepada Bunda dan Babah tentang rahasia yang selama ini saya sembunyikan.


Saya mengendarai motor saya melewati jalanan, menuju apartemen Greenheels, melewati jalan raya di pinggir pantai Losari dimana disana baru saja dilaunching sebuah masjid sembilan puluh sembilan kubah yang akan menjadi list dalam destinasi saya selanjutnya bersama keluarga kecil saya dan Gea nanti.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke tujuan saya, saya melepas helm dan masuk menuju unit apartemen Bunda dan Babah, sesampainya saya langsung disambut dengan pelukan pelepas rindu oleh Babah dan Bunda serta kak Akta.


Karena memang sudah lima tahun kami tidak bertemu, Bunda dan Babah beberapa kali mencium pipi saya yang membuat saya semakin merasa bersalah.


"Ozan, bagaimana kuliah kamu nak?" tanya Babah yang membuat saya terdiam.


Saya melepas helm dari tangan saya kemudian bersujud di kaki Bunda dan Babah, saya sangat menyesali semuanya.


"Ozan, sebenarnya tidak kuliah Bund, Bah, Ozan adalah pendosa dan pria yang tidak bertanggung jawab," Saya benar-benar menangis.


Sedangkan Bunda dan Babah hanya terkejut atas reaksi saya.


"Maksudnya, Nak?"


Saya bangkit dan kembali berdiri dengan air mata saya menatap kedua orang tua saya yang sudah menanamkan modal agama kepada saya.


"Lima tahun lalu, Ozan menghamili kekasih Ozan dan enggan bertanggung jawab, Ozan malah kabur dan berakhir menjadi kepala desa disebuah desa tanpa menyelesaikan kuliah Ozan, dan sekarang istri Ozan sudah pergi karena ternyata dia adalah adik dari wanita yang Ozan hamili dulu, Ozan pendosa Bah! Ozan pria yang tidak bertanggung jawab!" Saya berjalan ke sudut ruangan mengambil gagang sapu disana dan menyerahkannya kepada Babah.


"Dari kecil, Babah tidak pernah marah dan main tangan, tapi sekarang, pukul Ozan Bah, pukul Ozan, Ozan bukanlah anak yang berbakti," Saya kembali bersujud dihadapan kedua orang tua saya.


Bersiap jikalau Babah Adam akan memukul atau mencoret saya sebagai anaknya, tapi rupanya Babah Adam mengangkat bahu saya yang membuat saya kembali berdiri.


"Babah selalu bilang kan, ketika kamu memilih mandiri, apapun keputusan kamu, itu adalah hak kamu, dan Babah tidak berhak mengurusi, Babah tidak peduli nak, terlepas dari dosa besar yang kamu lakukan, kamu tetaplah anak Babah, Babah dan Bunda akan selalu bersama kamu," Babah Adam memelukku begitupun dengan Bunda.


Rasanya damai.


Ketika kejujuran itu dilandasi dengan sebuah stigma dukungan dari banyak aspek.





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like

__ADS_1


Visual Novel ada di Instagram @itscrazyridz


__ADS_2