Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 31. Gibran, Benci Papa?


__ADS_3

#Ozan


Rasanya bertemu dengan Gibran adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidup saya pribadi, bahkan setelah mengetahui bahwa Gibran adalah anak kandung saya


Setelah bertemu Gibran, saya mengajaknya untuk membeli es krim di sebuah stand yang ada disana, Gibran tampak senang, entah karena bertemu dengan saya atau ada hal lain


Terkadang pemikiran anak umur empat tahun ini benar-benar membuat saya speechless secara pribadi, darimana segala pemikiran hebat itu kalau bukan dari didikan keluarga Gea dan Ratna.


Sejenak terbersit rasa penyesalan dikala mengingat semua masa lalu saya.


Setelah membeli es krim saya memilih duduk di sebuah bangku dipinggir jalan, tepat di halaman gedung seminar Gea bersama dengan Gibran.


"Bran, Papa mau nanya, kalau semisal Gibran ketemu sama Papa kandung Gibran, Gibran bakal benci gak?"


Saya sudah terlalu gemas untuk menanyakan hal ini, Gibran menatap saya sejenak kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kata Mama, Papa sudah gak ada, Papa jahat udah pergi ninggalin Gibran sama Mama," jawab Gibran memakan es krimnya.


Gak Nak! Papa masih disini! Papa ada didekat kamu sekarang, Papa gak bakal ninggalin kamu lagi.


"Tapi Gibran gak pernah benci sama Papa, kata Kakek gak ada yang namanya mantan Papa, jadi Gibran bahagia-bahagia aja kok, kalau nanti Papa kandung Gibran datang Gibran gak bakal benci, tapi kalau Gibran disuruh milih, Gibran bakal pilih Papa Ozan," jelas Gibran memeluk saya erat. "Papa Ozan itu Papa terbaik yang pernah ada, Gibran bahagia bisa ketemu Papa Ozan."


Saya terhenyak, rasanya air mata ini keluar dan meluncur begitu saja, tapi tertahan disaat saya memilih mengusap wajah Gibran, setelahnya saya memilih menyugar rambut seolah ini adalah dosa terbesar yang pernah saya lakukan.

__ADS_1


"Tapi kan Papa kandung kamu, udah bikin Mama menderita, udah bikin kamu kesepian, di ejek temen kamu."


"Itu bukan salah Papa kandung Gibran, itu udah ketentuan Allah, waktu Gibran sholat sama nenek dan kakek, Kakek selalu cerita, apapun yang terjadi jangan pernah menyalahi takdir Allah, karena semuanya sudah di catat jauh sebelum kita di ciptakan, jadi Gibran gak ada alasan buat benci gitu aja," Gibran tersenyum manis.


Orang tua Gea benar-benar adalah seorang yang sangat dirindukan surga, lihat saja bagaimana dia mendidik anak seusia Gibran menjadi pribadi yang baik dan selalu menjunjung tinggi kuadrat dan agamanya.


Saya yakin, ketika Gibran besar nanti, dia akan menjadi sesuatu, dia akan menjadi orang hebat dengan segala kemampuannya dan saya percaya akan hal itu.


"Papa Ozan, kok nanya itu?"


"Gapapa, Nak."


"Papa Ozan jangan khawatir, apapun yang terjadi aku bakal tetap sama Papa Ozan," jawab Gibran yang membuatku terdiam.


"Gibran, bakal tetap pilih Papa Ozan," jawab Gibran santai.


"Kenapa?"


"Karena Mama gak mungkin, ngelarang Gibran sama Papa Ozan, Mama Gea itu emang nyebelin tapi Mama Gea gak pernah egois, dia suka sama Papa Ozan, Mama Gea selalu cerita kalau Papa Ozan itu baik."


Benarkah?


"Kalaupun Gibran disuruh milih, Gibran gak akan milih siapa-siapa, karena Gibran milik Papa dan Mama, pada dasarnya Gibran hanya bisa ikut mau ke Mama atau ke Papa tapi tujuan awal Gibran kan ingin Papa dan Mama bahagia, Gibran capek Pa, Mama Gea juga kasian, Gibran masih kecil gak bisa ngejaga Mama Gea, Gibran berharap Papa Ozan akan selalu ada, buat jagain Mama Gea, setidaknya demi Gibran."

__ADS_1


Saya masih tidak bisa berpikir, apakah semua kalimat itu diucapkan oleh anak berusia empat tahun, logikanya tidak akan mungkin, tetapi Gibran berbeda, dia adalah anak yang didewasakan oleh keadaan, sehingga ia memiliki pemikiran yang tidak sesuai umurnya, dan hebatnya semua pemikiran itu selalu benar.


"Papa, bahagia, sama Gibran dan Mama Gea?"


Kini Gibran yang balik bertanya kepada saya, saya mengangguk yang membuat Gibran menyodorkan es krim miliknya kepada saya, saya memakannya sedikit, Gibran berdiri kemudian mencium pipi saya.


"Makasih Papa, Papa tahu Gibran pernah dengar ini dari salah satu seminar Mama Gea, Bahagia itu gak dicari tapi harus kita yang sadari."


Dan itu sangat benar!


Kami menghentikan momen berdua ini disaat Kak Akta datang mengabarkan, inilah saatnya saya bertemu dengan Gea.





Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Update lagi gak? Kalau komennya banyak, hari ini update lagi hehehe~

__ADS_1


__ADS_2