
PoV Mas Ozan:
Saya tidak tahu kenapa bayangan tentang Ratna kembali hadir, rasanya begitu menekan, ditambah lagi pernikahan saya dengan Gea, saya sedikit merasa mengkhianati Ratna yang dahulu meminta untuk saya nikahi.
Sebenarnya saya dalam perjalanan menuju rumah, setelah menyelesaikan beberapa tugas di kantor desa, saya harus kembali ke rumah untuk menyusun laporan yang akan saya kumpulkan Sabtu ini, agar saya masih bisa terus mendapat rekomendasi sebagai kepala desa.
Kalau sampai ini tidak berhasil, maka kepala desa akan kembali melalui pemungutan suara, saya paham betul, banyak sekali kandidat kepala desa yang ingin menggantikan saya, dan jika sampai terjadi pemilihan ulang, saya tidak seberapa begitu yakin kalau saya akan terpilih sebagai kepala desa kembali.
Saya mengendarai motor sebenarnya dengan kecepatan pelan, dengan Gibran yang berada didepan saya, tapi entah kenapa melihat wajah Gibran dari spion, saya seperti melihat sosok Ratna, seketika semuanya gelap dan saya sadar bahwa motor oleng.
Dengan prioritas utama adalah Gibran, saya memilih memeluk Gibran erat, berusaha melindunginya dari benturan di tanah, yang alhasil membuat tangan saya harus tergores bebatuan yang membuatnya berakhir seperti ini.
Tidak ada luka berarti, tapi kejadian ini membuat saya sedikit syok sampai kehilangan kemampuan untuk berjalan dalam sejenak, rasanya saya lemas sekali, sampai beberapa warga menghampiri saya.
Lantas saya langsung mencari Gibran karena dia prioritas saya saat ini. "Bran!"
"Papa, Papa gapapa?" Saya berbalik ke arah sumber suara tersebut yang masih ada di dekapan saya.
Gibran ternyata masih saya dekap erat. "Kamu gapapa nak, ada yang luka?"
Gibran menggeleng, saya kira Gibran akan sedikit trauma dan membenci saya, tapi rupanya dia sangat kuat.
"Gapapa sayang, Papa khawatir banget kamu kenapa-napa."
Saya berdiri pelan, dibantu oleh beberapa warga tadi, tapi untuk sekarang rasanya saya tidak bisa berjalan, beberapa warga mulai memapah.
Saya tidak akan membayangkan jika Gibran kenapa-napa, pasti saya akan diamuk habis-habisan oleh Gea, nantinya.
Salah satu warga menggendong Gibran dan membawa kami pulang, karena jarak sudah dekat, sementara motor saya memilih meninggalkannya disana, begitulah cerita bagaimana saya bisa berakhir dikamar sekarang.
Dengan luka ditangan, saya sendiri tidak menyangka kalau Gea akan sekhawatir itu, bahkan dia kesal karena saya tidak jujur, dan atas berbagai pertimbangan, saya memilih jujur kepada Gea.
Mau bagaimanapun dia harus tahu masa lalu pria yang dia nikahi dan saya tidak ingin ada kebohongan diantara kami.
Kring!
Setelah kepergian Gea, saya merasakan sesuatu bergetar dari saku celana saya, itu adalah suara dering ponsel milik saya sendiri.
Sebenarnya di desa ini sinyal operator masih bisa di jangkau, bahkan internet juga walaupun nanti ponsel akan menjadi panas karena bekerja keras mencari sinyal disini.
"Kak Akta?"
__ADS_1
Kak Akta adalah kakak saya, walaupun kami beda ayah, tapi Babah selalu mengajarkan untuk tidak melihat perbedaan diantara kami, jarak usia yang hanya beberapa bulan, kerap membuat kami disamakan dari segi wajah.
Walaupun dengan ayah biologis berbeda, hanya kak Akta yang tahu saya disini, Babah dan Bunda tidak pernah tahu dimana saya sekarang, saya hanya selalu memberi kabar kepada mereka.
"Assalamualaikum, kak?"
Saya mengangkat telepon tersebut, membuat suara hembusan napas terengah-engah darisana terdengar, ada apa sebenarnya.
"Kak?"
"Zan! Babah Adam sama Bunda Dikta lagi packing, mereka bilang bakal ke Makassar, Bunda akan seminar disana, dan sekalian ketemu kamu, kamu bisa kan?"
Mendengar penjelasan itu menbuat saya terdiam sejenak, bagaimana ini, apa yang harus saya katakan nanti, haruskah saya jujur kepada kedua orang tua saya, kalau anak yang dia banggakan tidaklah seperti itu.
"Pesawat berangkat jam berapa kak?"
"Pesawat Bunda dan Babah dari Semarang berangkat jam delapan malam nanti, kakak juga ikut kok, nanti pas sampai sana, kami share desa tempat kami tinggal nanti kakak bakal kesana, urusan Bunda sama Babah biar jadi urusan kakak," jelas Kak Akta yang membuatku sedikit bernapas lega.
"Bukannya kakak kerja?"
"Cuti!"
"Yaudah kalau gitu, nanti kabarin Ozan aja yah," ujarku yang membuat kakak mengiyakan. "Assalamualaikum."
Sambungan telepon kami terputus, saya terdiam sejenak, Bunda Dikta memang sedari dulu merupakan motivator pernikahan, saya tidak akan menyangka kalau Bunda akan datang mengisi motivasi disini.
Sedangkan Kak Akta, dia merupakan seorang kepala Divisi di salah satu perusahaan di Semarang, sembari memikirkan ini saya melirik jam ditangan saya, sudah siang, saya memilih membawa Gibran keluar ke teras rumah.
POV Gea
Aku masih berada di kamar mandi, berusaha menetralkan pikiranku, setelah semua cerita Mas Ozan.
WHAT THE HELL! Kenapa aku jadi labil begini, harusnya aku tidak usah berubah arah pikiranku, karena tujuan balas dendamku adalah Mas Ozan.
Disaat seperti ini, tiba-tiba saja ponselku berdering, aku mengambilnya dan mengangkatnya itu dari Enjel.
Astaga!
Kenapa dia menelepon disaat seperti ini, rasanya malas berbicara namun aku takut ini adalah sesuatu yang penting.
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Gea? Tumben kamu salam, biasanya gak," jawab Enjel diseberang sana.
Kan, baru saja dia sudah mengajak aku untik berantem, ah maki gak yah!
"Ada apa Njel!"
"Hari Jumat kamu harus ke kota, kamu kan salah satu motivator dari bagian Notaris sama tamu yang dari Semarang," jelas Enjel yang membuatku reflek menatap tanggal dilayar ponselku dan itu lusa.
"Tapi, kenapa tiba-tiba?"
"Tiba-tiba apanya? Kan ini sudah direncanakan dari bulan lalu, kamunya aja yang langsung pergi ke desa, gabisa dibatalin Gea, kasian udah jauh dari Semarang," jawab Enjel yang membuatku mengingat semuanya.
"Oke, nanti aku coba minta izin sama Mas Ozan, mau bagaimanapun dia suami aku," jawabku. "Kirim aja filenya ke email ku."
"Oke!"
Sambungan telepon kami terlepas, aku segera keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamar mengambil laptopku, tidak ada Mas Ozan, aku segera membuka email yang memperlihatkan data partner motivator ku nanti.
Seorang Wanita karir yang sudah cukup tua, dia adalah Dikta Nadira yang kerap dipanggil Bunda oleh para peminat motivator beliau.
Seketika dekstop laptopku menampilkan foto beliau, yang tanpa aku sadari Mas Ozan sudah ada di sampingku yang entah sedari kapan.
"Kamu kenal?" tanya Mas Ozan.
WADUH! AYO GEA CARI ALASAN! KALAU BISA NGADI-NGADI AJA DULU!
"Hm, iya Mas, aku ngefans sama. Beliau." jawabku berbohong.
"Itu mertua kamu."
"Maksudnya?" Aku menatap Mas Ozan sejenak.
Mas Ozan tersenyum kemudian mengusap rambutku. "Sudah waktunya, saya mengenalkan kamu ke orang tua saya dek, kebetulan orang tua saya akan datang kesini, karena Bunda saya akan menggelar seminar disini, kalau kamu mau kita bisa ketemu mereka."
"Maksudnya, Bunda Dikta ini, Ibu Mas Ozan?"
"Iya, dan hari Jumat nanti kita pergi ke kota yah, sekalian ketemu sama orang tua kamu juga."
MATI AKU!
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like