Rahasia Istri Pak Kades

Rahasia Istri Pak Kades
BAB 19. Terhukum Penyesalan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, aku masih berkutat dengan laptop di hadapanku, rasanya mengantuk tapi masih ada dua halaman sebelum aku melakukan finishing.


Aku melirik ke arah ranjang, terdengar dengkuran halus dari Mas Ozan yang sudah sedari tadi tertidur, kenapa wajahnya begitu damai.


Aku berdiri dan berjalan ke arah ranjang, dan melihat dia sedang tertidur dengan damainya, sembari memeluk Gibran, benar-benar like Father like Son.


Aku memilih keluar dari kamar dan meninggalkan laptop di kamar menuju ruang tamu, menenangkan pikiranku sejenak.


"Ya Allah, kenapa sholat berjamaah dengan Kak Ozan benar-benar rasanya aku, menghadap dengan kondisi yang sangat kotor?"


Aku meraih ponselku, sudahi dulu pemikiran balas dendam ini, aku tidak melupakannya tapi aku harus menepisnya sesaat karena aku harus mengerjakan beberapa hal, walaupun tujuan utamaku adalah balas dendam.


Aku membuka aplikasi WhatsApp dan merasa senang karena sahabatku selain Enjel sedang online, dia adalah Vall.


Vall ini adalah seorang wanita paling open minded yang pernah aku temui, penampilannya bar-bar bahkan jauh dari kata sopan, tapi dia adalah wanita yang paling dekat dengan Allah diantara circle pertemanan kami.


'Vall, online?'


Aku mengetik pesan kepada Vall yang tak lama kemudian berubah jadi centang biru yang beralih menjadi status typing.


'Habis sepertiga malam'


Pesan dari Vall masuk, kan benar, dia tidak pernah meninggalkan kewajiban walaupun kondisinya dia adalah perempuan paling bar-bar diantara aku dan Enjel yang bisa dilihat kalem.


'Aku bingung' Aku mengetik pesan dan mengirimnya.


'Ada apa, tentang balas dendam ke Ozan itu'


'Kamu tahu?'


'Enjel, yang cerita'

__ADS_1


'Hm, aku bingung'


'Paham, kamu pasti dilema, balas dendam memang tidak mudah Gea, tapi cobalah berdamai dengan keadaan, dendam tidak ada yang baik'


'Tapi dia menghancurkan hidup kakakku'


'Halah, itu mah kamu cari pembenaran, emang kakak mau kamu jadi pendendam?'


Mak jleb, dia selalu bisa mengskakmatku bagaimanapun kondisiku dan perlawanan ku, dia benar-benar open minded.


'Balas dendam yang paling indah itu adalah berubah menjadi lebih baik'


'Aku tahu'


Yah, kalimat ini terlalu pasaran sebenarnya, BALAS DENDAM YANG PALING INDAH ADALAH BERUBAH LEBIH BAIK.


'Begini saja, kalau kau benar ingin balas dendam, memang tidak mudah melupakan, coba saja, kalau kamu gagal berarti Allah masih sayang sama kamu, karena Allah tidak mau kamu jadi pendendam'


'Oke!'


Aku mengakhiri chat kami, dan menaruh ponselku di atas meja ruang tamu, entah kenapa kalian tahu, Mas Ozan seolah adalah penawar dosaku yang selama sangat jauh dari Allah.


Disaat aku tengah berdebat dengan batinku, aku mendengar suara Mas Ozan yang tampak melenguh, aneh sedang apa dia, aku berjalan masuk ke dalam kamar.


"Mas?"


Aku mendapati seorang Pak Kades itu duduk di ranjang dengan keadaan keringat dingin, aku menghampirinya dan berusaha bertanya.


Eh?


Kenapa?

__ADS_1


Dia menangis?


Mas Ozan seperti orang depresi aku rasa, dia tampak frustrasi mungkin sedang mengalami mimpi buruk.


"Mas Ozan kenapa? Kok nangis?"


Mas Ozan menunduk dan tidak ingin menjawab, dia langsung memelukku seolah anak yang takut kehilangan ibunya.


"Dek, saya seorang pendosa dek! Bayangan itu selalu menuntut tanggung jawab, saya seorang pendosa!"


Dia?


Jadi selama ini?


Mas Ozan selalu dibayang-bayangi rasa penyesalan yang tak tertuntaskan.


Aku harus apa sekarang, dan aku juga bingung harus bereaksi apa.





TBC


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Jangan Lupa Komen

__ADS_1


__ADS_2