
Astaga!
Gea!
Apa yang kau lakukan, kini Mas Ozan sudah ada di belakangku dengan memberikan tatapan penuh tanda tanya, sedangkan jariku, aku tidak sengaja menekan tombol delete disana.
"Gea!"
Suara Mas Ozan meninggi, dia mengambil laptopnya dan menatap isinya, dia awalnya terdiam sebelum ekspresi wajahnya berubah drastis.
"Kamu ngapain ini?" tanya Mas Ozan yang membuatku menunduk.
Sekarang harus ku jawab apa? Harus bagaimana, aku terdiam sesaat, Mas Ozan mengusap wajahnya dan menyugar rambutnya dengan ekspresi kekecewaan.
"Saya tanya, kamu ngapain Gea!"
Bentakan itu membuatku terdiam, Mas Ozan baru kali ini membentak, biasanya dia selalu berbicara lembut padaku tapi kali ini auranya berbeda.
"Kamu tahu kan, saya ngerjain ini seharian, demi kelangsungan jabatan saya, dan kamu malah menghapusnya, maksud kamu apa?" tanya Mas Ozan kembali.
Ayo Gea! Katakan! Katakan bahwa kamu memiliki dendam kepada kepala desa ini, kamu memiliki rasa sakit hati yang belum tertuntaskan, ayo Gea! Katakan!
"M-Maaf, Mas."
Astaga Gea! Kenapa malah kalimat itu yang terucap, harusnya kamu jawab, bahwa kamu melakukan ini karena kamu sakit hati padanya.
"Sudah Gea, saya tidak tahu alasan kamu apa, lebih baik kamu tidur sekarang, saya harus mengerjakan ini, saya kecewa dengan kamu Gea," Mas Ozan berjalan keluar dari dalam kamar meninggalkanku di kamar sendiri bersama Gibran.
Dia pikir dia siapa, tapi dipikir-pikir, dia sudah membuatku keluh begini, ada magnet dengan kekuatan apa orang ini, benar-benar material husband, kukira dia akan memakiku, tapi dia masih berusaha sabar sekarang.
Apakah dendamku terbalaskan, memang iya tapi ada sesuatu yang mengganjal dan aku tidak tahu perasaan apa itu, aku berjalan ke arah Gibran dan menatapnya sejenak.
Lebih baik aku pergi saja.
Aku mengambil beberapa baju ku di lemari yang sudah ku susun kemarin dan memasukkannya ke dalam koper, beserta laptop dan beberapa proposalku.
Sesampainya di kota nanti, aku akan menjelaskan kepada Enjel bahwa aku menyerah, sepertinya aku mencintai Mas Ozan, sehingga rasa cintaku lebih besar dari benciku, aku akan memberikan uang kepada mahasiswi yang ku gantikan, karena aku tidak beres mengerjakan tugas mereka.
"Gibran, sebenarnya, kamu sudah ketemu sama Papa kamu sayang, tapi maafin Mama yah, Mama belum bisa jujur sekarang," bisikku kepada Gibran yang masih tertidur.
__ADS_1
Aku meraih ponselku, mengetik nomor Enjel disana, jarak desa dan jalan raya disini sangat jauh, sekitar setengah jam, aku tidak mungkin berjalan keluar, aku menelepon Enjel dan memintanya menelepon seseorang untuk menjemputku didesa jam dua malam nanti, aku akan pergi malam ini juga.
Sebelum pergi, aku meraih kembali laptopku, memasukkan sebuah flashdisk yang sebenarnya berisi data laporan Mas Ozan, kalian tahu, aku tidak sepenuhnya jahat disini, sembari menunggu jemputan ku, aku akan menyelesaikan tugas Mas Ozan.
Untuk laporan seperti ini tidak perlu waktu lama bagiku, karena memang sisa laporannya hanya bagian finishing saja, dan setelah selesai aku menaruh laptop dan membuka flashdisknya.
Jam masih menunjukkan pukul sepuluh dan aku harus segera tertidur atau berpura-pura tidur saja mungkin, aku tahu pasti Mas Ozan sedang kesal sekarang.
Disaat aku tidur sembari memeluk Gibran, aku mendengar sebuah langkah kaki masuk, aku tahu itu langkah kaki Mas Ozan, sebuah tangan mengusap kepalaku dan aku merasakan sesuatu mengecup keningku.
"Maaf sayang, Mas gak berniat ngebentak kamu, Mas cuma agak kesal, mau bagaimanapun kamu istri Mas, dan tugas begini saja masih bisa diselesaikan, kamu lebih penting kan seharusnya," gumam Mas Ozan.
Ah! Rasanya pengen nangis, rasanya hati ini gak kuat, karena ucapan Mas Ozan begitu tulus bagiku, tapi keputusanku sudah bulat aku akan tetap pergi malam ini.
•
•
•
Aku terbangun jam setengah dua, ku lihat ke samping Mas Ozan sudah tidur, sementara itu aku segera meraih ponselku dan mengecek pesan dari orang yang menjemputku, dia sudah ada didepan rumah.
Aku menggendong Gibran dengan keadaan Gibran tertidur, menarik tasku keluar dari rumah, sekilas aku menatap Mas Ozan, apa benar aku sudah cinta tapi kenapa harus begini, dendam dan cinta itu sudah dibedakan.
Asal kalian tahu, itu adalah dua hal yang berbeda yang aku takut rasa dendam, menghancurkan perasaanku dengan dalih rasa cinta.
"Maaf, Mas."
Aku berjalan keluar dari kamar, membuka pintu rumah, dan benar saja, motor jemputanku sudah datang, setelah sampai pada jalan raya, Enjel sudah ada disana dengan mobilnya jadi aku punya waktu cepat kembali ke kota.
Dan besok hari Jumat, aku hanya berdoa semoga aku tidak bertemu Mas Ozan, aku tahu aku masih istrinya, tapi biarlah aku memikirkan cara lain untuk meluruskan ini semua, dan itu bukan sekarang.
•
•
•
#Ozan:
__ADS_1
Saya masih sedikit kesal dengan Gea, entah apa niat dan tujuannya menghapus semua data-data saya tanpa tersisa, padahal ini akan dikumpulkan hari Sabtu, dan off day saya sisa Kamis karena Jumat saya harus menemui orang tua saya di kota.
Rasanya kesal sekali, jadilah saya memilih keluar dari kamar membawa laptop dan menenangkan diri, setelah saya pikir-pikir tidak seharusnya saya membentak Gea, mungkin dia punya alasan lain, tapi saya sudah emosi duluan, jadi setelah sedikit tenang, saya memilih masuk ke dalam kamar dan menemukan Gea sudah tertidur, melihat itu saya memilih mengecup keningnya, ini adalah aktifitas yang paling saya sukai sebenarnya.
Setelahnya, saya memilih tidur disamping Gea, saya pasrah, setidaknya saya tidak kehilangan istri saya jika nanti saya kehilangan jabatan ini.
•
•
•
Saya terbangun di pagi hari, tapi ada yang berbeda, tidak ada Gibran maupun Gea disini, entah dimana dia, saya berjalan keluar dari kamar dan tidak menemukannya juga bahkan Tas Gea tidak ada, karena curiga, saya mengecek lemari dan benar saja, baju Gea dan Gibran sudah tidak ada.
Apakah Gea marah?
Saya melirik nakas dan menemukan sebuah surat yang berisi seperti ini
Mas, ini Gea, maafin Gea yah, Gea sebenarnya tidak mau begini, tapi sepertinya dendam menguasai hati Gea.
Sebenarnya Gea benci banget sama Mas Ozan, karena dulu Mas Ozan tidak mau bertanggung jawab, akhirnya Kak Ratna meninggal, iya Kak Ratna itu kakaknya Gea.
Dan Gibran adalah anak kak Ratna dan Mas Ozan, Gea sebenarnya bukan Mahasiswi, tujuan Gea kesini hanya untuk balas dendam, tapi entah kenapa malah menjadi istri Mas Ozan.
Ini ada Flashdisk, laporan Mas sudah Gea selesaikan semua, dan Gea pamit, Gea ingin kembali ke kota meninggalkan semua ini.
Terimakasih, Mas.
Membaca surat itu, membuat saya terhenyak, jadi selama ini?
•
•
•
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1