
Ren sebenarnya masih malas untuk bangun pagi hari ini, toh hari ini juga hari libur, pikir nya, tapi mimpi aneh mengacaukan segalanya, dan bukan hanya sekali dua kali saja, mimpi yang Ren rasa seperti potongan cerita, tapi sulit untuk dipahami, apa arti dari mimpinya tersebut.
"Mimpi buruk lagi non?" tanya bi Nina, pengasuh Ren, dari sejak dia bayi, dan bagi Ren bi Nina sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, dan jika dibandingkan dengan ibu kandungnya, Ren justru merasa lebih dekat dengan pengasuhnya tersebut.
"Ia bi, aneh banget, seperti potongan cerita, tapi Ren bingung cara menceritakannya, aneh lah pokoknya" ujar Ren, sembari beranjak dari tempat tidurnya.
"Non tidurnya lupa doa barangkali" ujar si bibi sembari membuka gorden kamar Ren.
"Doa dong bi, tapi tetap saja mimpinya aneh"
"Makanya non jangan banyak begadang, dokter bilang, non insomnia, jadi bisa jadi mimpi aneh itu dampak dari insomnia yang non alami selama ini, sekarang lebih baik, non cuci muka dulu, sarapan sudah saya siapkan di meja"
"Mama sama papa belum pulang bi?"
"Masih Minggu depan non, masih ada kerjaan, tadi nyonya ada telpon"
"Bi, kalau punya kakak atau adik enak kali ya? Nggak kesepian seperti saya sekarang"
"Kan ada bibi non"
"Bosan sama bibi melulu, ceritanya sama, ibarat lagu lama, kaset baru" ucap Ren asal, dan sebenarnya tujuannya untuk mengerjai pengasuhnya tersebut.
"Itu artinya, lagunya masih banyak yang suka non, makanya diproduksi lagi" jawab si bibi sembari tersenyum.
Ren, terdiam mendengar jawaban si bibi, yang ternyata justru membuat Ren mati kutu.
"Pesan Nyonya, sebelum pulih benar, non tidak boleh keluyuran dulu, sampai dokter bilang oke, baru non boleh keluyuran lagi"
"Bi, rasanya rutin berkunjung ke psikiater, membuat saya merasa seperti orang aneh, apa separah itu, sampai harus ke psikiater?" tanya Ren sembari mengoles roti tawarnya dengan selai.
"Itu semua karena insomnia yang non alami, lagian kenapa juga laki-laki seperti Hari masih terus dipikirin, laki-laki di dunia ini, bukan cuma dia seorang non" ujar bi Nina.
"Bi, saya nggak sedang mikirin Hari, dan soal insomnia, saya juga nggak tahu, kenapa saya baru bisa tidur setiap jam 3 malam, sekalipun minum obat tidur, tetap saja nggak mempan"
"Terus non mikirin apa dong, pangeran berkuda yang tidak kunjung datang gitu"
__ADS_1
"Ah bibi bisa saja, yang selalu ada di mimpi saya itu, seorang gadis muda menangisi seorang pemuda yang berjalan meninggalkannya, dan berjalan terus, tanpa berbalik, meskipun gadis tersebut memanggilnya, samar-samar seperti itu mimpi yang akhir-akhir ini saya alami bi, dan mimpi itu ada, setelah pengobatan ke psikiater tempo hari"
"Bunga tidur mungkin non, dihabiskan makanannya non, cari uang susah, buktinya, nyonya sama tuan, harus meninggalkan non, meskipun non belum pulih benar, itu karena apa coba, cari uang"
"Apa ia, uang sebegitu pentingnya buat mama dan papa ya bi"
"Kalau tuan dan nyonya nggak kerja, yang bayar listrik sama ledeng rumah ini siapa dong non, itulah kenapa saya bilang sama anak saya Hani, buat rumah sederhana saja, biar nggak nyusahin diri sendiri, rumah mewah, siapa sih yang nggak mau punya, tapi kalau justru menjerat pemiliknya, ya lebih baik, rumah sederhana" ujar si bibi.
"Benar juga sih, apa yang bibi bilang, kalau rumah sederhana, tentunya mama dan papa pasti lebih banyak waktu di rumah, dan kenapa juga, punya anak tunggal, tapi bikin rumah sebesar bioskop, sudah pasti tagihan listrik bengkak, setiap bulannya"
"Semua sebenarnya terserah dari yang punya rumah sih non, yang jelas resiko tanggung sendiri" ujar si bibi.
"Bi, kok kita jadi ngobrolin soal ledeng sama listrik ya?"
"Anggap saja intermezo non, lebih baik, non jalan-jalan sebentar di taman depan, dokter bilang, matahari pagi bagus untuk suasana hati"
"Itu saran dokter apa saran bibi" ujar Ren yang disertai tawa bi Nina.
"Kali saja ada pangeran tampan yang juga sedang jalan-jalan cari udara segar, sambil menikmati matahari pagi"
"Ah bibi bisa saja" ujar Ren, sembari beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti saran si bibi.
Sudah lama, rasanya Ren, tidak jalan santai, karena kendalanya, jam tidur dan bangunnya sudah mirip kalong.
Saat semakin jauh mengitari taman, entah kenapa Ren merasa tempat dia saat ini, sama persis seperti yang ada dalam mimpinya.
Seorang gadis yang menangisi kepergian seorang pemuda yang seakan tidak peduli akan rintihan kesedihannya.
"Sungguh menyedihkan, kisah cinta kalian, yang tragis itu, mengganggu tidurku, siapa sebenarnya kalian, kalau hanya bunga tidur, kenapa selalu terulang" ujar Ren sembari duduk disebuah bangku kayu panjang yang dibelakangnya, terdapat pohon besar sebagai pelindung, agar tidak panas.
"Sendirian saja mbak" suara seorang pemuda yang sontak mengagetkan Ren, dan juga membuyarkan lamunannya.
"Ia, lagian enakan sendiri kalau untuk menikmati udara segar, biar nggak terkontaminasi" ujar Ren, yang sebenarnya tidak secara langsung, mengatakan kalau dia sedang tidak ingin diganggu
"Saya bukan virus mbak, yang bisa membuat udara terkontaminasi"
__ADS_1
Merasa pemuda tersebut tersinggung karena ucapannya, Ren merasa tidak enak hati.
"Maaf mas, kalau ucapan saya menyinggung perasaan anda" ucap Ren dengan wajah cemasnya, karena sudah membuat orang lain tersinggung.
"Santai saja mbak" ucap pemuda tersebut sembari tersenyum.
"Mas sendirian juga nampaknya?"
"Ia, mau ajak teman, tapi teman nggak punya" jawab pemuda tersebut.
"Ah! Nggak mungkinlah, nggak punya teman" ujar Ren, merasa pemuda tersebut bercanda.
"Nggak ada yang mau berteman dengan saya mbak" ucap pemuda tersebut lirih.
"Serius mas, jangan bercanda"
"Serius saya mbak, sekarang ini, hanya mbak saja yang mau bicara sama saya, biasanya, kalau saya jalan pagi, ataupun sore nggak ada yang peduli, nggak ada yang ajak bicara" ujar pemuda tersebut.
Ren, merasa ada yang aneh dengan pemuda yang menjadi teman bicaranya saat ini. Tidak ada yang peduli dan tidak ada yang ajak bicara, rasanya warga dilingkungan tempat tinggalnya tidaklah setega itu, dan yang ada dipikiran Ren saat ini, jangan-jangan pemuda yang dia ajak bicara tersebut tidak normal, makanya ucapannya agak aneh.
Tapi ketika Ren melihat dari kejauhan bibi datang menemuinya, dan mengatakan kalau ada yang bilang sama bibi, soal Ren yang bicara sendiri.
"Tadi beneran loh bi, ada pemuda disini, kita ngobrol biasa, bibi datang, terus dia pamit, serius bi, memang agak aneh sih, dia bilang selama ini, nggak ada yang peduli padanya, bahkan dia bilang nggak ada yang mau bicara padanya"
"Lebih baik kita pulang, dan nanti non langsung mandi, habis itu istirahat saja ya"
"Bosan bi, istirahat melulu, saya sehat bi, buktinya dokter bilang, saya hanya insomnia, jadi saya sehat"
"Biar insomnia yang mengganggu pola tidur non, hilang, ayo kita pulang" pinta bibi Nina sembari memimpin tangan Ren.
Entah mengapa, Ren akhir-akhir ini, merasa kehidupannya menjadi aneh menurut pandangan orang lain, padahal dia merasa baik-baik saja.
Seperti yang baru saja terjadi padanya pagi ini, dia jelas ngobrol dengan seorang pemuda, tapi menurut orang lain, dia berbicara sendiri, dan hal ini masih menjadi misteri bagi Ren, siapa pemuda itu sebenarnya, karena dia yakin pemuda tersebut ada, dan bukan hanya teman khayalannya saja, yang menurut bi Nina, efek dari tidak punya teman ngobrol yang sebaya.
Karena dari sejak sekolah dasar, Ren sekolah private, dan untuk teman bisa dihitung dengan jari, kalau ada itupun, anak teman arisan mamanya.
Tapi beranjak dewasa, semua sudah dengan kesibukan masing-masing, dan jangankan bertemu, kontak saja susah, padahal kebanyakan dari teman kecil Ren, memang sengaja menghindari Ren, lantaran menganggap Ren memiliki masalah kejiwaan.
__ADS_1
Itulah yang menjadi alasan kenapa Ren, sering mengunjungi psikiater, buka hanya semata-mata untuk mengobati masalah insomnia yang dia alami, tapi juga keanehannya yang terkadang tidak bisa dijelaskan oleh nalar.