
Ren sangat menyukai dunia barunya, menggambar desain pakaian yang baginya adalah sebuah tantangan baru, dan karena sibuk belajar membuat desain pakaian, Ren perlahan melupakan menggambar objek mahluk hidup, dan ia merasa secara perlahan kehidupannya mulai seperti orang normal, tidak mendengar suara aneh, atau melihat sosok orang yang tidak ia kenal lagi.
Karena kali ini, dia akhirnya punya teman yang nyata selain Bayu, namun terkadang Ren heran dengan perasaannya, dia dan Bayu hanya teman, tapi kenapa dia cemburu ketika Bayu dekat dengan wanita.
Sama halnya juga dengan Bayu, dia sejujurnya lebih menyukai masa-masa dimana Ren tetap dirumah saja, entah kenapa Bayu tidak begitu suka Ren dekat dengan laki-laki lain.
Tapi Bayu sadar diri, apa haknya melarang Ren, lagian mereka hanya berteman, dan lebih jelasnya lagi, Ren adalah anak majikannya, rasanya terlalu berlebihan jika dia yang mengatur tentang hidup Ren.
Ren dekat dengan siapa saja, itu haknya, yang harus Bayu lakukan, hanya memastikan keadaan Ren tetap baik-baik saja, karena ayah Ren, menyerahkan soal keselamatan Ren selama perjalanan pulang pergi, rumah dan tempat kursus ke tangannya.
Jadi sekali lagi, Bayu harus sadar diri, dia harus bisa memisahkan antara perasaan dan pekerjaan. Jangan sampai perasaannya merusak semuanya, karena saat ini, dibandingkan dengan urusan hati, urusan perut jauh lebih penting.
Jika Ren perlahan-lahan tidak lagi berhalusinasi seperti yang dikatakan psikiater tentang kondisi kejiwaannya selama ini, Bayu justru berbeda, dia masih sering mendengar suara yang mirip Meira mengganggunya.
Namun dia hanya menyimpan semua kejadian aneh yang ia alami sendiri, meskipun terkadang dicekam rasa takut, tapi Bayu mencoba mengendalikan dirinya sendiri, dan rupanya Ren menyadari kalau Bayu akhir-akhir ini sikapnya berubah padanya.
"Kamu kenapa? aku lihat sepertinya kamu kurang sehat? Apa pekerjaan yang papa berikan padamu selama magang di kantor sangat banyak, sehingga membuat wajahmu kusut begitu?" tanya Ren sembari menatap wajah Bayu yang ada disampingnya, dan sedang serius mengemudikan mobil.
"Aku baik-baik saja kok" jawab Bayu yang memang akhir-akhir ini susah tidur.
"Jangan bohong, mata panda mu sudah jelas membuktikan kalau kamu tidak baik-baik saja"
__ADS_1
"Jangan pedulikan mata panda ku, dan aku baik-baik saja, oke" ucap Bayu sembari menepikan mobilnya, karena dia tiba-tiba merasa bekas luka di perutnya nyeri lagi.
"Kenapa kamu berbohong?" tanya Ren dengan wajah cemas, dan tiba-tiba memeluk Bayu, dan tentu saja hal ini membuat Bayu kaget.
"Jangan seperti ini, nanti orang yang melihat bisa beranggapan kita sedang berbuat yang tidak-tidak" ucap Bayu
"Takut digrebek pak hansip ya, siapa juga yang lewat daerah sini, ini kan jalan buntu" dan Bayu kaget, karena yang memeluknya bukanlah Ren, melainkan Meira, karena Ren tertidur di kursi belakang.
Bayu tidak sadar jika dia mengemudikan mobil ke arah yang salah, dan bahkan rupanya dia sedari tadi berbicara dengan gadis misterius yang wajahnya mirip dengan Meira.
Karena setahu Bayu, Meira mengatakan padanya, dia akan menetap di luar negeri, dan mana mungkin yang ada di hadapannya adalah Meira.
"Aku Meira, aku ada dalam dirinya" Meira menunjuk Ren
"Aku akan merampas semuanya kembali, termasuk kamu" ucap gadis yang wajah mirip Meira tersebut sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu yang terlihat ketakutan, dan menahan sakit, karena perutnya yang luka seperti terhimpit oleh sesuatu.
Ren terbangun, karena mendengar suara berisik, dan suara itu dari orang yang begitu ramai, dan Ren kaget, karena banyak orang yang sedang berada di luar mobil yang ia tumpangi.
Ternyata mobil yang Bayu kemudikan, menabrak pohon tak jauh dari tikungan rumahnya, Ren baik-baik saja, dan dan mungkin karena benturan yang keras, dia pingsan, karena dia beberapa hari ini, memang memilih duduk di kursi belakang, soalnya dia sedang kesal dengan perubahan sikap Bayu padanya yang tiba-tiba.
Sementara Bayu, nampaknya posisinya terjepit pada bagian kaki, dan saat tim medis datang, Bayu masih pingsan, dan Ren bisa melihat, bekas lukanya nampaknya terbuka lagi, karena terlihat paramedis mencoba menghentikan pendarahan pada bekas luka Bayu, dan hanya itu saja yang Ren lihat dan setelahnya semua gelap.
__ADS_1
Ren sayup-sayup mendengar suara ibunya yang memanggil suaranya, dan ketika membuat mata, Ren melihat ayah dan ibunya berada di samping ranjang perawatannya, dengan wajah cemas.
Ren akhirnya tahu, kenapa mobil sampai bisa menabrak pohon, karena Bayu mencoba menghindar anak kecil dan ibunya yang terjatuh dari sepeda motor, dan akhirnya banting stir.
Sementara dengan Bayu, kondisinya masih belum pulih, terlebih lukanya kembali terbuka, karena benturan keras, tapi Ren agak lega, karena syukurnya, luka pada kakinya hanya cedera ringan.
Bayu benar-benar meminimalisir dampak kecelakaan, dengan mengorbankan dirinya sendiri, anak dan ibu yang terjatuh dari sepeda motor hanya luka lecet, begitu juga Ren, tidak ada luka yang berarti, hanya lecet-lecet saja.
Lagi-lagi keluarga Ren, berhutang nyawa pada Bayu, padahal sebenarnya sesaat sebelum kejadian, yang Bayu alami adalah, gadis yang berwajah mirip Meira memeluknya sembari berbisik mengatakan, ikut aku.
Setelah hampir sehari semalam belum juga sadarkan diri, akhirnya Bayu siuman, dan tentu saja kondisinya membuat tim medis, bingung, karena menurut dokter kondisi bekas luka yang kembali terbuka, sudah ditangani, dan luka dalam juga tidak ditemukan.
"Dokter bilang kalau kamu harus bedrest, untuk pemulihan luka yang kamu alami" ayah Ren menjelaskan tentang kondisi Bayu, yang masih nampaknya masih bingung dengan keadaannya, karena kenapa tiba-tiba berada di rumah sakit.
"Jangan pikirkan soal pekerjaan, fokus saja pada pemulihan, terimakasih sekali lagi, karena sudah menjadi penyelamat keluarga kami, berkat kamu, tiga nyawa selamat" ucap ini Ren sembari tersenyum kepada Bayu.
"Meira" ucap Bayu yang merasa Meira seakan berdiri disamping ibu Ren, dan mendengar Bayu menyebut nama Meira, wajah ibu Ren, mendadak berubah.
Kaget dan bingung, kenapa Bayu menyebut nama Meira, padahal tidak ada yang tahu tentang Meira, selain dia dan suaminya, tapi ibu Ren, mencoba untuk terlihat tenang, karena bisa saja yang Bayu maksud adalah Meira yang lain, bukan Meira yang ia kenal.
"Ikut aku, disini banyak banyak orang jahat" Bayu tiba-tiba tersentak bangun, ketika dia merasa tangannya kirinya dipegang oleh Meira dan kemudian ingin membawanya pergi, tapi ada Ren yang datang sembari menangis, dan kemudian memegang erat tangan kanan Bayu.
__ADS_1
Benar saja, ternyata Ren tertidur pulas di samping ranjang perawatannya, sembari menggengam tangan kanan Bayu, yang membuat Bayu tersenyum.