
Bayu kaget karena ketika membuka mata, sekeliling ruangan yang ia lihat terasa asing, terlebih saat melihat Gita yang sedang tertidur di sofa yang tidak jauh dari tempat tidurnya saat ini.
Kepala Bayu benar-benar pusing, dan dia tidak tahu apa penyebabnya, melihat Bayu yang sudah sadar, Gita beranjak dari sofa, dan buru-buru menghampirinya.
"Kamu sakit kepala hebat, dan pingsan, tadinya aku mau antar pulang, tapi dengan kondisimu yang tidak memungkinkan, jadi aku urungkan saja" ucap Gita, yang terlihat panik karena, Bayu mengatakan kepalanya pusing lagi, dan akhirnya Gita memutuskan untuk membawa Bayu ke rumah sakit terdekat.
Setelah mendapatkan penanganan medis, baru Bayu bisa tenang, Gita yang melihat wajah Bayu yang sedang tertidur karena pengaruh obat yang diberikan, entah kenapa merasa tidak ingin kehilangan Bayu, terlebih dengan apa sudah Bayu lakukan, saat melindunginya dari perbuatan tidak senonoh rekan kerjanya.
Gita tahu benar, kalau perasaannya terhadap Bayu salah, karena Gita tahu, kalau Bayu dan Ren punya hubungan spesial, dan tidak mungkin dia bisa masuk dan kemudian merusak hubungan keduanya, karena bagaimanapun juga, ayah Ren yang sudah membuatnya keluar dari dunia jalanan yang kejam, dan bahkan memberikan kepercayaan kepadanya untuk bekerja di perusahaannya, meskipun secara pendidikan, Gita harus menempuh kejar paket untuk melanjutkan sekolahnya, tapi ayah Ren tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena bagi ayah Ren, Gita punya potensi, hanya saja, jalan hidupnya yang membuatnya tidak bisa menempuh pendidikan secara normal seperti orang kebanyakan.
Gita menghubungi telpon rumah Ren dan mengatakan apa yang terjadi pada Bayu, karena Ren tahu kalau Bayu bersamanya, dan Gita tidak mau Ren salah paham padanya, padahal sebenarnya Gita bisa saja mengambil kesempatan untuk mendapatkan Bayu, tapi Gita tidak ingin melakukan hal tersebut, mungkin jika laki-laki yang sekarang ia incar bukan Bayu, dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya, tapi berbeda dengan Bayu, Gita benar-benar ingin cinta dari Bayu, dan bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Ren datang ke rumah sakit, dengan wajah cemas, tapi Gita mencoba untuk menenangkan Ren, dan setelah dokter memberikan penjelasan tentang kondisi Bayu, barulah Ren tenang, dan menurut keterangan dari dokter, tidak ditemukan apa penyebab dari sakit kepala yang Bayu alami, dan tentu saja hal ini menjadi tanda tanya, lalu apa yang menjadi penyebab dari sakit kepala Bayu, jika bukan berasal dari penyakit medis.
"Sudah mendingan kok, jangan seperti itu ekspresi wajahnya, bisa? senyum dong" ucap Bayu yang sudah mampu untuk duduk, tapi raut wajah Ren masih terlihat khawatir.
"Papa dan mama tadi sempat telpon bi Nina, dan agak khawatir sebenarnya, takutnya ada apa-apa"
"Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja kan, besok mungkin sudah bisa pulang, jadi senyum dong" ucap Bayu sembari mencubit pipi Ren, sementara dengan Gita, memilih pulang, karena sadar diri dengan posisinya yang diantara Ren dan Bayu, bukanlah siapa-siapa.
Tapi jujur ada cemburu yang tiba-tiba merasuk ke dalam hati Gita, ketika melihat kebersamaan antara Ren dan Bayu, dan entah kenapa rasa ingin memiliki Bayu terkadang sering hilang datang, dan rasa itu benar-benar sangat menyiksanya.
Bayu sebenarnya agak tidak nyaman dengan kondisinya akhir-akhir ini, yang kurang baik, dan sejujurnya dia sendiri heran, padahal secara pekerjaan, tidak begitu berat, dan bisa dikatakan bekerja di keluarga Ren dan sekaligus di perusahaan ayah Ren lebih banyak santainya daripada sibuknya, tapi entah kenapa kondisi fisiknya tidak bisa diajak kompromi.
__ADS_1
Bayu meminta Ren pulang, soalnya di rumah sakit sudah ada perawat, soalnya Ren belum pulih benar kesehatannya, dan mengatakan untuk datang besok pagi saja, tadinya Ren menolak, tapi setelah dibujuk oleh bi Nina, akhirnya Ren menurut.
Sejujurnya Bayu sedikit bosan karena tidak punya teman bicara, secara Gita sudah pulang, begitu juga dengan Ren dan bi Nina, dan akhirnya Bayu memilih untuk memejamkan matanya, untuk tidur, karena berpikir dengan lebih banyak istirahat, dia akan lebih cepat pulih, akan tetapi baru beberapa menit memejamkan matanya, Bayu merasakan ada seseorang yang berbisik di telinganya, yang mengatakan Barem berulangkali, dari mulai nada rendah hingga berteriak, dan tentu saja hal ini membuat Bayu ketakutan, bahkan membuat Bayu turun dari ranjang perawatannya, dan keluar kamar.
Perawat jaga merasa heran dan sekaligus heran dengan semua penjelasan yang Bayu uraikan, tentang apa yang baru saja ia alami, karena menurut perawat jaga, selama dia bekerja di rumah sakit, pasien jarang mengalami gangguan aneh, tapi justru mereka para perawat jaga yang sering mengalami hal aneh.
"Efek stres juga bisa memicu seseorang mendengarkan suara-suara aneh, tapi apa yang anda alami sekarang pernah terjadi sebelumnya?" tanya dokter pada Bayu.
"Tidak pernah dok, sebelumnya semuanya baik-baik saja, tapi entah kenapa akhir-akhir ini, banyak hal yang ganjil yang saya rasakan, dan itu saya rasa bukan semata-mata karena stres, dan bukankah stres harus ada pemicunya, tapi keseharian yang saya lakukan selama ini, semuanya bisa dikatakan santai" ucap Bayu heran.
"Semuanya normal, tidak ada yang perlu di khawatirkan, lebih baik sekarang, tenangkan pikiran, semuanya akan membaik, karena jika dilihat dari laporan pemeriksaan, besok anda sudah bisa pulang" ucap dokter, sembari tersenyum dan kemudian berlalu dari hadapan Bayu.
__ADS_1
Kata Barem selalu terngiang-ngiang di telinga Bayu, dan apa maksud dari kata tersebut, Bayu masih tidak tahu, tapi setelah dipikir-pikir, Bayu baru menyadari, bahwa keanehan yang terjadi padanya belakangan ini, setelah dia mulai bekerja pada ayah Ren, dan apakah itu artinya, yang terjadi padanya juga karena dampak dari keanehan pada keluarga tersebut, atau apakah, karena dirinya secara tidak langsung, ikut menutup-nutupi apa yang terjadi pada Meira.
Bayu benar-benar bingung dengan semuanya, tapi untuk mundur sudah tidak mungkin, hatinya sudah tertambat pada Ren, dan untuk pekerjaan, sulit bagi Bayu untuk bisa mencari pekerjaan baru, mengingat usianya, pendidikannya, dan juga dengan banyaknya lulusan-lulusan baru yang jauh lebih pintar dari dirinya, jadi Bayu sudah memutuskan apapun yang terjadi, dia akan tetap bertahan, dan mencoba untuk membantu keluarga Ren keluar dari semua keanehan yang selama ini selalu melekat pada keluarga tersebut.