Rahasia Ren

Rahasia Ren
Dean


__ADS_3

Mendengar kecelakaan yang Ren alami, guru kursus Ren, yang juga teman baik ibunya datang menjenguk Ren bersama dengan anaknya.


Dean Martin, nama anak teman ibu Ren tersebut, lama tinggal ke luar negeri, dan dari wajahnya nampak terlihat kalau dia blasteran.


Rupanya Dean dan Ren, pernah dekat, tapi hanya sampai usia 5 tahun, karena Dean dibawa ibunya pindah ke luar negeri, dan menetap di sana, hingga akhirnya, ibunya Dean kembali ke tanah air, tapi Dean tetap tinggal untuk melanjutkan pendidikannya.


Karena Dean sedang liburan musim panas, makanya dia kembali menyusul ibunya, sekalian ingin menikmati matahari di negeri kelahirannya.


Tak memiliki teman, karena besar di negara orang, jadilah Dean selalu mengikuti Ren kemana saja dia pergi, dan ini membuat Ren gerah, dan kesal.


Kalau saja bukan karena permintaan ibunya untuk menemani Dean, Ren tidak akan menyanggupinya.


Karena tumbuh di negara dan budaya yang berbeda, Ren sebenarnya sulit untuk mengakrabkan diri, karena selalu saja terjadi perdebatan diantara keduanya.


"Apa kamu lama tinggal di era zaman batu, hal seperti ini saja tidak paham" ujar Dean, yang mengajarkan Ren cara menggunakan smartphone canggih miliknya.


Karena memang selama ini, Ren tidak menggunakan ponsel, karena dia pergi ke mana-mana, dan tidak memiliki teman akrab, temannya hanya Bayu, dan Bayu pun tinggal di rumahnya, juga dengan hobi, Ren hobi menggambar, jadi rasanya, menurut Ren, dia tidak membutuhkan smartphone, padahal kedua orang tuanya, menawarkan terserah Ren memilih model apa saja.


Melihat kedekatan antara Ren dan Dean, Bayu cemburu, dan dia heran dengan perasaannya, Ren bukalah kekasihnya, hanya sebatas teman dekat, jadi kenapa juga, rasa cemburu harus muncul, atau jangan-jangan, selama ini Bayu menyukai Ren.


"Sadar Bayu, Ren itu siapa, dan kamu siapa? Jangan terlalu berharap banyak, syukur-syukur kamu diperlakukan dengan sangat baik oleh kedua orangtuanya, jadi jangan meminta terlalu lebih, cukup hati mereka saja yang kamu minta, jangan jantung" Bayu bergumam sendiri di kamar rawat inapnya.


"Ikut aku saja" lagi-lagi suara yang mirip Meira terdengar, dan anehnya, suara itu kalau Bayu sedang memikirkan Ren, dan membuat Bayu berpikir ada hubungan apa antara Meira dan Ren, karena tidak mungkin hubungan sebab-akibat bisa terjadi dengan sendirinya.

__ADS_1


"Hai, apa kabar? Makanan rumah sakit pasti membosankan, coba lihat, aku bawakan bubur yang sengaja bi Nina buatkan, katanya buburnya dibuat dengan kasih sayang, biar yang makan cepat sembuh" ucap Ren yang sekarang kemana-mana, selalu ditemani oleh Dean.


"Aku suapin ya, kamu kan nggak boleh banyak gerak, apalagi dokter bilang, kakimu cedera, ada yang retak, jadi butuh proses untuk penyembuhannya, ayo buka mulutnya, anak pintar" ujar Ren sembari menyuapi Bayu bubur, sementara Mata Bayu terus tertuju pada Dean yang sibuk dengan Smartphone miliknya.


"Aku nggak begitu suka dengan dia, orangnya agak aneh, makanya kamu cepat sembuh, biar aku nggak kemana-mana sama dia" ucap Ren sembari berbisik ke telinga Bayu.


"Maaf ya, karena aku kurang hati-hati, wajahmu jadi lecet begini" ucap Bayu sembari memegang plaster yang menempel di kening Ren.


"Cuma lecet saja, jangan terlalu khawatir, nanti juga kering"


 


"Hai, aku Dean, kita belum kenalan secara resmi, hanya tahu nama masing-masing, dari orang lain" ucap Dean sembari menyodorkan tangan kanannya mengajak berjabat tangan.


 


"Kalian berdua pacaran? Aku lihat sepertinya kalian cukup dekat, meskipun hanya sekedar supir dan anak majikan" ucap Dean tanpa perasaan, dan tentu saja ucapannya membuat Ren geram, dan ingin rasanya Ren menampar Dean, Bayu yang melihat Ren mulai tersulut emosi, mencoba menenangkannya, dengan menggenggam tangan Ren.


"Aku rasa ayahmu baiknya terlalu berlebihan terhadap supirnya, ia memang, berhutang nyawa, tapi dengan semua fasilitas mewah yang ia dapatkan selama perawatan, aku takut saja, nantinya malah ngelunjak" ucap Dean, yang menurut Ren, ucapannya sudah mirip perempuan.


"Semuanya hak papa, dia ingin baik kepada siapa saja, dan aku rasa, papa sudah memikirkan semua yang ia lakukan dengan baik, tidak hanya terbawa emosi karena kasihan atau apapun itu" Ren mencoba membela ayahnya dari anggapan Dean.


Mendengar ucapan Ren, Dean hanya tersenyum sembari memandang ke arah Bayu, dan nampak kalau cara dia melihat Bayu, seperti sedang mengejek, Bayu mencoba bersabar, hanya saja Ren yang emosi.

__ADS_1


"Sudah abaikan saja, mungkin karena dia tumbuh besar di luar negeri, dan sedikit banyak cara berpikirnya juga terpengaruh, jadinya dia seperti itu, ketika berbicara, dia tidak peduli, apakah ucapannya menyakiti hati orang lain atau tidak" ucap Bayu.


"Menyebalkan" gumam Ren sembari memandang wajah Bayu yang tersenyum padanya.


"Kalau kamu marah seperti itu, nggak ada orang yang takut, karena wajahmu justru jadinya lucu tahu nggak" ucap Bayu sembari tersenyum.


"Lalu seperti apa wajah yang menakutkan, orang lagi kesal, malah diisengin, dasar" ujar Ren sembari mencubit tangan Bayu.


Kebersamaan Bayu dan Ren yang memang jika dilihat sepintas seperti orang yang punya hubungan spesial, terganggu dengan datangnya atasan tempat Bayu magang.


Cantik, muda dan menarik untuk dilihat oleh laki-laki, karena cara berpakaiannya yang menunjukkan setiap lekuk tubuhnya.


Sangat jauh berbeda dibandingkan dengan Ren, yang cara berpakaiannya lebih menunjukkan sisi imutnya.


"Maaf baru bisa menjenguk" ucap atasan Bayu tersebut, dan meskipun sedang tidak berada di kantor, sebisa mungkin, Bayu harus tetap menunjukkan sikap sopan kepada atasannya tersebut.


"Jangan terlalu formal, ini bukan di kantor, soal pekerjaan jangan dipikirkan dulu, fokus saja pada pemulihan, ayahnya Ren, sudah memberi tahu kepada saya, soal kondisi kesehatanmu, dan juga soal pemulihannya"


"Hai Ren, kamu tidak kursus, ayahmu sering menceritakan tentangmu, di kantor, katanya kamu ingin jadi desainer terkenal, tapi aku lihat, kenapa tidak model saja sekalian, kami punya tinggi tubuh yang proporsional, atau kamu mau aku bantu untuk membicarakan soal ini ke ayahmu" ucap atasan Bayu tersebut, yang nampaknya cukup akrab dengan ayahnya, karena bisa dilihat dari cara bicaranya, seakan ayah Ren, tidak hanya atasannya, tapi juga seperti temannya.


"Aku sudah pulang kursus, dan untuk menjadi model, aku nggak minat, aku nggak punya bakat untuk berlenggak lenggok di catwalk, dan proporsi tubuhku tidak sebagus kamu" ucap Ren.


Merasa cara bicara Ren, seakan menyinggungnya, raut wajah atasan Bayu tersebut berubah, rupanya dari awal dia melihat Bayu datang mengantar ayah Ren, menggantikan Ahmad, atasan Bayu yang bernama Gita memang sudah tertarik dengan Bayu, karena memang secara perawakan, tubuh Bayu tinggi besar, dengan proporsi tubuh yang menarik bagi kaum hawa serta ditambah dengan senyuman yang manis, serta rambut ikal panjangnya yang biasanya ia sanggul, tapi sedikit berbeda dengan cara pandang Ren terhadap Bayu, bagi Ren, Bayu hanya pemuda manis yang nyaman diajak ngobrol, dan juga jika bersama Bayu Ren merasa aman.

__ADS_1


__ADS_2