
Ren merasa kelonggaran yang ibunya berikan padanya, membuatnya bahagia, boleh makan makanan ringan olahan pabrik, dan bahkan kini Ren ikut kursus menjahit, dan membuat desain pakaian, di sekolah menjahit dan membuat desain pakaian, yang juga bagian dari usaha rintisan ibunya.
Karena yang Ren tahu, nantinya setelah lulus dari kursus tersebut bisa bekerja di perusahaan konveksi milik ibu Ren, dan jika yang berprestasi karyanya bisa dijual di butik, dan akan menerima bagi hasil.
Meskipun terkadang, Ren masih merasa karyawan, dan juga peserta kursus sekolah menjahit serta membuat desain pakaian milik ibunya melihatnya dengan tatapan yang seakan-akan mengatakan, oh ini anak bos yang kondisi kejiwaannya terganggu, sering bicara sendiri, dan suka menggambar yang aneh-aneh.
"Ini putri kesayangan saya, namanya Larena Dihyan, panggilannya Ren, mungkin selama ini, ada banyak berita tentang kondisi kesehatannya yang simpang siur, tapi apapun anggapan orang lain terhadap putri saya, bagi saya, dia istimewa, dan saya rasa, tak perlu malu untuk mengenalkannya pada dunia luar, saya menyesal dengan semua yang pernah saya lakukan dulu, membatasi ruang gerak anak saya, sehingga dia kehilangan masa remajanya yang seharusnya ia dapatkan, dan akhirnya dia harus terkurung, karena keegoisan saya, dan juga, itu karena rasa takut saya, kalau anak saya tidak bisa menerima, cara pandang orang lain terhadapnya, mulai hari ini dia siswa di sekolah ini, dan saya harap bantu dia untuk beradaptasi" ucap ibu Ren, yang tentu saja membuat Ren terdiam sejenak, mendengar apa yang ibunya katakan, tapi kemudian tersenyum, karena akhirnya dia bisa lega, ibunya akhirnya bisa menerima semua yang duku ibunya anggap sebuah keanehan yang menakutkan.
Tapi setelah mendengar perkataan ibunya, Ren akhirnya paham, kepandaiannya dalam hal menggambar, memang sempat ia rasakan sebagai kutukan, karena tak jarang bisa membaca masa lalu, tapi kini setelah mendengar semua yang ibunya katakan, Ren merasa bahwa kemampuan yang ia punya adalah anugerah.
Dengan adanya aktivitas baru, otomatis kini Ren dijemput dan diantar oleh Bayu, yang juga mulai magang di perusahaan ayah Ren.
Ayah Ren yang merasa berhutang budi, ingin Bayu bekerja di perusahaan yang ia pimpin, tapi Bayu tidak ingin karyawan lain menganggapnya melakukan nepotisme, dapat pekerjaan dengan mudah karena punya koneksi dengan pemimpin perusahaan.
Jadi Bayu ingin memulainya dengan menjadi pegawai magang terlebih dahulu, dan jika memang dia dianggap mampu untuk bekerja di perusahaan, maka dia akan bekerja sesuai dengan keahlian dan pendidikannya.
Ayah Ren, salut dengan pemikiran Bayu, yang ternyata lebih banyak menggunakan logika, dalam menilai sesuatu, dan apakah nantinya akan menciptakan hubungan sebab-akibat yang baik atau buruk untuk kedepannya, seperti apa yang menyebabkan mantan karyawannya yang akhirnya berniat ingin menghabisi nyawanya, dan akhirnya ayah Ren tahu penyebabnya, bahwa mantan karyawannya tersebut tidak terima dengan pemberhentiannya, hanya karena dia jarang masuk kerja, padahal dia sudah menyampaikan alasannya, karena merawat ibunya yang sedang sakit keras.
Mengetahui alasan mantan karyawannya tersebut, ayah Ren, akhirnya membiayai semua pengobatan ibu dari mantan karyawannya tersebut, dan mengatakan pada bagian HRD, jika ditemukan kejadian yang serupa, segera beritahukan kepadanya.
__ADS_1
Meskipun mantan karyawannya tersebut, tetap harus menjalani hukuman karena sudah melakukan percobaan pembunuhan berencana, tapi ayah Ren mengatakan, jika nanti mantan karyawannya tersebut bebas, dia bisa bergabung lagi dengan perusahaan, meskipun mungkin tanpa jabatan, dan hanya ayah Ren, tempatkan di bagian yang tidak terlalu sibuk, agar mantan karyawannya tersebut dapat leluasa mengatur waktunya untuk merawat ibunya, dan meminta mantan karyawannya tersebut untuk tidak khawatir dengan kondisi ibunya, karena ayah Ren, sudah mempekerjakan seseorang untuk sementara merawat ibu mantan karyawannya tersebut.
Ayah Ren merasa, setelah Bayu datang ke perusahaan dan menjadi teman bicaranya, dia merasa selama ini ternyata banyak keputusannya yang salah, dan membuat dia dibenci oleh karyawannya sendiri, padahal sebuah perusahaan bisa bertahan ditengah persaingan yang ketat, itu dimulai dari bagaimana memperlakukan karyawan.
Karena perusahaan bisa sampai besar karena ada campur tangan yang besar dari karyawan, apapun bidangnya, umpamanya seperti sebuah perahu, jika yang ada didalamnya mendayungnya selaras dengan arahan, maka akan sampai ke daratan dengan selamat, tapi jika yang didalamnya masing-masing mau menang sendiri, perahu bisa saja karam sebelum sampai ke daratan.
Ayah Ren melihat Bayu, sedikit mirip seperti dirinya muda dulu, mau bekerja apa saja, selama halal, sekalipun hanya kuli angkut pelabuhan, dan itu artinya dia memang tidak salah pilih.
"Bagaimana rasanya jadi karyawan papa?" tanya Ren pada Bayu, yang menjemputnya pulang dari kursus
"Menyenangkan" Jawab Bayu
Bayu heran, maksud dari ucapan Ren, dan hanya menanggapi dengan senyuman, dan melihat Bayu tersenyum, Ren justru kesal.
"Kamu kenapa sih?" tanya Bayu heran dengan tingkah Ren yang menurutnya aneh, dan akhirnya membiarkan saja sampai suasana hati Ren membaik sendiri, karena memang biasanya begitu ia memperlakukan Ren, jika suasana hati Ren sedang kacau.
"Bayu..." suara seseorang memanggil Bayu, padahal Ren sedang tertidur.
Bayu tidak begitu menggubris apa yang ia dengar, dan terus mengemudikan mobil, tapi lagi-lagi suara seorang perempuan yang memanggil namanya terdengar lagi, dan membuat Bayu bingung sendiri, apakah yang ia dengar memang nyata atau tidak.
__ADS_1
"Apa kamu tidak merindukan ku?" lagi-lagi suara tersebut terdengar tapi entah dari mana dan Bayu merasa mengenal suara tersebut, dan itu adalah suara Meira.
Tapi Bayu mencoba untuk menenangkan dirinya, tapi ketika melihat yang duduk disampingnya adalah Meira, Bayu yang kaget mendadak menginjak Rem mobil, dan membuat Ren yang tertidur terbangun karena kaget.
"Ada apa? Kenapa berhenti mendadak?" tanya Ren sembari mengucek-ucek matanya.
"Tidak ada apa-apa, tidur saja lagi" ucap Bayu yang jelas masih terlihat shock.
"Raut wajahmu tidak bisa berbohong, atau apa lukamu sakit lagi?" tanya Ren khawatir
"Nggak, aku hanya kaget, soalnya ada kucing yang tiba-tiba menyebrang jalan" terpaksa Bayu berbohong, supaya Ren tidak banyak bertanya.
"Kita cari tempat untuk nyantai dulu saja bagaimana? Pasti jadi anak magang melelahkan, karena sering dimintai tolong sama karyawan senior"
Bayu mengikuti saja kemauan Ren, karena dia juga sebenarnya ingin menenangkan diri, dan Bayu hanya merasa heran kenapa suara Meira masih saja terngiang di telinganya.
__ADS_1
Padahal Bayu sudah sering mencoba untuk melupakan Meira, tapi yang terjadi, justru suara Meira malahan terus mengganggunya. Bahkan terkadang bukan hanya suara, sosok Meira bahkan kadang muncul dihadapannya, dan hal ini membuat Bayu berpikir keras, apa sudah terjadi sesuatu pada Meira selama ini, dan apakah semua keganjilan yang ia alami, adalah cara Meira untuk berkomunikasi.