
Bayu baru sadar, kalau ternyata dia terluka, ketika Perawat puskesmas mengatakan agar luka Bayu juga harus segera diobati.
Luka yang cukup besar karena Bayu menggunakan tangannya untuk menangkis serangan Gita.
Setelah diobati, Bayu kembali ke ruang perawatan Gita, dan masih belum sadarkan diri, Bayu baru sadar kalau ponselnya tertinggal ketika hendak menghubungi ponsel Ren, untuk bertanya apakah Ren sudah pulang dari kursus, dan sekalian memberi tahu apa yang terjadi pada Gita, dan kemungkinan Bayu akan pulang lambat, karena harus memastikan kondisi Gita terlebih dahulu, dan hal tersebut terpaksa Bayu lakukan, karena Gita memang tidak memiliki keluarga, dan Bayu tahu benar rasanya dalam kondisi sakit dan tanpa kehadiran keluarga, rasanya ingin mati saja.
Bayu yang berniat ingin kembali ke kantor untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, mengurungkan niatnya, karena Ghanis dan Randa datang menemuinya di Puskesmas, alasannya keduanya menyusul Bayu karena cemas dan juga penasaran, tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Ngawur, nggak ada apa-apa antara aku dan ibu Gita, tadi itu, ibu Gita tiba-tiba saja mau nyerang aku pakai pisau, nih lihat" ujar Bayu sembari menunjukkan lukanya pada Ghanis dan Randa.
"Serius? Kok bisa?" tanya Ghanis yang diikuti anggukan kepala oleh Randa.
"Mana aku tahu" ucap Bayu yang kaget ketika melihat panggilan tidak terjawab di ponselnya yang cukup banyak dan itu dari Ren, tapi anehnya ketika ditelpon balik, ponsel Ren justru diluar jangkauan, dan hal ini membuat Bayu khawatir, dan memutuskan menghubungi telpon rumah Ren.
Setelah mendengar penjelasan dari bi Nina, kalau Ren belum pulang dari kursus, hati Bayu kalut tak karuan, dan berbagai macam hal yang tidak baik bermain di pikirannya, tentang Ren, tapi Ghanis dan Randa mencoba untuk menenangkan Bayu, dan karena hal tersebut pulalah, akhirnya Ghanis dan Randa tahu ternyata Bayu memiliki hubungan spesial dengan anak pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
"Kok kamu nggak pernah bilang, kalau selama ini kamu ternyata punya hubungan spesial dengan anak bos besar?" tanya Ghanis
"Memangnya harus?" tanya Bayu yang membuat Ghanis terdiam
"Nggak harus sih, tapi setidaknya kan, kalau kamu akhirnya menikah dengan anak bos besar, ada kemungkinan kamu bakalan jadi penerus perusahaan ini, kita berdua bangga dong ya, secara kenal dekat dengan calon menantu bos besar" ucap Randa sembari menyikut lengan Bayu yang sakit, sehingga membuat Bayu meringis.
"Halu banget kalian" ucap Bayu
"Doa bagus bro, seharusnya kamu Aamiin kan" ucap Ghanis
__ADS_1
"Ia, Aamiin, puas" ucap Bayi yang sebenarnya perasaannya sekarang kacau balau.
Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya Gita siuman, dan kebingungan karena melihat tangannya yang terdapat selang infus, karena kondisinya ketika dibawa ke puskesmas, memang lemas.
"Tanganmu kenapa?" tanya Gita sembari mencoba untuk duduk.
"Lebih baik kamu tetap berbaring saja, jangan dipaksakan untuk duduk dulu, kalau masih tidak mampu" ucap Bayu
"Kamu belum jawab pertanyaan ku soal luka pada tanganmu"
"Luka kecil kok" ucap Bayu sembari menyodorkan piring yang berisi buah-buahan
"Aku nggak lagi nggak pengen makan buah" ucap Gita
"Asset, karena hanya ini yang aku punya" ucap Gita, yang membuat Bayu heran.
"Kamu cerdas, jangan menjadikan dirimu sendiri direndahkan orang lain, Gita" ujar Bayu
"Aku tidak punya keluarga Bay, dan jika terjadi sesuatu kepada ku, apa ada yang peduli, Bay, jangan naif, tanpa uang dan koneksi, sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan sekarang ini, dan aku tidak sanggup harus banting tulang bekerja, tapi hidup begitu-begitu saja"
Mendengar perkataan Gita, Bayu terdiam sejenak, koneksi, apa yang Gita katakan ada benarnya juga, karena dirinya bisa sampai bekerja di perusahaan ayah Ren, jika bukan karena koneksi, tentunya hal tersebut tidak mungkin terjadi, bahkan mustahil.
"Apa aku berbuat yang aneh-aneh lagi ketika di kantor?" tanya Gita sembari memandang wajah Bayu yang duduk tepat di samping ranjang perawatannya.
"Sedikit aneh" ucap Bayu
__ADS_1
"Apa ada yang tahu soal kejadian tersebut?" tanya Gita.
"Tidak ada, oh ia, Ghanis dan Randa tadi kesini, tapi sudah pulang"
"Kamu kok nggak ikut pulang?" tanya Gita
"Aku tahu rasanya, dalam kondisi sakit, dan itu sendirian, menyedihkan dan saat-saat seperti itu adalah saat-saat yang paling menyakitkan dalam hidup" ucap Bayu.
"Seandainya aku yang lebih dulu bertemu denganmu dibandingkan dengan Ren, bisa di pastikan, aku akan menjadi perempuan paling bahagia di dunia, karena punya kekasih yang sangat perhatian, tapi sayangnya, aku terlambat" ucap Gita lirih.
"Kita masih bisa jadi teman baik kok" ucap Bayu sembari tersenyum manis ke arah Gita.
"Teman, ya kita hanya teman, nggak lebih" ucap Gita lagi.
"Aku yakin Tuhan sudah mempersiapkan seorang laki-laki baik untukmu diluar sana, hanya saja mungkin waktunya entah kapan, jadi jangan berkecil hati, oke" ucap Bayu yang kemudian mengatakan harus pulang sebentar ke rumah, untuk memastikan kondisi Ren yang belum juga ada kabarnya.
Gita mengatakan pada Bayu, agar kembali ke Puskesmas setelah memastikan kondisi Ren, dan tentu saja hal tersebut membuat Bayu seperti dihadapkan pada situasi simalakama, karena akhirnya termakan ucapan sendiri yang mengatakan pada Gita, kalau sendirian disaat kondisi sakit, itu menyakitkan, tapi ketika kembali mengingat apa yang baru saja Gita ucapkan tentang uang dan koneksi, dan yang Bayu punya saat ini hanyalah koneksi, karena dengan hal tersebut pulalah dia mendapatkan pekerjaannya saat ini, dan bisa mendapatkan keleluasaan untuk izin, juga karena koneksi.
"Sekarang lebih baik fokus saja pada pemulihan, jangan memikirkan soal pekerjaan dulu, bukankah sudah ada yang menghandle semuanya" ucap Bayu, karena memang ada sekretaris Gita yang bernama Naura yang selama ini menghandle urusan kantor jika Gita berhalangan hadir, hanya saja, Naura masih dalam masa cuti menikah, dan kemungkinan baru lusa bisa aktif bekerja kembali.
"Bay, terimakasih untuk semua perhatian yang sudah kamu berikan selama ini, aku jadi merasa punya orang yang peduli, dan itu tanpa imbalan tentunya" ucap Gita, yang mencoba untuk turun dari ranjang perawatannya, karena mengatakan ingin ke toilet, dan melihat hal tersebut, Bayu bergegas memanggil perawat untuk membantu Gita, dan sekalian mengatakan kepada perawat untuk mengawasi keadaan Gita, karena dirinya harus pulang terlebih dahulu.
"Pacarnya mbak, tampan, sudah itu perhatian lagi, saya jadi iri" ucap perawat yang sedang membantu Gita untuk kembali naik ke ranjang perawatannya.
Mendengar ucapan perawat muda tersebut, Gita hanya tersenyum simpul, dan sejujurnya hal tersebutlah yang sebenarnya ia impikan, tapi apa daya perasaannya terhadap Bayu bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1