Rahasia Ren

Rahasia Ren
De Javu


__ADS_3

Ren merasa tidak nyaman, ketika dianggap oleh orang lain, tidak normal. Dan hal itu juga yang membuat kedua orangtuanya, memutuskan untuk tidak mengizinkan Ren melanjutkan kuliah.


Ren kembali harus mengunjungi psikiater, kali ini bukan hanya karena masalah insomnia yang dia alami, melainkan kebiasaan barunya, yang bicara sendiri.


"Teman khayalan? Apa itu tidak berbahaya dokter?" tanya ayah Ren, ketika berkonsultasi tentang kondisi Ren yang terbaru.


"Saya sarankan, diawasi, jangan ditinggalkan sendirian, khawatirnya teman khayalannya ini, memintanya melakukan hal yang berbahaya."


"Apa bisa disembuhkan dokter?" tanya ibu Ren, yang merasa sedih dengan apa yang dialami oleh anak semata wayangnya tersebut.


"Masalah awalnya, bukan lagi karena batal menikah, saya rasa dia sudah mampu melewati masa sedih itu, dan menurut pernyataan nona Ren, ketika tadi saya ajak cerita, dia mengatakan, kalau terkadang, dia merasa seperti De Javu, seakan semua pernah ia lakukan, tapi kapan, dan terkadang, ketika dia berjalan disuatu tempat, bersama anda berdua, hal yang sama juga sering terjadi, dan dia tidak ingin anda berdua semakin khawatir tentang kondisinya, itulah yang menjadi alasannya, kenapa tidak pernah menceritakan tentang de Javu yang ia alami"


"De Javu, apa itu berbahaya dokter?" tanya ayah Ren.


"De Javu, membuat orang yang mengalaminya, akan terus dipaksa berpikir, tentang kenapa bisa seakan pernah terjadi, tapi dimana, tapi tidak berbahaya, hanya saja jika sudah mengganggu kualitas tidur, kehidupan bersosialisasi, dan keseharian, tentu berbahaya, saran saya, tetap konsultasikan terus tentang keadaannya, dan usahakan, selalu ada disisinya, jangan membuat dia merasa ditinggal sendirian" dokter memberikan saran panjang lebar kepada kedua orang tua Ren.


Memang sejak batal menikah, Ren sempat down, tapi perlahan membaik, tapi belakangan ini, Ren, justru mengalami Insomnia parah, dan mengakibatkan, terkadang dia merasa de Javu, dan tak jarang berbicara sendirian, dan mengatakan, kalau dia memang sedang berbicara dengan seseorang.


Tapi jika dijelaskan, tidak ada orang yang ia ajak bicara, Ren biasanya akan berdiam diri di kamarnya, sembari menggambar sesuatu, yang sulit dijelaskan, apa arti dari gambar tersebut, absurd.


"Mau jalan-jalan, papa sengaja ambil cuti, jadi kita bisa liburan keluarga, bagaimana kalau Ren yang pilih tempatnya" ayahnya sengaja meminta Ren.


Tempat yang ingin Ren datangi justru, kampung halaman ayahnya, dan karena alasan jauh, ayahnya meminta untuk mengganti daerah tujuan.


Karena tak kunjung menemukan tempat liburan, ibu Ren yang akhirnya memilih destinasi liburan keluarga kali ini.


Tetap ditemani bi Nina, keluarga kecil tersebut, pergi berlibur, sesuai saran dokter. Dan selama perjalanan, Ren, terlihat murung, dan tidak bersemangat. Tapi ketika sampai di tempat tujuan, prilakunya berubah, Ren terlihat sangat senang.


"Ma, bukankah kita pernah ke sini?" tanya Ren, yang tentu saja membuat kedua orangtuanya heran.


"Belum sayang, sudah lama sebenarnya mama ingin kita kesini, sering lihat di televisi saja, dan sepertinya, jauh berbeda dari yang ditayangkan di televisi ya pa" ibu Ren, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Ia, di televisi, katanya tempatnya sepi, bisa ambi foto yang bagus, tanpa terganggu, orang lalu lalang, ekspetasi tidak sesua realita ternyata ya ma" ayah Ren, menimpali.


"Apa waktu itu, karena nonton acara televisi juga barangkali non, makanya non merasa pernah ke sini" bi Nina ikut mencoba meyakinkan bahwa orang rumah, belum pernah ke tempat wisata tersebut.

__ADS_1


Tapi tetap saja, Ren merasa pernah ke sana, dan entah dengan siapa, tapi kejadian yang ia alami sama, ada tiga orang yang ikut bersamanya, dan meskipun samar-samar, dia yakin itu, kedua orangtuanya dan pengasuhnya


Ren memilih berjalan berkeliling sejenak ke taman bunga, dan meminta bi Nina, tidak mengikutinya. Awalnya kedua orang tua Ren dan bi Nina, khawatir membiarkan Ren sendirian, tapi karena lokasinya tidak jauh dari tempat untuk bersantai, Ren di izinkan untuk berjalan sendirian.


Awalnya semua baik-baik saja, tapi semakin Ren memasuki taman bunga, entah mengapa, dia merasa yakin, kalau memang pernah mengunjungi tempat wisata yang sekarang ia kunjungi.


"Mau saya ambilkan foto?" suara seorang pemuda membuyarkan lamunan Ren. Pemuda yang menurut Ren, tampan dan menarik. Dan membuat Ren, sejenak salah tingkah.


"Nanti hasil fotonya, ambil di depan ya mbak" ujar pemuda tampan tersebut, dan ternyata merupakan strategi pemasaran yang dilakukan oleh pengelola tempat wisata.


"Mendingan ambil foto sendiri, terus di cetak di rumah, gratis" ujar Ren, yang merasa menjadi korban promosi yang dilakukan oleh


pihak pengelola, yang sengaja mempekerjakan staf yang tampan dan ahli fotografi, dan banyak yang mengira kalau staf ini, adalah pengunjung, dan karena tampan dan menarik, yang sering terjebak adalah kau Hawa, dan Ren salah satunya.


"Strategi pemasaran yang jitu" ujar Ren, dan ketika hendak melanjutkan jalan-jalannya, Pemuda tampan tukang foto tersebut, memanggil Ren, dan kemudian menyerahkan hasil jepretannya kepada Ren.


"Untuk kamu gratis, pengunjung spesial, karena cantik" ujar pemuda tersebut, yang membuat Ren tersipu malu.


"Yang membuat fotonya indah bukan bunganya, tapi ada peri cantik yang berada diantara bunga-bunga tersebut" ucap pemuda tampan itu lagi.


Lagi-lagi Ren dibuat tersipu malu, karena selama ini, teman laki-laki Ren yang sebaya, hanya teman arisan ibunya. Untuk sepupu, kebanyakan sudah berkeluarga. Dan Ren satu-satunya dari garis keturunan baik dari ibu maupun ayahnya, yang belum menikah, karena, baik ayah atau ibu Ren, adalah anak bungsu. Dan memiliki rentang usia yang terpaut jauh dari saudaranya yang lain.


Selain tidak memiliki sepupu sebaya, dan teman sekolah, karena selama ini sekolah private, Ren juga tidak pernah merasakan yang namanya pacaran, dalam artian yang sebenarnya.


Mendapatkan perlakuan romantis dari seorang pemuda tampan seperti yang ia alami saat ini, membuat hati Ren, berbunga-bunga.


"Kamu baru ya kesini?" tanya pemuda tampan pada Ren yang masih salah tingkah.


"Sebenarnya ini untuk pertama kalinya kesini, tapi entah kenapa, rasanya aku pernah ke sini" kata Ren yang membuat pemuda tampan tersebut heran.


"Maksud kamu apa ya, kok agak aneh gitu rasanya, belum pernah ke sini, tapi serasa pernah ke sini,"


"Nggak tahu juga ya, soalnya itu yang aku rasakan, kamu sudah lama bekerja di sini?" tanya Ren


"Dari kecil, aku kan tinggal di sini, tumbuh besar di sini" jawab pemuda tampan tersebut.

__ADS_1


"Oh... Begitu, jujur rasanya ada bagian yg taman ini yang begitu familiar buatku, tapi aneh saja, soalnya aku belum pernah ke sini, jadi ya mungkin itu memang agak sedikit aneh kedengarannya"


"Bagaimana kalau kita sambil duduk, istirahat sejenak di bangku kayu di dekat taman bunga Bougenville, di sana pemandangannya bagus" tawar laki-laki tersebut. Karena cuaca mulai panas.


Ren berhenti sejenak di jalan setapak menuju taman bunga Bougenville tersebut. Karena diingatan Ren, dia pernah bersama seorang pemuda, yang wajahnya samar-samar terlihat.


Seingatnya keduanya saat itu sedang dimabuk cinta, dan karena lokasi taman bunga Bougenville yang sepi dari lalu lalang orang, di dalam ingatan Ren, saat itu dia dan pemuda tersebut berciuman mesra di sana.


Ren buru-buru membuang ingatan anehnya tersebut, dan karena mengingat hal tersebut, membuat Ren malu sendiri, sehingga membuat wajahnya memerah.


"Wajahmu kenapa memerah begitu, pasti karena kepanasan, oh ia, apa kamu dan keluargamu menginap di sini?" tanya pemuda tersebut


"Sepertinya ia" jawab Ren, yang salah tingkah, dan dia membodohi dirinya sendiri, mana mungkin dia bisa berciuman dengan seorang pemuda, kalau tunangan tempo hari saja, karena dijodohkan. Dan mungkin karena efek terlalu lama sendiri, setelah gagal menikah pikir Ren, sembari tersenyum.


"Kenapa tersenyum? Tapi senyumanmu manis, hati-hati nanti didekati kumbang nakal loh" ujar pemuda tampan tersebut.


Karena Ren suka tempatnya, ayahnya menambah hari menginap menjadi empat hari, dan selama empat hari tersebut, Ren pun perlahan akhirnya akrab dengan pemuda tampan yang bernama Ruli.


Ruli kerap mengajak Ren berkeliling tempat wisata, dan tidak hanya taman bunga, tapi juga spot wisata yang lain yang ada di areal tempat wisata tersebut.


Baik Ren maupun Ruli merasa keduanya nyambung, bahkan Ruli terang-terangan mengatakan dia menyukai Ren dari pertama bertemu, dan Ruli akhirnya mencoba memberanikan diri menyatakan cinta pada Ren, tepat di hari ke tiga Ren dan keluarganya menginap disana.


Ruli mengajak Ren pergi ke taman bunga Bougenville yang sedang bermekaran, dan disana Ruli, menyatakan perasaannya.


Bak gayung bersambut, Ren ternyata juga menyimpan perasaan yang sama. Ruli yang membawa setangkai bunga mawar merah yang sudah dipersiapkan sebelumnya, memberikan bunga tersebut kepada Ren, dan dengan tersipu malu, Ren menerimanya.


Tapi ketika Ruli menggenggam kedua tangan Ren, dan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Ren, dan Ren yang tahu apa maksud Ruli, gugup.


Meskipun awalnya Ren merasa gugup, karena ini kali pertama dia sedekat ini dengan seorang pemuda, dan akhirnya membuatnya spontan memejamkan matanya.


Perlahan Ren merasakan bibir Ruli mulai menyentuh bibirnya, Ren spontan menggenggam tangan Ruli. Dan perlahan-lahan mereka berdua benar-benar menikmati ciuman mesra tersebut.


"Aku mencintaimu, dan kita hanya sebatas ini, aku ingin ketika kamu sah menjadi milikku, semuanya akan menjadi milikmu" ucap Ruli yang disertai senyuman manis Ren, yang merasa tidak salah menjatuhkan pilihan hatinya pada pemuda tampan yang kini ada dihadapannya, karena pemuda tampan tersebut, tidak serta merta mengambil kesempatan, hanya karena melihat begitu menggebu-gebu nya cinta yang Ren padanya.


Mungkin kalau itu pemuda lain, cara mengungkapkan cinta pastilah sudah sangat jauh, bahkan mungkin terlalu jauh, terlebih suasana sepi, dan kedua orang tua Ren pun, sedang pergi sebentar, karena ada yang harus dibeli di minimarket, karena stok di penginapan habis.

__ADS_1


Ditambah bintang bertaburan, romantis, dan sesekali angin semilir bertiup, suasana yang benar-benar sangat mendukung, tapi Ruli tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Sebelum berpisah, Ruli mengecup kening Ren, tanda kalau dia menyayangi Ren, dari hati yang terdalam.


__ADS_2