
Bayu akhirnya bisa memejamkan matanya, saat hari hampir menjelang subuh, karena setiap kali mencoba untuk memejamkan matanya, suara seorang perempuan yang mengucapkan kata Barem terus menganggu tidurnya, meskipun dengan segala cara, Bayu menutup rapat telinganya, tetap saja suara itu jelas terdengar.
"Kenapa wajahmu? Seperti orang kurang tidur" ucap Ren sembari membantu merapikan semua bawaan Bayu yang nantinya akan dibawa pulang.
"Kamu nggak kursus?" tanya Bayu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, agar Ren tidak terus bertanya tentang kondisinya.
"Izin, soalnya pacarku keluar dari rumah sakit, jadi harus dirayakan" ucap Ren sembari mencubit hidung bangir Bayu.
"Bi Nina kemana? Kok nggak ikut?" tanya Bayu.
"Masak makanan yang spesial katanya"
"Seperti ada perayaan besar saja"
"Perayaan pacar tampan ku ini, keluar dari rumah sakit, tahu nggak, bi Nina yang justru heboh begitu mendengar kamu akhirnya boleh keluar dari rumah sakit, katanya sepi kalau nggak ada kamu, yang lain juga bilang begitu, nggak ada teman ngobrol, kata mereka nggak ada kamu, rumah nggak ramai" ucap Ren, yang membuat Bayu tersenyum, karena tidak menyangka jika, begitu besarnya perhatian rekan kerjanya yang lain padanya.
Tadinya, Bayu merasakan semuanya baik-baik saja, dari sikap Ren dan semua tingkah lakunya, tapi semuanya berubah ketika diperjalanan, karena Bayu merasa, tempat yang ia lewati bukan jalan menuju rumah Ren, melainkan jalan yang benar-benar asing baginya, dan sejenak Bayu mencoba berpikir, apakah yang ia alami saat ini, nyata ataukah hanya halusinasi.
Semakin jauh perjalanan, yang Bayu lihat hanyalah hutan belantara, dan meskipun jalanan yang dilewati bagus, tapi pemandangan sekelilingnya menurut Bayu menyeramkan, karena sejauh mata memandang, yang ada hanya pohon-pohon besar, dan bau bunga yang melati yang hilang datang membuat bulu kuduk Bayu merinding, untuk menenangkan diri, Bayu membaca doa apa saja yang ia bisa.
"Kita kemana sebenarnya?" tanya Bayu
__ADS_1
"Namaku Barem" perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Ren, hanya saja kulitnya sedikit lebih gelap dari Ren.
"Kita ke rumahku, nanti kamu akan tahu segalanya, dan semuanya tinggal keputusanmu, melanjutkan ataukah berhenti, sejak awal, apa yang sudah kamu lakukan salah, Ren, sudah ditakdirkan untuk tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, karena dia milikku" ucap perempuan yang bernama Barem, dan seketika wajah yang tadinya normal selayaknya manusia, berubah drastis menjadi menyeramkan, karena sosok yang ada dihadapan Bayu, bukan lagi manusia pada umumnya, melainkan perempuan berambut panjang tak terurus dengan gigi-gigi runcing dan disertai darah yang keluar dari sela-sela gigi-gigi tersebut.
Bayu tertegun, seketika tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali, bahkan untuk memejamkan mata Bayu tidak bisa, karena mahluk yang ada dihadapannya seakan-akan memaksa Bayu untuk tetap menatap wajahnya, yang menurut Bayu buruk rupa.
Bayu kaget ketika merasakan seseorang menepuk-nepuk pipinya dengan cukup keras, dan ketika dia membuka matanya, Bayu justru berada di rumah Ren, tepatnya di kamar tamu, tempat yang akan Bayu gunakan untuk sementara, selama masa pemulihannya, karena bagi kedua orangtua Ren, Bayu sudah menjadi bagian dari keluarga mereka, jadi tidak ada jarak lagi, dan bahkan Bayu sempat dimarahi oleh ayah Ren, karena terus-menerus merasa sungkan dengan semua perlakuan yang ia dapatkan dari keluarga tersebut.
"Maaf, pipi mu sakit ya?" tanya Ren sembari mencium pipi Bayu, dan tentunya Ren sudah memastikan bahwa, tidak ada bi Nina di kamar, karena jika sampai bi Nina tahu, Ren akan dimarahi habis-habisan oleh bi Nina, karena menurut bi Nina, tidak baik perempuan dan laki-laki tanpa ikatan, melakukan hubungan fisik, sekalipun hanya ciuman di pipi, karena siapa yang bisa memastikan, hubungan tersebut tidak akan berlanjut ke hal-hal yang lain, karena dua orang yang sedang dimabuk cinta, biasanya rentan digoda oleh setan, begitu menurut bi Nina.
"Wajahmu kenapa seperti orang aneh begitu?"
"Sekitar jam tiga sore, lalu kamu bilang ngantuk dan mau tidur sebentar, eh... malahan mengigau, kamu mimpi apa sih? Seperti orang ketakutan begitu?" tanya Ren.
Lama Bayu terdiam, dan sejurus memandang wajah Ren, sejujurnya dia bingung, apakah dia harus menceritakan semua yang baru saja ia alami, yang ia sendiri bingung apakah yang baru saja ia alami mimpi ataukah kenyataan, ataukah merahasiakannya saja, tapi semua yang terjadi padanya, seakan-akan terhubung dengan Ren, ataukah ada rahasia tentang Ren yang dia bahkan mungkin Ren sendiri tidak ketahui, dan Barem, siapa dia? Apa hubungannya dengan Ren.
"Mimpi di kejar banyak perempuan cantik, jadinya takut, takut kamu marah" ucap Bayu berbohong.
Mendengar ucapan Bayu, Ren hanya tersenyum, sembari menyodorkan piring berisi buah-buahan yang baru saja ia kupas.
"Kalau kamu sudah benar-benar sehat, kita jenguk ibu ya?" ajak Ren pada Bayu.
__ADS_1
"Ia" ucap Bayu sembari mengambil potongan buah apel yang ada di piring, sejujurnya Bayu tidak begitu fokus dengan apa saja yang Ren ucapkan, karena yang ada dipikirannya sekarang hanya Barem.
Melihat Bayu tidak begitu menggubris perkataannya, Ren merasa kesal, dan Bayu mencoba mencari alasan kenapa dia tidak begitu fokus dengan perkataan Ren, karena dia benar-benar sulit untuk konsentrasi, karena terkadang pusing yang ia rasakan hilang datang, dan memang benar, rasa nyeri pada kepalanya memang sering hilang datang Bayu rasakan.
"Maaf, tapi sekarang, sudah agak mendingan kan?" tanya Ren
"Lumayan" jawab Bayu, yang sejurus memicingkan matanya, karena seakan-akan dia melihat Meira sedang berdiri di depan pintu kamar tamu tempat Bayu sekarang berada.
Dalam hati Bayu merasa heran kenapa Meira kembali, padahal sudah cukup lama Meira tidak menampakkan dirinya pada Bayu, baik itu di dalam mimpi, atau saat Bayu sedang bersama dengan Ren, tapi sekarang kenapa Meira muncul kembali, dan kenapa raut wajahnya seakan-akan menunjukkan kesedihan, dan kekhawatiran.
Bayu benar-benar dibuat bingung dengan apa yang terjadi padanya, sejujurnya dia tidak begitu percaya dengan hal-hal yang berbau mistis, tapi apa yang terjadi padanya, benar-benar nyata adanya, karena dia merasa benar-benar dibawa oleh perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Ren, hanya warna kulitnya saja yang berbed, ke sebuah pedesaan yang ia sendiri tidak tahu itu dimana, dan sosok perempuan yang mirip Ren tersebut, bahkan mengatakan Ren adalah miliknya, dan apa maksud dari semua keanehan yang Bayu alami beberapa hari belakangan ini.
"Kamu lihat siapa sih?" tanya Ren heran, karena pandangan Bayu jelas bukan ke arahnya, melainkan ke arah pintu, dan Ren sedikit heran, karena tidak ada siapapun disana, lalu siapa yang Bayu perhatikan dengan seksama.
"Bi Nina yang lewat, memberi kode, kalau makanannya sebentar lagi siap di sajikan" ucap Bayu, yang lagi-lagi berbohong.
"Bi Nina ada-ada saja" ucap Ren sembari beranjak dari tempat duduknya, dan mengatakan ingin melihat persiapan sajian makanan untuk menyambut kedatangan Bayu.
Baru saja ingin merebahkan tubuhnya, ponsel Bayu berbunyi, dan terdapat beberapa pesan masuk tertera di layar ponsel, dan itu dari Gita, yang menanyakan kabar Bayu, karena menurut cerita Gita, dia baru saja bermimpi kalau Bayu dibawa oleh sosok yang mirip Ren, hanya saja warna kulitnya agak gelap, dan karena lupa apa yang ia mimpi kan selanjutnya, membuat Gita ingin memastikan kondisi Bayu yang sebenarnya, apakah baik-baik saja, dan Gita mengatakan, tadinya ingin datang ke rumah sakit, tapi dia tidak nyaman dengan Ren, takut Ren lagi-lagi salah paham dengan dirinya, meskipun, sebenarnya, hati Gita sudah benar-benar tertambat pada sosok Bayu yang tampan dan sederhana.
Bayu heran, kenapa Gita yang justru bermimpi tentang dirinya, apa sebenarnya yang terjadi, atau apakah semuanya memang ada kaitannya, hanya saja mereka tidak pernah menyadari hal tersebut, tapi Bayu tidak ingin mereka-reka semuanya sendirian, dan mencoba untuk mencari kebenarannya sendirian terlebih dahulu, dari pada hanya mengandalkan asumsi pribadi.
__ADS_1