
Disaat menikmati sore, diatas balkon kamarnya, perhatian Ren yang tadinya tertuju pada tukang rumput yang sebagian sedang membersihkan halaman, dan sebagian lagi menyiram bunga Bougenville yang ia tanam, seketika bergeser pada sebuah mobil yang baru saja masuk.
Ren memperhatikan tingkah laku seorang laki-laki yang baru keluar dari mobil. Jika dilihat dari perawakan kelihatannya masih muda, tapi Ren belum terlalu yakin, karena dia hanya melihat dari kejauhan.
"Cemilannya non" bi Nina meletakkan sepiring kukis coklat dan secangkir teh ke atas meja.
"Bi, itu yang baru datang siapa?"
"Supir baru non"
"Kok papa cari supir baru, bang Ahmad kemana memangnya?" tanya Ren sembari menyeruput teh hangatnya.
"Berhenti non, mau nikah katanya"
"Kok bang Ahmad nggak kasih tahu saya, tega banget"
"Ahmad bilang, kalau nanti acara nikahannya sudah beres, dia akan datang silaturahmi, dengan istrinya"
"Nggak nyangka ya bi, akhirnya bang Ahmad nikah juga, pantas akhir-akhir ini, papa sering bawa mobil sendiri"
"Jodohnya sudah ketemu, ya nunggu apa lagi coba"
"Ia juga ya bi, oh ia, supir baru papa, tua atau muda?"
"Muda non, mungkin nggak beda jauh dari non"
"Tumben papa cari supir muda, biasanya papa lebih percaya yang tua, katanya berpengalaman"
"Soal usia nggak bisa jadi tolak ukur pengalaman kerja non, kalau pengalaman hidup mungkin ia"
"Benar juga ya bi, nanti Ren mau tanya papa, boleh nggak pinjam supir baru papa"
"Memangnya non mau kemana?"
"Jalan-jalan yang dekat-dekat saja, nanti bibi ikut juga ya, sumpek juga bi, rutinitas yang selama ini dilakukan hanya seputaran rumah saja"
"Atur-atur saja non, bibi sih ikut saja" ucap bi Nina sembari tersenyum.
__ADS_1
Ren menemui ayahnya, dan mengutarakan keinginannya. Ren sebenarnya takut kalau ayahnya tidak mengizinkannya. Soalnya ayahnya khawatir, dengan kebiasaan Ren, semenjak Ruli meninggal, dari rumah niatnya mau belanja, tapi ujung-ujungnya, perjalanan Ren selalu berakhir ke makam Ruli.
"Ada yang ingin Ren beli, boleh ya pa, bi Nina ikut juga kok"
"Oke, dan sekalian papa ingin kenalkan kamu dengan pengganti Ahmad, namanya Bayu"
"Hai bang Bayu" sapa Ren, dan memang begitulah yang diajarkan oleh kedua orang tua Ren selama ini, sekalipun dengan tukang rumput, harus sopan, terlebih jika itu orang yang lebih tua usianya, jadi kesimpulannya jangan melihat dari apa pekerjaannya, tapi lihat dari usianya.
Karena meskipun pembantu atau apapun pekerjaannya di rumah, tetap tata krama harus diutamakan. Karena tanpa mereka, pekerjaan rumah tidak akan selesai. Meskipun mereka bekerja karena di gaji.
"Bang Bayu sudah lama jadi driver?" tanya Ren mencoba memulai obrolan
"Dari lulus SMA non"
"Panggil saja Ren, nggak usah ditambah non, kayaknya kita sebaya"
"Turuti saja nak Bayu" ucap bi Nina.
"Non, nyonya tanya kita sebenarnya mau kemana? Tuan yang sepertinya kasih tahu, kalau kita lagi jalan-jalan"
"Bilang saja mau shopping bi, pasti mama mau pesan sesuatu"
"Ya sudah, bang Bayu, tahu kan lokasinya"
"Tahu, saya juga suka roti isi yang di jual di sana"
"Wah kebetulan punya selera tempat makan yang sama, mama pasti senang, akhirnya punya patner makan, makanan kesukaannya, soalnya papa nggak begitu suka roti isi, papa lebih sukanya martabak telur"
"Bang Bayu nggak pesan, katanya suka, mumpung belum ramai yang beli loh, pilih saja isiannya, mau lebih dari satu juga nggak apa-apa" ujar Ren, sembari mengunyah roti isi miliknya.
"Kunyah dulu, lalu telan, habis itu baru bicara, kalau tersedak bagaimana?"
Ren hanya tersenyum mendengar ucapan bi Nina. Dan sesekali mencuri pandang ke arah Bayu, yang menurut Ren tampan.
"Non, nyonya bilang, nanti kita sekalian jemput beliau, soalnya nggak lama lagi, arisan selesai, hari ini dirumah siapa bi, tempat arisan mama"
__ADS_1
"Rumah ibu Nurul, di daerah jalan lingkar beringin" bi Nina menjelaskan lokasinya
"Rumahnya Beni yang badannya bongsor itu ya bi?" tanya Ren.
"Ia, bukannya, Beni teman kecilnya non"
"Ia, tapi teman kecilku sekarang perlahan satu persatu meninggalkanku bi"
"Masih ada bibi non, dan Bayu juga pasti mau berteman dengan non, ia kan nak Bayu"
"Saya harus tanya Tuan Hadi dulu bi"
"Kok tanya papa segala, kan cuma berteman, bukan yang aneh-aneh"
"Peraturannya begitu, jika sedang bekerja, fokus saja bekerja, jangan campurkan urusan pribadi dan pekerjaan, harus profesional agar bisa dipercaya"
"Oh... begitu, rumit juga ya rupanya, peraturan papa agak aneh, tapi karena papa nggak lihat, bang Bayu nggak perlu sungkan ya, anggap saja teman, oke" ucap Ren, sembari membentuk oke pada jarinya.
Selama perjalanan, menjemput ibunya dari kegiatan rutinnya, yaitu arisan, Ren merasa, seakan dia sudah lama mengenal Bayu, tapi dimana mereka pernah bertemu, Ren tidak begitu mengingatnya.
Ingin rasanya dia bertanya banyak tentang asal usul Bayu, tapi itu artinya, dia harus punya alasan yang kuat, kenapa sampai harus tahu tentang identitas pribadi seseorang secara detail.
Ren tahu benar bagaimana tipikal ayahnya, dalam menerima pekerja baru, persyaratan terpenting adalah identitas, semua harus jelas.
Kalau Bayu diterima sebagai supir pribadi ayahnya, itu artinya Bayu sudah memenuhi standar ayahnya Ren.
Tapi tetap saja Ren masih penasaran dengan Bayu, karena akhirnya untuk pertama kalinya, dia punya teman sebaya dirumah.
Soalnya selama ini, pekerja yang kebanyakan dipekerjakan oleh ayah Ren, rata-rata usia mereka jauh diatas Ren.
Padahal Ren ingin sekali punya teman ngobrol yang nyambung, memang terkadang anak teman arisan ibunya, sering berkunjung, jika kebetulan, giliran arisannya di rumah Ren.
Tapi obrolan yang ada, hanya basa basi, dan jatuhnya jadi membosankan. Dan Ren bisa melihat, kalau anak-anak teman arisan ibunya, seperti enggan untuk berteman dengan dirinya.
Apa karena punya kebiasaan aneh, tapi apa harus, menjauhi seseorang karena berbeda, lagipula semua keanehan yang ada pada diri Ren, bukanlah sesuatu yang berbahaya atau menular, lantas kenapa hampir semua teman kecilnya, menjauhinya.
Ren sedih jika mengingat hal tersebut, dan ketika Bayu datang, ia merasa seakan mendapatkan hadiah.
__ADS_1
Tapi masalahnya bagaimana caranya, untuk bisa dekat dengan Bayu. Terlebih Bayu terlalu kaku, dan dia hanya menjalankan semua peraturan sesuai standar operasional prosedur atau SOP yang diberikan oleh ayah Ren.
Ren terus mencari cara untuk mendekati Bayu, agar bisa diajak ngobrol antar teman, dan karena masih menemui jalan buntu, dia hanya bisa curi-curi pandang jika kebetulan berpapasan dengan Bayu.