Rahasia Ren

Rahasia Ren
Kesepian


__ADS_3

Ren terkadang jenuh, dengan rutinitas kesehariannya. Sementara kedua orang tuanya masih belum memberikan kelonggaran untuk Ren melakukan aktivitas di luar.


Untuk membunuh rasa sepinya, Ren akhirnya kembali menekuni hobi lamanya, menggambar.


Sepintas jika dilihat tidak ada yang aneh dari gambar yang Ren buat, tapi jika diamati secara seksama, seperti sebuah potongan cerita.


Padahal Ren menggambar semuanya sesuai suasana hatinya. Tapi tetap saja terkadang bi Nina, merasa Ren, semakin aneh.


Hasil gambar yang Ren buat biasanya akan bi Nina kumpulkan, dan akan dia tempelkan pada papan yang dibuat oleh tukang rumput keluarga Ren.


Semua gambar yang Ren buat, seperti sebuah jalinan cerita, tapi ketika bi Nina, bertanya gambar siapa yang Ren gunakan sebagai contoh, Ren hanya menjawab imajinasi.


Bi Nina heran, semua rasanya tidak mungkin digambar begitu saja, karena imajinasi, karena rasanya tidak masuk akal.


"Benar nyonya, gambar yang nona Ren buat aneh, dan dia bilang semua imajinasinya, tidak meniru siapapun" bi Nina memberi tahu kepada ibu Ren, tentang gambar-gambar yang Ren buat.


"Biarkan sajalah bi, selama dia senang" jawab ibu Ren santai, seakan semua tidak masalah. Tapi entah kenapa bi Nina, merasakan gambar yang Ren buat, seperti sebuah rangkaian cerita.


Meskipun sudah lama mengabdi di keluarga Ren, bi Nina, tidak tahu semuanya tentang keluarga kaya raya tersebut. Yang ia tahu keluarga tersebut baik kepadanya, karena mau mempekerjakannya, dan bahkan menyekolahkan anak-anaknya, hingga bisa mandiri. Dan sekarang, bi Nina bisa fokus pada Ren.


Selama merawat Ren, dari sejak usia lima tahun, rasanya semuanya baik-baik saja. Dan apa karena keputusan kedua orang tua Ren, yang ingin anaknya sekolah private, yang membuat Ren kesepian, tapi keputusan yang mereka ambil tentunya melalui pertimbangan yang matang, tidak sembarang mengambil keputusan.


Bi Nina, baru menyadari, bahwa keputusan kedua orang tua Ren, menyekolahkan Ren secara private, bukan tanpa alasan, itu karena kesibukan kedua orang tua Ren sendiri, dan membuat Ren sering ikut orang tuanya bepergian ke luar kota atau luar negeri.


Karena jika sekolah umum, khawatirnya, justru akan sulit bagi Ren, untuk mengejar ketertinggalan pelajarannya nanti.

__ADS_1


Lagi pula kedua orang tua Ren, sangat protektif kepada Ren. Khawatir jika Ren sekolah di sekolah biasa, dan tanpa pengawasan orang tua, akan menjadi terlalu bebas nantinya.


Tapi semua sikap over protektif, justru menjadi bumerang bagi mereka sendiri sekarang. Ren justru tumbuh menjadi gadis kesepian.


Tak banyak teman, dan tak pernah reuni sekolah, dan hal itu membuat Ren iri dengan anak yang lain.


Untuk mengobati rasa kesepiannya, Ren kecil diberikan peralatan menggambar, dan akhirnya mulai belajar menggambar sejak saat itu, dan karena dilatih secara terus menerus sejak kecil, makanya hasil gambar Ren, sangat bagus.


Ada satu gambar yang bi Nina suka, Ren menggambarnya saat pernikahannya batal. Dan meskipun itu hanya gambar siluet seorang pemuda, tapi menurut bi Nina, bagus, dan ia pun memintanya untuk ditempelkan ke kamarnya.


Banyak juga hasil gambar Ren yang lainnya ia minta untuk disimpan, karena memang bagus, seperti hasil gambar seorang profesional.


Meskipun sempat berhenti menggambar, keahlian Ren tidak luntur. Dan menurut bi Nina, ini mungkin yang namanya bakat alam.


Dari semua gambar yang ia buat, Ren sangat menyukai gambar bunga Bougenville yang sedang bermekaran, karena bunga itu bisa sejenak menjadi pengobat rindunya kepada Ruli, tapi juga terkadang menjadi penyebab Ren menangis karena rasa rindunya yang masih terlalu besar pada Ruli dan belum bisa ia hilangkan sepenuhnya.


Melupakan seseorang yang kita cintai tidak semudah membalikkan telapak tangan, begitu juga bagi Ren.


Entah karena kerinduan yang amat dalam, membuat Ren bermimpi, tapi sosok pemuda yang ada dalam mimpinya bukan Ruli, dan itu seperti yang pernah hadir dalam mimpinya dulu.


Tapi kali ini mimpinya seperti puzzle yang berantakan, seorang gadis, dan seorang pemuda, yang saling berhadapan, tapi tidak bisa melihat satu sama lain.


Ada seorang wanita tua yang menangis di taman bunga Bougenville, persis seperti di lokasi wisata milik keluarga Ruli.


Ada juga seorang gadis muda yang hanya bisa melihat dari kejauhan semua itu, dan meskipun mimpi yang dialami Ren seperti puzzle, tapi kali ini, dia mengingatnya.

__ADS_1


Padahal dulu, sangat sulit bagi Ren, untuk mengingat secara utuh mimpi-mimpinya tersebut.


Kalaupun ia ingat, hanya sebagian kecil. Tapi kali ini hampir semuanya, dan mimpinya terputus ketika ia tersentak bangun, ketika merasa seseorang memegangi tangannya.


Tangan yang dingin, sedingin es, tapi ketika Ren bangun, tidak ada siapapun di kamarnya, karena masih subuh.


Awalnya Ren takut, tapi akhirnya mencoba memberanikan diri, melihat dibawah ranjangnya, apa ada orang atau tidak, dan kosong, lalu siapa yang memegang tangannya.


Ren berpikir keras, apa itu hantu, tapi rasanya tidak mungkin, biasanya kejadian janggal tersebut, sering ia lihat hanya dalam adegan sebuah film horor saja, tapi kini ia alami juga, Ren bergidik ngeri.


Atau itu hanya bunga mimpi, tapi Ren rasa itu bukan mimpi, pegangan tangan yang sedingin es tersebut, terasa nyata, seperti pegangan meminta tolong.


Ren jadi uring-uringan seharian, karena memikirkan mimpinya tersebut, dan tadinya ia berniat menceritakan mimpinya pada bi Nina, atau ibunya, tapi ia urungkan, karena Ren khawatir nantinya kedua wanita yang ia sayangi tersebut, kepikiran karena dirinya.


Yang Ren lakukan untuk mengusir rasa penasarannya, dengan kembali menggambar. Satu persatu potongan mimpi anehnya ia gambar, dan ia coba susun satu persatu.


Ren merasa, apa yang bi Nina katakan tentang mimpi yang ia alami adalah sebuah jalinan cerita, rasanya memang masuk akal.


Tapi tetap saja penuh misteri, dan aneh, dan yang membuat Ren penasaran, selain tangan sedingin es tersebut, mimpinya tentang seorang pemuda dan seorang gadis yang duduk berhadapan tapi tidak menyadari kehadiran satu sama lain.


Padahal keduanya saling berhadapan, dan berpandangan, seakan keduanya berada di dimensi yang berbeda, tapi di tempat yang sama.


Seperti saling menunggu kedatangan masing-masing, tapi seperti yang ditunggu tak kunjung datang. Padahal keduanya berhadapan.


Situasi yang sangat menyedihkan, menurut Ren, berada ditempat yang sama, tapi tidak menyadari kehadiran satu sama lain, padahal kerinduan jelas terlihat disana.

__ADS_1


Bunga Bougenville, Ren merasa aneh, kenapa kehidupannya akhir-akhir ini, tidak jauh dari bunga Bougenville.


Apa itu seperti petunjuk, atau hanya kebetulan saja, tapi Ren rasa, tidak ada yang kebetulan dimuka bumi ini, yang ia yakini, ketika manusia dihadirkan kemuka bumi, masing-masing sudah membawa janji mereka masing-masing, baik itu maut, rezeki dan jodoh.


__ADS_2