Rahasia Ren

Rahasia Ren
Rindu


__ADS_3

Masih sulit bagi Ren, untuk bisa melupakan kenangan indahnya bersama Ruli. Dan terkadang Ren lelah dengan kisah cintanya, tidak ada yang berakhir bahagia.


Terkadang jika rindu, Ren meminta ibunya untuk menemaninya pergi ke makam Ruli, yang tidak jauh dari lokasi wisata.


Kedua orangtuanya memang sengaja untuk memakamkan anaknya tidak jauh dari lokasi wisata yang juga merupakan rumah tinggal mereka.


Alasannya jika rindu, mereka bisa segera berziarah ke makam Ruli. Dan karena Ruli sangat menyukai bunga Bougenville, disekitar makamnya, sengaja ditanami bunga Bougenville segala warna.


Sejujurnya ketika melihat bunga Bougenville, rasa sedih yang tadinya tidak ingin Ren tunjukkan, gagal, air matanya tumpah, dan akhirnya dia hanya bisa melihat makam Ruli dari kejauhan, sungguh cintanya pada Ruli masih sangat besar.


"Bunga Bougenville kalau mekar indah juga ya non, apalagi warna warni begini" ucap bi Nina, mencoba menghibur Ren. Dan Ren hanya menanggapi dengan senyuman tipis.


"Bi ternyata merindukan seseorang yang sudah nggak ada itu berat ya?" lirih Ren


"Kalau rindu, lebih baik kirim doa non, karena hanya itu saja yang bisa kita lakukan sekarang, saya juga, kalau lagi rindu sama ayahnya anak-anak, dan nggak bisa ziarah karena jauh, saya kirim doa"


"Bi, kenapa ya kisah cintaku kok tragis ya, dulu bertunangan dengan orang yang dijodohkan. Dan dua hari sebelum acara pernikahan, dia membatalkan pernikahan, karena sudah menghamili perempuan lain, kenapa coba, kalau memang nggak cinta, dari awal pertunangan nolak gitu"


"Non sendiri saat tuan mengatakan ada yang ingin melamar, kok langsung setuju"


"Saya pikir Hari itu, pemuda yang baik, dan tentunya pilihan papa dan mama pasti terbaik untuk anaknya, lagian ya bi, mana ada keluarga lain yang mau anak laki-lakinya menikah dengan gadis yang sering mengunjungi psikiater, selain keluarga Hari"

__ADS_1


"Benar juga sih, tapi lebih baik batal menikah non, dari pada gagal membina rumah tangga, itu jauh lebih menyakitkan" ujar bi Nina.


"Terkadang saya takut bi, takut tua sendirian, kesepian, dan itu pasti sangat menyedihkan"


"Non masih muda, masih banyak pemuda tampan diluar sana yang pastinya ngantri untuk jadi pendamping hidup non"


"Ah bibi bisa saja, memangnya saya film bioskop, sampai segitunya orang-orang ngantri" ujar Ren sembari tersenyum.


Senyuman yang dirindukan pengasuhnya, karena sudah hampir sebulan Ruli meninggal, Ren jarang tersenyum, dan bicara pun alakadarnya, dan terkadang hal ini membuat kedua orang tuanya khawatir, tapi dokter mengatakan semua akan membaik, yang bisa menyembuhkan luka yang Ren alami adalah dirinya sendiri, yang penting jangan sampai dia merasa ditinggalkan sendirian, selama dia merasa masih diperhatikan itu sudah cukup, meskipun mungkin perhatian yang diberikan kepadanya jarang ia tanggapi, tapi yang penting dia tahu semua orang masih peduli padanya.


"Non mau bibi masakin apa untuk makan malam?"


"Karena selama ini, bibi ikut apa kata Ren jadi sekarang Ren ikut apa kata bibi, dan soal menu makan malam ini, selera bibi, dan Ren yakin pasti enak" ujar Ren, yang membuat bi Nina bingung, harus masak apa, karena kalau selera dia, ya masakan yang biasa ia makan di kampung.


"Ada apa sih bi? Nona muda minta yang aneh-aneh lagi?" tanya asisten dapur penasaran


"Dia minta menu makan malamnya kali ini sesuai selera saya, kan jadi bingung, kalau dia suka, kalau nggak bagaimana dong, soalnya saya tau banget selera anak itu seperti apa"


"Dimasak saja bi, mungkin nona bosan makan makanan ala western terus, dan ingin sesekali makan makanan tradisional"


Bi Nina, akhirnya menyiapkan makanan untuk makan malam. Dan awalnya bi Nina agak khawatir, kalau Ren tidak menyukai menu pilihannya, tapi diluar dugaan, Ren justru lahap menyantap makanan yang dimasak bi Nina.

__ADS_1


"Kenapa bibi nggak pernah masak menu ini untuk Ren? Padahal ini enak" Ren mengajukan protes.


"Bibi kira non nggak suka"jawab bi Nina polos. Dan seingat bi Nina, dari kecil Ren sangat pemilih soal makanan. Tapi semua perlahan-lahan berubah. Entah karena masih diliputi kesedihan karena ditinggal kekasihnya meninggal, atau memang situasi di hati Ren sedang tidak menentu, karena memendam rada rindu yang teramat dalam.


Karena biasanya jika seorang perempuan stres atau banyak pikiran, tak jarang ada sebagian yang melampiaskannya dengan makan, dan itulah yang diyakini bi Nina, perubahan menu makan Ren, bukan semata-mata hanya karena dia ingin, tapi lebih kepada pelampiasan perasaannya yang kosong dan hampa, karena kehilangan seseorang yang ia cintai.


"Bibi senang, non suka dengan masakan yang bibi masak" ujar bi Nina sembari tersenyum melihat Ren yang masih sibuk dengan makanannya.


"Enak banget bi, mantap!!" ujar Ren sembari mengacaukan jempolnya.


Sementara Ren menghabiskan makan malamnya, bi Nina, menghubungi ibu Ren, dan menceritakan tentang Ren yang akhirnya makan dengan lahap, tapi masakan yang selama ini tidak pernah ia makan.


Mendengar Ren makan dengan lahap, ibunya yang sedang berada di luar kota, sangat senang, dan meminta bi Nina untuk menuruti apa saja yang Ren mau, selama hal itu bisa membuat dia bahagia.


"Rumah yang terlalu besar untuk keluarga kecil" gumam Ren yang memilih bersantai sejenak keatas balkon, setelah menikmati makan malamnya.


"Udara malam tidak baik untuk kesehatan non" ucap bi Nina, sembari memberi Ren sweater.


"Seperti matahari dan bulan, sekuat apapun mereka ingin bersama, tetap itu tidak mungkin bisa, matahari hanya untuk siang, dan bulan untuk malam, sekuat apapun rindu yang ada diantara mereka, tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain hanya memendam kerinduan itu didalam hati masing-masing, dan seandainya matahari dan bulan memiliki perasaan, tentunya itu pasti menyedihkan" ucap Ren lirih


Mendengar ucapan Ren, bi Nina, hanya bisa terdiam, dan dia yakin, kalau Ren masih sangat merindukan Ruli.

__ADS_1


Bi Nina bisa memahami apa yang dirasakan oleh Ren, karena seperti itulah yang ia rasakan ketika suami tercintanya, mendahuluinya, pria terbaik yang menerima semua kelemahannya, dan bisa menjadi teman, rekan dan sahabat, dan ayah terbaik bagi anak-anaknya, sulit bagi bi Nina untuk bangkit dari keterpurukannya, setelah ditinggalkan oleh suaminya untuk selama-lamanya, tapi ketika sadar hidup bukan hanya tentang meratapi nasib, dan rasa sedih yang berlebihan justru membebani orang yang meninggal, bi Nina bangkit, hingga akhirnya bertemu dengan keluarga Ren, dan mengabdi sampai saat ini.


Untuk bi Nina maupun Ren, bagi mereka rasa rindu tidak bisa digantikan dengan apapun, meskipun kisah cinta mereka berbeda, tapi rindu yang mereka rasa sama.


__ADS_2