Rahasia Ren

Rahasia Ren
Mimpi?


__ADS_3

Ren terkejut, ketika merasa pundaknya ditepuk seseorang,dan alangkah kagetnya Ren, ketika melihat yang menepuk pundaknya adalah Dean, lalu kejadian yang ia lihat tadi apa?


Mimpi? Menurut Dean, Ren nampak ngantuk berat, sampai-sampai tertidur di mobil, saat jalan pulang, dan karena sudah terlalu lama tertidur, dan sore juga, Dean memutuskan untuk membangunkan Ren.


"Ampun deh, tidur nggak segitunya juga kali Ren, apa kamu sebelum berangkat dari rumah, minum obat atau sejenisnya"


"Nggak? Aku sudah lama berhenti minum obat, biar tidak terlalu ketergantungan, tapi tadi aku jelas melihat kamu menerjunkan diri dari atap Mall"


"Kalau aku terjun dari atap Mall, mana mungkin aku bisa menyetir mobil, apa kamu tertekan, karena menjadi pacar sehari ku?"


"Lumayan tertekan sebenarnya, tapi karena menolong teman, apa boleh buat?"


"Teman? Sejak kapan kita berteman? Aku itu suka sama kamu Ren"


"Jangan bercanda Dean, nggak lucu tahu"


"Siapa yang bercanda, aku serius, bukankah selama janur kuning belum melengkung, itu artinya kamu bukan milik siapapun secara sah"


"Kamu sakit Dean, asal kamu tahu, aku bukan Meira, dan aku nggak mau apa yang terjadi pada Meira terulang kembali, karena tingkah gila mu itu"


"Yang terjadi pada Meira takdir"


"Dasar gila" gumam Ren sembari

__ADS_1


meninggalkan Dean yang terdiam bersandar di mobilnya.


Sejenak Dean terdiam, memikirkan perkataan Ren, tentang menerjunkan diri dari atap Mall, dan seingat Dean, memang benar dia tiba-tiba berada diatas atap Mall, dan dia tidak tahu apa tujuannya kesana, tapi ketika mendengar suara Ren memanggilnya, Dean terkejut dan akhirnya sadar, andai saja, Dean tidak mendengar suara Ren, mungkin dia sudah berada di alam lain.


Soal perasaan, entah kenapa, Dean merasa tidak ingin kehilangan Ren, meskipun dia tahu kalau Ren sedang dekat dengan Bayu.


Apa hanya karena semata-mata ada jantung Meira ditubuh Ren, tapi yang Dean rasakan, bukan hanya soal Meira, tapi ada rasa tenang ketika bersama Ren, yang tidak pernah ia dapatkan ketika bersama Meira.


Sementara dengan Ren, masih mengomel dan membuat bi Nina heran, karena tidak biasa saja, Ren mengomel seperti kereta api lewat.


"Dasar psikopat, sudah jelas-jelas karena sikap posesifnya, yang membuat Meira sampai koma, dan membuat Meira kehilangan kesempatan hidup adalah aku, dan seandainya ada jalan untuk memutar waktu lagi, lebih baik Meira yang hidup" ucap Ren sembari membasahi tubuhnya dengan shower, tapi tiba-tiba shower padam, dan membuat Ren kebingungan, karena belum selesai membersihkan sisa sabun dari tubuhnya, tapi tiba-tiba Ren mendengar suara perempuan tertawa, tapi diselingi dengan tangis, dan arah suara di sekitar bath up yang tertutup kain.


Ketika Ren membuka kain, tidak ada siapapun disana, dan Ren merasa apa yang ia alami, seakan seperti sebuah adegan film horor, tapi ini adalah versi nyata.


Belum habis keanehan yang terjadi karena suara misterius dan menakutkan, tiba-tiba air bath up terisi sendiri, bahkan sampai meluap, dan tentu saja hal ini membuat Ren semakin dibuat takut, dan memilih untuk meminjam kamar mandi bi Nina, untuk membilas tubuhnya.


Namun ketika hendak keluar dari kamar mandi, kaki Ren seakan seperti ada yang memegang, dan tentu saja hal ini, membuat Ren terjatuh, dan ketika terjatuh, Ren jelas melihat seorang perempuan dengan rambut panjang tapi tidak terurus duduk tepat didepannya, sembari menyeringai dan dari sela-sela giginya mengeluarkan darah.


Perempuan misterius tersebut tepat dihadapan Ren dan dalam posisi berjongkok, dan kemudian mengamati wajah Ren secara seksama.


"Cantik" gumam perempuan berambut panjang tersebut, dan Ren hanya bisa terdiam mematung, tubuhnya seketika kaku, tak bisa digerakkan, bahkan untuk berteriak saja, ia tak bisa melakukannya, dan yang Ren lakukan hanya memejamkan matanya, sembari mencoba untuk melawan rasa takutnya.


Untungnya kejadian horor yang Ren alami, tidak berlangsung lama, ketika air di shower kembali mengalir, seketika tubuh Ren kembali bisa digerakkan, dan bergegas Ren keluar kamar mandinya, dan membungkus tubuhnya dengan selimut, Ren benar-benar dicekam rasa takut yang luar biasa.

__ADS_1


Ren tak tahu, apa maksud mahluk tersebut menemuinya, dan apa mahluk tersebut masih ada hubungannya dengan Meira, tapi jika Meira wujudnya seperti perempuan biasa, berbeda dengan mahluk yang ia lihat di kamar mandi, sangat menyeramkan, Ren kapok, tidak ingin melihat mahluk itu lagi, tapi apa yang harus ia lakukan, jika mahluk tersebut kembali mengganggunya, apakah dia harus menceritakan kejadian mistisnya kepada bi Nina, tapi Ren ragu, dia khawatir kalau dia menceritakan kejadian yang ia alami, yang ada, bi Nina akan menceritakan kembali kepada ibunya, dan yang terjadi, ibu dan ayahnya akan kembali khawatir, termasuk Bayu.


Ren sudah nyaman dengan kondisi saat ini, tidak lagi harus mengunjungi psikiater, dan tidak terlalu sering mengkonsumsi obat penenang, Ren merasa hidupnya jauh lebih bebas, tapi kenapa ketika baru saja dia merasa bahagia dengan kondisinya yang semakin membaik, kembali lagi, hal-hal aneh menghampirinya, apakah ada yang salah dengan hidupnya selama ini, tapi apa, yang Ren tahu, dia berhutang nyawa dengan Meira, meskipun kebenarannya, kedua orangtua Ren yang sudah merampas kesempatan hidup Meira untuk dirinya, dan seandainya Ren bisa memilih, dia tidak ingin menerima donor jantung Meira, dan membiarkan Meira yang tetap menjalani hidup, setidaknya rasa bersalah yang membebaninya tidak terus menghantuinya, karena hal itu sangat menyakitkan.


 


"Ada apa non, masih pakai handuk kok, selimutan?" tanya bi Nina.


"Malas ganti baju bi, panas?"


"Non aneh deh, pendingin ruangan ini nyala loh, mana dingin lagi, panas dari mana? Non baik-baik saja kan?" tanya bi Nina sembari memeriksa kening Ren.


"Saya baik-baik saja bi, tenang, mungkin karena mandi air hangat, jadi pendingin ruangan nggak begitu terasa"


"Non nggak pandai berbohong, ada apa sebenarnya?"


"Perempuan berambut panjang menyeringai dengan mengeluarkan darah dari sela gigi-giginya, menggangguku bi, aku takut, apakah itu sosok Meira ya bi?"


 


"Jangan berasumsi sendiri non, takutnya jadi fitnah, orang yang sudah meninggal ya meninggal non, mana mungkin bisa jalan-jalan, yang jelas apa yang non lihat itu mahluk astral yang menyerupai Meira, dan bukan Meira, karena pada kenyataannya Meira sudah meninggal".


Perasaan Bi Nina bahkan menjadi tak menentu ketika mendengar cerita dari Ren, bagaimana mahluk astral tersebut mengatakan kalau Ren cantik, dan jangan sampai Ren dibawanya pulang, karena sekali mahluk astral tersebut membawa seseorang masuk ke dunia mereka, makan tak jarang orang tersebut tidak akan bisa kembali untuk selama-lamanya, dan Ren tidak mau bernasib dengan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2