
Kedua orang tua Ren, mengetahui perihal Bayu menyukai anaknya, dan mengizinkan Bayu untuk mendekati Ren, tapi tentunya dengan aturan-aturan yang mereka buat, dan salah satunya adalah soal pekerjaan.
Bayu harus lolos seleksi menjadi karyawan tetap, karena menurut ayah Ren, menjadi kepala keluarga tidak semudah kelihatannya, harus punya pundak yang kuat dan kokoh untuk menopang kehidupan keluarga.
Bayu bersyukur kedua orang tua Ren, tidak meminta macam-macam padanya, hanya menginginkan dia punya pekerjaan itu saja.
Tapi sejujurnya Bayu sadar diri dengan kehidupannya, semua ia peroleh dari nol, dan dia juga tidak mau orang lain menganggapnya numpang hidup dengan keluarga Ren.
Terkadang Bayu juga berpikir, apakah kedua orang tua Ren, menyetujui hubungannya dengan Ren, hanya karena mereka saling mencintai, tapi entah kenapa Bayu merasa ada tambahan lain selain mencintai satu sama lain, bisa jadi karena balas budi, atau mungkin karena Bayu tahu tentang tranplantasi yang dilakukan oleh kedua orang tua Ren.
Tapi bagi Bayu, kisahnya dan Meira sudah lama usai, meskipun tidak dipungkiri rasa rindu masih ada, karena ini menyangkut perasaan, dan melupakan semua kenangan, tidak semudah membalikkan telapak tangan, terlebih terkadang ada sifat Ren yang mirip dengan Meira, entah itu karena ada bagian tubuh Meira yang ada didalam tubuh Ren.
Sementara itu, dengan Dean, sebelum kembali ke luar negeri, dia mengajak Ren menemaninya berjalan-jalan sejenak, karena dia tidak tahu, apakah dia akan kembali lagi ke tanah air, mengingat kegiatan setelah dia kembali pasti menumpuk.
Dean belum tahu, soal hubungan antara Ren dan Bayu, dan hanya berpikir kalau antara Ren dan Bayu hanya teman dekat, jadi dia merasa tidak masalah membawa Ren keluar jalan-jalan.
Jika Bayu menganggap kisah cintanya dengan Meira sudah lama usai, berbeda dengan Dean, yang masih menyimpan rindu untuk Meira, terlebih Dean tahu tentang tranplantasi yang pernah dilakukan oleh Ren.
Ada Meira di dalam tubuh Ren, itulah yang ada dipikiran Dean, ketika melihat Ren, dan entah kenapa masih sulit bagi Dean untuk melupakan Meira, dan melepaskan Ren, ada rasa cemburu yang memenuhi dada Dean, ketika melihat kedekatan antara Bayu dan Ren.
Begitu juga dengan Bayu, ketika Dean datang meminta izin untuk mengajak Ren untuk keluar bersamanya, dan ternyata mendapatkan izin dari dari kedua orang tua Ren, hati Bayu dilanda cemburu berat, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, selain mempercayai Ren, bahwa dia tidak akan menghianati kepercayaannya.
"Aku lihat, kalian berdua cukup dekat?" Dean yang penasaran mencoba mencari tahu seperti apa sebenarnya hubungan antara Ren dan Bayu.
"Siapa?" tanya Ren yang sedari pergi, nampak melamun.
"Kalian berdua"
"Oh... ia kami memang dekat, memangnya kenapa?"
"Kalian pacaran?" tanya Dean lagi
"Ia" jawab Ren singkat
__ADS_1
"Oh..." Dean menanggapi dengan datar jawaban Ren, serta tanpa ekspresi.
"Kita mau kemana?" tanya Ren
"Temani aku makan malam, makan sendirian itu nggak nyaman" ucap Bayu sembari memarkir mobilnya ke sebuah restoran.
Canggung dan bingung, baik Itu Dean maupun Ren, keduanya tidak tahu harus memulai obrolan dari mana, padahal sebelumnya Dean bisa dengan mudah membicarakan apa saja dengan Ren.
Melihat hal itu, Ren yang tahu kalau Dean sedang sedih, mencoba untuk sedikit menghiburnya, dengan mengajaknya nonton film ke bioskop.
"Aku menyesal dengan semua yang pernah aku lakukan terhadap Meira, seandainya semuanya bisa terulang, aku ingin memperbaiki hubungan yang sudah salah dari awal" ucap Dean lirih.
"Meira, aku tidak pernah bertemu secara langsung dengannya, dan entah kenapa, aku merasakan, mungkin saat ini yang seharusnya duduk disini bersamamu adalah Meira, bukan aku, aku sudah merampas kesempatannya untuk hidup" Ren akhirnya mengutarakan apa yang selama ini ia rasakan, dan tidak pernah ia ungkapkan kepada Dean.
"Tetaplah hidup, jaga Meira untukku" ucap Dean sembari memeluk erat Ren, dan tentu saja hal itu membuat Ren kaget.
Padahal menurut ibunya Dean, karakter Dean itu keras kepala dan emosional, dan hanya dengan Ren dia bisa tenang, Itulah mengapa tempo hari, ibunya Dean meminta Ren yang menjadi teman Dean sebelum nanti kembali ke luar negeri.
"Ren..." Dean memanggil Ren yang sedang menikmati nasi gorengnya, karena saat ini mereka sedang singgah di warung nasi goreng, sembari bercanda Ren mengatakan, sebelum kembali ke luar negeri, Bayu harus mencicipi makanan asli tanah kelahirannya, agar tidak lupa dengan asal usulnya.
"Ia, ada apa? oh... makanannya tidak enak ya, atau tidak cocok di lidah" tanya Ren khawatir.
"Apa nasi gorengnya diberi terasi?" tanya Dean
"Ia, soalnya kamu bilang pesannya sama seperti punyaku, ternyata meskipun besar di luar negeri, kamu masih ingat aroma khas terasi, nasi goreng terasi menu spesial di warung ini" Ren semangat mempromosikan makanan yang menjadi kesukaannya, setelah diperkenalkan oleh Bayu.
__ADS_1
"Aku alergi udang" ucap Dean yang terlihat kesulitan untuk bernafas, dan Ren ingat terasi itu dari udang rebon.
Ren kalut bukan main, dan dengan bantuan anak pemilik warung nasi goreng, Dean dibawa ke puskesmas terdekat, beruntung hanya reaksi alergi ringan.
Sesak karena pengaruh alergi memang sudah hilang, tapi ruam-ruam merah masih jelas nampak pada wajah Dean.
"Maaf" ucap Ren dengan wajah khawatir.
"Tidak apa-apa, setidaknya, karena alergi ini, aku jadi bisa sedikit lebih lama bersamamu" ucap Dean sembari tersenyum.
Mendengar ucapan Dean, Ren mulai khawatir, dia takut Dean tipikal laki-laki yang menganggap sebelum janur kuning melengkung, itu artinya kesempatan masih terbuka lebar untuk memiliki seorang perempuan yang ditaksir, sekalipun perempuan tersebut sudah memiliki kekasih, dan belum jadi tunangan orang tentunya.
"Ren, apa kamu mau jadi kekasihku, untuk sehari saja, mulai besok, karena aku akan kembali lusa" tanya Dean yang membuat Ren kaget bukan main.
"Bayu tidak perlu tahu, ini hanya rahasia antara kita saja" ucap Dean.
"Aku nggak mau merusak kepercayaan yang Bayu berikan" ujar Ren.
"Sehari saja, aku mohon" Dean meminta dengan sangat kepada Ren.
Ren bisa melihat, sisi lain dari Dean, rapuh dan menyedihkan, rasa cinta dan bersalahnya pada Meira sudah membuat hidupnya kacau, dan Ren tahu, Dean tidak melihat dirinya sebagai Larena Dihyan, tapi sebagai Meira.
"Hanya satu hari" Ren memastikan sekali lagi permintaan Dean.
"Ia, hanya satu hari" ucap Dean, sembari tersenyum ke arah Ren, tapi perlahan senyuman tersebut berubah menjadi tangisan.
Kata bi Nina, laki-laki tidak suka menunjukkan rasa sedihnya, sekalipun ingin menangis, sebisa mungkin ditahan, tapi jika laki-laki menangis dihadapan seorang perempuan, itu artinya kemungkinan perempuan itu sangat spesial untuknya, atau bisa jadi sangat ia percaya, jadi yang harus dilakukan, tenangkan saja dia, dan buat dia merasa kalau dia tidak sendirian, dan itulah yang Ren lakukan sekarang, merangkul Dean sembari menenangkannya.
__ADS_1