
Bayu diminta ayah Ren untuk istirahat, dan sebelum Bayu benar-benar sehat, dia tidak boleh bekerja.
Jadi untuk sementara ayah Ren mau tak mau menggunakan jasa supir pengganti, dan karena merasa berhutang nyawa, Bayu bahkan diberikan fasilitas kamar diruang keluarga.
Jadi itu artinya, Ren akan lebih mudah memantau kondisi kesehatan Bayu, tapi tetap saja dia tidak bisa leluasa terus menemui Bayu, karena ada perawat yang ditugaskan oleh ayah Ren untuk merawat Bayu.
"Maaf soal kejadian tempo hari, dan karena kejadian itu, kita jadi canggung, bisa nggak, kita abaikan saja tentang semuanya" pinta Bayu.
"Semuanya butuh proses, nggak semudah diucapkan, dan siapa Meira?" tanya Ren pada Bayu, dan pertanyaan yang Ren ajukan, membuat raut wajah Bayu berubah.
"Seseorang yang sangat penting ya?" tanya Ren.
"Bisa nggak, jangan bahas soal Meira, aku sedang tidak ingin membahas dia." ujar Bayu sembari mencoba untuk duduk, tapi, karena lukanya masih sakit, Bayu kembali berbaring.
Melihat Bayu kesulitan untuk duduk, Ren mencoba membantu, dan sejujurnya dia tidak tega melihat Bayu yang terlihat kesakitan.
Tapi perawat buru-buru datang, dan mengatakan Bayu belum boleh untuk duduk, karena lukanya belum kering benar.
Ada cemburu di hati Ren, ketika melihat perawat dapat dengan mudah menyentuh Bayu, karena memang sudah tugasnya, untuk mengecek keadaan Bayu.
Setelah hampir seminggu diminta istirahat, kondisi Bayu perlahan membaik, tapi tetap saja perawat meminta dia untuk menjaga lukanya agar jangan sampai terbuka kembali.
"Rasanya semua yang ayahmu berikan terlalu berlebihan, luka yang aku alami juga tidak begitu parah" ucap Bayu yang duduk di kursi balkon Ren.
"Siapa bilang nggak parah, kamu saja masih suka meringis kesakitan, apa itu artinya, kalau nggak sakit" ujar Ren sembari menikmati makanan ringan olahan pabrik, yang dibelikan oleh ibunya.
Ren sangat senang karena akhirnya setelah sekian lama tidak diizinkan makan makanan Ringan selain buatan bi Nina, akhirnya dia boleh memakannya.
Bayu tersenyum melihat tingkah lucu Ren yang seperti anak kecil, terlebih ketika dia menemukan ada hadiah didalam bungkusan makanan ringan tersebut.
Terlebih ketika menemukan cincin plastik yang menurut Ren lucu, dan kemudian memberikannya kepada Bayu, katanya untuk teman baik.
Bayu akhirnya bisa bernafas lega, dengan semua sikap yang Ren tunjukkan kepadanya, itu artinya menandakan kalau hubungan pertemanan mereka sudah mulai normal lagi, dan rasa canggung akhirnya bisa perlahan-lahan hilang.
__ADS_1
"Mau?" tawar Ren sembari menyodorkan bungkusan makanan ringan kepada Bayu.
Bayu menggeleng, dan meminta Ren mendekatkan jari manisnya ke arah Bayu, dan Ren terkejut ketika Bayu memasangkan cincin plastik hadiah tersebut ke jari manisnya, dan ternyata bagus menurut Ren, yang tersenyum sembari memandang cincin plastik yang kini ada di jari manisnya.
Saat melihat betapa bahagianya Ren, Bayu jadi berpikir, seandainya yang ada dihadapannya saat ini adalah Meira, dan benar saja Bayu memang melihat ada Meira yang terlihat tanpa ekspresi, dan duduk disamping Ren, sembari memandang Bayu, yang tentu saja merasa ketakutan.
Bayu takut, apakah yang ia lihat sesuatu yang nyata atau hanya halusinasi karena efek obat yang ia minum, karena perawat mengatakan, setelah minum obat, Bayu sebaiknya jangan jangan melakukan beraktivitas dulu, dan dianjurkan untuk tidur.
Bayu memilih untuk kembali ke kamarnya, tertatih dia berjalan, karena terkadang lukanya sering menimbulkan rasa nyeri.
"Kenapa nggak bilang kalau mau balik ke kamar" Ren bergegas membantu Bayu berjalan dan mengantarnya ke kamar.
"soalnya kamu lagi serius dengan cincin plastik yang ada di jari manis mu itu, bahkan ada orang yang sedang bersamamu kamu cuekin"
"Habis, cincinnya bagus, dan aku suka"
"Lalu tadi kenapa diberikan padaku?" tanya Bayu
"Bilang saja, memang maunya cincinnya dipasangkan sama aku" ucap Bayu sembari tersenyum usil ke arah Ren yang terlihat kesal dan memilih duduk membelakangi Bayu, sembari tersenyum kembali, memandang cincin yang ada dijari manisnya.
"Untuk ku mana?" suara yang sangat Bayu kenal tiba-tiba datang entah dari arah mana, tapi terdengar sangat dekat di telinganya.
"Aku mohon pergilah, jangan ganggu aku lagi" teriak Bayu, yang membuat Ren kaget dan bingung dengan apa yang terjadi pada Bayu.
"Kamu kenapa? Lihat aku, ada apa? Tidak ada siapapun disini, hanya kita berdua, bi Nina sedang membuatkan sarapan, ada apa? Apa lukamu sakit?" tanya Ren dengan wajah khawatir, sembari menenangkan Bayu yang tiba-tiba menangis dan spontan memeluk Ren.
"Ada apa?" tanya Ren sembari menepuk pundak Bayu, agar Bayu lebih tenang.
"Ada apa non? Eh kok ini main peluk non Ren segala, nggak boleh" ucap bi Nina, tapi dihentikan Ren, dengan memberikan kode menggunakan jarinya.
"Kita sarapan dulu bagaimana? Setelah itu minum obat, papa mempercayaiku menjadi perawat mu, kalau sampai lukamu kambuh, aku bisa dimarahi papa"
"Jangan membesar-besarkan keadaan, kalau orang luar mendengar apa yang kamu katakan barusan, mereka pasti heran, kenapa majikan begitu baik dan peduli terhadap supir pribadi keluarga mereka, apa hanya karena menolong majikannya yang nyaris dibunuh oleh mantan pegawainya" ucap Bayu yang kondisinya sudah jauh lebih baik.
__ADS_1
"Yang membesar-besarkan masalah siapa coba, yang nangis dan meluk siapa?" tanya Ren sembari memandang wajah Bayu yang terlihat pucat.
"Maaf" ucap Bayu sembari berdiri, soalnya bi Nina mengatakan jangan sampai telat sarapan.
Tapi baru beberapa langkah berjalan Bayu ambruk pingsan, dan membuat bi Nina dan Ren panik, sehingga memanggil yang lain untuk membantu membawa Bayu ke kamar, dan kemudian menelpon dokter.
Sesuai instruksi dari ayah dan ibu Ren yang sedang berada di luar negeri, jika ada yang sakit, hubungi saja dokter keluarga.
"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Ren yang terlihat khawatir
"Dia tidak apa-apa, hanya kelelahan, obat yang saya resepkan apa diminum dengan rutin?" tanya dokter
"Ia dokter, dan apa efek samping obat yang ia minum, bisa menimbulkan halusinasi?" tanya Ren, karena melihat kelakuan aneh Bayu setelah ia pulang dari rumah sakit, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, tapi apa.
"Efek sampingnya hanya mengantuk, jadi lebih baik, setelah minum obat, pasien dianjurkan untuk beristirahat" dokter menjelaskan.
Mendengar penjelasan dokter, Ren cukup lega, karena itu artinya Bayu baik-baik saja, tidak ada yang mengkhawatirkan, selain lukanya.
"Hai, syukurlah kamu akhirnya siuman, hampir satu jam kamu pingsan" ucap Ren
"Pingsan?" tanya Bayu seperti tak percaya, dan apa ia tubuhnya sudah mulai tidak sekuat dulu.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, dan lihat aku mendapatkan cincin lagi, dan kali ini untukmu, mana jari manis mu, sekarang jadi sepasang beruang, lucu kan, dan jadi lebih baik kamu sarapan dulu, kalau kamu cepat sembuh, aku bisa minta tolong, untuk diantar kemana saja" ucap Ren sembari menyuapi Bayu, bubur yang dibuat oleh bi Nina.
"Memangnya aku pintu kemana saja, milik Doraemon" ucap Bayu asal, yang membuat Ren tersenyum geli.
"Pintu kemana saja, boleh juga, tapi kalau kamu, mobil kemana saja" ujar Ren sembari tersenyum, dan entah kenapa Bayu ada begitu suka dengan senyuman Ren, yang menurutnya sangat manis.
Tapi dia sadar, dia tidak boleh berharap lebih, nanti bisa diibaratkan sudah diberi hati, malah minta jantung.
__ADS_1