Rahasia Ren

Rahasia Ren
12 Jam


__ADS_3

Ren terbangun ketika mendengar sayup-sayup suara memanggil namanya, dan itu adalah bi Nina.


Ren tak habis pikir kenapa dia bisa tertidur di lantai atas, didepan pintu kamar gudang pula,


dan Ren akhirnya ingat akan suara yang memintanya untuk mencari keberadaan pemilik suara tersebut.


Bermaksud ingin bertanya apa yang lain juga mendengar suara yang ia dengar tersebut, Ren justru dikagetkan dengan keanehan yang ia alami.


Kejadian sebelum dia bertemu dan mengenal Ruli, terulang kembali, dan bahkan Ren sampai menepuk dengan keras wajahnya, mencoba meyakinkan dirinya, kalau bisa saja yang ia alami adalah mimpi.


Tapi sayangnya semuanya memang sedang terjadi, karena masih ada Ahmad yang menjadi supir keluarga.


Ren masih dibuat heran, kenapa kisah hidupnya jadi aneh dan sulit dijelaskan dengan kata-kata, dan jika butuh logika, mungkin harus mendengarkan kata ahli tentunya.


Semuanya sama, dialognya bahkan pakaian yang dikenakan sama, apa itu artinya dia kembali ke waktu yang sudah pernah terjadi, dan apa ini namanya perjalanan waktu.


Tapi kali ini perjalanan waktu yang Ren alami adalah mundur dan seakan ingin mengulang kembali semua kenangan indahnya bersama Ruli.


Belum juga semua keanehan yang ia alami dapat dijelaskan, Ren yang tadinya berada di kamarnya, kini berada di lokasi wisata milik keluarga Ruli.


Tapi kali ini seakan tubuhnya diperintahkan untuk pergi ke taman bunga Bougenville, dia jelas melihat Bayu dan seorang gadis, yang wajahnya samar-samar, sedang berciuman mesra.


Aneh dan ganjil, dan Ren kemudian ingat tentang Ruli, tapi anehnya saat dia berpapasan dengan Ruli, semua terasa asing.


Ruli tidak mengenalnya, padahal rasa rindu yang ada didalam hati Ren kepada Ruli, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Belum juga semua keanehan tersebut selesai, Ren melihat ibunya bersama seorang gadis seusianya yang sedang membawa sebuah sketchbook, dan itu seperti bukan dirinya, tapi Ren tidak tahu siapa gadis tersebut, yang terlihat begitu manja kepada ibunya, dan yang lebih aneh lagi, gadis tersebut mengenakan dress hitam motif bunga-bunga berwarna emas yang sama seperti miliknya.


Padahal menurut ibunya, dres tersebut edisi terbatas, karena keindahannya, dan paduan warna hitam dan emasnya yang membuat dres tersebut begitu glamor.


Ren yang teringat akan Ruli, mencoba mencari keberadaanya, air mata Ren tak terbendung ketika melihat Ruli yang sedang mengambil foto berupa bunga Bougenville yang sedang mekar.


Ingin rasanya Ren berlari kearah Ruli, dan kemudian memeluknya, tapi Ren sebisa mungkin untuk menahan diri.


"Bunganya indah ya" ucap Ren, yang membuat Ruli yang sedang fokus memotret, menoleh kearahnya.


"Mau saya foto juga" tawar Ruli sembari tersenyum, senyuman yang sangat Ren rindukan.


"Nggak ah, nanti foto disini bayar di kasir depan" ujar Ren, dan ucapan Ren, membuat Ruli heran.


"Kamu pernah kesini sebelumnya?" tanya Ruli heran.

__ADS_1


"Belum" jawab Ren sembari memandang wajah Ruli, dan seakan tidak ingin berpaling sedetikpun dari Ruli, dan tentu saja sikap Ren membuat Ruli bingung dan salah tingkah.


"Ada yang aneh pada wajahku ya?" tanya Ruli


"Ia, eh... maaf, soalnya wajahmu mengingatkanku pada seseorang yang aku kenal" ucap Ren.


"Oh ia, kalau begitu wajahku pasaran dong ya" ujar Ruli sembari tersenyum, dan meminta Ren untuk berdiri disebuah kursi yang ada di taman bunga Bougenville, dan kemudian mengambil foto Ren.


"Fotonya gratis, tunggu disini ya" ucap Ruli sembari berlari menuju sebuah tempat, dan sepertinya hendak mencetak foto yang baru saja ia ambil.


"Yang membuatnya indah sebenarnya bukan bunga Bougenville tapi peri cantik yang ada didalam fotonya" ujar Ruli, dan Ren ingat betul, kata-kata itu pernah Ruli ucapkan padanya.


"Apa semua kata-kata pujian itu sering kamu ucapkan kepada semua gadis yang datang mengunjungi taman ini?" tanya Ren.


Kening Ruli berkerut dan sejenak memandang wajah Ren, ada keheranan nampak jelas di wajah Ruli.


"Bagian dari promosi" ujar Ruli sembari tersenyum.


"Hati-hati nanti rayuan gombal mu itu jadi boomerang untuk perasaanmu sendiri loh" ucap Ren pada Ruli, dan tentu saja ucapan Ren tersebut membuat Ruli heran.


"Maksudnya?" tanya Ruli


"Sudah dua hari, dan anak perempuan itu aku perhatikan suka menggambar, tapi sayangnya aku tidak bisa begitu jelas melihat wajahnya, karena dia jarang keluar, dan biasanya dia menggambar di balkon atas, dia pernah keluar ketika ada seorang pemuda yang datang menemuinya, setelah itu tidak pernah keluar sampai akhirnya dia dan ibunya pulang"


"Apa ada anak perempuan lain bersama mereka?" tanya Ren


"Tidak ada" jawab Ruli


"Apa ada seorang perempuan paruh baya yang menginap bersama mereka" tanya Ren lagi.


"Hanya anak perempuan dan ibunya saja" ucap Ruli yang nampak heran dengan pertanyaan Ren.


"Jangan terlalu dipikirkan, dan jangan berpikiran yang aneh-aneh tentangku" ucap Ren sembari memandang wajah Ruli.


"Dari banyak perempuan yang aku temui disini, kamu yang paling aneh" ujar Ruli


"Kalau kita bertemu lagi nanti, apa nanti kita masih bisa saling mengenal" ujar Ren.


"Maksudmu? Kamu lagi lapar ya, makanya ngelantur" ujar Ruli


"Anggap saja ia, aku ngelantur, dan sekali lagi jangan dipikirkan" ucap Ren

__ADS_1


"Tapi kasihan anak perempuan yang kamu tanyakan tadi"


"Kenapa memangnya?" tanya Ren penasaran.


"Soal laki-laki yang datang menemuinya, sepertinya mereka akan berpisah" ujar Ruli


"Kamu nguping pembicaraan mereka ya?" tanya Ren


"Nggak sengaja dengar saja, soalnya aku lagi ambil foto, dan mana aku tahu kalau ada mereka berdua disana, dan dari pada ketahuan, terus merusak suasana jadi aku ngumpet saja, jadi itu artinya bukan bermaksud menguping peri cantik" ujar Ruli


"Tetap sama saja, terus apa yang mereka katakan?" tanya Ren penasaran.


"Katanya si perempuan mau ke luar negeri, dan nggak tahu kapan bisa kembali"


"Jadi itu yang membuat mereka putus, dan wajah perempuan itu sempat kamu lihat" tanya Ren.


"Nggak, lagian ngapain juga penasaran dengan wajah pacar orang lain, aku jadi penasaran, apa kamu mengenal keduanya?" tanya Ruli sembari memandang wajah Ren.


"Nggak, hanya saja, miris sekali kisah mereka, saling mencintai tapi terpisah karena terpaksa"


"Oh ia, kamu kesini dengan siapa?" tanya Ruli.


"Seseorang, tapi sedang pergi sebentar, nanti dia datang menjemput" Ren terpaksa berbohong, agar Ruli tidak curiga, padahal sebenarnya Ren sendiri bingung dengan keadaannya saat ini, kenapa dia bisa terdampar di masa lalu dan terhubung kembali dengan semua orang yang saat ini, akan berada dimasa depannya.


Apa maksud dari semuanya, Ren heran, Bayu kenapa Bayu ada di masa lalunya, dan kenapa dia tidak mengingat hal itu, dan siapa anak perempuan yang bersama ibunya.


Kenapa ibunya tidak pernah bercerita tentang anak perempuan tersebut, apa yang sedang ibunya tutupi dari dirinya.


Apakah ada rahasia besar yang selama ini tidak ia ketahui, dan soal gambar-gambar yang ia buat, apa itu juga bagian dari masa lalu.


Terlebih Ruli, kenapa Ruli tidak mengenalinya, apa ada sesuatu yang salah, dan semua mendadak gelap. Ruli yang ada dihadapan Ren pun perlahan-lahan menghilang sembari tersenyum, Ren tak kuasa menahan tangisnya.


Karena Ruli sempat mengatakan, jangan sakit, dan tetap tersenyum, kata-kata itulah yang Ruli ucapkan sebelum mereka berpisah,


dan kemudian seketika Ren berada didepan sebuah cermin besar.


Ren ingat, itu adalah cermin yang ada didalam kamarnya, dan betapa kagetnya Ren ketika melihat wajahnya didalam cermin, karena wajah yang ada didalam cermin, bukan wajahnya, wajah seorang perempuan yang tidak ia kenal, dan apakah karena hal itu Ruli tidak mengenalinya dan seketika cermin itu pecah berkeping-keping, dan membuat Ren jatuh terjerembab ke lantai.


Ren sayup-sayup mendengar suara seseorang memanggil namanya, dan itu suara bi Nina, yang mencarinya, dan juga Bayu.


Mereka mengatakan sudah hampir 12 jam Ren menghilang, dan hampir saja mereka menghubungi pihak berwajib, dan ternyata Ren rupanya tertidur di kamar kosong di samping kamar gudang, padahal disana AC sedang rusak, serta tidak ada penerangan dan bagaimana Ren bisa tahan berada disana selama itu, bi Nina terheran-heran, begitu juga Bayu, dan Ren hanya bisa memasang wajah bingung sama seperti keduanya juga bingung dengan apa yang terjadi pada Ren.

__ADS_1


__ADS_2