RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 21 Akhir Pertempuran Di Semesta Wandasukma (PDPS)


__ADS_3

Di sisi lain tepatnya di dekat singgasana Maha Dewa Tunggal terlihat muncul sebuah portal yang memunculkan tiga sosok pemuda dengan wujud yang berbeda beda.


Mereka adalah Gama, Rangga dan Hasa.


Mereka bertiga lantas segera melesat ke kediaman Maha Dewa Tunggal untuk memastikan apa yang sedang terjadi


Di dalam perjalan mereka sangat terkejut dan memiliki firasat yang sangat buruk, karena hanya mendapati bangunan bangunan yang kosong dan tidak ada satu orang pun yang terlihat.


Sampai pada akhirnya mereka tiba di singgasana Maha Dewa Tunggal, namun sama saja mereka tidak mendapati Dewa Tunggal di sana.


Yang mereka lihat hanya satu makhluk dengan luka yang sangat parah sedang terkapar, namun dia belum mati, hanya saja mungkin sebentar lagi akan menemui ajalnya.


Gama yang melihat orang itu pun lantas bergegas menghampirinya untuk menyembuhkannya dan mencari informasi tentang apa yang terjadi sebenarnya.


“Si-siall, jurus macam apa yang mereka gunakan, hingga energi regenerasiku tidak dapat bekerja, pantas saja Dewa Tunggal hanya membiarkannya,” gumam Gama.


Rangga yang melihat energi regenerasi Gama tak berfungsi pada makhluk yang terluka itu, lantas mencoba mendekatinya.


“Paman, biarkan aku yang menyembuhkannya” ujarnya kepada Gama yang sedang kebingungan.


Gama hanya dapat mengangguk dan melihat Rangga yang mencoba menyembuhkannya, dan lagi lagi Gama di buat terkejut oleh Rangga.


”I-ini.. energi ini, mengapa dia memilikinya” gumam Gama dengan keterkejutannya.


Rangga terlihat sedang memegang luka dewa yang terluka itu.


Di tangan Rangga terihat sebuah energi berwarna coklat dan jingga menjadi satu yang menjadikan energi itu menjadi energi yang sangat langka, karena hanya segelintir orang yang mampu menyatukan energi coklat dan jingga,.


Dan yang Gama tahu hanyalah Dewa Wasa yang mampu melakukan penyatuan semua energi.


”U-uhukk..“ suara Rangga yang tiba-tiba batuk memuntahkan darah hitam.


”Ka-kanda , apa kanda tidak apa-apa?” tanya Hasa yang langsung melesat mendekap Rangga setelah melihatnya terbatuk.


“Aku tidak apa-apa dinda, sekarang dia sudah pulih, dan coba cari tahulah apa yang sedang terjadi, aku akan mengobati diriku dulu” jawab Rangga.


Ternyata Rangga memaksakan dirinya untuk menggabungkan kedua energi itu, namun dampak buruknya adalah tubuhnya yang tidak kuat menahannya.


Karena energi coklat adalah energi pelebur, sedangkan energi jingga adalah energi penghisap.


Meskipun tubuh Rangga keras seperti baja, namun tidak berarti juga organnya keras seperti baja.


”Si-siaall, aku tidak bisa mengeluarkan racun ini dari tubuhku, jurus macam apa ini, u-uhukk” gumamnya dalam hati.


Hasa yang sedang mengorek informasi dari dewa yang terluka tadi pun lantas menengok ke arah kekasihnya itu karena mendengar sebuah suara batuk lagi dari arah kekasihnya.


”Ka-kanda” gumamnya lirih dengan mata berkaca kaca,.


Dia tahu dan bisa merasakan apa yang sedang di alami kekasihnya, hingga membuatnya menangis lirih dalam hati.


Dan yang paling menyakitkan lagi ketika Rangga di tanya pasti akan menyembunyikannya dan menjawab bahwa dirinya tidak apa-apa.


~


Kembali kepada Dewa Tunggal, dia yang terlalu terkejut sampai tak sadar bahwa Arjuna telah melancarkan serangan secarik energi dengan kekuatan penghancur yang sangat besar.


Jika larik cahaya itu mengenai tubuh Dewa Tunggal yang tak di lapisi oleh perisai energi maka hancur sudah tubuhnya sebelum melawan.


”Hahaha, kau seharusnya mati saja Huda, kau tidak pantas memimpin semesta ini” ucapnya lirih sembari melihat serangan energinya melaju cepat.


Selarik sinar itu menderu cepat mengarah tepat pada kepala Dewa Tunggal.

__ADS_1


Namun ketika hanya tinggal beberap meter saja tercipta sebuah perisai energi di depan Dewa Tunggal yang menghadang serangan lawan.


Hingga akhirnya menciptakan sebuah ledakan yang sangat besar, dan tubuh Dewa Tunggal yang ada di balik perisai itu masih saja melamun namun dia di selamatkan oleh Amar yang membuat perisai dan Jala membawa mundur Dewa Tunggal  menjauh ke belakang.


”Yang Mulia sadarlah, ku mohon sadarlah, ini bukan saatnya mengingat masalalu dengan perasaan, sadarlah Yang Mulia” teriak Jala yang masih melesat menjauhi ledakan dengan membopong tubuh Dewa Tunggal.


Ledakan yang sangat besar itu mengakibatkan semesta wandasukma bergetar hebat hingga sampai ke singgasana Dewa Tunggal.


Rangga, Gama, dan Hasa yang merasakan getaran itu lantas langsung melesat menuju sumber ledakan setelah membaringkan dewa yang tadi di pulihkan oleh Rangga,


Gama membaringkan lagi dewa itu karena masih belum pulih seutuhnya.


“A-a-apaa? siapa yang melindungi bedebah itu? sial merepotkan saja” gumam Arjuna.


Efek dari ledakan itu menimbulkan sebuah cahaya yang sangat terang menyilaukan, karena terdapat dua energi yang sangat besar saling bertabrakan.


Setelah cahaya efek ledakan menghilang, sosok Amar di balik perisai yang melindungi Dewa Tunggal itu langsung melesat cepat ke arah Arjuna.


Arjuna yang melihat itu pun, tanpa berpikir panjang juga langsung melesat menyambut lawannya.


Dan pertempuran jarak dekat pun akhirnya terjadi, mereka saling pukul, menendang, menghindar dan membalas.


Selain itu, mereka juga terkadang menggunakan serangan energi yang membuat Amar sedikit kewalahan.


Sebetulnya Arjuna sangat kaget melihat lawannya adalah Amar seorang penjaga semesta yang tadi telah dia serang dengan besi beracunya, dan seharusnya penjaga semesta ini sudah mati, karena racunya belum ada yang mampu membuat penawarnya selain dirinya sendiri.


Namun Arjuna terlihat masih sangat tenang, bahkan dia menguasai jalannya pertempuran.


Setelah menangkis sebuah pukulan dengan tangan kirinya, Arjuna yang melihat sedikit celah di kaki lawan langsung menendang Amar dengan memutarkan tubuhnya ke depan.


Bhuugghh..


”Hughh.. aaaaa”.


Hingga akhirnya tubuhnya menyentuh daratan dan...


Dhuaarr…


Boooms...


Terjadilah sebuah ledakan yang sangat besar hingga mengakibatkan debu mengepul sangat tebal.


Terlihat juga sebuah kawah yang sangat besar hingga ribuan meter dan di tengah tengahnya terdapat Amar yang sedang terbaring lemas.


”Si-si-sia-al.. ke-kua-tan macam a-pa i-ni” gumamnya dengan kondisi yang sangat buruk dan tidak bisa bergerak, Karena tubuhnya terhimpit oleh tanah.


Setelah itu terlihat sebuah energi dan sinar yang sama seperti yang menyerang Dewa Tunggal tadi, sinar itu menderu cepat ke arah bawah menuju tempat Amar yang sedang sekarat.


“Berakhir sudah riwayatku, aku harap kau bisa menjaga keluargaku Jala” gumamnya dalam hati dengan mata yang sudah terpejam.


Namun lagi-lagi nasib Amar sangat beruntung, sepertinya dirinya memang tidak di takdirkan untuk mati sekarang.


Selarik sinar itu tertahan dan terhisap oleh sebuah energi dan aura berwarna hitam.


Di sana terdapat Gama yang telah lebih dulu sampai, dia mendapati sebuah jurus yang menggunakan energi peledak sangat tinggi sedang menderu cepat ke arah sosok orang yang sedang terkapar tak berdaya.


Gama pun yang melihat itu langsung merapalkan sebuah mantra untuk membuka kekuatannya dan menahan serangan energi itu menggunakan jurus penyerapan andalannya.


Dengan jurus itu, jurus dari lawan tidak akan meledak dan menghancurkan yang ada di sana.


~

__ADS_1


”Lalat pengganggu lagi ternyata” gumam Arjuna dalam hati.


Di sisi lain, Hasa dan Rangga yang baru tiba dan mendengar suara teriakan dari arah kanannya langsung melesat menghampiri sumber suara.


Mereka mendapati temannya sedang mencoba membangunkan Dewa Tunggal yang masih melamun dan sedikit kaku,.


”Apa yang terjadi Jala“ Tanya Rangga tanpa menyapa kepada Jala.


”Ra-rangga” jawabnya terkejut.


Namun Jala dengan cepat mengabaikan rasa terkejutnya itu karena bertemu lagi dengan Rangga, dan dia pun langsung menjelaskan apa yang terjadi dan seperti apa jalannya pertempuran.


“Aku akan mencoba memeriksanya, minggirlah sebentar Jala” ujar Rangga.


“Ka-kandaa..” gumam Hasa lirih kepada kekasihnya namun di abaikan oleh Rangga.


Rangga pun segera mengeluarkan energinya yang berwarna merah untuk mendeteksi apakah Dewa Wasa terkena sebuah segel jurus atau ilusi.


Namun Rangga tak menemukan adanya sebuah segel atau ilusi pada tubuh Dewa Wasa ,.


Yang mana artinya bahwa Dewa Wasa memang benar-benar sedang terlarut dalam sebuah kenangan dan perasaanya.


”Apa yang harus kita lakukan dinda” Tanya Rangga kepada kekasihnya karena bingung.


“Dinda juga tidak tahu kanda, tapi dinda akan mencoba sesuatu kepada Yang Mulia, minggirlah dulu kanda” jawab Hasa yang membuat Rangga dan Jala mengeryitkan dahi mereka.


Karena setahu mereka Hasa adalah penjaga semesta tipe sensor dan menyerang yang tidak memiliki pengetahuan lebih soal pengobatan.


Sedangkan Rangga, dia memilik banyak sekali pengetahuan, bahkan dia merupakan sosok penjaga semesta yang paling cerdas karena mampu belajar dan beradaptasi dengan cepat.


Sedangkan Jala dan Amar adalah penjaga semesta tipe bertahan, mereka mampu menyerang tapi tidak sekuat dalam pertahanannya.


Dewa Tunggal yang masih dalam posisi berdiri pun langsung di baringkan sesuai permintaan Hasa.


Setelah itu Hasa mencoba merapal sebuah mantra yang di ikuti dengan sebuah aura yang sangat aneh keluar dari dalam tubuhnya.


Aura itu berevolusi menjadi energi putih ke emasan dan menyelimuti tubuh Hasa,


Setelah itu Hasa menggunakan dua jari kanannya menyentuh kening Dewa Tunggal.


Setelah itu kesadaran Hasa mulai perlahan memudar dan tiba tiba dia berada di sebuah tempat yang sangat asing, saat ini Hasa berada di dalam pikiran Dewa Tunggal.


Hasa melihat ke sekeliling tapi tak menemui apapun, Dia akhirnya memejamkan matanya lagi dan terdengarlah suara Hasa di seluruh tempat itu.


”Yang Mulia Maha Dewa Tunggal, kembali lah, jangan kau larut dalam perasaan dan masalalu, di semesta tidak semuanya akan berakhir sama, semua bisa berubah sewaktu-waktu, kembalilah Yang Mulia” suara Hasa memenuhi tempat itu.


Di tempat Rangga berada, dia melihat tubuh kekasihnya yang sedikit bergetar dan dari hidungnya sedikit mengeluarkan darah.


Rangga pun sangat khawatir, dia langsung mencoba mendekati kekasihnya, namun dia seperti terdorong kembali ke tempatnya dengan lembut.


Seakan akan dia tidak boleh mengganggu kekasihnya itu.


“Dinda sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?” gumam Rangga dalam hati, berharap Hasa merasakannya dan menjawab pertanyaannya, Akan tetapi Hasa tidak menjawabnya.


Rangga yang hanya mampu melihat saja dia lantas membuat segel untuk melindungi mereka berempat dan di bantu oleh Jala.


Dia tidak ingin kekasihnya terkena serangan acak dari musuh, makanya dia sangat waspada, dan begitulah dia, selalu banyak perhitungan meski terbilang sering sekali berbuat ceroboh.


Kembali ke dalam pikiran Dewa Tunggal, Hasa yang belum juga mendapat jawaban lantas mengulanginya kembali beberapa kali.


Hingga pada akhirnya Hasa mendapat sebuah jawaban dari Dewa Tunggal, dan terlihat ada sebuah senyum bahagia dari raut wajah Hasa.

__ADS_1


***


__ADS_2