
Dengan adanya banyak orang yang membantu, itu membuat pekerjaan mereka terasa sangat menyenangkan dan menjadi lebih cepat.
Apalagi ternyata Maha Dewa Fatir dan Maha Dewa Jaya adalah sosok yang sangat ramah dan sopan kepada penduduk.
Meskipun mereka sudah berumur ribuan tahun, namun di depan orang yang terlihat tua , mereka tetap menggunakan sikap yang sopan, hal itu membuat semua penduduk yang ada di sana merasa nyaman.
”Ternyata kau masih saja pintar adik.” bisik Maha Dewa Fatir yang tiba-tiba muncul di samping Maha Dewa Jaya.
”Hehehe..tentu saja kak, jika aku tidak merobohkan rumah jelek itu, maka semua tidak akan menjadi ramai dan asik seperti ini.” jawabnya dengan cepat.
Dan ternyata, apa yang di lakukan Maha Dewa Jaya beberapa waktu lalu hingga membuat rumah Ki Ranujagat hancur itu adalah sebuah kesengajaan yang sudah di rencanakan oleh Maha Dewa Jaya.
Dari sini kita tahu bahwa Maha Dewa Jaya adalah sosok yang cerdas, dengan dirinya yang suka bergaul dan ramah, itu membuat semua orang tidak tahu akan rencananya.
Begitulah Maha Dewa Jaya, dia selalu berhasil dengan rencanaya, bahkan di masa kejayaannya dia di kenal sebagai Kesatria Alam yang paling tenang.
***
Waktu pun ternyata berlalu dengan begitu cepat, tanpa terasa mereka semua sudah bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya selama 2 hari.
Dari kejadian itu, kini terihat semua orang, bahkan dari penduduk, prajurit, dan juga para pendatang baru pun terihat sangat akrab dan saling mengenal.
Hal itu pun membuat Maha Dewa Satir yang masih berada dalam tubuh Rama tersenyum senang.
Dia sangat bangga kepada murid-muridnya yang sampai saat ini pun masih memiliki budi darma yang luhur dan tidak membeda-bedakan.
Setelah semuanya selesai pun, kini Maha Dewa Satir menyuruh semua orang untuk berkumpul.
Terlihat bahwa di sana terdapat ribuan orang yang sedang berdiri di depan sosok makhluk yang memiliki mata berbeda.
Setelah semuanya berkumpul, Maha Dewa Satir pun mengumumkan kepada semua orang, bahwa dalam beberapa waktu ini Ki Ranujagat beserta kakak-kakaknya akan mengadakan sebuah latihan masal, yang boleh di ikuti oleh semua orang.
Setelah itu dia sedikit berceramah kepada semua orang bahwasannya Semua yang hidup pasti akan mati, maka untuk semua orang selalu berbuat baiklah dan saling membantu, karena dengan saling membantu, beban yang berat akan menjadi lebih ringan.
Tidak ada yang tahu akan sebuah kematian, bahkan dirinya saja yang sudah mencapai tingkatan tertinggi di alam ini pun masih bisa mati, yang berarti bahwa masih ada tingkatan yang lebih tinggi lagi.
Setelah berbicara sedikit panjang kepada semua orang, dia pun akhirnya membubarkan semua orang.
Kini dia pun menyuruh Ki Ranujagat beserta murid-muridnya, dan Maha Dewa Fatir , juga Maha Dewa Jaya untuk berkumpul di rumah Ki Ranujagat.
Dia ingin membicarakan sesuatu yang penting kepada murid-muridnya itu, lalu kemudian dirinya menghilang dan muncul kembali di dalam rumah milik Ki Ranujagat dengan tata letak yang baru dan lebih menyegarkan.
Sesampainya di dalam rumah, dia langsung duduk bersila untuk menunggu murid-muridnya datang.
Tak berselang lama pun, Maha Dewa Jaya, Maha Dewa Fatir, dan Ki Ranujagat akhirnya muncul secara bersamaan dan di ikuti oleh, Bibi Hasa, Rangga, Putri Ana, dan juga Panglima Naju yang datang melalui pintu depan.
Melihat semua orang yang di tunggu sudah datang dan berkumpul, akhirnya dia pun memulai pembicaraannya.
***
__ADS_1
Di sisi lain, dalam pikiran Rama, dia juga sedang terduduk bersila bersama Raka.
Mereka berdua saling menutup mata, hal itu mereka lakukan untuk mendengar apa yang akan di bicarakan oleh Maha Dewa Satir yang sedang mengambil alih tubuhnya.
”Siall.. ini sungguh sesak Rama, apakah kau bisa mengalirkan energi lagi untuk tetap menjagaku.?” gerutu Raka kepada Rama yang terlihat seperti sedang sesak nafas karena terkena tekanan energi cahaya milik Maha Dewa Satir.
”Baiklah, tapi berjanjilah kau harus tetap tenang dan jangan mengganggu Kakek saat sedang berbicara, kalau tidak maka energiku ini akan membunuhmu.” jawab Rama yang sedikit menggoda sisi gelapnya itu.
Dan apa yang di ucapkan Rama itu ternyata mampu menakut-nakuti Raka, hingga dia terlihat sedikit gemetar.
~
Kembali ke Maha Dewa Satir, dia memulai pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya kembali.
Setelah itu dia bercerita tentang bagaimana caranya bisa sampai di sini dan seperti hidup kembali.
Dia berkata bahwa ternyata sebelum dirinya di bunuh oleh muridnya yaitu Rajanarya, dia sempat membagi kekuatannya menjadi 5 energi langka dan melemparkannya ke beberapa semesta.
Yang ternyata 2 diantara energi langka itu memilih seorang manusia yang tinggal di bumi untuk di jadikan tuannya.
Dan sosok manusia yang ada di bumi itu adalah ayah dari Rama yaitu Wasa, Sedangkan 1 energi yang lainnya memilih Batara Graha, dan untuk 2 sisanya memilih Maha Dewa Azar.
Yang pada akhirnya ke 5 energi itu mempertemukan mereka semua dan di pindahkan menggunakan segel di dalam tubuh Dewa Wasa.
Karena berkat 2 energi yang ada pada dalam tubuhnya itu membuat dirinya satu satunya manusia yang mampu menciptakan beberapa energi baru di semesta ini, sehingga mampu untuk menyegel 5 energi langka itu dalam tubuhnya.
Setelah lahirnya Putra dari Dewa Wasa, dia akhirnya menyegel semua energi langka itu pada tubuhnya.
Namun tanpa di duga kelima energi yang telah di segel pada tubuh Rama itu, kini telah bercampur menjadi satu kembali, yang berarti kini Rama memiliki kekuatan yang sama seperti dirinya dulu yaitu di tingkatan Esa.
Namun karena tubuhnya yang masih sangat muda, maka kekuatan itu belum mampu di keluarkan.
Akan tetapi di samping itu, karena Rama memiliki 5 energi langka membuatnya kini memiliki mata yang kuat, bahkan jauh lebih kuat dari mata milik Ranu dan dirinya.
Dan karena mata itu jugalah, kalian bahkan aku bisa kembali berkumpul, karena mata itu mampu menyatukan siapa yang memiliki 5 energi langka, sehingga membuat mereka bertemu kembali, meskipun Wujud Maha Dewa Satir saat ini hanyalah sebuah roh dari energi itu sendiri.
Namun dirinya sudah cukup senang karena mampu melihat murid-muridnya kembali yang juga saat ini masih meniti di jalan yang benar.
Rama yang juga mendengar cerita dari Maha Dewa Satir itu, membuatnya sangat terkejut.
Dia membuka mata secara bersamaan dengan Raka yang juga terbelalak kaget.
Di sisi lain Bibi Hasa dan teman-temannya juga hanya mampu terdiam karena saking terkejutnya mereka ternyata Rama adalah titisan dari sosok Maha Dewa yang paling sakti di Alam Raya Tirta.
Setelah berbicara panjang mengenai bagaimana caranya dia bisa kesini, dia pun melanjutkan pembicaraanya.
”Untuk saat ini, aku merasakan adanya kekuatan maha tinggi, yang mungkin lebih tinggi dari kekuatanku, maka untuk kalian bertiga, segeralah melatih bocah ini, karena di sisi lain dirinya yang memiliki 5 energi langka, dia juga memiliki sebuah kekuatan yang jauh lebih besar, dan bahkan aku sendiri tidak mampu menjangkau kekuatan itu.” ungkapnya secara serius
”Baik guru, kami mengerti.” jawab mereka bertiga dengan kompak.
__ADS_1
“Dan Setelah ini, Jaya aku memiliki permintaan terakhir kepadamu sebelum aku menghilang,“ Ungkap Maha Dewa Satir.
“Aku ingin kau pergi ke suatu tempat bernama Semesta Zara, Semesta itu berada di Alam Raya Sura, Alam Raya yang memiliki Ratusan semesta,”
“Dan untuk kau Fatir, bantulah Ranu secepatnya untuk melatih Rama, setelah itu susulah Jaya untuk membantunya mencari semesta Zara.”
”Dan untuk kau Ranu, setelah pertemuan ini, temuilah Azar di dunia dimensinya yang saat ini sedang melakukan pertapaan, serahkan Bunga Semesta yang kau simpan untuk menyembuhkan Dewi Suci yaitu Dewi Keadilan ibu dari Rama, karena kekuatannya akan sangat di butuhkan nanti.”
”Baik Guru.” jawab ketiga saudara itu dengan kompak.
Setelah memberi tugas kepada murid-muridnya pun, akhirnya Maha Dewa Satir perlahan menghilang dari tubuh Rama yang di tandai oleh mata milik Rama yang berangsur-angsur kembali biru seperti semula.
Terihat sebuah cahaya berwarna putih keemasan keluar dari tubuh Rama membentuk sebuah sosok makhluk yang sangat tampan dan begitu tinggi melayang menjauh dengan sebuah senyuman yang indah di wajahnya.
Akhirnya kesadaran Rama pun kembali, namun kini terlihat dirinya sedang tidak baik-baik saja, karena terlihat dia sedang melamun dengan air mata yang berjatuhan.
”I-iibuu..” gumamnya lirih.
Bibi Hasa yang melihat itu pun langsung akan bergegas menghampiri Rama untuk menenangkannya, Namun ternyata dia sudah di dahului oleh Putri Ana yang tiba-tiba muncul di samping Rama dengan tangannya yang sudah mengusap airmata yang jatuh melewati pipinya.
”Kanda, jangan kau terlarut seperti itu, secepat mungkin pasti kamu akan bertemu dengan ibumu, lihatlah mereka semua yang ada di sini, kita semua adalah keluarga, jika kanda bersedih, maka kami semua juga ikut bersedih kanda.” ungkap Putri Ana lembut di hadapan Rama sembari mengusap airmatanya.
”Pu-Putri, terimakasih.” jawab Rama lirih.
Semua orang yang melihat itu pun memunculkan sebuah senyuman ketika melihat perlakuan Putri Ana kepada Rama, apalagi dengan Bibi Hasa, dia begitu sangat senang melihat Putri Ana mampu meredam tangis dari Rama.
***
Di sebuah semesta yang sangat luas, terlihat sosok Dewa yang sangat tampan bersama kera sahabatnya, sedang melayang-layang di perbatasan semesta sembari menatap sebuah portal dimensi dan ingin memasukinya.
Namun sebelum dirinya masuk ke dalam portal dimensi itu, tiba-tiba terdengar suara di kepalanya.
”Wasa, kembalilah ke semestamu, dan temuilah Gurumu Ranu, Bunga Semesta ada di tangannya, dan segeralah sembuhkan istrimu, karena aku merasakan sakit yang luar biasa dari putramu yang segera ingin bertemu dengan ibunya.”
Dia adalah Dewa Wasa yang ingin kembali pergi bertualang mencari Bunga Semesta.
Namun karena dia tiba-tiba mendapat sebuah kabar melalui pikirannya, dia akhirnya memilih kembali ke semesta Wandasukma untuk menemui Gurunya.
”U-uwa Gu-guru.?..Terimakasih..” gumamnya lirih dengan di ikuti sebuah senyum bahagia.
Lalu kemudian dia menutup portal yang ada di depannya, dan membuka ulang portal menuju semesta wandasukma, lalu kemudian dia secara cepat menghilang memasuki portal.
Tanpa Dewa Wasa sadari, dirinya sedari tadi di amati oleh sosok makhluk asing yang sedang bersembunyi dalam tabir ilusinya.
“Sungguh sosok manusia yang mengerikan, aku harap bisa bertemu denganmu kembali bocah.”
Gumam sosok yang bersembunyi di balik kegelapan di tempat Dewa Wasa membuka portal dimensi.
***
__ADS_1