RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 54 Duel Yang Tak Berimbang (PDPS)


__ADS_3

"Bagaimana ini paman, jika kita biarkan mereka bertarung, maka semesta ini akan hancur nantinya". Ungkap Rama kepada Dewa Gangga secara tiba-tiba.


Karena saat ini yang paling dekat dengan Dewa Gangga adalah Rama, sehingga membuatnya langsung melontarkan pertanyaan itu.


Setelah mendengar pertanyaan itu, Dewa Gangga pun langsung melepas semua perisainya dan menggantinya dengan sebuah kubah emas besar untuk menutupi mereka serta menyuruh mereka semua berkumpul untuk membicarakan pertarungan antara Dewa Wasa dan Rajanarya.


"Ini sungguh sulit bocah, karena jika kita mendekat maka kita lah yang akan celaka." Jawab Dewa Gangga, setelah itu dirinya menatap ke arah Dewa Zura.


"A-aku juga tidak tahu harus berbuat apa kakak, Meskipun kekuatan kita sekarang telah jauh melebihi Dewa-Dewa kuno, namun tetap saja tidak akan berarti di hadapan kekuatan yang melebihi tingkat Esa." Jawab Dewa Zura dengan lemas.


"Baiklah, semua yang ada di sini cepatlah untuk kembali ke kota, dan beritahu semuanya untuk berkumpul dan bersiap untuk berpindah semesta." Ungkap Dewa Gangga tegas yang membuat semuanya kebingungan.


"Mengapa kita harus berpindah semesta paman." Jawab Rama bingung.


"Karena jika tidak, maka semesta ini akan hancur bocah, dan aku sendiri yang akan membantu Dewa Wasa menghadapinya." Jawab Dewa Gangga tegas.


"Baiklah, segera lakukan, sebelum terlambat." lanjut Dewa Gangga.


Setelah mendengar perintah itu pun, semua yang ada di sana langsung menghilang menuju kota untuk memberitahu akan apa yang sedang terjadi saat ini, kecuali Sona, Dega dan Buma yang masih berada di sana.


Namun tak berselang lama, Rama pun juga kembali dengan tatapan yang sangat tajam dan mengeluarkan energi, yang mana energi itu mampu membuat Dewa Gangga terkejut.


"Makhluk apa sebenarnya dia ini." Gumam Dewa Gangga dalam hati.


Karena energi yang di keluarkan Rama sendiri mampu menekan Dewa Gangga, Sona, Dega, dan Buma yang bahkan jika di lihat dari segi kekuatannya, mereka berempat jauh di atas Rama, namun masih bisa di tekan oleh kekuatan Rama.


"Aku tidak akan pergi dari sini, aku akan membantu ayah menghadapinya." Ucap Rama dengan sangat yakin.


Dewa Gangga yang mendengar itu pun hanya mampu berdiri dengan diam serta hanya mampu menatapnya dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Tenanglah Rama, Ayahmu pasti sudah memiliki rencana, karena sampai saat ini masih dengan keadaan yang tenang menghadapi Rajanarya." Ungkap Dewa Gangga menangkan.


"Dirinya selalu memiliki rencana serta perhitungan yang tepat, jadi percayalah kepada ayahmu." Lanjutnya untuk meyakinkan Rama.


"Benar bocah, kami semua sangat tahu tentang ayahmu." Sahut Dega untuk meyakinkan Rama.


Setelah mendengar itu, Rama pun akhirnya menarik kembali kekuatannya yang sempat ia keluarkan, dan mencoba mencerna semua perkataan dari sahabat-sahabat ayahnya itu.


Dia pun akhirnya berjalan mendekat ke arah Dewa Gangga.


"Lantas apa yang akan di lakukan ayah saat ini?" tanya Rama penasaran.


"Sebaiknya kita lihat dulu apa yang telah di rencanakan ayahmu." Jawab Dewa Gangga dengan tenang dan berbalik untuk melihat kondisi tempat pertarungan Dewa Wasa dan Rajanarya.


Sedangkan di sisi lain, di dalam kota, semua orang saat ini telah berkumpul dan bersiap untuk memasuki portal dimensi milik Dewa Zura.


Sebelumnya Dewa Zura menjelaskan semua yang telah terjadi saat ini, dan beruntungnya semua penduduk kota langsung mengerti dan memahaminya.


Meskipun ada sebagian makhluk yang diam-diam membicarakan tentang kejadian yang belum lama menghancurkan semesta mereka namun sekarang belum juga selesai memperbaikinya sudah ada bencana lain yang datang.


Namun meskipun pikiran mereka banyak yang bingung dan bertanya-tanya, mereka semua tetap menuruti Dewa Zura, karena ini juga untuk keselamatan semua nyawa yang ada di semesta Wandasukma.


Setelah semua masuk ke dalam dunia dimensi milik Dewa Zura, kini di tempat itu hanya tinggal dirinya serta Dewa Fatir, Dewa Jaya, Gama, Putri Ana saja, sedangkan Dewa Tunggal, dia ikut masuk ke dalam dunia dimensi untuk menjelaskan kembali apa yang sedang terjadi begitupun dengan Nyai Asih, Rangga, Panglima Naju, Dewa Yasa, dan Dewa Lingga.


Mereka semua ikut ke dalam dunia dimensi karena, disuruh oleh Dewa Zura agar untuk mengawasi, jika saja Dewa Zura gagal saat pertarungan ini, maka Nyai Asih dan lainnya di suruh untuk menyatukan kekuatannya dan membuat segel agar bisa keluar dari dunia dimensi milik Dewa Zura.


Sedangkan di sisi lain, di sebuah kamar yang mewah telah berdiri sosok Dewa Azar di hadapan putrinya yang masih terbaring.


"Putriku, sepertinya ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, aku akan mengirimmu menuju semesta Danuwisma di mana tempat Pamanmu Graha berada." Gumam Dewa Azar dengan di barengi sebuah airmata yang jatuh.


Setelah itu dirinya langsung membuat sebuah pola aneh.

__ADS_1


Akan tetapi, sebelum mantra dari pola itu di ucapkan, tiba-tiba saja terdengar suara dari Dewa Wasa di dalam pikirannya.


"Ayah, bukalah ruang dimensimu dan keluarkanlah bunga semesta itu, lalu setelah itu, leburlah dengan kekuatan api biru, jika sudah menjadi sebuah butiran air, lalu teteskanlah ke mulut istriku dan juga matanya." Ungkap Dewa Wasa di dalam pikiran Dewa Azar.


Dewa Azar yang mendengar itu pun, tanpa berpikir panjang langsung melihat ruang dimensi, dan ternyata benar terdapat sebuah Bunga semesta yang sudah di aliri beberapa energi milik Dewa Wasa.


Entah bagaimana Dewa Wasa melakukan itu, karena dengan ini sudah sangat membantu untuk proses pengobatan putrinya, sehingga tidak harus mengeluarkan energi yang lebih.


Melihat itu, Dewa Azar pun sangat senang sekali, dan langsung mengeluarkan Bunga Semesta itu, lalu melakukan apa yang di perintahkan oleh menantunya tersebut.


~


Di Waktu yang sama.


Di tempat lain, tepatnya di semesta rendah yaitu tempat Ki Ranujagat berada.


Terlihat saat ini di sebuah rumah kayu dekat sungai sedang di kelilingi oleh energi transparan yang berwarna putih samar-samar.


Setelah itu energi itu menyebar luas menutup semua tempat yang ada di Desa Gandi.


Namun entah mengapa semua makhluk yang hidup di sana seperti tak terkena apa-apa dan masih melakukan kegiatannya masing-masing.


Namun jika di lihat dari luar desa Gandi itu saat ini sepenuhnya hilang dari tempat itu, bahkan danau dan gunung es yang ada di belakang dunia Gandi juga ikut menghilang dan hanya menyisakan sebuah hutan yang sangat lebat seperti belum pernah di jamah oleh manusia.


"Aku harus segera ke sana untuk menghentikannya, jika tidak maka dampaknya akan sangat jauh menghancurkan berbagai semesta." ungkap Ki Ranujagat sebelum menghilang dari tempat tinggalnya.


Ki Ranujagat memanglah sosok yang cerdas, sebelumnya dia membuat desa Gandi berada di dimensi lain dengan ilusi yang sangat kuat, bahkan dirinya juga meninggalkan bayangannya di tempat itu untuk mengurangi rasa curiga oleh penduduk desa.


Kembali di Semesta Wandasukma.


"Cepatlah berikan Bunga itu bocah, dari pada ku hancurkan lagi tubuhmu untuk yang kesekian kalinya." Ungkap Rajanarya dengan tenang.


Sedangkan di sisi Dewa Wasa, dia saat ini terlihat sangat buruk, karena lagi-lagi organ luarnya hancur.


Namun itu semua sudah masuk ke dalam rencananya untuk menunda waktu agar semua teman, sahabatnya, serta gurunya bisa datang tepat waktu.


Rama yang melihat kondisi ayahnya sangat buruk pun hanya mampu mengepalkan tangannya dan menahan amarahnya.


"Aku sudah tidak tahan lagi paman, aku akan segera membantu ayah lagi." ungkap Rama kepada Dewa Gangga.


"Bukankah tadi dirimu hanya terkena dampak energinya saja sudah hampir mati, jangan merepotkanku lagi, aku akui kekuatanmu memang tinggi dan mampu menekanku, akan tetapi itu tidak berarti di hadapannya." Jawab Dewa Gangga dengan tegas, sehingga membuat Rama menunduk malu.


"Aku tidak bisa membiarkan ini, aku akan membantu ayah, setidaknya aku dapat menunda waktu agar ayah dapat memulihkan tubuhnya lagi." gumamnya dalam hati.


Namun hal itu langsung di cegah oleh Raka yang juga merasakan hal yang sama, bedanya Raka mampu menahan dirinya, karena dia sadar dan menjelaskan kepada Rama melalui pikirannya, jika Dewa Wasa sudah serius menghadapi Rajanarya, maka sosok Warta juga akan bergabung membantu Dewa Wasa, namun saat ini yang terlihat hanyalah Dewa Wasa melawan Rajanarya tanpa bantuan dari Warta.


"Dasar bodoh, Cihh.." Lanjut Raka memaki Rama.


"Benar juga, mengapa aku tidak kepikiran ini sedari tadi." Jawab Rama sadar.


Setelah itu saat ini terdengar suara ledakan lagi di tempat pertarungan Dewa Wasa.


"Baiklah jika kau tidak mau memberikannya, maka aku akan memaksamu dan merobek seluruh ruang dimensimu, dengan itu kau juga akan mati secara perlahan. Hihihi." Ungkap Rajanarya yang saat ini sedang mengangkat dua jari kanannya di depan dadanya dan merapalkan sebuah mantra aneh.


Sedangkan Dewa Wasa yang melihat itu, hanya mengumpat kesal, karena lagi-lagi akan di hancurkan kantong energinya oleh Rajanarya.


"Tidak akan ku biarkan kau menghancurkam kantong energiku lagi makhluk petaka." Ungkap Dewa Wasa sembari perlahan berdiri dengan tubuh yang juga perlahan kembali pulih dan utuh.


"Yaya, pergilah menuju tempat kakak Gangga berada dan lindungi mereka dari dampak pertarunganku, aku akan mencoba jurus baruku." Ungkap Dewa Wasa yang langsung di setujui oleh kipas besi itu dan langsung menghilang.


Setelah itu, kipas itu pun muncul di hadapan Rama dan Dewa Gangga, sehingga membuat Dewa Gangga curiga dengan apa yang akan di lakukan oleh Dewa Wasa dan menatap tajam ke arah Yaya agar memberikan sebuah penjelasan.

__ADS_1


"Tenanglah kakak, tuan menyuruhku untuk melindungi kalian." Ungkap Yaya.


Lalu kipas itu berubah menjadi sangat besar dan menutupi Dewa Gangga serta Rama, dan juga menutupi jalan menuju Semesta Wandasukma.


~


"Hihihi.. Ternyata kau sudah jauh berkem..-- ."


Bughhh...


Hugghhhh...


Sebelum Rajanarya selesai berbicara dan melontarkan jurusnya yang menggunakan dua jari itu, ternyata Dewa Wasa sudah muncul di depannya dan menendang perutnya.


Dengan begitu Rajanarya gagal untuk menghancurkan kantong energi dari Dewa Wasa lagi.


"Jangan jumawa kau, meskipun kekuatanmu jauh sekali di atasku, namun kau lupa jika aku adalah manusia yang memiliki akal dan pikiran yang luas." Ucap Dewa Wasa setelah berhasil menendang Rajanarya.


Sedangkan Rajanarya saat ini masih meluncur cepat ke belakang, namun terlihat dari wajahnya, dia sedikit menyungginggakan sebuah senyuman licik.


Lalu bersamaan dengan itu, di saat masih melesat ke belakang karena tendangan dari Dewa Wasa, Rajanarya sembari menggumamkan sebuah mantra yang membuat dirinya tiba-tiba menghilang dan muncul di belakang Dewa Wasa dengan ke dua jarinya yang sudah menempel di punggung Dewa Wasa.


"Meleburlah." Ucap Rajanarya pelan.


Setelah itu tubuh Dewa Wasa tiba-tiba muncul sebuah rantai berwarna merah yang mengikat tubuhnya.


"Si-siaall, bagaimana bisa." Gumam Dewa Wasa dalam hati.


Rantai itu terlihat memunculkan sebuah jarum-jarum kecil yang panjang dan menusuk ke tubuh Dewa Wasa secara perlahan, sehingga membuat Dewa Wasa sangat kesakitan.


"Aa-aaaa... Aaaaaa" teriak Dewa Wasa.


"Hihihi...Bukankah yang jumawa itu dirimu Bocah petaka." Jawab Rajanarya yang selalu di awali dengan tawa kecilnya.


Jarum itu terlihat, semakin lama semakin banyak, bahkan mungkin saat ini sudah mencapai ratusan ribu jarum berukuran sangat kecil dan menusuk semua saraf, tubuh, daging, dan organ-organ dalam milik Dewa Wasa.


Hingga pada akhirnya ribuan jarum itu hampir sampai menuju pusat kantong energi milik Dewa Wasa dan seketika berhenti.


"Aaaaa... Aaaaa.." teriak Dewa Wasa yang semakin lama semakin keras.


"Hihihi.. Sepertinya kau sangat menyukai permainan ini bocah petaka." Ungkap Rajanarya dengan senang.


"Sekarang berikanlah Bunga itu, maka aku akan melepaskanmu...Hihihi." Lanjutnya.


Namun meskipun begitu, Dewa Wasa tidak berniat memberikan bunga itu kepada Rajanarya, meskipun dia harus mati.


"Tidak akan ku berikan, meskipun kau menghancurkan kantong energiku lagi.. Hahahah.. Aaaaa.--" Jawab Dewa Wasa dengan rasa sakit yang sangat dahsyat.


Bukan karena Bunga itu ingin dia gunakan untuk menyembuhkan istrinya, namun karena Bunga Semesta itu akan sangat berbahaya jika sampai berada di tangan sosok seperti Rajanarya.


Mungkin jika makhluk lain akan kesulitan untuk menggunakan bunga semesta itu, namun untuk sosok Rajanarya, mungkin hanya dengan satu Bunga Semesta saja, itu sudah bisa untuk menghancurkan beberapa alam sekaligus.


Karena Dewa Wasa tahu, jika Rajanarya mampu memanipulasi kekuatan, yang mana dengan kekuatan itu, maka bisa saja bunga semesta itu menjadi sebuah awal dari kehancuran alam dan semesta dengan mengubahnya menjadi Bunga Penghancur.


Namun tidak ada yang tahu apa yang akan di lakukan Rajanarya dengan Bunga Semesta itu, Dewa Wasa hanya berusaha untuk waspada dengan cara tidak memberikan bunga itu.


Sedangkan untuk Rama dan Dewa Gangga mereka berdua tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi oleh Dewa Wasa karena saat ini tertutupi oleh Yaya kipas milik Dewa Wasa.


Bahkan suara teriakan Dewa Wasa pun tidak mampu di dengar oleh mereka berdua, karena Yaya menggunakan energinya untuk menghalangi gelombang suara itu.


Jadi saat ini yang paling merasa kesakitan malah Yaya sendiri, karena melihat kondisi tuannya yang sedang tersiksa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2