RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 47 Energi Misterius (PDPS)


__ADS_3

Setelah Dega mengibaskan tanganya, terjadi sebuah ledakan yang sangat besar di tempat Bangka dan Fara, yang di ikuti dengan jatuhnya ribuan serpihan daging, sehingga menjadikan sebuah hujan daging bercampur darah yang mengerikan di tempat itu.


Sontak saja hal itu pun membuat Dewa Tunggal terkejut bukan main, bahkan Gama pun juga sama terkejutnya, sehingga mereka berdua sama-sama terbengong dengan tatapan mata yang juga sedikit ketakukan.


Dega memang hanya terlihat seperti mengibaskan tangan biasa, Namun itu adalah salah satu jurusnya, yang mana saat sedang merubah wujudnya tadi, dirinya membuat segel di telapak tangannya untuk menari gravitasi dari arah kiri dan kanan.


Sehingga setelah tangannya di kibaskan jurusnya itu akan menyatukan kedua gravitasi itu untuk menghimpit Bangka dan Fara.


Seperti halnya kita yang sedang menepuk kedua tangan kita. Seperti itulah kerjanya jurus yang di keluarkan Dega.


Tidak bisa di bayangkan seberapa besar kekuatan beruang itu, apalagi dengan Maha Dewa Zura.


Glekkk..!!!


Sedikit terdengar suara Maha Dewa Tunggal dan Gama menelan air liurnya sendiri secara bersamaan.


”Untung saja Maha Dewa itu ada di pihak kita.” ucapnya lirih dengan suara yang bergetar.


”Benar Tuan, sungguh mengerikan kekuatan beruang itu, apalagi dengan tuannya.” jawab Gama.


Hanya dengan satu kibasan tangan dari Dega saja ternyata Bangka dan Fara langsung lenyap, bahkan Dega sampai lupa jika di suruh oleh Maha Dewa Zura untuk menyegel jiwanya, namun malah langsung melenyapkannya.


Di sisi Maha Dewa Zura sendiri pun terlihat hanya mampu menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang lemas.


”Haihh.. selalu saja seperti ini.” gumamnya dalam hati.


Setelah itu dirinya menghilang dan muncul kembali di sisi Dewa Azar.


Hal itu pun membuat Dewa Tunggal beserta Gama terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba, sehingga tanpa mereka sadari tubuh mereka terlihat sedikit bergetar dan hal itu dapat dilihat oleh Maha Dewa Zura.


”Hahahaha.. sejatinya hidup itu tidak ada yang abadi saudara, semua makhluk yang di hidupkan pasti akan mati, tak terkecuali dengan sebuah alam beserta isinya.” ungkapnya secara tiba-tiba.


”Di sebuah alam yang luas ini, jangan pernah kalian berbuat jumawa dengan apa yang kalian miliki, karena di atas langit masih ada langit, bahkan untukku saja aku bukanlah siapa-siapa di hadapan sang pencipta.” lanjutnya yang kemudian di ikuti dengan tangannya yang memegang tubuh Dewa Azar.


Setiap perkataan yang di ucapkan oleh Maha Dewa Zura tersebut ternyata mampu di cerna dengan baik oleh Dewa Tunggal dan Gama.


Sehingga membuat mereka berdua mengangguk dan akan selalu mengingat perkataan itu.


Uhhuukkk.!!!!


Tiba-tiba saja terdengar suara batuk Dewa Azar yang menandakan bahwa dirinya tidak jadi mati.


Tubuh yang tadinya hampir hancur kini pun terlihat kembali pulih secara perlahan.

__ADS_1


Dan hal yang paling mengejutkan lagi adalah, ternyata Dewa Azar adalah makhluk yang abadi.


”Kau sungguh beruntung anak muda, tubuhmu adalah tubuh yang kekal, hanya saja sayang sekali kekuatanmu masih terlalu lemah untuk mengimbanginya.” ungkap Maha Dewa Zura dengan sebuah senyuman.


Hal itu pun membuat mereka yang ada di sana terkejut bukan main, bahkan Dewa Azar pun demikian, karena dirinya baru menyadari hal itu.


Namun tak berselang lama, di saat mereka masih terkejut dan sedang memulihkan diri, tiba-tiba saja terdengar sebuah ledakan yang amat sangat besar dari arah ujung selatan semestanya, yang mana di sana terdapat dua kakak beradik yaitu Dewa Yasa dan Dewa Lingga.


Sontak saja hal itu membuat mereka semua mengernyitkan dahinya, bahkan Maha Dewa Zura pun juga demikian, karena dirinya tak mampu merasakan adanya energi lain selain energi dari Dewa Yasa dan Dewa Lingga, yang menurutnya energi dari kedua Dewa itu tidaklah berbahaya sama sekali, namun kenapa terjadi sebuah ledakan?.


Dan menurut dirinya, karena energi mereka berdua memiliki sebuah kesamaan itu membuatnya berfikir bahwa mereka bersaudara dan tidak akan melakukan sebuah pertarungan.


Memang benar dua bersaudara itu tidak saling bertarung, namun melainkan sedang di serang oleh ratusan Dewa Kuno yang tiba-tiba datang secara bersamaan.


Sehingga mengakibatkan sebuah ledakan yang sangat besar, karena terjadi sebuah benturan energi dari perisai milik dua bersaudara itu yang hancur.


Mendengar ledakan itu, Tak berselang lama pun, akhirnya Maha Dewa Zura baru menyadari bahwa Para Dewa Kuno sekarang berada di ujung selatan semesta ini.


Tanpa berpikir lama dia pun akhirnya memanggil Dega dan langsung menghilang menuju sumber ledakan.


Yang mana saat ini terlihat Dewa Lingga sudah terkapar tak berdaya, dengan tubuh yang bersimbah darah, begitupun Dewa Yasa yang tak berbeda terlalu jauh.


”Kak, sebaiknya kita menemui Azar, aku sudah tidak kuat lagi.” ungkap Dewa Yasa kepada kakaknya yang langsung di jawab anggukan.


Setelah itu pun, mereka berdua memanfaatkan dan menggabungkan sisa energinya untuk membuat portal agar bisa melarikan diri untuk menemui Dewa Azar.


~


Namun sebelum mereka memasuki portal itu, ternyata ada salah satu Dewa Kuno yang sedang melancarkan sebuah serangan penghancur ke arah mereka.


Hal itu membuat mereka berdua terkejut, dan langsung membuat perisai gabungan untuk menahannya, sehingga membuat portal yang hampir sempurna itu langsung lenyap.


Mereka berdua pun hanya mampu menahan dengan sebuah tatapan yang sudah pasrah.


”Sepertinya nasib kita hanya sampai di sini adik, maafkan kakak yang selalu merepotkanmu.” ungkapnya dengan lemas.


”Maafkan aku juga jika belum bisa menjadi yang terbaik untuk kakak.” jawab Dewa Yasa lemas.


Namun lagi-lagi sebuah keberuntungan berada di tangan teman-teman dari Dewa Azar.


Yang mana, Maha Dewa Zura dan Dega datang tepat waktu, dan menghadang serangan penghancur lawan hanya dengan sebuah satu tangan kosong namun terdapat sebuah gelombang energi tipis menyelimutinya, lalu dia menjulurkan tangannya ke arah depan.


Sehingga membuat serangan dari lawan itu menghilang perlahan seperti terserap oleh tangan Maha Dewa Zura dan lenyap begitu saja.

__ADS_1


Hingga tak berselang lama, ternyata Dewa Azar dan yang lainnya pun juga menyusul mereka berdua dengan di iringi sebuah makian yang membuat semua orang terbelalak lebar.


Namun di sisi Dewa Lingga, dia hanya tersenyum bodoh mendengar sebuah makian dari sahabatnya itu.


”Dasar brengsek, sialan, kenapa kau tidak menemuiku langsung jika sudah berada di sini bodoh.” teriak Dewa Azar kepada Dewa Lingga.


”Hehehe.. sebenarnya tadi aku ingin mengejutkanmu brengsek, tapi ada dua Dewa kuno yang datang bersamaan denganku dan aku mencoba menyegel mereka dulu, namun tak berselang lama ternyata mereka semua juga datang.” jawabnya dengan tangan kanan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan di ikuti dengan tangan kiri yang menunjuk ke arah ratusan Dewa Kuno.


Dewa Azar pun langsung mengikuti arah dari tangan milik sahabatnya itu, yang akhirnya membuatnya terkejut hingga hampir terjatuh kebelakang dengan raut wajah yang lemas.


”A-apa-apaan mereka ini, hanya dengan sebuah bunga saja ternyata mampu membuat petaka yang sangat besar, sialll..” ungkapnya lirih.


Dewa Azar pun hanya mampu mengumpat lirih melihat para Dewa Kuno yang datang.


Dia pun juga mencoba untuk membaca kekuatan dari para Dewa Kuno itu, namun sayangnya dia tidak mampu membaca satu pun kekuatan dari mereka.


Itu membuktikan bahwa kekuatan para Dewa Kuno berada di atasnya semua, sehingga membuatnya sedikit merasa cemas.


Dewa Azar kini merasa bahwa dirinya begitu kecil di hadapan para Dewa Kuno.


Namun itu malah membuat tekadnya menjadi tumbuh lagi untuk selalu berusaha menjadi kuat.


Bruushhh…


Brussshh...


Hingga akhirnya kini terdengar beberapa suara benturan energi dari arah Para Dewa Kuno berada yang membuat Dewa Azar dan lainnya tersadar dari rasa larutnya dan lamunannya.


Ternyata Maha Dewa Zura melenyapkan mereka satu persatu dengan mudah hanya bersama Dega.


Tak membutuhkan waktu lama, para Dewa Kuno pun sepenuhnya lenyap dan menyisakan Maha Dewa Zura dan Dega yang masih berdiri di atas ratusan mayat seperti sedang menunggu akan sesuatu.


Mereka terlihat sangat waspada dan saling menatap dengan serius.


Padahal Dewa Azar pun tidak merasakan apa-apa lagi, selain keberadaan mereka semua.


”Yasa, apa kau merasakan ada yang akan datang .?” tanyanya kepada adik dari Lingga.


Dia bertanya kepada Yasa karena dia tahu bahwa Yasa memiliki kekuatan alam yang sangat kuat.


Namun sayang sekali ternyata Yasa hanya mampu menggelengkan kepalanya, yang menandakan bahwa tidak ada kekuatan lain yang datang.


Setelah itu, Dewa Azar pun langsung menatap ke arah Lingga, namun sahabatnya itu juga hanya mampu menjawab sama seperti adiknya.

__ADS_1


Akhirnya Dewa Azar pun kembali menatap Maha Dewa Zura dan Dega, setelah itu mereka juga menambah kewaspadaannya.


***


__ADS_2