RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 25 Kekuatan Rama (PDPS)


__ADS_3

Di sisi lain, terlihat Arjuna yang masih melayang santai melihat sebuah cahaya berwarna biru melesat menyambar tubuh Dewa Tunggal.


Arjuna sangat terkejut karena matanya tidak mampu melihat siapa yang menyambar tubuh Dewa Tunggal itu.


Namun setelah Rama muncul di hadapannya kembali, dia akhirnya tahu ternyata pemuda inilah yang menyambar tubuh dari Dewa Tunggal.


***


Sebelumnya Dewa Tunggal sangat lengah karena merasakan sebuah kekuatan yang sangat mirip dengan kekuatan Dewa Wasa.


Lantas itu membuatnya mencari tahu dimana letak energi itu berada.


Namun saat sedang mencarinya, Arjuna yang melihat Dewa Tunggal sedang lengah, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menembakkan beberapa besi dari tangannya yang ukurannya lebih kecil ke arah tubuh Dewa Tunggal.


Dia memperkecil besi itu guna mempercepat laju serangannya agar mampu mengakhiri pertarungan ini dengan cepat.


Arjuna sungguh kewalahan dengan serangan dari Dewa Tunggal yang sangat cepat, meskipun dia masih unggul sangat jauh dari lawannya.


Tapi untuk mengantisipasi Dewa Tunggal membuka segel kekuatan terakhirnya, dia langsung menggunakan kesempatan itu, dan itu sungguh berhasil, yang mana serangan besi beracun yang dia luncurkan mengenai telak tubuh Dewa Tunggal.


Hingga membuat Dewa Tunggal terpental jauh menuju tempat Gama dan yang lainnya berada yang membuat tubuhnya menabrak segel perisai yang melindungi Gama dan yang lainnya.


Itulah yang membuat Rama tiba-tiba menghilang, karena ingin menyelamatkan Dewa Tunggal dari benturan , namun sayang dirinya telat menyadari hingga Dewa Tunggal sudah menabrak terlebih dahulu dan terjatuh menuju kedaratan yang kemudian baru dapat di raih oleh Rama.


***


Kini Arjuna terlihat sedikit menjaga jarak setelah melihat ada sosok pemuda tampan di depan dirinya, yang sedikit mengingatkannya tentang sesuatu yang mengerikan.


Tubuh Arjuna terlihat sedikit gemetar, dengan sorot mata yang menggambarkan sebuah ketakutan yang mendalam.


”Mata Neraka, itukah julukanmu paman?” tanya Rama dengan sedikit senyuman yang membuat Arjuna mengambil jarak lebih jauh lagi.


”Mengapa paman terlihat seperti sangat ketakutan seperti itu?” lanjut ungkap Rama mencoba menggoda lawannya.


Arjuna sungguh terkejut bukan main karena pemuda di depannya tahu akan julukannya.


Dan Rama mengetahui itu semua karena dia memiliki kepingan ingatan dari sang ayah.


”Si-siapa kau anak muda, mengapa tahu siapa diriku?” tanya Arjuna dengan suara yang sedikit gemetar.


”Tidak penting siapa diriku paman, yang terpenting adalah karena paman sudah melukai pamanku dan pak tua itu, maka aku akan membalas sedikit perbuatan yang telah paman lakukan” jawab Rama dengan senyum liciknya.


Sontak Arjuna pun sungguh ketakutan setelah mendengar itu, dia sudah bersiap untuk membuat portal dimensi untuk melarikan diri.


Namun Rama yang menyadari itu, dia langsung menghilang dari pandangan dan muncul di samping Arjuna dengan mengeluarkan serangan.


“Tapak Wasa” teriak Rama dari samping.


Tangan kanan Rama tiba-tiba membesar dan mengeluarkan sebuah tekanan angin yang sangat kuat hingga mendorong tubuh Arjuna dengan gelombang kejut.

__ADS_1


Serangan Rama mengenai telak tubuh bagian samping dari Arjuna hingga membuatnya terpental cukup jauh.


Dia pun langsung menendang angin di udara untuk menstabilkan tubuhnya, namun sebelum dia melakukan itu, dia mendengar suara lagi dari atasnya.


”Tapak Wasa Seribu Cahaya” teriak Rama dari atas.


Kali ini tangan Rama tidak membesar, melainkan menjadi sangat banyak dan langsung menghantam telak tubuh Arjuna.


Dhuaarr..


Dhuarr..


Bugghh..


Boomss..


Hingga membuatnya terpental dengan sangat cepat menuju daratan dan mengakibatkan sebuah ledakan yang sangat dahsyat serta menciptakan kepulan debu yang sangat tebal.


Sedangkan dari atas Rama terlihat tenang melayang mengamati kepulan debu dengan tatapan datar.


Melihat Rama, Dia seperti seorang Dewa dengan aura keadilan dan pemimpin yang sangat tegas.


”Jurus ini terlalu panjang namanya, membuatku susah untuk merapalkannya, apakah aku ganti saja ya .. Tapak Waseca, iya ini sepertinya lebih baik” gumamnya lirih sambil melihat sedikit ke arah tangannya.


~


Di bawah, Arjuna yang terkena telak serangan dari Rama mencoba bangkit dengan kondisi tubuh yang setengah hancur dan hilang.


”Sial, Brengsek, siapa pemuda itu, mataku tak berfungsi terhadapnya, bahkan regenerasi tubuhku sangat lambat” gumamnya dalam hati.


”Tapi dari segi aura, rupa, jurus, dan energinya mengingatkanku dengan seseorang, jangan-jangan dia.. Si-siiall“ lanjutnya dalam hati.


“Baiklah, aku akan membuka seluruh kekuatanku, untuk berjaga-jaga jika memang dia anak turun dari Wasa si brengsek itu” gumamnya dalam hati.


Dengan di tutupi kepulan debu yang sangat tebal, Arjuna memanfaatkan situasi untuk membuka seluruh kekuatan dalam tubuhnya.


Sebenarnya dia ingin sekali melarikan diri, namun dirinya yang sudah terluka dan di kalahkan oleh bocah hanya dengan beberapa serangan saja membuatnya ingin balas dendam.


Setelah itu, di menggigit jarinya, dan mengoleskan darah pada dadanya membentuk sebuah aksara aneh.


”Mata Dewa, Segel kematian tingkat maya, terbukalah” gumamnya lirih.


Setelah itu dari dalam kepulan debu itu menyeruak sebuah energi yang sangat besar dan menutupi tubuh Arjuna.


*


Disisi lain ternyata Rangga sudah pulih, dia dan kekasihnya juga sedang mengobati Dewa Tunggal, dan terlihat sejauh ini penarikan racunnya berjalan lancar.


Kerja sama antar sepasang penjaga semesta itu sungguh kompak dan berhasil, hingga kini terlihat tubuh Dewa Tunggal yang perlahan kembali pulih.

__ADS_1


”He-hebatt” ungkap Jala dan Amar secara bersamaan.


Namun untuk Gama sendiri, dia hanya menatap proses penyembuhan itu dengan wajah datar.


Di tubuh Dewa Tunggal, semua luka-luka bekas tusukan besi beracun tadi kini perlahan menutup kembali.


Hingga tak berselang lama, dia membuka matanya lalu langsung duduk bersila untuk memulihkan tenaga dan energinya kembali.


Melihat itu Bibi Hasa dan Rangga pun memberi ruang, mereka semua yang ada di sana hanya dapat melihat Dewa Tunggal memulihkan energi dan berusaha menjaganya.


Ketika mereka sedang merasa senang karena Dewa Tunggal bisa sembuh, tiba-tiba terjadi sebuah ledakan yang sangat dahsyat di daratan.


Ledakan itu membuat mereka semua mengalihkan pandangannya ke arah sumber ledakan, begitu pula dengan Dewa Tunggal yang juga langsung membuka matanya.


”Apakah yang di sana adalah makhluk berjubah tadi?” ungkap Jala dengan polosnya.


”Sepertinya memang iya” jawab Amar.


”Energi apa ini, Siall, energinya terlalu besar, cepat ciptakan sebuah perisai berlapis, agar tubuh kalian tak terbakar oleh energi ini” ucap Gama dengan keras menyadari sebuah energi menyembur keluar dari arah daratan yang membuat semua orang langsung menuruti perintahnya.


Namun berbeda dengan Dewa Tunggal yang merasakan energi yang tak asing dari atas sana, dia menatap tajam siapa pemuda itu.


“Energi cucuku?” gumamnya lirih namun dapat di dengar oleh semua yang ada di sana.


lantas semua orang kini berganti langsung menatap ke arah Dewa Tunggal.


”Cu-cucu,? ji-jika cucu berarti pemuda itu adalah Putra Dewa Wasa Yang Mulia? “ ucap Jala masih dengan kepolosannya yang mendapat jawaban sebuah anggukan dari  Dewa Tunggal.


”Be-benarkah pemuda itu putra dari Dewa Wasa Yang Mulia? ” Tanya Amar menyela.


Namun karena sebuah getaran yang sangat dahsyat menghantam segel perisai mereka, itu langsung membuat mereka waspada tanpa memperdulikan pertanyaan dari Amar.


Dewa Tunggal yang merasakan segel perisai itu akan hancur lantas memperkuatnya dan kembali duduk bersila mengamati apa yang akan di lakukan cucunya itu.


Dia sangat yakin itu adalah cucunya karena dengan energi sebesar itu yang di keluarkan oleh Arjuna pun tak membuatnya merasa tertekan.


Di sisi lain.


Di tempat Rama, Dia terlihat masih sangat tenang menghadapi tekanan energi itu, bahkan dia tanpa bergeser sedikit pun dan masih mengamati energi yang menyeruak dari dalam kepulan debu itu.


”Hahaha.. bocah sialan, kau telah membangkitkan amarahku , maka matilah dengan cepat” Teriak Arjuna dari balik kepulan debu yang menutupinya.


Setelah itu terlihat sosok Arjuna di balik kepulan debu yang kini memiliki sebuah sayap berwarna hitam, dan keningnya yang memunculkan satu mata lagi yang aneh.


Kini terdapat 3 mata di wajahnya, hanya saja mata yang berada pada keningnya berwarna merah dan di tengahnya terdapat lingkaran kecil berjumlah enam dengan besaran lingkaran yang berbeda.


Dari balik kepulan debu itu terlihat sebuah larik sinar yang melesat cepat ke arah Rama.


Rama yang melihat itu pun, masih menunjukan ketenangannya, bahkan dia memunculkan sedikit senyuman di bibirnya.

__ADS_1


Namun tanpa Rama sadari, sinar yang melesat cepat menuju ke arahnya itu ternyata hanyalah sebuah serangan untuk mengalihkan konsentrasi Rama saja.


***


__ADS_2