
Kini terlihat ada empat cahaya berwarna warni melesat dengan cepat menuju ke arah bukit.
Di balik bukit itu sendiri terdapat sebuah perkampungan yang sangat ramai penduduk, bahkan di sana juga terdapat sebuah penginapan dan rumah makan.
Kini terlihat di dalam sebuah rumah yang terbuat dari kayu-kayu yang tertumpuk rapih, yang berada di dekat sungai yang sangat besar terdapat dua sosok manusia yang sedang berbincang.
”Baik Guru, Hamba akan segera menuju gerbang”. ungkap Seorang Panglima bernama Naju.
Dia adalah Ki Ranujagat yang sedang memberi perintah kepada Panglima Naju.
Ki Ranujagat mampu merasakan adanya energi langka yang sama dengan energi yang ada pada tubuhnya.
Sehingga dia menyuruh Panglima Naju untuk menjemput beberapa orang itu.
Dia juga mampu merasakan adanya energi yang tidak asing disana, seperti sebuah energi dari salah satu muridnya.
Karena dia merasakan beberapa energi yang dia kenal, maka Ki Ranujagat menyuruh Panglima Naju untuk menyambut mereka.
Di bawah bukit sebelah utara Kampung Sahda, kini terdapat empat sosok manusia yang sedang menatap seseorang berjubah putih duduk diatas kudanya.
”Paman, apakah aku boleh memasuki desa kalian.?” ungkap Rama dengan sopan.
Di sisi lain Rangga dan kekasihnya sungguh terkejut karena mendapati sebuah perkampungan yang besar dan memiliki banyak penduduk yang sedang beraktifitas.
”Mengapa aku tidak mengetahui jika di sini ada sebuah perkampungan? padahal aku terjatuh di sebelah sana dinda.” ungkap Rangga kepada kekasihnya sembari menunjuk ke arah tempatnya pertama kali terjatuh.
”Kau selalu saja tidak memperdulikan sekitarmu kanda,“ jawab Bibi Hasa apa adanya.
Di samping itu, Rama yang melihat sosok di atas kuda tak segera memberi jawaban pun lantas bertanya kembali.
”Woee paman.. apakah kau dengar suaraku? aku ingin memasuki desa kalian apakah boleh?” teriak Rama kembali hingga akhirnya lawan bicaranya tersadar dan menjawabnya.
”Hehehe. tentu boleh anak muda, silahkan mengikutiku, ada seseorang yang sudah menunggu kalian.” Jawabnya sembari berbalik dan melangkah.
Panglima Naju saat itu ternyata sedang melamun karena melihat sebuah kecantikan yang luar biasa dari salah satu orang dalam rombongan itu, sosok yang dia amati adalah Putri Ana.
Siapa yang tidak tertarik dengan kecantikan Putri Ana, karena dia seperti sosok bidadari yang turun ke bumi.
”Sepertinya kau harus menggunakan penutup wajah Putri.” Bisik Rama menggoda Putri Ana.
Sontak Putri Ana yang mendengar itu pun hanya mampu menunduk tersipu malu.
Setelah itu rombongan Rama pun berjalan memasuki kampung Sahda menuju sebuah tempat di ujung desa.
Di dalam perjalanan, mereka sangat terkagum dengan keindahan kampung sahda, yang mana di sana seperti sebuah surga dunia yang belum pernah mereka temui di semesta wandasukma.
Banyak sekali orang yang sedang melakukan kegiatan, ada yang sedang berkebun, ada yang sedang berlatih kanuragan, dan ada banyak sekali anak kecil yang berlari larian.
Panglima Naju yang melihat itu pun terlihat mengeluarkan sebuah senyuman.
__ADS_1
Karena terlalu menikmati perjalanan, mereka tidak sadar bahwa sebentar lagi akan sampai di kediaman Ki Ranujagat.
”Di sebelah sana anak muda, mari sedikit cepat, karena beliau tidak suka menunggu.” ungkap Panglima Naju kepada Rama dan rombongannya yang hanya di jawab sebuah anggukan kepala.
Setelah itu mereka pun hanya mempercepat sedikit langkahnya, karena masih ingin menikmati pemandangan di dalam kampung sahda.
Namun tak terasa, kini mereka sudah sampai di halaman rumah Ki Ranujagat.
”Wahhh.. indah sekali sungai itu dinda.” ungkap Rangga melongo melihat keindahan sungai yang sangat tenang.
”Iya kanda, sungguh aku baru pertama kali melihat keindahan seperti ini.” jawab bibi Hasa yang sama terkejutnya.
”Waahhh..bagaimana bisa ada sungai seluas ini di sini.” gumam Rama yang juga menikmati keindahan sungai.
Sedangkan di sisi Putri Ana, Dia hanya terbengong menatap sungai yang tenang itu, karena dia merasa tidak asing dengan sungai itu, seakan dirinya merasa pernah berkunjung ke tempat ini.
Akhirnya mereka pun tersadar oleh sebuah suara parau dari dalam rumah.
”Ternyata benar, kau adalah putra dari Wasa, dan kau adalah titisan dari Graha, masuklah kemari cucu-cucuku.” ungkap suara parau dari dalam rumah.
”Wasa? Ma-maha Dewa Wasa.?” gumam Panglima Naju.
Kini gantian dirinya yang terkejut, karena mendengar gurunya mengungkap siapa rombongan yang dia bawa.
Setelah itu pintu rumah pun tiba-tiba terbuka, dan seperti terkena sebuah mantra, mereka yang masih terbengong pun berjalan masuk ke rumah dengan sendirinya, begitu juga dengan Panglima Naju.
Sesampainya di dalam rumah, mereka lagi-lagi terkejut karena mendapati di ruangan itu terdapat sebuah energi yang sangat besar dengan tekanan yang begitu kuat.
~
Setelah mereka semua duduk, Ki Ranujagat pertama-tama memperkenalkan dirinya kepada Rama dan rombongannya.
”Baiklah, sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu kepada kalian, aku harap kalian tidak terkejut.” Ungkap Ki Ranujagat dengan senyum lembutnya.
”Aku adalah Ranujagat, Biasa di panggil Ki Ranujagat.” ungkapnya.
Mendengar itu Rama dan rombongannya pun malah mengernyitkan dahinya.
“Haaihhh.. Guru selalu saja menggantungkan perkataannya.” gumam Panglima Naju dalam hati karena sudah hafal dengan sikap gurunya itu.
”Apanya yang membuatku terkejut.” Gumam Rangga dengan tatapan bodohnya.
Ki Ranujagat yang melihat itu pun, hanya tersenyum bodoh, seperti memang sengaja menggoda mereka.
Namun tak berselang lama, dia membuka setengah energinya dan merubah wujudnya menjadi sosok Dewa yang tampan, dengan kedua mata yang masih tertutup dan dahi yang memunculkan simbol api berwarna coklat.
Sontak hal itu lah yang membuat Rama beserta rombongannya terkejut hingga tak mampu bergerak sedikitpun karena terkena tekanan energi yang keluar dari tubuh Ki Ranujagat, begitupun dengan Panglima Naju.
Panglima Naju bahkan tidak pernah melihat gurunya merubah dirinya ke sosok aslinya, dia hanya baru melihat dua kali, yaitu lima tahun lalu saat mengambil Bunga Semesta dan kali ini saat bersama rombongan Rama.
__ADS_1
“Hahahaha..Sudah ku bilang jangan terkejut, tapi kalian masih saja terkejut.” tawa Ki Ranujagat melihat ekspresi wajah mereka.
”Inilah diriku yang sesungguhnya.” Lanjutnya, yang kini menunjukan wajah yang serius.
Setelah itu dia kembali mengungkap siapa dirinya yang sebenarnya, yang lagi-lagi membuat mereka semua melebarkan mata, bahkan Rangga hampir saja pingsan bila tubuhnya tidak di aliri energi oleh Rama.
“Aku sebenarnya adalah salah satu dewa yang berasal dari Semesta Dwisurya, Semesta tertinggi ke dua yang ada di alam Raya Tirta,” ungkap Ki Ranujagat.
”A-alam Raya Tirta? apa itu alam Raya Tirta paman.” jawab Rama yang sudah tersadar dari rasa terkejutnya.
“Akan ku jelaskan sedikit tentang Alam Raya Tirta kepada kalian.” jawab Ki Ranujagat.
Setelah itu dia langsung menceritakan sedikit tentang Alam Raya Tirta.
Dia menjelaskan bahwa sebenarnya dunia itu sangat luas, bahkan Alam Raya Tirta hanyalah salah satu dari ribuan Alam Raya yang ada di dunia.
Sedangkan untuk Alam Raya Tirta sendiri memiliki beberapa semesta yang di dalamnya juga terdapat Semesta Wandasukma.
Dia menjelaskan ada 5 semesta di alam Raya Tirta, yang pertama adalah Semesta Falhala, semesta tertinggi di alam Raya Tirta, dan yang kedua adalah Semesta Dwisurya tempat asalnya.
Yang ketiga adalah semesta Danuwisma tempat asal dari Putri Ana, yang ke empat adalah Semesta Garulara yang berdampingan dengan semesta Wandasukma yang menjadi semesta terakhir dalam Alam Raya Tirta.
”Jadi semesta wandasukma adalah semesta terakhir dalam Alam Raya Tirta paman.?” Sela Rama bertanya kepada Ki Ranujagat.
”Benar cucuku, Dan dari kelima semesta itu hanya di semesta wandasukmalah yang memiliki kekuatan paling tinggi, karena di sana terdapat dua muridku.” ungkap Ki Ranujagat dengan sombongnya yang membuat semua orang mengernyitkan dahinya.
”Jika boleh tahu, siapakah kedua muridmu itu paman.?” lanjut tanya Rama penasaran, yang langsung di jawab oleh Ki Ranujagat.
”Dia adalah Azar, dan Wasa ayahmu.” jawab Ki Ranujagat membuat Rama terkejut.
”A-ayahh?“ gumam Rama
”Iya, maka mulai hari ini kau harus panggil aku kakek .. Hahaha” jawab Ki Ranujagat yang di iringi oleh tawa.
”Ba-babaik kakek guru.” jawab Rama langsung dengan terbata.
Setelah itu Ki Ranujagat melanjutkan ceritanya.
”Namun dari lima semesta itu ada satu sosok dewa yang sangat sakti yang ingin menguasi Alam Raya Tirta, Dia berasal dari semesta Falhala, semesta tertinggi di Alam Raya Tirta, yang belum mampu kami kalahkan, bahkan aku hampir di buat mati olehnya saat berperang di semesta Danuwisma, beruntung waktu itu Azar dan Wasa tiba tepat waktu, Meskipun tidak mampu membunuhnya tapi mereka mampu membuatnya kabur.” ungkap Ki Ranujagat.
Mendengar itu, Rama dan lainnya hanya mampu menyimak dengan ekspresi yang berubah-ubah.
”Siapa sosok sakti itu Kakek?” sela Rama penasaran.
”Dia adalah Rajanarya, sosok sakti yang mampu membaca pikiran orang tanpa harus menyentuhnya, dan mempunyai tubuh layaknya anak kecil dengan adanya simbol aneh di dahinya.” jawab Ki Ranujagat namun terlihat wajahnya yang langsung terlihat lemas dan bersedih.
Mendengar itu semua orang menggumamkan namanya dan mengingat-ingat di dalam pikiran mereka masing-masing.
”Rajanarya“ gumam semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
***