
”Hahaha.. dasar kakak sialan, kau masih kalah tampan di banding diriku.” teriak Dewa Wasa yang sudah muncul di samping putranya dan juga berada di antara rombongan Maha Dewa Tunggal.
”A-ayaahh..?” ungkap Rama yang sangat terkejut.
”Wasa.?” ungkap Gama, Dewa Yasa dan Dewa Lingga dengan raut wajah yang aneh.
”Putraku.?” ungkap Maha Dewa Tunggal.
”Dasar menantu sialan.” ungkap Maha Dewa Azar sedikit kesal.
”Guru.” ungkap Bibi Hasa dan Rangga secara bersamaan.
Mereka semua sangat terkejut karena kemunculan Dewa Wasa disana, apalagi dia memanggil sosok yang ada di depannya dengan sebutan kakak.
Dan yang membuat mereka sangat terkejut lagi adalah Dewa Wasa sangat berani memukul kepala sosok yang memiliki kekuatan jauh diatas mereka.
Jlegg…
”Hahaha.. rasakan itu kakak.” ungkap Maha Dewa Zura yang tiba-tiba juga sudah muncul di antara rombongan Rama.
Hal itu juga membuat semua orang yang ada di sana semakin bertambah terkejut.
Bahkan Nyai Asih yang hidup paling lama di antara rombongan Rama pun sampai benar-benar terkejut karena perlakuan Dewa Wasa kepada sosok Dewa asing yang memiliki mata dan rambut berwarna keemasaan itu.
Nyai Asih benar-benar tidak tahu sosok yang bersama dengan Dewa Wasa dan Dewa Zura itu, yang jelas, menurut dirinya sosok Dewa asing itu memiliki kekuatan di atas Dewa Agung yaitu sebutan dari Maha Dewa Zura.
“Nyai guru, Apakah Nyai juga tahu akan sosok Dewa itu?” tanya Dewa Yasa berbisik kepada Nyai Asih.
“Aku tidak tahu Yasa, bahkan aku baru pertama kali ini merasakan adanya energi yang sangat aneh seperti itu” jawab Nyai Asih dengan sebuah bisikan juga.
Namun di saat semua orang sedang dalam rasa keterkejutannya, Maha Dewa Zura pun akhirnya membuka suara.
“Mari silahkan masuk di kediaman Adik Wasa kakak Gangga” Ungkap Maha Dewa Zura dengan sopan kepada sosok Dewa berambut emas itu yang langsung di jawab dengan sebuah anggukan dan sebuah senyuman.
Lalu kemudian setelah itu, Maha Dewa Wasa memimpin untuk mengawali mereka semua masuk ke dalam istana yang langsung di ikuti oleh Maha Dewa Gangga, lalu di belakangnya Maha Dewa Zura, setelah itu Maha Dewa Tunggal, Maha Dewa Azar, Rama dan rombongannya.
Sesampainya di dalam istana, Maha Dewa Zura tidak melepas sebuah kehormatan milik Dewa Tunggal, yang mana dirinya menyuruh Maha Dewa Tunggal duduk di kursi kerajaannya.
Hal itu membuktikan bahwasanya Maha Dewa Zura juga sangat menjunjung tinggi sebuah kehormatan dan harga diri makhluk lain.
Setelah itu, Semua orang pun lantas duduk di kursinya masing-masing,
Di sebelah kanan Dewa Tunggal terdapat sosok Dewa Wasa, dan sebelah kanan dari Dewa Wasa telah duduk sosok Rama.
Sedangkan di sebelah kiri Dewa Tunggal terdapat Dewa Azar, dan sebelah kirinya lagi adalah Maha Dewa Zura.
Untuk Maha Dewa Gangga sendiri, dia duduk di sebuah kursi tamu yang khusus di siapkan oleh Dewa Tunggal dan kursi itu besarnya setara seperti kursi milik Dewa Wasa, yang di tempatkan di hadapan Dewa Tunggal, akan tetapi sedikit bergeser ke sebelah kanan, yang lebih tepatnya berada tepat diantara hadapan Dewa Tunggal dan juga Dewa Azar.
Setelah semua duduk di kursinya masing-masing, akhirnya Dewa Tunggal mengawali pembicaraanya dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
“Selamat datang di semesta Wandasukma Maha Dewa Agung, Dengan rasa hormat, saya adalah pemimpin di semesta ini.”
“Perkenalkan saya adalah Huda yang biasa di sebut Dewa Tunggal” Ungkap Dewa Tunggal dengan senyum hangatnya.
~
__ADS_1
Setelah itu dia pun juga mengungkapkan bahwa Dewa Wasa adalah anaknya, dan juga yang ada di sebelah kirinya adalah adiknya yaitu Dewa Azar.
Namun Maha Dewa Gangga dan juga Maha Dewa Zura pun ternyata sudah mengetahui itu semua, karena dahulu saat Dewa Wasa berkelana bersama Maha Dewa Zura dan dirinya, dia banyak sekali bercerita tentang keluarganya yang ada di semesta Wandasukma ini.
Bahkan Maha Dewa Gangga pun sudah tahu kalau Dewa Wasa sudah memiliki istri, yang waktu itu ternyata baru saja menjalankan sebuah pernikahan sebelum dirinya berkelana.
Namun Maha Dewa Gangga belum tahu jika Dewa Wasa sudah memiliki seorang putra, bahkan sudah remaja, dan saat ini telah berada di hadapannya.
Maha Dewa Gangga hanya berpikir kalau laki-laki yang duduk mirip dengan Dewa Wasa tersebut adalah putra dari Dewa Tunggal.
Namun tak berselang lama, Maha Dewa Gangga pun di buat terkejut oleh pernyataan dari Dewa Tunggal.
Yang mana sesaat setelah Dewa Tunggal memperkenalkan Dewa Azar, dia langsung mengungkapkan bahwa yang duduk di sebelah Dewa Wasa itu adalah cucunya, yang berarti juga adalah anak dari Dewa Wasa.
Maha Dewa Gangga yang mendengar itu pun sontak saja terkejut, dan mengingat kembali kapan Dewa Wasa bercerita tentang istrinya tersebut, dan ketika sudah mengingatnya, Dia pun akhirnya sadar, jika cerita itu sudah terlewati beberapa puluh tahun yang lalu, jadi wajar bagi seorang manusia biasa kalau sudah memiliki anak.
Setelah perkenalan itu pun, Dewa Tunggal menyuruh Amar dan Jala untuk mengembalikan seluruh penduduk kota, beserta para dayang istana, karena Dewa Tunggal ingin menyambut kedatangan Sahabat dari anaknya itu dengan sebuah pesta makanan.
Perintah itu pun langsung di laksanakan oleh Amar dan Jala, yang langsung keluar dari istana dan membuka ruang dimensi semesta untuk mengeluarkan para penduduk kota.
Tak berselang lama pun setelah portal terbuka, muncullah satu persatu makhluk yang berbeda beda penghuni semesta Wandasukma.
Dan akhirnya seluruh penduduk kota pun sudah kembali dengan tatapan yang beragam, ada yang sedih melihat kota yang hancur, ada yang bingung, dan ada juga yang senang karna perang sudah selesai, meskipun rumah dan bangunan-bangunannya hancur, tapi itu tidak masalah, karna rumah bisa di bangun kembali, dan yang terpenting karna seluruh penduduk tidak ada yang mati.
Di sisi lain, Jala menyuruh para dayang istana untuk istirahat sebentar dan sembari menyiapkan makanan yang banyak dan enak, karna di dalam istana sedang kedatangan tamu yang sangat penting.
Namun tanpa terduga, semua dayang-dayang istana tidak ingin beristirahat dan langsung menjalankan tugas, karena menurut mereka, perintah dari Dewa tunggal tetaplah perintah dan harus segera di laksanakan.
Selain karena sebuah perintah, semua makhluk yang tinggal di semesta wandasukma adalah orang-orang yang memilki budi luhur yang baik, karena sudah di beri tempat tinggal dan kebutuhan yang cukup untuk hidup oleh Dewa Tunggal.
Setelah di beri perintah itu pun, para dayang langsung menuju ke dapur istana untuk membuat makanan yang banyak, semua orang bekerja dengan sebuah kebahagian dan canda tawa seperti tak memiliki rasa lelah.
Amar dan Jala yang melihat semua makhluk itu terlihat masih tetap bahagia dan tersenyum meskipun tempat mereka sudah hancurpun, tak kuat menahan rasa bangganya kepada Dewa Tunggal dan seluruh pejuang semesta wandasukma dahulu, sehingga dengan tidak sadar mereka berdua pun telah meneteskan airmata.
Namun tak berselang lama, mereka berdua pun kembali ke dalam istana untuk melapor bahwa semua penduduk sudah di kembalikan dan meminta ijin untuk membantu para penduduk membangun kembali rumah-rumah yang hancur.
Rama dan rombongannya yang mendengar itu pun langsung melompat turun dari kursi singgahsananya untuk ikut dengan Amar dan Jala, namun segera di hentikan oleh Maha Dewa Gangga.
Sontak saja hal itu membuat semua orang yang ada di dalam istana bingung.
“Jangan pergi putra Dewa." ungkap Maha Dewa Gangga dengan tenang.
Ungkapan itu pun membuat semua orang terdiam dan bertanya-tanya, kenapa sosok Maha Dewa Gangga tidak mengijinkan mereka ikut membantu penduduk.
Namun tak berselang lama terdengar lagi suara Maha Dewa Gangga yang membuat semua orang hampir pingsan.
“Maksudku jangan pergi tanpa mengajakku Putra Dewa.. hahaha” ungkapnya yang bersama sebuah tawa.
Dan tanpa ijin atau pamit kepada Dewa Tunggal, Maha Dewa Gangga pun langsung menghilang dari tempat duduknya dan muncul kembali di depan istana dengan sebuah senyuman yang menghangatkan semua orang.
~
“Haiiihh…Ternyata sama saja dengan ayah” ungkapnya lirih, namun masih tetap bisa di dengar oleh Dewa Wasa.
Dewa Wasa yang mendengar itu pun hanya mampu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan menengok ke arah putranya dengan senyum bodohnya.
__ADS_1
Setelah itu pun semua orang ikut melesat, dan muncul satu persatu di belakang Maha Dewa Gangga kecuali Dewa Wasa dan Dewa Tunggal yang masih di dalam istana, karena Dewa Tunggal sangat penasaran dengan sosok Dewa yang di panggil Kakak oleh putra angkatnya itu.
Setelah semua berkumpul Maha Dewa Gangga pun merubah wujudnya menjadi sosok manusia remaja dengan pakaian yang biasa saja agar tidak menjadi pusat perhatian.
Hal itu pun langsung di ikuti oleh Maha Dewa Zura, namun tidak dengan yang lain, karena selain mereka berdua dan Nyai Asih, tidak ada lagi yang bisa merubah wujud dan rupa, akan tetapi Nyai Asih tetap menjadi dirinya sendiri, karena dia selalu tidak nyaman jika merubah wujudnya.
Setelah selesai dengan perubahannya pun, dia langsung dengan bersemangat berlari ke arah kota.
Namun belum juga dia melangkahkan kakinya, terdengar suara aneh yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak, apalagi dengan Maha Dewa Zura yang tertawa paling awal dan sangat keras.
Krucuk..krucuk!!!..
Suara perut yang lapar dari Maha Dewa Gangga terdengar sangat keras.
Lantas saja Maha Dewa Gangga pun sangat malu dan hanya berbalik ke arah rombongan Rama dengan senyum bodohnya.
“Hahahaha.. kebiasaan kau kak” ungkap Maha Dewa Zura dengan tawanya.
“Hehehe… maafkan aku, sebenarnya aku sangat lapar, maka dari itu sambil menunggu makanan siap, aku ingin membantu para penduduk.” ungkapnya dengan menggaruk belakang kepala yang tidak gatal.
“Hahaha, alasanmu dari dulu seperti itu kak, namun ketika mencium bau makanan, pasti nanti kau akan langsung menghilang.” Jawab Maha Dewa Zura.
“Hahaha.. biarkan saja, kau pun juga seperti itu” jawab Maha Dewa Gangga yang kemudian langsung menghilang dari semua orang.
Sontak saja semua orang langsung tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah Maha Dewa Zura terlihat aneh, karena ternyata Maha Dewa Gangga membalas ejekannya.
“Hahahah, ternyata semua sahabat dari ayah tidak bisa jauh dari makanan.” ungkap Rama dengan tawanya.
Namun setelah itu pun semua orang akhirnya menghilang menuju para penduduk yang sedang membutuhkan bantuan.
Rama menuju ke tempat makhluk yang hampir mirip dengan iblis yang sedang mengangkat sebuah kayu besar untuk di di antar ke tempat orang-orang yang sedang membangun rumah.
Makhluk itu menyambut hangat bantuan dari Rama dan memperkenalkan namanya yaitu Braha.
Bibi Hasa dan Putri Ana pun berada di sebuah kebun untuk membantu kembali menanam tanaman dan buah-buahan yang sempat hancur.
Rangga, Gama, Amar, Jala pun menuju ke pusat kota membantu membangun sebuah bangunan yang besar seperti pasar.
Sedangkan Maha Dewa Gangga berada di sebuah kolam yang terlihat hancur dan hanya terlihat setengah saja.
Dia berdiri dengan tenang, dan terlihat menatap ke bawah dengan sangat serius.
Maha Dewa Zura sendiri pergi dengan berpindah pindah tempat, dia membantu setiap makhluk yang terlihat sangat kelelahan, dan menggantikannya sebentar, setelah makhluk itu cukup beristirahat, dia pun kembali pergi mencari makhluk yang butuh bantuan lagi.
Nyai Asih dan Panglima Naju pun pergi ke rombongan orang-orang yang sedang berkumpul menyiapkan makanan untuk para penduduk.
Dan untuk Dewa Azar sendiri pun tidak tahu entah pergi kemana, yang jelas tidak ada yang tahu bahwa ternyata Dewa Azar tidak berada di dalam kota, namun sepertinya dia pergi untuk menemui sosok yang dia sangat cintai.
Sedangkan di sisi lain, di dalam istana Dewa Tunggal pun memberikan banyak sekali pertanyaan kepada Dewa Wasa.
Namun sebelum dia bertanya, dia menyuruh Sona agar keluar mengajak Buma, dan Dega.
Dewa Tunggal sangat terganggu dengan suara dengkuran Buma, namun Dia tidak berani untuk mengungkapkannya langsung, dan akhirnya menyuruh Sona sebagai perantaranya.
Sona yang medengar itu pun langsung mengangguk patuh dan merubah ukurannya menjadi seukuran manusia agar biasa membawa Buma dan Dega yang saat ini menggunakan wujud yang kecil seperti boneka.
__ADS_1
Setelah Sona pergi pun, Dewa Tunggal langsung bertanya kepada Dewa Wasa yang diawali dengan dari mana Putranya tersebut bisa kenal dengan Dewa-Dewa yang kesaktiaanya sangat tinggi itu.
***