
Meskipun rasa sakit itu semakin lama semakin dahsyat, Dewa Wasa masih berusaha menahannya, sehingga tak berselang lama kemudian, dia merasakan ada beberapa energi yang sangat dia kenali sedang menuju ke tempatnya.
Hal itu membuat dirinya mampu sedikit tersenyum lega.
"Guru, Paman Fatir, Paman Jaya, kakak Zura akhirnya kalian datang." gumamnya dalam hati dengan tubuh yang semakin lemas.
Sedangkan untuk Rajanarya sendiri, dia sedikit merasa aneh karena juga merasakan energi dari sahabat-sahabatnya dahulu.
"Hihihi.. Ternyata si buta itu juga merasakan kehadiranku di sini." gumam Rajanarya dalam hati.
Lalu setelah itu dirinya akhirnya menekuk ke dua jarinya tadi dan bersamaan dengan itu teriakan Dewa Wasa juga langsung menghilang.
"Lebur!!" Gumamnya lirih.
Itu adalah kunci akhir dari jurus pelebur milik Rajanarya, sehingga membuat Dewa Wasa saat ini benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit lagi dan tak sadarkan diri.
Karena ribuan jarum-jarum yang menusuk Dewa Wasa tadi akhirnya menusuk dan menghancurkan semua kantung energi miliknya.
Sehingga saat ini Dewa Wasa kembali menjadi manusia biasa tanpa sebuah kekuatan sedikitpun.
Bahkan mungkin dirinya juga mengalami sebuah kecacatan dalam tubuhnya.
Dan jika itu di alami oleh makhluk lain mungkin sebelum jarum itu menusuk ke organ dalamnya, makhluk itu sudah mati terlebih dahulu, Bahkan tak menutup kemungkinan jika yang berada di posisi Dewa Wasa adalah Dewa Gangga sekalipun mungkin tidak akan bisa bertahan lama seperti Dewa Wasa.
Namun ada hal lain yang tidak di ketahui oleh Rajanarya, yang mana Dewa Wasa adalah makhluk yang cerdas, berakal dan memiliki banyak perhitungan serta ribuan rencana dalam dirinya.
Di ujung semesta perbatasan antara semesta Wandasukma dengan semesta Danuwisma ada satu sosok makhluk yang berdiri dengan tenang dengan bola mata berwarna biru muda yang indah berpola bunga dan juga wajah yang sangat tampan sedang menatap ke arah tubuh yang saat ini sedang meluncur ke daratan akibat jurus dari Rajanarya.
Setelah itu tak berselang lama, di sampingnya muncul sosok lelaki tua yang tiba-tiba saja datang tanpa melalui portal dimensi.
Sehingga membuat sosok tampan itu langsung membungkuk memberi hormat kepada lelaki tua yang memiliki rambut berwarna putih dan mata yang selalu tertutup.
"Hormat kepada Guru." Ungkap lelaki tampan itu dengan membungkukkan badannya.
"Kau dari dulu memang sangat pintar Wasa, bahkan aku saja sampai tertipu dan ingin langsung muncul di hadapannya, karena ku kira yang di bunuh oleh Rajanarya itu adalah dirimu." Jawab Lelaki tua itu dengan kedua tangannya yang berada di belakang.
"Bangunlah." Lanjutnya menjawab hormat dari lelaki tampan itu.
Mereka berdua adalah Ki Ranujagat dan Dewa Wasa, yang ternyata sedari tadi menggunakan tubuh bayangannya untuk melawan Rajanarya.
Dewa Wasa memang sangat cerdas, dia membuat tubuh bayangan dengan sangat sempurna, bahkan sosok seperti Rajanarya pun mampu ia kelabuhi.
Dan itu juga membuktikan bahwa memang Dewa Wasa bukanlah sosok makhluk yang mudah untuk di lawan.
Itu juga menjelaskan bagaimana ia bisa memindahkan Bunga Semesta ke dalam ruang dimensi milik Dewa Azar, karena memang dirinya dari tadi berada di tempat itu dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memindahkan Bunga Semesta itu.
Karena memindahkan benda dari ruang dimensi menuju ke ruang dimensi milik makhluk lain itu membutuhkan waktu yang sangat lama dan juga energi yang sangat besar.
Mengapa Dewa Wasa tidak langsung pergi menuju ke tempat Dewa Azar saja itu karena jika dia pergi dari tempat itu, maka Rajanarya akan tahu keberadaan dirinya, yang mana kamar istrinya itu masih berada di semesta Wandasukma dan masih sangat terjangkau oleh Rajanarya untuk mengetahuinya.
"Hahaha.. Aku sangat bangga terhadapmu." Ungkap Ki Ranujagat secara tiba-tiba yang membuat Dewa Wasa menggaruk belakang kepalanya.
Sedangkan saat ini terlihat Rajanarya yang masih berdiri dengan tenang, menunggu kedatangan dari sahabat-sahabatnya dahulu.
Dia bahkan sampai saat ini tidak sadar jika yang ia bunuh itu adalah bayangan milik Dewa Wasa.
Entah jurus apa yang di gunakan Dewa Wasa itu sehingga membuat semua makhluk kecuali Ki Ranujagat juga merasakan hal yang sama seperti Rajanarya.
Bahkan Yaya sendiripun saat ini terlihat sedang mengeluarkan seluruh kekuatannya sehingga menekan Dewa Gangga dan Rama yang ada di belakangnya sampai tak mampu bergerak sama sekali, karena melihat tuannya di bunuh dengan begitu mudah.
Padahal jika dia tahu, sedari tadi kipas itu juga masuk ke dalam rencana Dewa Wasa, agar musuhnya tidak mengetahui keberadaan dirinya.
"Hihihihi.. Cepatlah menemuiku Ranu, Fatir, Jaya, aku sangat merindukan kalian.. Hihihi." ungkapnya lirih namun terdapat sebuah tatapan membunuh yang sangat tajam dari matanya.
Hingga tak berselang lama pun akhirnya terlihat sebuah kilatan berwarna warni melesat menuju tempat Rajanarya.
__ADS_1
Salah satu kilatan itu melesat ke bawah mengambil tubuh dari Dewa Wasa dan membopongnya.
Jlegg..
Jlegg..
Jlegg..
Jlegg..
Akhirnya satu persatu kilatan itu muncul di depan Rajanarya.
Mereka adalah Dewa Zura, Dewa Fatir, Dewa Jaya, dan Gama yang membawa tubuh dari Dewa Wasa.
Sedangkan Putri Ana saat ini berada di antara Dewa Gangga dan Rama yang sedang menahan amarahnya.
Putri Ana pun juga mendekati Yaya dan menjulurkan tangannya menuju kipas itu untuk menenangkan dengan energi miliknya.
Sehingga kipas itu tahu apa yang saat ini sedang terjadi, dia juga menjadi mampu merasakan adanya keberadaan Dewa Wasa di perbatasan Semesta karena energi yang di berikan oleh Putri Ana.
Setelah memberikan energi alam kepada Yaya, Rama dan Dewa Gangga, mereka bertiga pun melesat menyusul Dewa Zura.
Sedangkan Yaya sendiri langsung menghilang dan muncul kembali di genggaman Dewa Wasa.
Dan untuk ke tiga hewan yang tadi berada di sana pun entah sejak kapan mereka bertiga menghilang itu tidak ada yang tahu.
Sebelumnya Dewa Zura dan yang lainnya juga merasakan hal yang sama seperti Yaya, sehingga membuat mereka bertiga sangat terpukul dan marah.
Namun beruntung Putri Ana mampu membaca situasi dan juga memiliki energi alam yang sangat murni, sehingga membuat dia tahu jika ini hanyalah sebuah rencana pengalihan saja, dan dengan itu dirinya juga memberikan sedikit energinya kepada Dewa Zura dan yang lainnya.
Dengan begitu Dewa Zura dan yang lainnya pun akhirnya juga tahu dengan keberadaan raga asli milik Dewa Wasa.
Hingga akhirnya mereka juga meneruskan rencana itu, dan menyuruh Gama untuk mengambil tubuh Dewa Wasa yang sudah tak sadarkan diri tadi untuk membuat Rajanarya tidak curiga.
Setelah Dewa Zura datang di hadapan Rajanarya, Dia juga meneruskan perannya.
Sedangkan Rajanarya sendiri malah terlihat sangat tenang dan menatap Dewa Zura dan yang lainnya.
"Hihihi.. Bukankah aku tadi sudah memberikan sebuah pilihan untuk memberikan Bunga Semesta itu, tapi kalian malah tidak ingin memberikannya, maka biarlah aku yang akan mengambilnya sendiri." Jawab Rajanarya dengan tenang.
Setelah itu dirinya menjulurkan tangannya ke depan dan merebut tubuh Dewa Wasa menggunakan energinya.
Sehingga tubuh dari Dewa Wasa kini melesat dengan cepat menuju ke arah Rajanarya dan berhenti melayang di depannya.
Sontak saja hal itu membuat semua orang sangat bingung harus berbuat apa, jika saja Rajanarnya mampu masuk ke dalam ruang dimensi Dewa Wasa dan tak menemukan Bunga Semesta itu, maka satu kemungkinan yang terjadi adalah semesta Wandasukma ini hancur beserta mereka yang ada di sana.
"Hihihi.. Lihatlah Bunga ini sangat indah bukan?" Ucap Rajanarya tiba-tiba dengan sebuah tangan yang sudah menggenggam Bunga Semesta di tangan kanannya karena berhasil mengambil dari dalam ruang dimensi milik Dewa Wasa.
Sontak saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana sangat kebingungan, bagaimana bisa Bunga Semesta itu di tinggalkan Dewa Wasa di dalam ruang dimensi tubuh bayangannya.
Hal itu membuat semua bertanya-tanya, bahkan Ki Ranujagat yang mengamati di samping Dewa Wasa pun juga mengernyitkan keningnya lalu menatap Dewa Wasa dengan penuh tanda tanya.
"Hehehe.. Bunga itu memang Bunga Semesta asli guru." Jawab Dewa Wasa dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Cepat jelaskan kepadaku apa maksudmu itu.?" Tanya Ki Ranujagat dengan nada yang sedikit marah.
"Baiklah guru, itu memang Bunga Semesta asli, akan tetapi aku sudah mengambil intinya dan sudah ku kirim ke tempat ayah, jadi itu hanya sisa bagian luar dari Bunga Semesta itu, sedangkan untuk inti kehidupannya aku ganti dengan Bunga Cahaya yang aku tanam di dalam ruang dimensiku." Jawab Dewa Wasa singkat.
Mendengar penjelasan dari muridnya tersebut, akhirnya Ki Ranujagat memahami semuanya karena sudah di rencanakan dengan baik oleh muridnya tersebut.
"Hmmm.. Baiklah, kau memang murid yang cerdas." Jawabnya dengan raut wajah yang biasa saja.
"Akan tetapi, meskipun itu hanya sisa bagian luar dari Bunga Semesta, namun itu juga bisa sangat berbahaya jika berada di tangannya, tapi tidak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup untuk mencegah kehancuran alam, karena yang paling penting adalah inti bunga itu." Lanjutnya.
"Tenang saja guru, aku sudah meninggalkan sedikit energi peleburku di dalam bunga itu, jadi nanti jika semakin jauh bunga itu dariku, maka secara langsung energi peleburku akan aktif dan mengikisnya secara perlahan, Hal itu sudah cukup untuk kita membawa semua makhluk berpindah semesta." Ungkap Dewa Wasa menjelaskan sedikit rencananya.
__ADS_1
Ki Ranujagat yang mendengar itu pun akhirnya mampu bernafas lega, karena lagi-lagi Dewa Wasa sudah merencanakan semuanya dengan sempurna.
Setelah itu dirinya pun akhirnya langsung menghilang dari pandangan Dewa Wasa dan muncul kembali di samping Dewa Zura.
Munculnya Ki Ranujagat itu pun membuat Rajanarya sangat senang, karena dari semua sahabatnya hanya Ki Ranujagat saja yang menganggapnya sebagai keluarga di masalalu.
"Hihihi.. Adik buta akhirnya kau datang juga, apa kau tidak merindukanku?" Tanya Rajanarya langsung.
"Jangan lakukan hal buruk kepada semua saudara-saudaraku disini Narya, kembalikan Bunga itu dan pergilah, sebelum kau menyesalinya." Jawab Ki Ranujagat dengan terus terang.
"Hihihi.. Bagaimana bisa aku memberikan bunga sebagus ini kepadamu, aku hanya ingin menggunakan bunga ini untuk menyempurnakan kekuatan mataku, jadi jangan menghalangiku." Jawab Rajanarya secara tidak sengaja menjelaskan keinginannya.
"Apakah kau ingin bertarung denganku?" Jawab Ki Ranujagat.
"Hissshh.. Cepat berikan bunga itu brengsek." Teriak Dewa Jaya secara tiba-tiba sehingga membuat Rajanarya sangat marah dan langsung melesatkan cahaya menuju ke arah dada Dewa Jaya.
Sehingga sedetik kemudian Dewa Jaya langsung terpental cepat jauh ke belakang.
Serangan kecil itu pun juga memberikan sebuah gelombang energi yang sangat kuat, sehingga membuat semua yang ada di samping Dewa Jaya juga ikut terpental ke belakang.
Sedang yang masih berdiri saat ini hanya Ki Ranujagat, Dewa Gangga, Dewa Zura dan juga Rama yang entah bagaimana dirinya seperti tidak terkena tekanan sama sekali.
"Menarik.." Gumam Rajanarya melihat Rama yang masih berdiri dengan tenang.
Padahal jika dilihat lagi, Ki Ranujagat, Dewa Gangga, dan Dewa Zura pun sangat kesusahan hanya untuk menahan dampak serangan kecil itu.
"Baiklah.. Sepertinya aku tidak tertarik denganmu adik buta, aku akan mengambil tubuhnya saja." Jawab Rajanarya kepada Ki Ranujagat.
Lalu setelah itu dirinya menghilang dan muncul kembali di samping Rama dengan sebuah jurus yang hampir sama ketika dirinya menyerang Dewa Wasa tadi.
"Sial, cepat sekali." Gumam Ki Ranujagat yang kemudian juga menghilang lalu muncul di depan Rajanarya.
Ki Ranujagat muncul dengan sebuah ledakan energi yang sangat besar, sehingga membuat Rajanarya dan Rama terpundur kebelakang.
Namun untuk Dewa Gangga dan Dewa Zura, mereka berdua terpental jauh kebelakang dengan sebuah luka bakar yang sangat parah.
"Siall.. Bocah buta itu ternyata menyembunyikan kekuatannya." Gerutu Dewa Gangga kesal karena dapat di kelabuhi oleh aura milik Ki Ranujagat.
"Ternyata Guru dari Adik bodoh itu juga berada di tingkatan Esa, siall.. aku terlalu bangga dengan kekuatanku." Gumam Dewa Zura yang tergeletak lemas.
Mereka berdua bingung karena energi regenerasi tubuhnya tidak ada yang dapat berfungsi, sehingga membuat mereka berdua seperti daging bakar yang terkapar.
"Sebaiknya kau jangan membuatku marah Narya." Ungkap Ki Ranujagat di antara Rama dan Rajanarya.
"Hihihi.. Baiklah jika itu yang kau mau maka aku tak akan segan membunuhmu adik buta.. Hahahah" Jawabnya, setelah itu tubuhnya berubah menjadi sosok Dewa yang sangat tampan dengan tiga tanduk kecil di keningnya, serta bola mata yang merah dan seperti ada pola api yang menyala di dalam bola mata itu.
Ki Ranujagat yang melihat itu pun tak tinggal diam.
Dia juga merubah dirinya menjadi sosok Dewa yang tak kalah tampan, dengan rambut putih yang di kuncir kebalakang serta matanya yang terbuka namun hanya memperlihatkan Mata yang berwarna putih bersih tanpa bola mata.
"Hahaha.. Aku merindukan pertarungan ini." Teriak Rajanarya yang di ikuti dengan tawanya.
Dengan terbukanya kekuatan sosok Ki Ranujagat dan Rajanarya itu membuat semesta Wandasukma bergetar hebat dengan sebuah awan gelap yang di iringi dengan kilatan-kilatan petir di atas mereka.
Hal itu membuat Dewa Fatir dan yang lainnya berusaha berdiri dan menjauh dari tempat itu, tak lupa juga rombongan Dewa Fatir yang tadi terpental karena dampak dari serangan yang menuju Dewa jaya itu, berusaha untuk membawa tubuh Dewa Gangga dan Dewa Zura juga.
Sedangkan untuk Rama sendiri, dia kini terbaring lemas di belakang Ki Ranujagat.
Dewa Wasa yang melihat putranya itu sedang tak sadarkan diri dan sedang dalam bahaya pun ingin segera melesat untuk menyelamatkannya, hingga membuatnya sudah tak peduli lagi jika memang rencananya harus ketahuan oleh Rajanarya.
Namun sesaat sebelum dirinya melesat, dia melihat sebuah kilatan berwarna putih menyambar tubuh putranya itu dan pergi melesat menuju ke arahnya.
Sehingga Dewa Wasa yang melihat itu pun semakin lama semakin merasakan perasaan yang sangat bercampur aduk, entah itu senang, sedih, bahagia, dan juga sakit seperti datang secara bersamaan.
"Di-Dinda..."
__ADS_1
Gumam Dewa Wasa dengan tubuh yang bergetar hebat karena merasakan energi yang semakin dekat itu adalah energi dari sosok yang paling dia cintai.
...****************...