
Pagi hari ketika matahari mulai menampakkan dirinya dengan sebuah kehangatan yang mengusir lembut embun malam.
Di sebuah tempat yang sangat luas terletak dekat di samping sebuah danau yang sangat tenang dengan sebuah pemandangan Gunung salju di seberangnya yang sangat indah.
Kini terlihat lima sosok manusia sedang berdiri rapih di hadapan lelaki tua dengan matanya yang selalu tertutup dan rambut putih panjang yang selalu terikat terurai ke bawah.
“Apakah kalian semua sudah siap.?” Tanya Ki Ranujagat kepada ke empat orang yang ada di hadapannya.
”Kami siap kakek Guru” jawab mereka berempat secara kompak, begitu pula dengan Panglima Naju.
Panglima Naju ternyata juga ingin mengikuti latihan itu guna untuk memperkuat kanuragannya, karena ternyata dia juga ingin ikut berkelana bersama Rama.
Setelah bertanya kepada ke empat murid barunya. Ki Ranujagat sebelum memulai latihannya, dia memanggil satu persatu muridnya untuk melakukan sebuah penghormatan terlebih dahulu.
Mereka melakukan sebuah penghormatan untuk meresmikan hubungan antara guru dan murid, dengan cara memberi penghormatan kepada gurunya dan sebuah sumpah setia.
Sebenarnya hal itu di lakukan oleh Ki Ranujagat hanya untuk melihat hati mereka apakah memiliki niatan buruk atau tidak.
Bukannya Ki Ranujagat tidak percaya kepada Rama dan rombongannya, akan tetapi dia hanya khawatir saja sebagaimana Rama dan rombongannya adalah seorang putra dewa dan penjaga semesta yang memiliki kekuatan dan kecerdasan di atas rata-rata makhluk pada umumnya.
Karena dari sebuah pengalamannya yang mana sosok Arjuna dan Rajanarnya dulunya memiliki sifat baik dan bijaksana saja bisa melangkah ke jalan yang salah.
Setelah selesai dengan sebuah penghormatan, lalu Ki Ranujagat memulai latihannya.
Pertama-tama mereka di suruh untuk megambil batu-batu yang ada di dasar sungai dan meletakkannya di halaman samping rumahnya.
Hal itu membuat Rama dan rombongannya begitu juga dengan Panglima Naju terkejut.
Mereka saling melongo menatap satu sama lain, mengapa mereka di suruh untuk mengambil batu.
Panglima Naju juga demikian, dia bahkan selama berlatih dengan Ki Ranujagat tidak pernah disuruh seperti itu.
Namun di samping itu mereka juga tak bisa mengelak, karena Ki Ranujagat sudah memberi perintah, maka mereka pun dengan wajah yang kebingungan tetap melaksanakannya.
Mereka terlihat mulai berjalan memasuki sungai secara perlahan-lahan dan satu persatu.
Di pimpin oleh Rama untuk memulainya, akhirnya mereka pun melakukannya satu persatu.
Mereka menyelam menuju ke dasar sungai tanpa melepas pakainnya masing-masing.
Melihat itu semua Ki Ranujagat sedikit menunjukan sebuah senyum bahagia.
__ADS_1
”Mereka benar-benar mengingatkanku dengan sosok kalian guru, kakak dan teman-temanku.” gumam Ki Ranujagat di dalam hati.
Namun terlihat di balik senyumannya itu, ada sebuah airmata yang jatuh melewati pipinya.
Setelah itu terlihat singkat sebuah kilasan masalalu dirinya bersama kakak, teman-teman dan juga gurunya.
*Flasback*
”Woe Ranu, cepatlah, hanya mengambil sebuah batu saja kau terlalu lama, cepatlah keluar, kau sudah satu jam lebih di dalam air.” teriak seorang anak kecil berusia sekitar 15 tahunan dengan sebuah simbol api putih di keningnya.
”Guru, apakah Ranu tidak apa-apa di dalam sana.?” tanya temannya yang lain memiliki sebuah simbol api berwarna biru di keningnya kepada gurunya.
“Ranu baik-baik saja, kalian jangan khawatir, itu sudah kebiasaannya” jawab sosok gurunya.
”Ranu, kau jangan membuat kami khawatir, cepatlah keluar dari dalam air.” teriak salah satu murid termuda dengan sebuah simbol garis vertikal dan terdapat seperti gambar mata di keningnya.
Namun setelah itu tiba-tiba air sungai yang tadinya tenang menjadi terguncang tak karuan.
Brusshh...
Bruushh...
Terlihat sosok bocah kecil dengan mata tertutup dan rambut berwarna putih serta sebuah simbol api berwarna coklat di keningnya, seperti sedang di muntahkan dan di dorong ke atas oleh air sungai.
Untung saja guru mereka segera melindunginya dengan sebuah segel perisai transaparan berwarna coklat ke emasan, sehingga membuat mereka selamat dari tekanan yang sangat besar dari sungai dan air yang jatuh dari ketinggian.
~
Kini terlihat sosok Ranu melayang dengan sebuah sayap dan energi yang sangat mengerikan, namun masih dengan matanya yang selalu tertutup.
”Waaahhh..he-hebat..” ungkap ke tiga bocah itu secara bersamaan.
”Lihatlah Ranujagat anak-anak, contohlah dia, karena meskipun dia memiliki banyak sekali kekurangan, tapi dia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik.” ungkap sosok Guru kepada ke tiga muridnya dengan sebuah senyuman.
Ke tiga sosok itu adalah Jayatara, Fataraji, dan yang terakhir tidak lain tidak bukan adalah sosok Rajanarya yang saat ini lebih memilih jalan yang berbeda.
Sedangkan untuk guru mereka adalah Maha Dewa Satir, Sosok makhluk yang memiliki kekuatan di tingkat Esa.
Namun sayang, Rajanarya yang memilih jalan berbeda, dia malah membunuh gurunya sendiri saat gurunya sedang menjalani pertapaan.
Karena Rajanarya bukanlah keturunan dari Maha Dewa Satir dan merasa paling berbeda, hatinya pun di tumbuhi oleh rasa benci dan iri.
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, Rajanarya yang merasa paling berbeda dari yang lainnya pun akhirnya memutuskan untuk pergi dan meninggalkan ke tiga sahabatnya.
Di sisi lain ke tiga bersaudara itu juga tidak terlalu peduli atas kepergian Rajanarya yang telah membunuh guru mereka.
Namun mereka bertiga berjanji, apabila Rajanarya kembali berulah maka mereka akan turun tangan sendiri.
Akhirnya setelah memutuskan untuk pergi masing-masing, Ranujagat memilih untuk tinggal di bumi, dan Jayatara memilih tinggal di perbatasan alam antara Alam Raya Tirta dengan Alam Raya Juwita, sedangkan untuk Fataraji sendiri tidak ada yang tahu kemana dirinya pergi.
Namun menurut kabar dari beberapa keturunan mereka, Fataraji saat ini berada di Alam Raya Majalika yaitu sebuah Alam yang memiliki puluhan semesta untuk mengejar sebuah kekuatan yang besar.
Di samping itu juga ternyata Fataraji adalah salah satu Dewa yang paling kehilangan atas kematian gurunya, dia juga memiliki niat untuk balas dendam kepada Rajanarya.
Namun tanpa ketiga makhluk itu ketahui, ternyata Rajanarya telah memiliki kemampuan di atas mereka semua, yang berarti kini kemungkinan Rajanarya berada di tingkatan Esa.
Tingkatan Esa sendiri adalah tingkat kekuatan paling tinggi di Alam Raya Tirta.
“Kakak Fatar, Kakak Jaya, apa yang sedang kalian lakukan saat ini ? Ranu rindu dengan kalian.” gumamnya dalam hati.
***
Di waktu sekarang, terlihat Ki Ranujagat seperti sedang memikirkan sesuatu, hingga membuatnya tak sadar telah meneteskan airmatanya.
”Kakek guru, mengapa kau meneteskan air mata.?” ungkap Rama yang ternyata telah duduk di samping Ki Ranujagat yang sedang melamun.
Hal itu pun membuat Ki Ranujagat terkejut hingga membuatnya kembali sadar dari ingatan masalalunya.
Melihat Rama yang ternyata berada di sampingnya, Ki Ranujagat pun dengan cepat mengusap air matanya, dan tanpa sadar dia malah membuka ke dua matanya yang langsung di saksikan oleh Rama.
Namun ada yang berbeda ketika Rama melihat mata dari Ki Ranujagat, karena seharusnya siapapun yang melihat mata miliknya pasti akan terkena sebuah ilusi tingkat tinggi, dan bahkan mampu terbakar.
Rama yang melihat langsung mata Ki Ranujagat pun langsung bertanya.
”Kakek Guru, mengapa matamu sungguh indah.?”
Mendengar pertanyaan dari Rama membuat dirinya tekejut, karena Rama tak terpengaruh sedikitpun oleh mata miliknya.
Sontak hal itu pun langsung membuatnya melihat lekat-lekat mata yang di miliki oleh Rama tanpa memperdulikan pertanyaan dari muridnya itu.
”Pantas saja kau tidak terpengaruh, kau adalah keturuan dari Guru,“ gumamnya lirih, namun masih terdengar di telinga Rama.
“Maksud kakek Guru apa?” jawab Rama dengan cepat yang membuat Ki Ranujagat lngsung melepaskan pandangannya kepada Rama, dan menutup kembali matanya.
__ADS_1
***