RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 35 Kemunculan Dua Sosok Tidak Asing (PDPS)


__ADS_3

”Huuhh.. apakah yang lain sudah selesai Rama?” tanya Ki Ranujagat.


”Mereka masih menyelam guru, dan paman Rangga sedang tak sadarkan diri di sana karena tertimpa oleh batu yang di lemparkan bibi Hasa .” jawab Rama dengan senyum bodohnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


”Haiihhh.. masalah cinta..” gumamnya lirih.


”Lantas mengapa kau berada di sini Rama.?” lanjut tanya Ki Ranujagat.


”Hehehe.. kata mereka aku disuruh beristirahat dulu guru, karena dengan adanya diriku mengikuti latihan ini, mereka merasa tak mendapat bagian untuk mengangkat batu.” Jawab Rama dengan polos sambil menunjuk sebuah bongkahan batu-batu besar yang berada di pinggiran sungai.


Ki Ranujagat pun lantas mengikuti arah yang di tunjuk oleh Rama, Namun setelah dirinya melihat sebuah bongkahan batu-batu yang sangat besar tertumpuk rapih di pinggiran sungai, raut wajahnya pun tiba-tiba berubah menjadi aneh.


pengingat : Meskipun Ki Ranujagat matanya selalu tertutup, akan tetapi dirinya mampu melihat apa yang di depannya, karena dia memiliki sebuah mata batin yang sangat kuat juga.


”A-aapaa itu kau yang mengambil semua.?” tanya Ki Ranujagat sedikit terbata.


”Benar kakek guru.” jawab Rama cepat sambil menganggukan kepalanya.


”Haihhh.. pantas saja mereka bilang seperti itu, karena kau telah mengambil semua batu yang berukuran besar Rama.” ungkapnya lemas.


”Hehehe.. apakah guru mau menceritakan sedikit kepadaku tentang mata yang dirimu miliki itu guru.?” jawab Rama yang sangat penasaran dengan mata milik gurunya.


”Apakah dirimu benar-benar ingin tahu Rama.?” jawab Ki Ranujagat dengan wajah yang terlihat serius.


”Iya guru, Rama ingin tahu meskipun hanya sedikit, itu pun jika guru bersedia bercerita, namun jika tidak, Rama tidak akn memaksa Guru.” jawab Rama dengan sopan.


”Huuhh.. baiklah aku akan bercerita sedikit tentang mata ini.” jawab Ki Ranujagat dengan lembut.


Bukan karena hal yang lain dia ingin bercerita kepada Rama tentang matanya, Namun karena dia melihat mata yang di miliki Rama memiliki sebuah kesamaan dengan Gurunya, maka dia pun mau menceritakannya.


Dia juga tidak tahu mengapa Rama memiliki mata seperti itu, padahal Rama adalah keturunan dari Dewa Wasa yang hanya berasal dari Bumi dan Dewi Keadilan anak dari Dewa Azar.


Namun dia menduga, bahwa mata milik Rama tercipta karena adanya sebuah energi yang sama dengan gurunya di dalam tubuh Rama.


”Baiklah.. sebenarnya aku sangat terkejut, karena kau adalah sosok ke dua setelah guruku yang tidak terpengaruh oleh mataku ini Rama.” ungkap Ki Ranujagat memulai pembicaraannya.


"Padahal ayahmu saja tidak bisa menahan ilusi dari mataku." Lanjutnya.


Rama yang mendengar itu pun tidak ingin menyela omongan dari gurunya, dia hanya diam menunggu kelanjutan cerita dari gurunya.


”Ada sebuah rahasia yang sangat besar dengan mataku ini, karena setiap aku membuka mata maka setiap yang terkena tatapanku akan hancur menjadi sebuah cahaya dan memiliki ilusi yang sangat kuat.” ungkap Ki Ranujagat sambil menatap ke danau.


”Namun berbeda dengan guruku, dia memiliki mata yang tercipta dari sebuah cahaya, dan dari matanya saja dia mampu menciptakan sebuah alam yang bisa dikatakan cukup besar seperti layaknya Alam Raya Tirta.” lanjutnya dengan sedikit terbayang oleh sosok gurunya.


Setelah itu dia bercerita bahwa gurunya adalah sosok yang sangat misterius, karena sampai sekarang pun dirinya tidak tahu asal usulnya, yang dia tahu hanyalah, bahwa dirinya adalah salah satu keturunan dari gurunya.


Namun ada yang berbeda dari mata milik Rama dengan milik gurunya yaitu pada bagian pola dalam bola mata.


Dan bola mata milik gurunya itu hanya terlihat putih, namun sedikit ada sebuah lingkaran berwarna kuning ke emasan yang samar-samar.


Sedangkan bola mata milik Rama memiliki warna biru, dan di dalam bola mata itu terdapat sebuah simbol api seperti di keningnya namun berwarna kuning bukan coklat, dan di kelilingi oleh garis yang membentuk kelopak bunga.

__ADS_1


Ki Ranujagat pun jujur, bahwa dirinya belum tahu pasti apa kekuatan mata milik Rama, namun dia akan berusaha untuk mencoba berbagai cara agar membangkitkan bola mata milik Rama.


”Apakah ini adalah salah satu kekuatan mataku Kakek Guru.?“ jawab Rama yang membuat gurunya itu mengernyitkan dahinya, namun setelah itu dia bahkan membuka matanya untuk memastikan lagi apa yang dia lihat.


Setelah Rama berkata seperti itu, dia langsung menatap tengah sungai yang tiba-tiba saja memunculkan bola hitam dan di kelilingi oleh api coklat.


Sontak saja Ki Ranujagat yang melihat itu pun terkejut, karena bola yang di keluarkan oleh Rama adalah salah satu bola semesta yang berada di sebuah tempat hampa.


Ki Ranujagat yang sedang terkejutpun, langsung menyadarkan dirinya kembali dan mencoba menyerap bola hitam yang di lapisi api itu dengan matanya, namun tak terduga, bola itu tidak bisa di hancurkan oleh mata milik Ki Ranujagat.


Dia yang sadar akan adanya bahaya bila bola itu sampai menyentuh tanah, maka dia langsung berteriak kepada Rama agar menghilangkannya.


”Cepat kembalikan bola itu, jangan sampai bola itu menyentuh tanah Rama, bila menyentuh tanah maka bumi ini akan hancur.” teriak Ki Ranujagat ketakutan.


Di sisi lain Bibi Hasa, Panglima Naju, Putri Ana yang merasakan adanya sebuah tekanan yang sangat kuat di dalam air, langsung melesat keluar dengan cepat.


Setelah sesampainya di daratan, mereka bertiga pun lngsung terbelalak lebar melihat apa yang telah terjadi.


Namun di sisi Rama dia terlihat sangat tenang, seakan tidak peduli akan hancurnya Bumi bila terkena bola itu.


Hal itu pun membuat Ki Ranujagat sangat khawatir, dan menyuruh Panglima Naju untuk menuju kampung dan mengevakuasi para penduduk.


Namun sebelum Panglima Naju pergi, terdengar dua suara secara bersamaan dari samping bola itu.


”Woe woee.. apa yang sedang terjadi? mengapa aku bisa berada di sini.?” Ungkap salah satu orang yang ada di samping bola itu.


”Apakah itu Ranu.?” gumam orang yang satunya dengan di ikuti sebuah tatapan yang tajam.


Sedangkan Rama yang melihat ke dua orang itu tak terpengaruh sedikitpun dengan tekanan yang ada di sana, hingga akhirnya dia menutup matanya kembali dan bersamaan dengan itu juga bola hitam dengan api cokelat itu pun hilang begitu saja.


~


”Benar itu Ranu.. hahaha akhirnya aku menemukanmu adik sialan..” teriak orang yang tadi menatap Ki Ranujagat.


”A—apa? Ranu? Ranu berada di sini? mana kak ? dimana dia ? ” jawab sosok yang satunya.


”Di sana.. ayo kita hampiri.” jawab sosok itu dengan cepat menggenggam tangan lawan bicaranya dan menghilang.


Setelah itu terdengar sebuah suara pukulan yang sangat nyaring dari samping Rama, sehingga membuatnya langsung terperanjat kaget dengan tatapan yang aneh.


”A-apaan paman ini, langsung memukul guru saja.” gumamnya dalam hati dengan langkah yang sedikit menjauh.


Dia pun akhirnya bergabung dengan bibi Hasa, Panglima Naju, dan Putri Ana yang sedang menatap bodoh gurunya karena terkena sebuah pukulan telak dari kedua orang yang tiba-tiba muncul itu.


”A-aa—aww-aw.. siapa kalian.? brengsek.!!” teriaknya sambil menengok ke belakang.


Dan ketika Ranu melihat ke dua sosok itu, tubuhnya tiba-tiba saja bergetar dan terpatung kaget, sehingga membuatnya segera menutup matanya dengan sedikit bergumam.


”Ka-kakak Fatir.? Ka-kakak Jaya.?” ungkapnya lirih dengan bibir dan tubuh yang bergetar.


Dan ternyata mereka berdua adalah kakak dari Ki Ranujagat sendiri.

__ADS_1


”Hahaha.. dasar adik brengsek, aku mencarimu di semua semesta ternyata kau hanya berada di semesta guru.” ungkap Maha Dewa Jaya.


Di sisi lain, Maha Dewa Fatir yang memiliki sifat pendiam pun hanya mampu tersenyum bahagia.


Lalu setelah saling menyapa, mereka berdua akhirnya langsung berlari memeluk Ki Ranujagat.


”Hahahha.. akhirnya kita bisa berkumpul lagi sebagai keluarga.” teriak Maha Dewa Jaya.


Di mata Rama dan teman-temannya, apa yang sedang mereka lihat adalah sebuah keterkejutan yang besar.


Itu karena apa yang mereka lihat saat ini, ke dua sosok yang sedang memeluk Gurunya itu terlihat sangat muda dan begitu tampan dengan simbol di kening mereka yang berbeda beda namun dengan bentuk api yang sama.


”Apa yang sebenarnya sedang terjadi bibi.?” tanya Putri Ana lirih kepada Bibi Hasa.


”Bibi juga tidak tahu Putri, coba dirimu tanya kepada Rama.” jawab Bibi Hasa singkat karena masih mengamati apa yang sedang terjadi.


Putri Ana yang mendengar jawaban dari bibinya itu, hanya mampu menatap Rama dengan wajah yang merona, dia tidak berani bertanya karena dia terlalu gugup saat berbicara dengan Rama.


Namun Rama yang mendengar pertanyaan dari Putri Ana yang di tujukan kepada Bibinya itu, dia langsung menjawabnya.


”Aku memanggil mereka berdua dengan kekuatan bola mataku putri, setelah aku mendengar sedikit cerita dari Kakek Guru, aku jadi mengerti dan mencoba untuk memanggil mereka, karena aku melihat guru akhir-akhir ini terlihat sedang bersedih.” Jawab Rama sedikit menjelaskan kepada mereka.


Ternyata Rama memang sengaja memunculkan bola semesta itu dengan menggabungkan kekuatan matanya yang memiliki energi sama dengan Guru dari Ki Ranujagat, karena dengan memunculkan bola semesta itu, maka mereka yang pernah terhubung dengan Guru dari Ki Ranujagat akan merasakan seperti adanya panggilan agar segera berkumpul.


Mendengar pernyataan dari Rama, Putri Ana dan yang lainnya pun akhirnya mengerti tentang apa yang sedang terjadi.


Di sisi lain, Rama yang melihat pertemuan mereka pun sedikit menitikan air mata, dan terlihat di tubuhnya seperti mengeluarkan sebuah aura berwarna putih ke emasan yang di ikuti dengan munculnya sebuah simbol Api berwarna emas di keningnya.


Sedangkan bola mata kiri milik Rama juga terlihat berubah menjadi putih, akan tetapi untuk yang sebelah kanan masih sama.


Hingga terlihatlah sosok Rama yang berubah menjadi setengah sosok asing dan melayang pelan menuju Ke tiga orang yang masih saja berpelukan di bawah.


Namun di dalam pikiran Rama, terlihat sosok yang mirip dengannya sedang lemas tak berdaya, dan kini sedang di temani oleh Rama di sampingnya.


”Sungguh sial, mengapa kau membiarkan Satir untuk menyatu dengan tubuhmu bodoh. aku sungguh tersiksa oleh kelakuanmu.” Ungkap Raka dengan suara yang tak berdaya.


”Lihatlah apa yang akan mereka lakukan Raka, berbaliklah, aku akan membantumu.” ungkap Rama kepada sosok gelap tubuhnya.


Setelah itu Raka pun hanya mampu mengikuti perintah Rama dengan patuh.


Karena kejadian yang tak terduga itu, akhirnya latihan Rama dan rombongannya pun terpaksa harus di tunda hingga beberapa hari kedepan.


**


Terlihat di sebuah dunia, yang tidak lain tidak bukan adalah dunia milik Rajanarya.


”Si-siall.. me-mengapa tua bangka itu muncul di sana.” gumamnya menggeram marah.


”Aku akan mengingatkan Kana dan Kunta untuk menunda rencana ini terlebih dulu, jika tidak maka mereka akan menemukanku. ahh.. brengsekk.” lanjut ungkapnya dengan marah.


Dan setelah itu dia memberi perintah kepada Kana dan Kunta melalui sebuah pikirannya yang memang sudah saling terhubung.

__ADS_1


”Baiklah.. aku akan mengamati kalian terlebih dahulu dari sini, hahahaha..” ungkapnya yang langsung di ikuti dengan tawa


***


__ADS_2