
Asih adalah sosok Dewi yang memiliki wajah yang sangat cantik, dan tubuh yang anggun.
Dia biasa di juluki dengan sebutan Nyai Asih, karena pasangannya dulu juga sering di panggil dengan sebutan Ki Ranujagat.
Dia memiliki tubuh yang sangat ramping dengan kain putih yang menutup dari pundak kirinya hingga sampai di bawah lutut dan di pinggangnya diikat oleh sebuah selendang berwarna kuning keemasan.
Lalu di kedua lengannya juga terdapat kelat gelang emas yang terukir membentuk sebuah naga.
Dia juga memiliki rambut yang panjang berwarna hitam pekat tanpa pernah di ikat, yang membuat rambutnya jatuh kebawah sampai kepundak, namun di atas kepalanya terlihat seperti mengenakan bando yang menyerupai sebuah mahkota berwarna emas dengan ukiran yang terdapat ukiran berbentuk naga, benda itu untuk menjaga tatanan rambutnya agar tetap jatuh kebelakang.
Untuk mimik wajahnya sendiri, Nyai Asih memiliki bola mata coklat yang indah, namun jika dirinya sudah membuka kekuatannya , maka bila mata coklat itu akan berubah menjadi putih bersih seperti halnya mata milik Ki Ranujagat.
Saat ini terlihat Nyai Asih yang sedang memegang kedua pundak milik Ki Ranujagat, dan mendekatkan bibirnya menuju ke bibir Ki Ranujagat, namun hal itu segera di tolak oleh Ki Ranujagat hingga dia sedikit mendorong tubuh Asih.
”Apa yang kau lakukan kanda? aku sungguh tidak memiliki niatan lain selain hanya ingin bertemu denganmu, aku sangat merindukanmu kanda.” ungkap Nyai Asih.
“Haihh.. kau adalah wanita paling licik yang pernah ku temui Asih, apa yang sebenarnya kau inginkan.” jawab Ki Ranujagat yang masih tidak percaya.
”Aku hanya merindukanmu kanda, aku sudah mencarimu sejak 400 tahun yang lalu di berbagai semesta, namun ternyata kau hanya tinggal di semesta kecil ini.” jawab Nyai Asih menjelaskan.
”Apa kau tidak memiliki rasa malu Asih, setelah 700 tahun yang lalu kau bahkan meninggalkanku tanpa sepatah kata pun demi sosok bejat itu, dan saat ini kau kembali pasti juga karena mendapat perintah oleh sosok bejat itu.” ungkap Ki Ranujagat yang saat ini terlihat matanya yang mulai berkaca-kaca dan mengeluarkan sedikit cairan bening.
“Ka-kanda, maafkan Asih, Aku memang bersalah,“ ungkap Nyai Asih seraya melepaskan tanganya dari pundak Ki Ranujagat dan sedikit mundur kebelakang dengan wajah yang menunduk.
Dia sepertinya memang benar-benar tulus meminta maaf kepada Ki Ranujagat, karena terlihat dari sorot matanya yang sangat banyak sekali penyesalan namun tidak bisa di ungkapkan.
”Kanda, maafkan Asih, jika kanda masih membenciku, maka aku siap menerima semua hukuman yang kanda berikan, bahkan jika memang kanda menginginkan kematianku, aku akan memberikannya, silahkan kanda.” jawab Nyai Asih yang di ikuti oleh gerakan tubuhnya yang berlutut dengan kepala yang masih menunduk dan siap untuk menerima hukuman yang akan di berikan Ki Ranujagat.
Ki Ranujagat yang melihat itu pun merasa iba, namun dia tidak mampu memaafkan perbuatan dari pasangannya itu, yang sudah membuat sebuah peperangan berkelanjutan hingga sampai saat ini, sehingga dia dengan terpaksa akan menghabisinya.
Lalu kemudian dari tangan kanan Ki Ranujagat muncul sebuah pedang tipis berlapiskan energi yang sangat aneh, karena energi itu seperti memiliki daya magnet yang sangat kuat.
Dia juga melapisi pedangnya dengan api putih miliknya, dan mulai mengayunkan pedangnya ke arah leher mantan pasangannya itu.
Di sisi lain dia sangat iba dan menangis di dalam hatinya, karena sebenarnya dia juga merindukan kekasihnya itu, namun setelah bertemu dengan Nyai Asih, dirinya juga harus membunuhnya.
Sedangkan Nyai Asih ternyata memang benar-benar tulus meminta maaf dan ingin menebus dosanya, karena tidak ada perlawanan sama sekali darinya, dan menerima apa yang akan terjadi.
Tanpa berpikir lama lagi, akhirnya Ki Ranujagat menebaskan pedangnya dengan cepat.
Ssshh…!!! suara pedang itu membelah angin.
Namun sebelum pedang itu sampai pada kepala Nyai Asih, tiba-tiba saja ada sebuah pedang bercahaya biru menahan pedang milik Ki Ranujagat yang hampir sampai pada kepala kekasihnya.
Klaanggg..!!! suara benturan dua pedang.
Mendapati hal itu, Ki Ranujagat pun terkejut karena melihat siapa yang menahan tebasannya itu.
”Ra-Rama, A-apa yang kau lakukan,” ungkap Ki Ranujagat kepada sosok yang menahan pedangnya.
Rama ternyata juga merasakan adanya energi yang hampir sama dengan milik gurunya, sehingga membuatnya terbangun dan terbang menuju arah energi itu muncul.
__ADS_1
Namun saat dirinya sampai, dia melihat adanya sosok wanita di sana, dan memutuskan untuk bersembunyi mengamati mereka dari balik gelapnya malam dahulu.
Hingga pada akhirnya dia melihat gurunya akan membunuh wanita itu, membuat dirinya langsung melesat cepat menahan tebasan dari gurunya yang hampir sampai di kepala wanita itu.
Di sisi lain, Nyai Asih yang merasakan kedatangan Rama, dia tidak berani melihatnya, karena teringat oleh sosok sahabatnya yaitu Maha Dewa Satir.
Karena memang Rama memiliki energi yang hampir mirip dengan Maha Dewa Satir, sehingga membuat Nyai Asih mengira bahwa Rama adalah Reinkarnasi dari sahabatnya.
Dia hanya mampu bergumam dalam hati, karena energi makhluk yang ada di depannya sama persis dengan energi sahabatnya.
”Sa-satir, a-apa itu kau.” gumamnya dalam hati.
Dia masih tidak berani mengangkat wajahnya, dan masih pasrah menunduk.
Bahkan sampai detik ini pun Nyai Asih tidak melawan apa yang akan di lakukan Ki Ranujagat, yang berarti dirinya memang benar-benar tulus meminta maaf.
Padahal jika mau, Nyai Asih dapat dengan mudah membunuh dua orang yang ada di depannya, karena mereka sedang lengah, tapi itu tidak pernah terfikirkan olehnya, yang mana dia datang dan mencari kekasihnya memang benar-benar untuk meminta maaf dan akan bertanggung jawab atas semua yang pernah dirinya lakukan.
~
“Seharusnya aku yang bertanya kepada guru, apa yang sedang guru lakukan kepada dia yang memang benar-benar tulus meminta maaf dan menyesali perbuatannya.” Jawab Rama dengan tegas, yang membuat Ki Ranujagat terkejut.
Dheegg..!!!
Suara detak jantung Ki Ranujagat terdengar seperti berhenti dengan mata yang terbelalak lebar.
Lalu kemudian dia menatap lagi kekasihnya itu dan mendapati bahwa kekasihnya sedang menyembunyikan sebuah airmatanya dari balik wajahnya yang menunduk.
Setelah itu dia kemudian meraih tubuh Nyai Asih dan membantunya berdiri, tanpa memperdulikan Gurunya yang masih terbengong.
“Bibi, Cepat bangunlah, dan berjujurlah kepada Guru tentang apa yang bibi rasakan, dan apa yang pernah bibi lalui hingga sampai bertemu dengan guru,“ ungkap Rama lembut kepada sosok Nyai Asih.
Akhirnya Nyai Asih pun berdiri dengan pelan di bantu oleh Rama.
Setelah itu, Nyai Asih yang mendengar suara dari Rama, mulai merasa penasaran dengan siapa sosok pemuda itu, sehingga membuatnya berani kembali mengangkat wajahnya hanya untuk melihat Rama.
”Pe-pe-pemuda, Sa-satir.?” gumam Nyai Asih meracau sendiri, yang akhirnya dirinya menundukan kepalanya lagi setelah di tatap oleh Ki Ranujagat.
”Dia memang adalah pewaris kekuatan dari Maha guru yang juga adalah sahabatmu, kau jangan terkejut, ikutlah denganku masuk ke dalam, kau juga Rama.” ungkap Ki Ranujagat dengan tegas dan langsung di ikuti oleh keduanya.
Sesampainya di dalam rumah akhirnya Nyai Asih tanpa rasa malu meminta maaf kembali dengan bersujud di depan Ki Ranujagat dan di saksikan langsung oleh Rama, Sehingga hal itu membuat Rama kembali turun tangan.
Dia kemudian menahan tubuh Nyai Asih dan mengalirkan sebuah energi putih untuk menenangkannya.
Tak berselang lama, Rama pun akhirnya membuka suara, dan menyuruh Nyai Asih untuk duduk di sampingnya.
”Kemarilah bibi, duduk di sini, aku akan membantu berbicara kepada guru.” ungkap Rama yang menatap Nyai Asih dengan senyuman yang mendamaikan sembari tangannya yang menepuk-nepuk alas tempat duduk di sampingnya.
“Terimakasih anak muda.” jawabnya lirih dengan wajah yang masih menunduk, namun dia juga segera duduk di samping Rama dengan patuh.
Setelah itu Rama pun berbicara kepada Gurunya.
__ADS_1
”Maafkan Rama guru, jika Rama mencampuri urusan kalian berdua, Rama memang sungguh lancang, dan patut untuk di hukum.” ungkap Rama mengawali pembicaraannya.
Setelah itu Rama pun sedikit menarik nafas dan mengeluarkannya dan melanjutkan untuk berbicara kembali.
”Baiklah guru, Bibi ini datang memang dengan tulus ingin meminta maaf kepadamu, dan dia bahkan memiliki banyak sekali penyesalan, namun dia tidak mampu untuk mengungkapkannya, dan hanya memilih untuk pasrah di tangan guru.” lanjutnya.
”Rama mampu membaca perasaan orang lain guru, dan di dalam diri Rama terdapat sosok Raka yang mampu membaca penyesalan dari orang lain.” Lanjut Rama sebelum Ki Ranujagat bertanya.
Pernyataan Rama tersebut pun membuat Ki Ranujagat terbelalak lebar, begitu pula dengan Nyai Asih, namun dirinya masih tetap memilih untuk diam.
”Semua makhluk hidup memiliki kesalahan guru, dan semua makhluk hidup juga berhak memiliki kesempatan kedua, Kita hidup di alam ini untuk saling bekerjasama dan saling membutuhkan guru, Rama mohon maafkan bibi ini guru.” Ungkap Rama yang membuat Ki Ranujagat menunduk malu mendapati pemikiran Rama yang berada di atasnya.
Hal itu membuat Ki Ranujagat bingung harus berbuat apa lagi, hingga pada akhirnya dia pun dengan pasrah menerima permintaan maaf dari Nyai Asih.
”Terimakasih guru,“ ungkap Rama yang di ikuti dengan tubuhnya yang membukuk.
”Te-terimakasih Ka-kanda.” ungkap Nyai Asih lirih dengan wajah yang masih saja menunduk.
Melihat kedua orang yang ada di depannya seperti itu akhirnya Ki Ranujagat pun menghela nafasnya.
”Haaahhh… sudahlah Asih, lupakan saja, lagi pula itu sudah ratusan tahun yang lalu, sekarang beristirahatlah di rumah yang ada di dekat danau itu, biar Rama mengantarkanmu.” ungkap Ki Ranujagat.
Sebenarnya dirinya masih berat untuk menerima semua ini, namun karena omongan dari Rama bahwasannya ”kita hidup untuk saling bekerjasama dan setiap orang juga memiliki kesempatannya lagi” itu membuat dirinya mampu menerimanya, walaupun dengan cara sedikit demi sedikit.
Setelah kejadian itu pun, akhirnya Rama mengantar Nyai Asih ke rumah tempatnya beristirahat.
Di perjalanan mereka saling mengobrol, berkenalan dan hal itu membuat mereka berdua terlihat semakin akrab, padahal mereka berdua baru bertemu beberapa saat yang lalu.
Namun karena Rama memiliki sifat yang ramah dan mudah bergaul, sedangkan Nyai Asih memiliki sifat ke ibu-ibuan yang tinggi, itu membuat mereka dengan cepat menjadi lebih akrab.
Beberapa saat kemudian, Rama yang sudah mengantar Nyai Asih ke rumahnya pun, memutuskan untuk pulang dan beristirahat.
***
Akhirnya, tanpa terasa malam pun dengan cepat berganti pagi yang sangat cerah, dengan embun yang sangat menyegarkan.
Kini terlihat sudah ada beberapa orang yang sudah duduk menanti sesuatu di pinggiran danau yang sangat indah.
Mereka adalah Bibi Hasa, Rangga, Putri Ana, dan juga Maha Dewa Jaya yang sedang menunggu Ki Ranujagat, Rama, Dewa Wasa dan juga Maha Dewa Fatir, yang saat ini sedang berkumpul di dalam rumah bersama satu sosok wanita yang sangat asing bagi Dewa Wasa.
Maha Dewa Fatir tidak terkejut akan kedatangan Nyai Asih, karena dia sudah tahu bahwa wanita itu adalah sahabat dekat Maha Dewa Satir, dan juga kekasih dari adiknya sendiri.
Dia juga paham sekali akan sifat asli Nyai Asih, yang mana sebenarnya wanita itu adalah sosok yang sangat baik, bijak dan perhatian, makanya dia tidak mempermasalahkan apa yang pernah Nyai Asih perbuat.
Di sisi lain mengapa Maha Dewa Jaya memilih untuk keluar dan bergabung dengan rombongan Rangga, itu karena dia sedari dulu memang tidak terlalu peduli dengan sosok Nyai Asih.
Di dalam rumah milik Ki Ranujagat, Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting dan serius kepada empat orang yang ada di sana.
Hal itu di buktikan dengan adanya ekspresi yang sedikit tegang dari Ki Ranujagat.
***
__ADS_1