
Kini terlihat Sona yang malah tersenyum senang melihat dua jurus tingkat tinggi yang akan segera bertemu, begitu pula dengan tongkat kecil dan kipas yang melayang-layang di dekatnya, benda itu seperti menunjukan sebuah kebahagiaannya sendiri.
Dua benda itu melayang-layang cepat memutari tubuh Sona, seperti menantikan sesuatu yang sangat langka.
Di sisi lain Ki Ranujagat yang melihat itu, hanya mampu terduduk lemas melihat kelakuan Sona.
Dia sangat hafal dengan sifat kera putih kecil itu, bahwa sebenarnya ini semua ulah kera itu dengan cara menghasut Dewa Wasa melalui pembicaraannya menggunakan fikiran mereka.
Lalu setelah itu, jika Dewa Wasa kalah dari Rama, maka kera itu baru akan bertindak untuk memukul Dewa Wasa dengan tongkatnya dan menyalahkannya.
Seperti itulah kera kecil itu, Namun Ki Ranujagat juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena tanpa semua orang sadari, bahwa Sona adalah sosok monster yang sangat mengerikan.
Dimana kekuatannya hampir setara dengan Tuannya, dan kini bahkan Ki Ranujagat yang sebagai guru dari Dewa Wasa pun tidak mampu mengukur seberapa tinggi tingkat kekuatan dari muridnya itu.
Dengan kata lain, kini Dewa Wasa dan Sona sudah berada di tingkat kekuatan yang maha tinggi.
Dan apabila Ki Ranujagat mencampuri urusan dari Sona, maka dia khawatir akan amukan dari kera itu, Karena saat Sona mengamuk, dia tidak akan memandang siapa yang ada di hadapannya, meskipun itu adalah gurunya sendiri.
Namun yang tidak Ki Ranujagat tau, Sebenarnya Sona saat ini sudah mampu mengendalikan emosinya dan amukannya, karena dia sudah mencapai tingkat kekuatan yang tinggi, sehingga saat ini dia bisa mengendalikan pikirannya sendiri.
Dengan tatapan yang lemas, Ki Ranujagat melihat dua energi yang sangat besar melapisi dua serangan tinggi yang sebentar lagi akan bertemu.
Dheeghh…
Dhuaarrr…
Booomss...
Hingga pada akhirnya terjadilah sebuah benturan dua serangan maha tinggi di ketinggian, benturan itu mengakibatkan suara ledakan yang sangat besar dan getaran yang hebat.
Hutan yang tadinya terlihat indah pun langsung rata dengan tanah, di gantikan oleh dua siring panjang yang tercipta oleh 2 sosok Ayah dan Anak itu.
Mereka berdua sama-sama terpental jauh kebelakang, namun terlihat Rama yang saat ini sudah berdiri setelah menabrak segel milik Sona dengan nafas yang terengah-engah.
Di sisi lain, Ayahnya terlihat sangat buruk, dengan tangan kanan yang sudah tanggal, dan tubuh yang terkapar tak berdaya setelah menabrak dinding segel milik Sona.
”Hihihihi.. lihatlah teman-teman, Tuan telah kalah.. hahaha.” Teriak Sona dari atas daratan dengan sebuah tawa bahagia.
Sontak hal itu pun membuat semua orang yang ada di bawah terkejut bukan main karena kelakuan kera putih itu.
Sedangkan di sisi Maha Dewa Fatir sendiri hanya mengamati dari jauh tubuh Dewa Wasa yang sedang terkapar.
Di sisi lain, Maha Dewa Jaya kini berkeringat dingin setelah melihat apa yang terjadi pada tubuh Dewa Wasa.
__ADS_1
Namun berbeda untuk Bibi Hasa dan rombongannya, mereka sangat khawatir akan keselamatan dari Dewa Wasa, karena melihat kondisinya yang sangat buruk sekali.
Dan terlihat juga Ki Ranujagat yang masih terduduk lemas.
”Huuhh.. Warta pasti akan mengambil alih tubuhnya.” gumamnya lirih.
Namun setelah mendengar sebuah perkataan dari Ki Ranujagat, mereka semua malah berbalik merinding ketakutan.
Yang mana saat ini terlihat dari tubuh Dewa Wasa keluar sebuah aura hitam pekat secara perlahan yang di lapisi oleh 3 Api yang berbeda warna.
Api itu berwarna coklat, putih dan biru yang berangsur-angsur menyatu bergabung menjadi satu, hingga menjadikan api berwarna ungu yang sangat panas dan mengelilingi aura hitam pekat yang keluar dari tubuh Dewa Wasa.
~
Setelah aura hitam dan api ungu itu menjadi satu, kini tangan kanan Dewa Wasa yang tadinya tanggalpun kembali tumbuh kembali seperti sediakala, dan luka-luka yang ada pada tubuhnya juga telah perlahan pulih menutup secara perlahan.
Dewa Wasa kemudian berdiri secara perlahan dan melayang menatap sosok Rama di ujung perbatasan segel, Rama saat ini pun terlihat masih dengan nafas terengah-engah.
”Haiihhh.. siall, si brengsek itu malah muncul, aku jadi tidak bisa memukul kepalanya tuan.” keluh Sona yang melihat Warta mengambil alih tubuh tuannya.
Di sisi Rama, Dia yang merasakan aura yang sangat pekat dan gelap itu mirip sekali dengan aura yang ada pada dalam tubuhnya pun langsung berkomunikasi dengan Raka melalui pikirannya.
”Raka.. apa kau merasakan aura yang keluar dari tubuh Ayah.?” tanyanya kepada sisi gelap dalam dirinya.
”Haiihh.. kau sungguh keras kepala sekali, dia adalah ayahmu, maka temuilah sebelum dirimu menyesal, dan jika ingin menggunakan tubuhku, gunakanlah.” jawab Rama dengan sebuah senyuman.
Karena Rama saat ini melihat ada sebuah airmata yang keluar dari tatapan Raka, meskipun hanya sedikit dan tidak di tunjukannya.
Rama menyadari hal itu, yang berarti bahwa Raka juga sangat rindu kepada Ayahnya, namun dia malu mengungkapkan itu dengan dalih ayahnya yang sudah tua dan lemah.
Namun ketika Raka mendengar perkataan terakhir dari Rama, dia langsung mengambil alih tubuhnya tanpa mempedulikan Rama sama sekali.
Rama yang melihat itu pun hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan di ikuti sebuah senyuman, Karena memang Rama mampu merasakan apa yang sisi gelapnya rasakan.
Di luar, tepatnya di dalam kubah pelindung, sisi gelap milik Dewa Wasa yang bernama Warta masih mengamati tubuh Rama dengan tenang sebelum akhirnya dia terkejut akan adanya energi yang keluar dari tubuh Rama.
Hingga kini terlihat Ki Ranujagat pun yang tadinya terduduk lemas, saat ini dia sudah bangkit berdiri lagi dengan mata yang terbelalak lebar, begitu juga dengan semua orang yang ada di sana.
Bahkan Bibi Hasa dan Rangga yang sudah tahu akan sisi gelap milik Rama pun, kini mereka juga terlihat sangat terkejut.
Karena sisi gelap yang keluar dari tubuh Rama saat ini memiliki kekuatan yang sangat besar, bahkan Maha Dewa Fatir yang berada di luar segel pun masih mampu merasakan sebuah tekanan yang besar.
Namun dengan sigap dia membuat segel perisai lagi untuk menahan tekanan itu, agar semua yang ada di sana dapat melihat dengan jelas apa yang akan dilakukan ayah dan anak itu selanjutnya.
__ADS_1
Di sisi lain, Putri Ana yang melihat itu, malah sangat khawatir dengan Rama, terlihat juga ada airmata yang jatuh melalui pipinya.
Dia seperti merasakan sebuah rasa sakit yang amat besar pada tubuh Rama yang di selimuti oleh aura hitam itu.
Tubuh Rama kini di selimuti aura hitam yang sangat pekat dan kelam.
Matanya yang tadinya biru, kini berubah menjadi merah, dan rambut yang tadinya hitam, kini berangsur-angsur berubah menjadi putih.
Tak cukup sampai di situ, dari kakinya kini terlihat muncul lapisan energi yang perlahan-lahan menutup seluruh tubuhnya seperti sebuah Zirah perang.
”I-iinii..Zirah Nirwana. siall, kekuatan bocah itu sudah jauh melampauiku.” gumam Maha Dewa Jaya melihat Rama juga memiliki zirah energi.
Dan setelah zirah itu melekat pada tubuhnya, kini gantian sebuah api berwarna hitam dan biru keluar secara perlahan dan menjadi satu.
Sedangkan di sisi lain, api itu terlihat sangat indah, karena memiliki kobaran berwarna biru, namun di sisi lain juga, api itu adalah api yang sangat panas, hingga hampir menyamai api ungu milik Warta.
Melihat akan adanya pertempuran yang sangat besar, Kini Sona tiba-tiba muncul di samping semua orang dengan di ikuti kipas dan tongkat yang melayang di belakang.
”Woooee, kalian, ya.. kamu, kamu, dan kamu guru, bantu aku untuk membuat segel tingkat Esa untuk menghalangi dampak ledakan yang akan terjadi. karena jika tidak, maka dalam satu kali serangan saja maka setengah bumi ini akan hancur oleh benturan kekuatan mereka.” teriak Sona kepada Ki Ranujagat dan kakak-kakaknya.
Maha Dewa Jaya beserta Adik dan Kakaknya yang mendengar perintah Sona pun hanya mampu mengangguk patuh dan membantunya untuk membuat segel tingkat tinggi.
Sebelum memulainya, mereka menyuruh orang-orang yang ada di sana pergi untuk mengevakuasi warga.
Hal itu di lakukan untuk antisipasi bila ternyata segelnya dapat di hancurkan.
Panglima Naju yang mendengar itu langsung melesat cepat mengajak semua orang agar lebih cepat mengevakuasi warga.
Setelah itu, kini terlihat ke empat makhluk yang berbeda itu melesat terbang menuju posisi mereka masing-masing.
Sesampainya di posisi masing-masing, Sona akhirnya kini merubah wujudnya menjadi kera putih raksasa dengan tinggi tubuh yang hampir mencapai 20 meter.
Setelah itu dirinya mengangguk dan merapalkan sebuah mantra yang di ikuti oleh Ki Ranujagat beserta kakak-kakaknya.
”Segel Tirta. Perisai Ganggang.. Terciptalah.!” Teriak semua orang secara bersamaan dan di ikuti dengan tangan mereka yang di tinjukan ke arah depan sehingga terjadilah benturan ke empat energi yang datang dari empat arah yang berbeda.
Setelah benturan energi itu bertemu, kini terlihat pantulan energinya melesat naik menembus langit.
Sehingga membuat sebuah energi yang sangat besar turun dari langit membawa sebuah orbit kecil-kecil yang berkumpul di atas tengah-tengah energi dari Ki Ranujagat dan yang lainnya.
Batu kecil-kecil itu akhirnya menyatu membentuk sebuah lempengan hitam pekat dan berputar cepat hingga mengeluarkan sebuah energi transparan berbentuk kubah yang kemudian mengurung Rama dan Dewa Wasa.
***
__ADS_1