RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 38 Kemunculan Dewa Wasa (PDPS)


__ADS_3

Di sebuah tempat yang menyerupai seperti sebuah kamar yang sangat mewah, terdapat sosok wanita yang amat sangat cantik dan anggun sedang terbaring tak sadarkan diri.


Sosok wanita itu terlihat seperti di selimuti dengan puluhan lapisan energi berwarna warni.


Dengan beberapa pernak-pernik emas dan perak yang di tata dengan rapih, membuat kamar itu terlihat sangat indah.


Dan kini terlihat sebuah cahaya yang sangat terang tiba-tiba muncul di luar lapisan energi itu, lebih tepatnya berada di sisi kiri sosok wanita.


Setelah beberapa tarikan nafas cahaya itu pun akhirnya menghilang dan berganti sebuah wujud menjadi sosok laki-laki yang sangat tampan dengan mata biru yang sangat indah.


”Putriku, maafkan ayah karena tidak bisa melindungimu” gumamnya lirih yang di iringi air mata.


Laki-laki yang muncul itu adalah sosok Maha Dewa Azar, ayah kandung dari Dewi Keadilan yang juga istri dari Dewa Wasa.


Dia hanya mampu menangis lirih menyesali apa yang telah terjadi, karena di saat putrinya tersebut sedang melahirkan Rama, dia kebetulan tidak ada di tempat kejadian, sehingga tidak mampu melindunginya, yang mana saat setelah putrinya melahirkan Rama, putrinya itu langsung membantu suaminya untuk berperang.


Karena waktu itu saat Rama di lahirkan sedang terjadi sebuah perang semesta yang di akhiri oleh amukan dari Dewa Wasa karena melihat istrinya terluka.


Kini di saat Maha Dewa Azar sedang menangis lirih, tiba-tiba muncul lagi sebuah cahaya yang sangat terang di sisi kanan dari putrinya.


”Wasa.?” gumamnya lirih sambil mengernyitkan dahinya.


Setelah cahaya yang terang itu menghilang, kini memperlihatkan sosok Dewa Wasa yang langsung berteriak senang kepada istrinya tanpa memperdulikan Maha Dewa Azar sang mertua dan juga gurunya yang sedang berada di sana.


“Dinda dinda, aku memiliki kabar baik, akhirnya Guru Ranu menemukan Bunga semesta, dan saat ini bunga itu berada di tangannya, Aku akan segera kesana mengambilnya sekarang juga dinda, tunggu kanda kembali lagi.” Teriaknya mengungkapkan semua rasa bahagianya.


Setelah itu dia menatap Maha Dewa Azar dengan senyuman bodohnya, lalu tiba-tiba dirinya kembali menghilang.


Maha Dewa Azar yang melihat kelakuan menantunya itu, hanya mampu menggelengkan kepalanya.


Namun di sisi lain dia juga sangat senang dan bahagia karena mendengar kabar yang di katakan oleh menantunya itu kepada putrinya.


Dirinya sangat bersyukur memiliki sosok menantu seperti Maha Dewa Wasa, bukan dari kekuatannya yang sangat besar, melainkan dari ketulusannya dalam mencintai dan merawat putrinya.


Kini terlihat airmata penyesalan yang mengalir di pipinya tadi menjadi sebuah airmata kebahagiaan.


”Kau sungguh sosok manusia yang tulus Wasa, kau tidak pernah menyerah untuk menyelamatkan putriku, bahkan saat aku sudah pasrah pun, kau masih berjuang dan mencari berbagai cara untuk memulihkannya.” gumamnya dalam hati yang di ikuti sebuah senyum bahagia.

__ADS_1


Di dunia yang berbeda yang bertempat di bawah semesta Wandasukma, kini terlihat sedang muncul sebuah portal di tengah-tengah danau yang sangat tenang yang di ikuti dengan keluarnya sosok Dewa Wasa dan juga sahabatnya yaitu Sona yang selalu berada di pundaknya.


Namun dia sangat terkejut setelah melihat tempat itu yang sudah jauh berbeda.


Di mana dulu saat dia berkunjung terakhir kali di tempat ini belum ada sebuah halaman yang luas, pagar yang tinggi, dan juga rumah yang indah seperti sekarang ini.


Melihat ada sebuah perubahan yang besar, dia pun lantas langsung melesat menuju rumah yang menurutnya itu adalah rumah dari Gurunya yaitu Ki Ranujagat.


Karena bangunan rumah yang bagus itu terletak di tempat kediaman lama milik Ki Ranujagat dulu.


~


”Waahhh.. bagus sekali bangunan ini Sona, siapa yang membangun ini.?” gumam Dewa Wasa kepada sahabatnya setelah sampai di depan rumah Ki Ranujagat.


Dia pun kemudian berjalan mengelilingi rumah itu dengan wajah yang sangat kagum dan menggumamkan beberapa kata untuk memuji bangunan rumah itu.


Namun di sisi lain tanpa dia sadari, ada dua orang yang sedang mengamatinya dari balik pohon di seberang halaman rumah yang luas.


Dia adalah kakak dari Ki Ranujagat yaitu Maha Dewa Fatir, dan Maha Dewa Jaya.


”Jangan kegabah kau Jaya, apa kau tidak merasakan adanya 5 energi langka di dalam tubuhnya, termasuk energi dari Guru.” ungkap Maha Dewa Satir menahan adiknya.


Sebelumnya mereka berdua tengah berbincang di atas pohon sembari menatap keindahan alam yang di buat oleh adik bungsunya.


Mereka sungguh terkesan atas apa yang di lakukan oleh Ki Ranujagat, Karena mampu membangun sebuah peradaban yang alami dan indah seperti ini hanya seorang diri.


Setelah mengamati Dewa Wasa cukup lama, dan tidak mendapatinya untuk berbuat macam-macam, mereka pun akhirnya memutuskan untuk menghampiri ayah dari Rama itu.


Jleg..!! Jleg..!!


Maha Dewa Fatir dan Maha Dewa Jaya muncul secara bersamaan, tepat di depan Dewa Wasa, sehingga membuatnya terkejut dan mundur beberapa langkah.


Melihat kemunculan mereka berdua, Dewa Wasa masih terihat tenang, namun berbeda dengan sahabatnya.


Sona malah langsung melesatkan tongkat kecilnya ke arah Maha Dewa Fatir dan adiknya.


Awalnya tongkat itu sangat kecil dan tidak terlihat, namun setelah sampai di hadapan kakak dari Ki Ranujagat itu, tongkat milik Sona tiba-tiba berubah menjadi pilar yang sangat besar dengan panjang ratusan meter.

__ADS_1


Sontak saja hal itu membuat kedua kakak beradik itu terperanjat kaget, dan tidak sempat menahan serangan dari tongkat milik Sona, sehingga mengenai mereka dengan telak.


Dhuuaarr..!!!!


Dan terjadilah sebuah ledakan yang sangat besar di tempat Maha Dewa Fatir dan Maha Dewa Jaya.


”Aa..aa.. siaallll.. dasar kera brengsek.” teriak Maha Dewa Jaya yang saat ini masih terpental melaju kencang menuju tengah sungai.


”Sungguh kera yang sangat waspada.” gumam Maha Dewa Fatir.


Namun meskipun mereka terpental oleh serangan tongkat milik Sona, mereka tidak terluka sedikitpun, Bahkan saat ini mereka terlihat sedang melayang di atas tengah sungai dengan tatapan yang mengerikan.


”Akan ku balas kau kera busuk.” gumam Maha Dewa Jaya lirih.


Lalu kemudian dirinya menghilang dan muncul kembali di belakang Dewa Wasa dengan meluncurkan sebuah tendangan menggunakan energi.


Tendangan itu pun mengenai telak kepala dari Dewa Wasa, yang mengakibatnya terpental menuju arah hutan dan menabrak berbagai batuan juga pepohonan.


”Siall.. apa yang kau lakukan kera brengsek.?” makinya kepada Sona, yang ternyata kini kera itu sedang melayang di depan Maha Dewa Jaya dengan tatapan yang membunuh.


Ternyata Sona mampu menghindari tendangan dari Maha Dewa Jaya dengan mudah, sehingga yang terkena tendangan itu adalah Tuannya sendiri.


Dewa Wasa bukanya tidak merasakan adanya serangan dari belakangnya, namun karena dia memiliki energi yang sama dengan lawannya, jadi dia tidak bisa merasakan kedatangan dari Maha Dewa Jaya.


Di samping itu juga, Maha Dewa Jaya juga memiliki sebuah tehnik tingkat tinggi dengan menyamarkan dirinya bersama alam.


Hal itu juga adalah sebuah salah satu kesaktian dari Maha Dewa Jaya.


Sedangkan di tengah sungai yang seperti danau, Maha Dewa Fatir hanya mampu melihat dan menggelengkan kepalanya, karena melihat sikap adiknya yang selalu saja kegabah.


Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dari dalam hutan, yang berarti kini Dewa Wasa telah menabrak sebuah bukit di balik hutan.


Dhuuaarr..


Dhuaarr...


***

__ADS_1


__ADS_2