RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 23 Rival Dewa Tunggal (PDPS)


__ADS_3

Di sisi lain terlihat Hasa yang sedang tak sadarkan diri setelah memuntahkan banyak darah segar.


Dia berhasil mengembalikan kesadaran Dewa Tunggal, namun dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.


Dewa Tunggal yang melihat ada satu penjaga semesta yang terbaring tak sadarkan diri di sebelahnya pun langsung mengeluarkan sebuah energi berwarna putih kecoklatan dan mengalirkannya pada tubuh gadis itu.


Setelah itu terlihat tubuh Hasa yang perlahan kembali pulih seperti sedia kala, dan di barengi dengan tersadarnya dirinya.


”Terimakasih Gadis penjaga semesta” Ungkapnya kepada Hasa yang sudah mulai sadarkan diri.


Setelah menyembuhkan Hasa, Dewa Tunggal langsung melesat menuju ke pertempuran Gama dan Arjuna tanpa mengucapkan kata lagi.


Dari jauh dia melihat Gama yang sudah hampir setengah jiwanya keluar, lantas Dewa Tunggal pun mempercepat laju terbangnya.


Sreekk…


Dhuaarr..


Tiba-tiba terjadi sebuah ledakan di antara Gama dan Arjuna, yang mengakibatkan kedua makhluk yang saling menarik jiwa itu terpental terbang ke belakang.


Arjuna yang terkena ledakan dan terpental ke belakang pun tersenyum senang, meskipun gagal dalam mengambil jiwa Gama, dia cukup senang karena rival bertarungnya telah datang.


Dia pun menendang angin dan menstabilkan laju terbangnya.


Namun di sisi lain, Gama terlihat sungguh mengenaskan, dia sudah tak mampu mengeluarkan satu gerakan pun, karena nyawanya sudah di antara hidup dan mati.


Dia benar-benar sudah pasrah sedari tadi, dan kini dirinya meluncur ke daratan dengan sangat cepat.


Namun beruntung ada sebuah tangan raksasa yang tiba-tiba muncul untuk menggenggamnya.


Tangan itu muncul dari tubuh Amar, dan meraih tubuh Gama , lalu kemudian meletakkannya di sampingnya yang masih terkapar.


Sekarang tampak terlihat dua sosok yang sedang terkapar di daratan.


Tangan raksasa yang tadi meraih tubuh Gama pun kini terlihat pecah menjadi dua sinar berwarna kuning dan melesat ke dalam tubuh mereka berdua.


Ternyata itu adalah sosok tubuh bayangan dari Dewa Wasa, yang sebelumnya telah masuk ke dalam tubuh Amar.


Tubuh bayangan itu kini terlepas dari tubuh Amar, dan pecah menjadi cahaya yang kemudian masuk pada tubuh Amar dan Gama.


Cahaya itu menyembuhkan setiap luka yang ada pada tubuh mereka, bahkan jiwa Gama yang hanya tinggal setengah kini telah pulih lagi beserta energinya.


Sosok Gama yang tadi berubah wujud, kini juga telah kembali menjadi seperti sebelumnya, begitu juga dengan Amar yang telah pulih kembali.


Kemudian tiba-tiba di samping mereka muncul Hasa, Jala, dan Rangga yang mengajak mereka untuk segera pergi menjauh , karena ini sudah bukan lagi pertarungan mereka.


“Sungguh kekuatan yang mengerikan” gumam Gama.


”Bahkan aku yang membuka gerbang kematian pun bukan apa-apa di hadapannya, malah membuatku hampir meregang nyawaku sendiri, siall” lanjutnya.


“Iya paman, andai saja Maha Guru ada di sini pasti tidak akan sampai seperti ini” jawab Hasa .


Setelah itu mereka melesat menjauhi medan pertempuran.


Di atas angkasa , terlihat dua sosok yang sedang saling berhadapan.


Mereka dulu adalah dua sahabat yang berjuang bersama untuk mendamaikan semesta.


Namun suatu ketika sahabatnya yang bernama Arjuna itu tiba-tiba menghilang saat menghadapi Dewa iblis pada perang semesta pertama dulu.


Arjuna menghilang bersama dengan muridnya yang juga adik dari Dewa Tunggal yaitu Rangkarasa.

__ADS_1


Konon menghilangnya Arjuna terkena sebuah hasutan dari muridnya, karena memang perang semesta pertama adalah salah satu rencana dari Rangkarasa untuk memisahkan para kesatria semesta.


Dan seperti itulah kelicikan Rangkarasa, dia adalah sosok makhluk yang tidak bisa di tebak, dia mampu mengkelabuhi apa saja yang dia inginkan.


“Hahaha. akhirnya kau datang juga Huda, kau masih saja sama seperti dulu, perasaanmu akan membunuhmu sendiri” ucap Arjuna yang menyambut kedatangan Dewa Tunggal.


”Apa yang kau inginkan Juna, mengapa kau membunuh dan menghancurkan Semestaku?” tanya Dewa Tunggal langsung pada intinya.


Di tangan kanannya masih terlihat sebuah energi berwarna biru, energi itu menutupi kelima jarinya seperti sarung tangan, tapi di ujung setiap jarinya seperti memunculkan ribuan petir yang sangat kecil.


Tangan itulah yang memutus rantai jiwa milik Gama, Dewa Tunggal memang terkenal dengan kecepatannya.


Dia adalah salah satu Dewa dengan kecepatan serangan yang melebihi rata-rata.


Dewa Tunggal memiliki kekuatan itu, karena dulu memang dia sering berlatih bersama dengan Arjuna yang memiliki kecepatan dan ketepatan mata yang begitu kuat, hingga tanpa sadar mengasah kecepatan serangan Dewa Tunggal itu sendiri.


Karena untuk Arjuna sendiri bila di serang dengan kecepatan yang biasa saja pasti matanya akan mampu melihatnya dengan mudah.


~


Di bumi terlihat Rama yang telah membuka mata dari pertapaannya.


Setelah dia kemarin tidak mendapati paman dan bibinya tidak ada di rumah, Rama pun kembali melakukan pertapaan guna untuk mencari jalan keluar.


Namun tetap saja dia tidak mampu menemukan jalan keluar, karena Rama masih sangat muda dan belum memiliki pengalaman dalam bertarung.


“Aku merasakan firasat buruk kepada bibi dan paman” ungkap Rama.


”Aku harus bagaimana untuk menemukan mereka” lanjut gumamnya dengan wajah yang bingung.


Dia mencoba segala cara menggunakan energinya dan beberapa ingatan yang di berikan oleh ayahnya.


Ketika dia melewati segel yang di buat oleh paman dan bibinya , dia tanpa sadar mendapati sebuah gambaran tentang sebuah pertempuran dan kondisi paman Gama saat ini yang sedang terkapar bersama satu orang di sampingnya.


”Aku memiliki ide, akan ku coba cara ini,“ Gumamnya dalam hati setelah tanpa sengaja dia mampu melihat paman dan bibinya melalu energi pada segel yang mengurungnya.


Kemudian Rama merapalkan sebuah mantra dengan tangannya yang menyentuh segel pelindung rumahnya itu.


Dan tiba-tiba muncul cahaya putih pada segel itu, setelah cahaya putih menghilang terlihat sebuah portal dimensi yang sedikit lebih kecil dari milik Gama.


”Berhasil..” gumamnya.


Rama berhasil membuat portal dimensi di bumi, itu menandakan bahwa dia telah benar-benar belajar dalam berlatih kekuatannya melalui ingatan yang di berikan sang ayah.


Setelah itu Rama pun memasuki portal itu, yang langsung menyedotnya masuk hingga membuatnya terombang ambing di dalam ruang dan waktu.


Kembali di semesta Wandasukma.


”Sudahlah Huda, jangan kau mengingat masalalu kita, karena jalan kita sudah berbeda” ungkap Arjuna kepada Dewa Tunggal dengan wajah tanpa sebuah penyesalan.


“Bagaimana bisa kau meninggalkan sebuah kedamaian untuk sebuah kegelapan Juna,” jawab Dewa Tunggal.


”Karena aku mendapat sebuah kedamaian saat aku memasuki sebuah kegelapan Huda .. hahahaha” jawab Arjuna.


Setelah itu tubuhnya pun menghilang dan muncul di samping Dewa Tunggal.


Arjuna muncul bersama sebuah besi hitam beracun yang keluar dari ke dua tangannya, dia berniat untuk menusuk Dewa Tunggal dari samping.


Namun Dewa Tunggal yang sangat peka terhadap energi dari sahabatnya itu, mampu menghindari serangan itu dengan mudah.


Dia menarik tubuhnya kebelakang dan mengayunkan tangan kananya untuk memotong besi yang di keluarkan Arjuna.

__ADS_1


“Ternyata kau masih saja cepat Huda” ungkap Arjuna tenang, yang sudah berpindah tempat lagi di belakang tubuh Dewa Tunggal.


”Siall, bagaimana bisa” gerutu Dewa Tunggal karena tak mampu melihat pergerakan dari Arjuna.


Namun dengan kecerdasannya dia langsung melapisi tubuhnya dengan energi berwarna biru seperti di tangannya.


Sekarang tubuhnya di lapisi energi yang di kelilingi oleh ribuan petir kecil.


Setelah itu Dewa tunggal pun menendang angin ke depan untuk menghindari serangan Arjuna di belakangnya.


Dia menendang angin ke depan dan membalikan tubuhnya dengan menjulurkan kedua tangannya ke arah Arjuna.


Dan dari kedua tangan itu muncul ribuan pisau kecil berlapis petir melesat menuju tubuh Arjuna yang tadi di belakangnya.


Arjuna yang melihat itu, tanpa berpikir panjang langsung  menghilang lagi, karena dia sangat tahu seberapa cepat tembakan energi dari Dewa Tunggal.


Dia tidak mau mengambil resiko, karena telat sedetik saja maka ribuan pisau itu langsung akan membunuhnya.


yang mana ribuan pisau milik Dewa Tunggal menyerang bagian saraf aliran energi musuh dengan kecepatan yang tak mampu di ukur oleh mata Arjuna.


Itu adalah salah satu jurus milik Dewa Tunggal yang mampu menandingi kekuatan dari mata Arjuna.


“Hampir saja“ gumam Arjuna yang sudah kembali muncul di hadapan Dewa Tunggal.


Mereka saling tatap sebentar lalu kemudian saling melesat dan pertempuran jarak dekat antara sepasang sahabat lama pun terjadi.


Pertarungan jarak dekat itu, hanya terlihat percikan-percikan bunga api saja.


Yang mana mereka berdua bertarung dengan kecepatan yang tak mampu di jangkau oleh mata.


Bahkan Gama yang melihat dari kejauhan pun tak mampu melihat pergerakan mereka, dia hanya mampu melihat bayangan kesana kemari dan menimbulkan sebuah percikan bunga api.


”Sungguh pertarungan yang mengerikan” ujar Gama.


”Sebaiknya kita membuat perisai untuk melindungi diri kita untuk berjaga jaga jika serangan mereka ada yang meleset kemari” lanjutnya yang langsung di setujui oleh yang lainnya.


Mereka hanya mampu menonton pertarungan, sebenarnya mereka ingin membantu Dewa Tunggal untuk bertarung, namun mereka sadar akan kekuatan diri masing-masing.


Yang mana nanti bukannya membantu malah menjadi mengganggu.


Di samping itu bibi Hasa tiba-tiba merasakan suatu energi yang tak asing bagi dirinya.


”Ra-rama, Energi ini milik Rama kanda, apa kanda merasakannya?” ungkap Hasa secara tiba-tiba yang membuat Gama dan Rangga terkejut.


”Bocah sialan itu, ternyata mampu menyusul dengan cepat,“ jawab Gama sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah itu muncul sebuah portal dimensi di belakang mereka, dan di ikuti dengan keluarnya sosok pemuda yang sangat tampan hingga membuat Hasa,Rangga,Gama,Jala, dan Amar terkejut dengan energinya.


Glekk..


"Hanya energi saja mengerikan mengerikan seperti ini” gumam Jala dalam hatinya.


Namun Jala dan Amar lebih terkejut lagi setelah Rama mengeluarkan suaranya hingga membuat mereka dan Gama hampir terjatuh ke belakang saking kagetnya.


***


“Terimakasih telah berkenan membaca dan mendukung karya ini, Semoga sehat selalu untuk teman-teman semua,


Selalu dukung mimin ya teman-teman, agar mimin lebih bersemangat dalam menulis karya ini“


landjut? .. okaii lwess gwooo →→

__ADS_1


__ADS_2