RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 24 Munculnya Rama Di semesta Wandasukma (PDPS)


__ADS_3

”Paman dan bibi mengapa meninggalkanku sendirian di rumah?” tanya Rama secara tiba-tiba dengan suaranya yang masih terdengar seperti anak umur belasan tahun.


Sontak Jala dan Amar pun terkejut bukan main mendengar suara itu, hingga membuat mereka hampir terjatuh kebelakang dengan raut wajah yang aneh.


“A-apa apaan pemuda ini, ku kira dia sudah berumur ratusan tahun, ternyata masih belasan tahun, siall” ucap Amar lirih yang di setujui oleh Jala.


“Seharusnya bibi yang tanya sama Rama, kenapa Rama bisa sampai ke sini?” tanya bibi Hasa dengan lembut.


Kemudian Rama sebelum menjawab pertanyaan bibinya, dia berjalan pelan memasuki sebuah segel yang di buat mereka dengan mudah.


Sesampainya di dalam segel, Rama langsung bercerita tentang dirinya yang di tinggal sendirian.


Hingga pada akhirnya Rama mampu sampai ke semesta ini.


”Jadi seperti itu, pantas saja kau bisa sampai di sini dengan mudah” jawab paman Gama dengan tangan yang memegangi jenggotnya.


”Iya paman, aku mencoba berbagai cara untuk...-, sebentar… paman Rangga kemarilah cepat” jawab Rama yang kemudian memanggil Rangga dengan tiba-tiba.


Suara Rama yang tiba-tiba memanggil Rangga itu membuat bibi Hasa dan Paman Gama beserta Amar dan Jala saling tatap menatap bingung, mengapa Rama tiba-tiba memanggil Rangga.


“A-aku? ada apa bocah aneh ? “ tanya Rangga sembari berjalan menuju depan Rama.


“Sungguh paman Rangga sangat kuat, sehingga mampu menahan Racun yang sangat mematikan ini, cepat duduk dan berbaliklah paman, dan pejamkan matamu, mungkin ini akan sedikit sakit” ungkap Rama yang membuat Rangga dan yang lainnya terkejut.


“Apa yang sebenarnya terjadi kepada Rangga Jala?” bisik Amar kepada Jala dan hanya di jawab oleh gelengan kepala.


Bibi Hasa dan paman Gama pun juga saling tatap tidak mengerti dengan arah pembicaraan Rama kepada Rangga.


Namun setelah itu bibi Hasa mengingat bahwa kekasihnya itu memuntahkan darah hitam setelah mengobati dewa yang hampir mati saat di kediaman Dewa Tunggal.


Rangga yang mendengar itu pun langsung berbalik tanpa sebuah suara, seakan akan dia memang sudah tahu bahwa Rama telah mengetahui dirinya terkena sebuah racun.


Dia langsung duduk bersila membelakangi Rama, dan langsung memejamkan matanya.


”Bibi dan paman semua, mohon mundurlah sedikit, agar paman Rangga memiliki ruang yang sedikit besar” ucap Rama yang langsung di lakukan dengan patuh oleh semua yang ada di sana.


Setelah itu Rama duduk bersila, dan meletakkan tangan kanannya pada punggung Rangga sedangkan tangan kirinya di letakkan lurus di depan dadanya.


Setelah itu muncul beberapa energi dari dalam tubuh Rama yang mengalir menuju tangan kanannya hingga menampakkan warna yang sangat aneh dan menyatu di telapak tangan kanannya.

__ADS_1


Setelah merasakan energi yang terkumpul sudah cukup untuk menetralkan racun yang ada di tubuh Rangga, Rama pun langsung mendorongnya perlahan agar energi itu masuk pada tubuh Rangga.


Perlahan lahan energi yang aneh itu masuk pada tubuh Rangga yang di saksikan langsung oleh Bibi Hasa dan yang lainnya.


Setelah energi itu benar-benar masuk semua pada tubuh Rangga, Rama mengganti telapak tangannya menjadi yang kiri untuk memegang punggung pamannya.


Dan dari tangan kiri itu muncul sebuah energi berwarna jingga yang terlihat secara kasat mata menyerap kembali energi aneh yang di masukkannya tadi.


Namun bedanya energi yang aneh tadi setelah keluar dari tubuh Rangga berubah menjadi warna hitam pekat.


Rama terus menarik energi itu dengan pelan pelan sampai benar-benar selesai.


~


”Uh-uhukk..uhukk..“ suara Rangga yang terbatuk dan memuntahkan darah berwarna hitam.


Terlihat Rama juga sudah selesai menarik semua energi yang ada pada tubuh Rangga.


Energi hitam pekat itu kini melayang layang di tangan kiri Rama.


”Ini racun energi jiwa yang sangat kuat paman, bagaimana paman bisa terkena racun sekuat ini?” ungkap Rama pada semua yang ada di sana dan bertanya kepada Rangga.


Namun sebelum Rangga menjawab pertanyaan itu, dia tiba-tiba terjatuh ambruk ke samping tak sadarkan diri.


”Baik anak muda” jawab Amar tanpa membantah dan langsung mengalirkan energinya pada tubuh Rangga , hingga membuat tubuh temannya itu terlihat kembali pulih secara perlahan.


Setelah itu Rama melebur racun itu dengan energinya, dan menjelaskan tentang racun yang ada pada tubuh pamannya itu kepada semua yang ada di sana.


Dia juga menjelaskan tentang cara menyembuhkannya dengan cara memasukan sebuah energi pelebur ke dalam tubuh yang terkena racun dan menyerapnya kembali dengan energi penyerapan.


Dia juga menjelaskan bahwa racun itu sangat berbahaya, karena racun itu menghisap energi secara perlahan dan mengakibatkan kematian yang sangat lambat.


Racun itu juga sulit sekali terdeteksi karena mempunyai ciri yang transparan dan mampu menyatu dengan energi dalam tubuh yang terkena racun.


Rama juga menjelaskan berbagai macam ciri-ciri racun itu, yang di simak dengan serius oleh semua yang ada di sana.


Dan ketika Bibi Hasa menanyakan siapa yang memberi racun itu kepada Rama, tiba-tiba saja Rama menghilang dari pandangan semua yang ada di sana, membuat semua yang ada di sana terlihat bingung, dan menatap kemana arah Rama pergi.


Setelah Rama menghilang terjadi sebuah ledakan energi di luar segel perisai yang mereka ciptakan.

__ADS_1


Dhhaarrr..


Dhuaarrrr..


Dhuaarrr..


Boommss..


Ledakan itu mengakibatkan semua yang ada di dalam segel perisai terpental ke belakang, tak luput juga dengan Rangga.


Namun beruntungnya Amar dengan cepat meraih tubuh Rangga dan melindunginya dengan sebuah perisai yang dia ciptakan secara mendadak.


Beruntung tidak ada yang terluka dari ledakan itu karena mereka masih sempat menyelimuti tubuh dengan energi.


Bibi Hasa yang sangat khawatir dengan Rama, langsung berdiri akan melesat ke depan lagi untuk mencarinya.


Namun sebelum dirinya melesat, Rama sudah muncul kembali dengan membopong tubuh laki-laki tua berjanggut berwarna putih.


Lelaki tua itu adalah Dewa Tunggal yang sudah tak sadarkan diri dengan berbagai tusukan besi hitam yang menancap pada tubuhnya.


”Ra-ramaa..?” teriak bibi Hasa yang sangat khawatir.


Mereka yang ada di sana pun sangat terkejut karena yang di bawa oleh Rama adalah Maha Raja mereka.


Yang berarti Maha Raja mereka ternyata dapat di kalahkan oleh Arjuna.


”Tamat sudah riwayat kita dan semesta ini Amar” ungkap Jala dengan ketakutan karena melihat Pemimpin mereka sudah di kalahkan.


Setelah itu, terlihat kini Rama yang sedang meletakkan tubuh Dewa Tunggal di depan bibinya dan memberi pesan kepada Amar dan bibi nya.


“Paman yang sedang bersama paman Rangga, tolong percepat pemulihannya, dan bibi tolong bantu paman itu memulihkan paman Rangga” ungkap Rama dengan terburu buru.


”Pak tua ini ku pasrahkan padamu bibi, tolong sembuhkan lukanya dengan mencabut besi itu terlebih dahulu menggunakan energi penyerapan bibi, dan setelah itu, tolong jelaskan pada paman Rangga tentang cara mengobati racun tadi, bekerja samalah dengan paman Rangga untuk mengobati pak tua ini,  karena pak tua ini terkena racun yang sama dan untuk mengobatinya, hanya Bibi dan Paman Rangga saja yang memiliki energi untuk mendorong dan menyerap,” lanjutnya.


”Ba-baik, ta-tappi…” jawab bibi Hasa belum selesai dengan ucapannya, namun Rama sudah menghilang dari tempatnya.


Setelah berpesan kepada Bibi Hasa, Rama kemudian langsung menghilang dan melesat cepat menuju tempat Arjuna berada.


Wusshhh...

__ADS_1


Arjuna yang mengamati dari jauh, Dia sangat terkejut karena merasakan adanya kekuatan yang sangat besar dari tubuh bocah itu.


***


__ADS_2