RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 26 Tanpa Perlawanan (PDPS)


__ADS_3

Sinar itu melesat dengan sangat cepat hingga pada akhirnya sampai tepat di hadapan Rama.


Namun lagi-lagi Rama hanya menggunakan tangan kanannya untuk menghadapi sinar itu.


Dari tangan kanannya tiba-tiba keluar sebuah energi jingga seperti energi milik bibinya, namun bedanya energi milik Rama terlihat sangat besar puluhan kali lipat dibanding milik bibinya.


Rama hanya mengulurkan tangannya ke depan dan menyentuh larik sinar dengan tenang, meskipun sinar itu memiliki daya hancur yang sangat tinggi.


Dan anehnya serangan sinar yang di lontarkan Arjuna itu hilang terserap oleh tangan milik Rama.


Namun yang mengejutkan lagi, Rama dengan tangan kirinya mengeluarkan larik sinar yang dia serap tadi dan menembakkannya kembali menuju Arjuna.


Terlihat di atas, Rama mampu menyerap dan mengeluarkan kembali serangan lawan dengan mudah.


”Rasakanlah seranganmu sendiri paman, hihihi” teriak Rama dari kejauhan.


Suara teriakan dari Rama itu sangat kencang hingga membuat Arjuna yang ada di bawah mampu mendengarnya.


Dan setelah mendengar suara itu, Arjuna melihat serangannya tadi kini malah berbalik menyerangnya sendiri.


Membuat dirinya kalang kabut dan segera menciptakan perisai berlapis yang sangat kuat agar tidak terkena serangannya sendiri.


Dhuaaarrr..


Boommss..


Suara benturan energi yang sangat dahsyat kembali terjadi di daratan, Arjuna yang terkena serangannya sendiri pun hanya mampu menggerutu di dalam hatinya.


”Si-siall! seperti ini lagi” gumamnya dalam hati.


“Sudah pasti dia adalah putranya” lanjutnya dalam hati.


“Aku harus segera pergi dan melapor kepada Rangkarasa jika sudah seperti ini”.


Setelah itu, Arjuna yang sedang menahan jurusnya sendiri, dengan kelicikannya, dia pun langsung membuat sebuah portal dimensi dengan tangan kirinya di balik sebuah kepulan debu yang sangat tebal.


Dia memanfaatkan sebuah ledakan dan kepulan debu untuk melarikan diri, hingga Rama yang ada di atas sedikit mengernyitkan dahinya karena merasakan energi lawannya tiba-tiba menghilang.


Sontak dia pun langsung melesat kebawah, dan mengibaskan tangannya yang di aliri dengan sebuah energi ke arah kepulan debu.


Setelah kepulan debu menghilang Rama yang saat ini juga sudah sampai di tempat Arjuna berada, terlihat sedikit mengeluh dengan sebuah raut wajah penyesalan.


Karena ternyata pertempuran pertamanya tidak seperti yang dia bayangkan, karena lawannya malah memilih untuk melarikan diri.


Pertempuran itu pun di nyatakan berakhir, karena tiba-tiba saja Arjuna menghilang, seperti melarikan diri karena ketakutan dengan sesuatu yang menyangkut akan masalalunya.


Bahkan dengan dirinya yang sudah membuka seluruh kekuatannya saja tidak begitu berarti di hadapan Rama yang masih pemula.


”Haaiihh, paman itu ternyata menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri, aku sungguh sangat lengah” gumamnya dalam hati dengan sedikit rasa penyesalan.


Lalu dirinya kemudian menghilang dan muncul kembali di belakang bibi Hasa


Bibi Hasa dan semua yang ada di dalam perisai yang sedang mengamati daratan di buat terkejut dengan munculnya suara Rama yang tiba-tiba berada di belakangnya.


”Bibi, kerja bagus”. teriaknya keras di belakang bibinya sambil mengacungkan jempolnya.


Tindakan Rama itu pun membuat semua yang ada di sana terkejut dan membalikan tubuh mereka dengan cepat dengan di ikuti raut wajah yang sangat aneh dan terlihat bodoh.


”Aaaa—…” teriak bibi Hasa yang sangat terkejut mendengar sebuah teriakan muncul dari belakangnya.


Bibi Hasa yang mendengar suara itu pun langsung melompat dan terjatuh tepat di pelukan Rangga.


“Hehehe, apakah sangat merindukanku dinda?” ungkap Rangga yang tengah memeluk kekasihnya di depan semua orang.


Rama yang melihat kelakuan semua yang ada di sana dan menatapnya dengan aneh pun hanya mampu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum bodohnya.


”Dasar bocahh petaka” Suara Dewa Tunggal yang ternyata sudah berada tepat di belakang Rama dan langsung memukulnya.


Plethakk..


A-aa-aawww..


"Woeee apa yang kau lakukan pak tua,“ jawab Rama dengan tangannya yang mengusap usap kepalanya.


”Uh-uhhuukk.. sial bocah ini ternyata tak mengenali siapa yang telah memukulnya”. suara Gama yang tiba-tiba saja terbatuk.


~


Hal yang sama pun juga terjadi pada Amar dan Jala, sedangkan Rangga langsung melepas tubuh kekasihnya karena saking terkejutnya mendengar jawaban dari Rama yang menanggil Dewa Tunggal dengan sebutan Pak tua.

__ADS_1


Sontak kelakuan Rangga pun malah membuatnya dalam masalah besar, dimana kini sudah terlihat jelas raut wajah bibi Hasa yang sangat merah dan terlihat sangat marah.


“Kandaaa…!!!” teriak bibi Hasa sembari menatap tajam kekasihnya.


Kini di tangannya terdapat sebuah energi yang sudah terpusat dan hanya tinggal melepaskannya saja.


Di sisi lain Rangga yang tak sadar telah melepas tubuh kekasihnya itu langsung berlarian kalang kabut ketakutan akan amarah kekasihnya.


”Bu—bukan, se-seperti itu Dinda, sungguh aku tidak sengaja,“ teriaknya sambil berlarian kesana kemari.


Hal itu pun sontak membuat semua orang yang ada di sana hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rangga yang sangat ceroboh itu.


”Baiklah mumpung kalian masih di sini, mari berkunjung di kediamanku dulu, dan kau Jala, beritahu semua penghuni yang di ungsikan untuk segera kembali, karena bencana telah selesai,” ungkap Dewa Tunggal.


”Baik Yang Mulia,” jawab Jala.


”Woe Pak tua, kau akan membawa kami kemana ? dan bagaimana dengan musuh yang tadi ? apakah dia tidak akan kembali lagi ?,” tanya Rama dengan polosnya.


Rama sungguh tidak tahu bahwa lawan bicaranya itu adalah kakeknya sendiri, karena di dalam ingatan yang di berikan oleh ayahnya, hanya berupa informasi tehnik jurus dan mengenai beberapa lawannya saja.


”Dasar bocah petaka, aku ini adalah kakekmu!,“ jawabnya yang lagi-lagi telah muncul di belakang Rama untuk memukul kepalanya kembali.


Namun Rama yang sudah waspada pun mampu mengelak pukulan itu dengan menyeret tubuhnya kesamping.


Wusshh..


Bruukk..


Sehingga membuat Dewa Tunggal yang ingin memukulnya malah jatuh ke depan.


Rama yang melihat itu pun sontak kabur berlarian dan menyusul Rangga.


“Siall! memang bocah petaka! kemari kau bocah, akan ku hajar kau,” teriaknya sembari berdiri untuk mengejar Rama.


Di sisi lain, Amar dan Gama yang melihat itu pun terbelalak melebarkan mata dengan raut wajah yang aneh.


Dan kini terlihatlah 4 makhluk yang sedang berlesatan kesana kemari menghindari sebuah amarah, yang satu karena kekasihnya, dan yang satunya lagi karena mengerjai Dewa Tunggal.


”Haaiihh.. mengapa Yang Mulia jadi seperti itu,” gumam Jala sambil menggelangkan kepala.


Jala dan Gama yang tadi di suruh untuk pergi ke kediaman Dewa Tunggal pun kini akhirnya melesat menuju tempat itu.


Singkat cerita, Gama dan Jala pun akhirnya sampai di kediaman Maha Dewa Tunggal.


Mereka saling menyapa satu sama lain, dan berbaris rapih di depan istana milik Maha Dewa Tunggal.


Tak berselang lama, terjadi sebuah ledakan di belakang istananya, yang di ikuti dengan suara teriakan seorang pemuda.


”A—ampun kakek, am-ampunn, Rama menyerah,” teriak Rama yang masih berlesatan dan berujung menabrak bangunan istana dan mendarat tepat di depan Gama beserta semua penduduk yang ada.


”Dasar bocah petaka, kemari kau bocah!,” teriak Dewa Tunggal yang masih berlarian mengejar Rama.


Namun laju lari Dewa Tunggal akhirnya berhenti ketika melihat Rama sudah berdiri di depan semua penduduk semesta wandasukma.


Dewa Tunggal tidak sadar atas semua perbuatannya kepada Rama, bahkan dia juga tidak sadar bahwa istananya telah hancur setengah.


Demi menutupi rasa malunya, Dewa Tunggal tiba-tiba saja terbang, dan mengabaikan Rama begitu saja.


Setelah mengamati semua rakyatnya, dia memberi sebuah informasi tentang berakhirnya perang, dan sudah di pastikan bahwa makhluk yang menyerang semesta mereka pasti tidak akan kembali lagi.


Semua orang yang mendengar informasi itu pun terlihat sangat senang, dan memiliki banyak pertanyaan di dalam hatinya tentang informasi itu.


Tapi semua rakyat dan penduduk tak berani bertanya, karena mereka tahu akan sifat tegas dari Dewa Tunggal hingga membuat mereka mengurungkan niatnya.


Tapi ada satu suara yang membuat mereka semua terkejut, karena suara itu sangat asing bagi telinga mereka.


”Apakah kau yakin kakek, makhluk itu tidak kembali lagi? dan alasan apa yang membuatnya tak berani menyerang kesini lagi?,” Tanya Rama tiba-tiba yang mengagetkan semua orang.


~


Mendengar sebuah pertanyaan dari cucunya itu, Dewa Tunggal hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya.


Namun melihat semua wajah rakyatnya yang sangat penasaran, dia pun mengurungkan niatnya, dan memberitahu bahwa alasannya karena dia takut kepada cucunya.


Pernyataan yang di berikan oleh Dewa Tunggal itupun langsung menjadi pusat perhatian dari semua makhluk.


Pikiran semua makhluk adalah mengapa hanya karena anak muda itu, musuh yang mampu mengancam kehidupan mereka semua takut untuk kembali menyerang.


Mereka menunggu sangat lama akan jawaban apalagi yang akan Dewa Tunggal berikan.

__ADS_1


Namun sudah menunggu sedikit lebih lama, ternyata Dewa Tunggal tidak melanjutkan penjelasannya lagi.


Hal itu pun hanya mampu membuat rasa penasaran semua makhluk yang ada di sana.


”Sudahlah, Setelah ini kita adakan pesta jamuan makan di istanaku, untuk semua makhluk yang hidup di semesta wandasukma di perbolehkan untuk datang,” Ungkap Dewa Tunggal dengan tegas.


Perkataan itupun langsung saja menarik minat semua makhluk yang ada di sana, dan melupakan dengan cepat sebuah pernyataan tentang cucu Dewa Tunggal.


Dewa Tunggal hanya menyeringai lebar, lalu kemudian berbalik untuk masuk ke dalam istananya.


Setelah berbalik, dia mendapati bahwa istananya telah hancur setengah hingga membuatnya sangat marah dan mengeluarkan energi yang cukup besar.


Rama yang melihat itu pun, langsung melesat dengan cepat dan menotok tubuh Dewa Tunggal dengan cepat, hingga mengakibatkan Dewa Tunggal langsung tak sadarkan diri.


Semua rakyat dan penduduk yang melihat itu hanya mampu terbelalak lebar dan melongo melihat pemuda misterius itu yang dengan berani menotok tubuh penguasa semesta wandasukma.


Di sisi lain, Gama memberi perintah kepada Amar dan Jala untuk mengumpulkan semua mayat pejuang yang telah gugur dan langsung di laksanakan oleh mereka.


”Anak muda, terimakasih telah menyembuhkanku,” terdengar suara pria dari belakang Gama.


Dan ternyata pria itu adalah sosok dewa yang telah di selamatkan oleh Rangga saat mereka tiba di istana.


”Sudah sewajarnya bagi kita sesama makhluk hidup untuk saling menolong tuan,” jawab Gama dengan senyumannya.


Namun karena Gama memiliki taring yang mengerikan, senyumannya tidak terlihat lembut melainkan malah menyeramkan.


Glek!!!


Suara dewa itu menelan ludahnya sendiri karena melihat senyuman dari Gama.


Setelah itu Gama yang melihat Rama berjalan menuju ke dalam istana, dia pun menyusulnya, dan dia tidak memperdulikan ekspresi lawan bicaranya.


Di dalam istana yang setengah hancur itu, Rama meletakkan tubuh Dewa Tunggal dan menotok beberapa syaraf pada tubuhnya sehingga membuat sosok dewa tua itu terbangun kembali.


”Dasar bocah petaka, untuk kali ini aku tidak akan mempermasalahkan perbuatanmu karena berkat kedatangan dirimu semesta kita terbebas dari bencana yang mungkin akan menghancurkan semesta ini,” ungkap Dewa Tunggal setelah terbangun.


Rama yang mendengar itu hanya mampu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum bodohnya.


”Paman, kemana perginya bibi Hasa dan paman Rangga,?” tanya Rama setelah melihat kedatangan Gama.


Gama yang mendengar pertanyaan itu pun hanya mampu menggelengkan kepalanya.


Namun di sisi lain, di ujung semesta wandasukma, tepatnya di sebuah lereng gunung berapi terdapat seorang pemuda tampan yang sedang babak belur di hadapan wanita cantik berbola mata biru muda.


”A-aa—ampun Dinda, sungguh kanda tidak bermaksud untuk menjatuhkanmu,” ungkapnya lirih dengan kondisi kaki yang patah dan tangan kiri yang terpuntir.


”Aku tidak peduli kanda sengaja atau tidak, yang jelas kanda sudah membuat Hasa malu di depan semua orang,” Jawabnya dengan ketus.


Mereka Berdua adalah Sepasang penjaga semesta yang di tugaskan oleh Dewa Wasa untuk menjaga putranya dan mengembalikan kedamaian di bumi.


Meskipun Rangga terlihat sangat bodoh dan ceroboh, tapi Dewa Wasa selalu percaya bahwa Rangga mampu menjaga putranya bersama kekasihnya.


Setelah menghabiskan waktu untuk menghajar kekasihnya itu, Bibi Hasa pun langsung bergegas pulang menuju kediaman Dewa Tunggal dengan menyeret tubuh Rangga yang tak berdaya dan hanya pasrah.


”Haiihhh.. lagi-lagi karena bocah bodoh itu, aku yang terkena sialnya,” gumam Rangga dalam hati yang mampu di dengar oleh Hasa.


Hasa yang mendengar itu pun hanya tersenyum, karena dirinya kini telah sangat puas menghajar kekasihnya.


***


Di tempat yang berbeda.


”Sona, sebentar lagi kita akan sampai rumah, apakah kau siap untuk mengganggu Guru?,” tanya seorang lelaki sangat tampan kepada seekor kera yang selalu berada di pundaknya.


“Aku siap Tuan, hihihi,” jawab kera itu kepada tuannya.


Mereka berdua adalah Dewa Wasa bersama dengan kera sahabatnya yaitu Sona, dan mereka kini terlihat seperti sedang melewati sebuah portal dimensi.


Namun sosok tampan itu terlihat melesat menembus gelapnya ruang, seakan-akan tekanan di dalamnya bukanlah masalah baginya.


”Aa-aapaa? aku mencium bau makanan Sona, apa kau juga menciumnya ?,” tanya Dewa Wasa kepada keranya.


“Iya tuan aku mencium berbagai bau makanan, ayo cepat tuan, percepatlah tuan,” teriak Sona sambil melompat-lompat pada pundak Dewa Wasa.


Pletakk!!!


“Aawwww.. sakitt. uu-aa-u-a,” keluhnya sambil mengusap-usap kepalanya yang di pukul menggunakan gagang kipas milik Dewa Wasa.


Terdengar suara pukulan yang sangat keras, dan itu ternyata adalah Dewa Wasa yang memukul sahabatnya.

__ADS_1


“Kera bodoh, jangan melompat-lompat seperti itu di pundakku, sialan! kau ini berat,” Teriak Dewa Wasa kepada sahabatnya.


***


__ADS_2