
Di dalam istana, terlihat Rama yang masih memeluk erat tubuh sang ayah.
”Sial.! Rama lepaskan pelukanmu, jika tidak kau akan membunuhku.” terdengar suara dari balik pelukan Rama, yang membuatnya langsung melepaskan pelukannya dari sang Ayah dan mencari tahu siapa yang telah bersuara itu.
Ketika Rama masih mengedarkan pandangannya untuk mencari tahu siapa yang bersuara, kini malah terdengar lagi suara yang sama namun lebih keras dengan di ikuti sebuah makian hingga membuat mereka yang ada di dalam istana kini kembali tertawa.
“Dasar bocah bodoh, sialan, kau hampir membunuhku dengan pelukan cengengmu tadi,” ucap seekor kera yang kemudian memunculkan dirinya di pundak Dewa Wasa.
“Ayah, di-diaa? benarkah dia yang berbicara tadi ,?” tanya Rama dengan polosnya sambil menunjuk ke arah Sona.
“Iya putraku, memang dia yang berbicara.” jawabnya dengan senyuman.
“Ba-bagaiman bisa Ayah, seekor kera kecil seperti itu berbicara dengan suara yang seperti kakek-kakek.” jawab Rama yang masih kebingungan dengan kepolosannya.
Sontak saja Sona yang mendengar itu langsung terperanjat kaget mendengar perkataan dari Rama yang mengatakannya seperti kakek-kakek.
“Dasar, orang tua dan anak sama saja bodohnya,” ungkap Sona lirih dengan lemas.
Di sisi lain semua orang yang mendengar percakapan itu malah kembali tertawa terbahak-bahak karena Rama yang selalu saja menjawab dengan kepolosannya.
“Hehehe… maafkan aku Sona,” ucap Dewa Wasa kepada sahabatnya.
“Lupakan saja tuan, aku akan kembali tid-… apakah di luar ada makanan tuan?”. jawab Sona yang tiba-tiba saja mencium sebuah aroma makanan yang sama seperti saat dirinya masih berada di portal dimensi.
Setelah mencium aroma makanan itu, dia pun langsung menghilang dari pandangan semua orang begitu saja tanpa menunggu sebuah jawaban yang dari pertanyaan yang dia berikan kepada Dewa Wasa.
Kelakuan Sona itu sungguh membuat Maha Dewa Tunggal dan semua orang yang ada di dalam istana menggelengkan kepalanya dan di ikuti sebuah tawa.
Setelah itu, semua orang kini telah kembali serius, dan bersiap mendengarkan apa yang akan di bicarakan oleh Maha Dewa Tunggal.
“Baiklah, aku akan memulainya,” ungkap Maha Dewa Tunggal yang membuat semua orang yang ada di dalam istana memasang telinga mereka baik-baik.
Setelah itu Maha Dewa Tunggal memberi tugas kepada mereka satu persatu, begitu juga dengan Amar dan Jala yang kini di angkat menjadi penjaga istana semesta Wandasukma, karena setelah ini Maha Dewa Tunggal akan melakukan sebuah pertapaan yang panjang.
Dan untuk Rama, Rangga dan Bibi Hasa, mereka di suruh kembali ke bumi, untuk memperbaiki kerusakan dan pertikaian yang ternyata itu semua adalah perbuatan dari Rangkarasa bersama sekutunya yang belum di ketahui siapakah sosok di balik itu semua, karena mampu menghasut hampir seluruh makhluk yang ada di bumi.
Untuk Gama sendiri pun, dia di tugaskan untuk bergabung di istana semesta Wandasukma untuk mendampingi Amar dan Jala ketika Dewa Wasa kembali pergi untuk mencari sesuatu.
Setelah itu, mereka berbincang sangat lama sembari menikmati makanan yang di sajikan khusus untuk para tamu Maha Dewa Tunggal.
Mereka saling bercerita terutama Rama bersama dengan ayahnya, mereka saling berbagi informasi dan melepas rindu.
Rama yang mengetahui berbagai tugas ayahnya yang sangat berat pun hanya mampu mengepalkan tangannya dengan erat, dia ingin segera menjadi kuat dan membantu meringankan beban ayahnya untuk membantu menyeimbangkan alam semesta.
Di sisi Dewa Wasa, dia sangat senang karena Rama bertumbuh dengan cepat, entah itu tubuh, kekuatan, atau bahkan pemikirannya.
Dia sungguh ingin menangis sekeras kerasnya ketika mendengar cerita dari Hasa tentang penderitaan yang di alami oleh putranya itu.
Namun Dewa Wasa hanya mampu untuk menahannya, karena dia tidak ingin putranya juga ikut terlarut dalam kesedihan.
“Dinda, Maafkan aku yang belum bisa membuat putra kita bahagia, dan malah menambah beban di umurnya yang baru akan menginjak dewasa.” gumam Dewa Wasa dalam hati yang di ikuti oleh cairan bening terjatuh dari matanya.
“Ayah jangan terlalu bersedih, aku mengerti apa yang ayah rasakan, karena di dalam tubuhku ada jiwa Raka yang juga terhubung oleh Paman Wata yang ada pada tubuh ayah, jadi aku mampu merasakan apa yang ayah rasakan.” Ungkap Rama yang berusaha tegar menenangkan ayahnya yang di jawab hanya berupa anggukan kepala olehnya.
__ADS_1
Setelah pertemuan itu selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat barang semalam di istana sebelum melaksanakan tugas mereka masing-masing.
Di luar istana pun kini terlihat sudah sedikit sepi, karena setelah melakukan pesta jamuan, mereka yang tak memiliki kepentingan dan hanya saling mengobrol memutuskan untuk pulang.
Waktu pun tak berasa, dan malam pun telah datang, bulan menyinari dengan indahnya di temani oleh ribuan bintang yang menjadi penghiasnya.
Di atas sebuah pendopo terlihat dua sosok yang sedang duduk seperti sedang saling bercerita.
“Sona tolong berikan ini di kamar putraku, aku akan menunggumu di luar istana” ungkap Dewa Wasa kepada sahabatnya yang langsung menjalankan tugasnya.
Setelah itu ketika Sona melesat menuju kamar milik Rama, Dewa Wasa juga melesat menuju keluar istana.
Dia memberikan sebuah kalung berliontin dengan bentuk persegi panjang yang di masukan ke dalam sebuah kotak kayu yang terlihat sangat tua.
Tak berselang lama pun Sona juga sudah tiba di depan istana, dan kini mereka siap pergi lagi entah kemana, yang jelas di samping mereka yang sedang mencari Bunga Semesta, mereka juga akan mendamaikan sebuah peperangan dan pertikaian di berbagai semesta.
Karena itu semua adalah tugas dari Dewa Wasa yang di sampaikan oleh sosok makhluk yang belum pernah ia temui, dan hanya melalui sebuah suara yang selalu datang dalam mimpinya agar Dewa Wasa menjalankan semua tugasnya untuk mendamaikan seluruh alam semesta.
~
Di sebuah semesta yang memilki langit berwarna merah kelam, dan berbagai tumbuhan berwarna hitam, terdapat sebuah istana yang cukup megah.
Istana itu terlihat tak memiliki cahaya sedikitpun, penerangan di dalam istana itu hanya dari sebuah bulan yang berwarna merah terang.
Di semesta itu juga tidak memiliki sebuah matahari, hanya memiliki sebuah bulan yang hanya berada tepat di atas istana, bisa di katakan semesta itu seperti sebuah dimensi buatan, dan makhluk yang mampu membuat dimensi seperti itu hanyalah sosok makhluk sakti di atas sakti dengan kekuatan yang tak terhingga.
Kini terlihat di dalam istana terdapat tiga makhluk yang memiliki wujud berbeda-beda.
Dia memiliki sebuah tanda aneh pada keningnya, dan tanda itu berbentuk seperti sebuah simbol bergaris vertikal namun di tengahnya terdapat seperti mata dengan api kecil berkobar di dalamnya.
Dia kini sedang menatap dua sosok makhluk yang ada di depannya dengan tajam.
Kedua sosok itu sendiri memakai jubah hitam sampai kaki dengan simbol segitiga beserta api di dalamnya pada punggung jubahnya.
Mereka jika di lihat dari belakang seperti sosok kembar, namun bila di lihat dari depan, mereka sungguh berbeda.
Sosok sebelah kiri memiliki 3 mata di wajahnya, dia bernama Arjuna, dan yang satunya terlihat seperti Dewa yang sangat tampan dengan sebuah kalung bersimbol bulan, dan tidak lain tidak bukan dia adalah sosok dari Rangkarasa.
Sosok yang dulunya memiliki sifat yang sangat bijaksana, namun kini memiliki sifat yang sangat keji, dengan pemikirannya yang begitu licik.
“Seperti itulah Baginda.” ungkap Arjuna dengan sedikit gemetar ketakutan.
“Baiklah, aku akan mengampuni kalian, dan untuk saat ini biarkan semesta itu untuk bebas, kita akan mengambil alih kembali setelah menghancurkan semesta yang lain.” Jawab sosok anak kecil itu dengan tenang.
“Dan untuk kau Rangka, kembali ke semestamu dan jalankan tugasmu.” lanjut sosok itu kepada Rangkarasa.
“Baik Baginda.” Jawabnya dengan tenang, bahkan kini dirinya terlihat sedikit tersenyum licik di balik gelap, karena wajah yang tertutup tudung kepala.
Setelah itu mereka berdua pun menghilang dari pandangan sosok bocah kecil itu.
"Huuuuhhh." suara hembusan nafas sosok yang seperti anak kecil itu.
“Kau bahkan akan mengkelabuhiku juga Rangkarasa.” gumamnya dalam hati dengan sedikit senyuman di wajahnya.
__ADS_1
***
Di tempat lain.
Di istana semesta wandasukma kini terlihat rombongan Rama yang akan kembali ke bumi untuk menjalankan sebuah tugas dari Maha Dewa Tunggal.
Mereka terlihat sedang saling berpamitan hingga membuat Gama merasa bersedih karena mengingat akan kelakuan dari Rama, pasti itu akan membuatnya sangat rindu kepada pemuda itu.
“Kau memiliki sifat dan tingkah laku yang sulit di lupakan Rama.” gumam Gama dalam hatinya yang merasa sedih.
Setelah mereka berpamitan satu sama lain, Rama kini menciptakan sebuah portal dimensi menuju untuk kembali ke rumahnya.
“Sampai bertemu kembali paman, selamat tinggal, Rama akan sering-sering berkunjung kemari bersama bibi Hasa,” Ungkap Rama sambil melambaikan tangannya.
"Sampai berjumpa kembali ketika kita melakukan perjalanan yang panjang nanti." Jawab Gama.
Setelah itu Rama pun memegang tangan bibi dan pamanya lalu masuk ke dalam portal dimensi dan menghilang bersamaan dengan tertutupnya portal itu.
Tak membutuhkan waktu yang lama, karena Rama masih memiliki ingatan dan mampu membaca energi segel yang ada di bumi, kini mereka pun telah tiba di belakang rumah Rama di dekat makam ayah angkatnya yang juga ayah kandung dari bibi Hasa.
Tak berselang lama di bumi nampak sebuah portal berbentuk lingkaran yang berawal dari kecil hingga membesar, yang kemudian memunculkan dua sosok pemuda tampan dan satu wanita cantik.
Tanpa menunggu lama, mereka bertiga pun langsung berjalan memasuki rumah, dan setelah memasuki rumah, mereka sungguh sangat terkejut karena mendapati seorang gadis muda yang amat sangat cantik, sedang terkapar tak sadarkan diri tanpa busana sehelaipun.
Bibi Hasa yang melihat itu pun langsung menutup kedua mata milik Rama dan Kekasihnya, lalu kemudian menyuruh mereka menunggu di belakang rumah sebentar.
“Padahal itu adalah sebuah pemandangan yang jarang sekali terjadi, iya kan Rama.” Ungkap Rangga yang sedikit mengeluh menyayangkan sebuah pemandangan yang sangat indah terlewatkan begitu saja.
“Woee paman, apa yang kau pikirkan? aku akan bilang kepada bibi nanti.” jawab Rama yang membuat Rangga sangat terkejut dan terbatuk.
“Ugh-uhukk..” Suara Rangga yang terbatuk karena terkejut oleh perkataan Rama yang akan mengadukan dirinya kepada kekasihnya, hingga akhirnya dia membungkam mulut Rama dengan kedua tangannya.
“Sial!! diam kau bocah, jangan keras-keras.. ku mohon” ungkap Rangga memelas kepada Rama.
“Hehehe.. bercanda paman.. umm--umm.” jawab Rama sembari berusaha melepaskan dekapan tangan Rangga.
Di dalam rumah, bibi Hasa yang sudah selesai memakaikan pakaian kepada wanita itu, kini terlihat bingung dan bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita itu, dan dari mana asalnya sehingga menatap tubuh wanita itu dengan sangat teliti.
Karena tidak ada yang aneh dari tubuh wanita yang amat sangat cantik itu, bibi Hasa pun lantas memanggil Rama dan kekasihnya untuk masuk.
Setelah itu dia menyuruh Rama untuk mengalirkan energi pemulihan agar wanita itu cepat tersadar.
Rama pun tanpa bertanya langsung berjalan menghampiri wanita itu yang kini terlihat lebih cantik.
Lalu Rama mengalirkan energi regenerasinya ke dalam tubuh wanita cantik itu.
Tak membutuhkan waktu yang lama, kini wanita cantik itu membuka mata, setelah membuka mata, dia terlihat sangat kebingungan karena tidak tahu dirinya kini sedang berada di mana.
Bibi Hasa yang sudah memiliki banyak sekali pertanyaan pun langsung menghampirinya setelah melihat wanita cantik itu sudah menjadi lebih segar.
***
Terimakasih atas segala dukungannya teman-teman, hingga membuat mimin tambah bersemangat dalam menulis :)
__ADS_1