
Suara derap langkah kuda terdengar begitu ramai di dalam sebuah hutan yang sangat gelap.
Kuda-kuda itu sedang membawa puluhan prajurit menuju ke arah sumber cahaya yang ada di dalam hutan.
Ternyata di bagian selatan bumi, masih terdapat penduduk dan ratusan manusia yang masih hidup.
Mereka hidup mandiri dan mendirikan sebuah perkampungan yang sangat besar, dengan pemandangan yang sangat indah.
Perkampungan itu terlihat seperti sebuah surga, karena rumah-rumah di sana di kelilingi oleh keindahan alam yang begitu menakjubkan.
Di belakang perkampungan itu terdapat sebuah sungai yang begitu tenang dan besar, dan di seberang sungai terdapat sebuah gunung es dan bersalju.
Sedangkan di depan perkampungan, terdapat sebuah tanah kosong yang begitu luas dengan berbagai macam batuan hitam yang tersusun rapi.
Perkampungan itu juga di kelilingi oleh sebuah bukit yang indah, namun dari balik bukit tersebut, beberapa hari yang lalu memunculkan sebuah cahaya yang sangat terang hingga menembus gelapnya malam.
Sehingga pemimpin desa itu langsung mengutus panglimanya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dari balik bukit itu.
Perkampungan itu sendiri bernama Kampung Sahda, yang di pemimpin oleh seorang sakti bernama Ki Ranu Jagat.
Namun Ki Ranu Jagat tidak pernah menampakan dirinya sama sekali, dan yang dia temui hanyalah panglima dan prajurit yang bertugas untuk menjaga kampung Sahda.
***
Kembali di dalam hutan yang sangat gelap, kini terlihat rombongan kuda itu sudah berhenti ratusan meter jauh dari sumber cahaya.
”Berhenti di sini Madu.” Teriak seorang lelaki kepada kudanya yang berada di barisan paling depan, Lalu di ikuti oleh semua orang yang ada di belakangnya.
Namanya adalah Panglima Naju, seorang pemimpin dari rombongan orang berkuda yang menerobos hutan hanya untuk mengamati satu cahaya yang sangat asing.
Cahaya itu pun muncul secara tiba-tiba, sehingga membuat seorang pemimpin di desa itu penasaran, dan ingin mencari tahu sebuah cahaya apakah itu.
Sesampainya di tempat itu, Panglima Naju lalu menyuruh semua bawahannya agar maju secara perlahan untuk mengamati cahaya itu.
Dan setelah di dekati, ternyata cahaya itu berasal dari sebuah batu dengan ukuran yang setara dengan manusia pada umumnya dan memiliki lubang di tengah-tengahnya yang terdapat sebuah api berwarna cokelat.
”Buat segel pelindung untuk menutupi wilayah ini.” Teriak Panglima Naju kepada semua prajuritnya.
Kemudian terdapat 20 orang prajurit beserta panglima Naju langsung mengambil posisi mengelilingi sebuah batu bercahaya itu.
Mereka merapalkan sebuah mantra secara bersamaan, dan setelah selesai mereka saling menempelkan kedua telapak tangannya satu sama lain, sehingga menciptakan sebuah cahaya berwarna emas yang muncul dari telapak tangan mereka yang saling bersentuhan itu dan mengurung sebuah batu yang bercahaya.
Setelah selesai dengan segel, panglima Naju kembali membaca sebuah mantra yang cukup aneh, dan membuat batu yang bercahaya itu seketika redup sehingga memperlihatkan sebuah benda yang belum pernah mereka lihat.
”haahh..hah.haahhh..hah” suara nafas Panglima Naju.
Dia terlihat terengah-engah setelah membuat sebuah segel dengan mantra terlarang, guna untuk meredam panas yang luar biasa pada benda itu.
__ADS_1
Sebelumnya Panglima Naju tidak tahu apakah segel ini akan berhasil atau tidak, namun dia berfikir bahwa jika tidak mencoba maka tidak akan tahu.
Dan sebuah keburuntungan bahwa ternyata segelnya mampu meredam kobaran api yang bercahaya terang dari sebuah benda aneh, meskipun harus kehilangan 80% dari kekuatannya.
Singkat cerita, kini Panglima Naju sedang berada tepat di depan sebuah benda aneh itu yang masih memunculkan sebuh api kecil di atasnya.
”Benda apa ini sebenarnya? mengapa terdapat sebuah kekuatan yang sangat besar? beruntung Guru bertindak cepat, sehingga benda ini tidak jatuh di tangan orang yang tamak.” gumamnya sambil mengamati benda itu.
”Sepertinya aku harus menghubungi Guru untuk mengetahui benda apa ini.” ujarnya dalam hati.
Lalu kemudian dia duduk bersila dan merapal sebuah mantra lagi, Namun kali ini tak berlangsung lama sehingga dalam beberapa tarikan nafas saja , Panglima Naju sudah kembali sadar dan di ikuti sebuah portal dimensi yang memunculkan sosok lelaki tua berambut panjang.
Sosok itu adalah Ki Ranu Jagat. Dia memiliki rambut putih panjang yang di kucir ke belakang dan juga memiliki alis yang panjang menjuntai ke bawah hingga setara dengan rambut pada janggut dan kumisnya.
Tubuhnya terlihat sangat tua, dengan kedua mata yang selalu tertutup, namun meskipun tertutup, Ki Ranu Jagat mampu merasakan apapun yang ada di sekitarnya.
“Guru..” Ucap Panglima Naju menyapa gurunya sembari menundukkan kepalanya yang di sambut sebuah anggukan kepala oleh gurunya.
Setelah itu Ki Ranujagat pun berjalan menghampiri sebuah benda itu, dan mengamatinya secara perlahan.
”Ini adalah sebuah Bunga Semesta, Bagaimana bisa muncul di bumi ini,“ Gumam Ki Ranujagat dalam hati.
~
Lalu kemudian dia menyuruh Panglima Naju untuk kembali di posisinya saat membuat segel pelindung bersama prajuritnya agar segel yang mereka buat kembali lebih kuat lagi.
”I—inikah kekuatan Guru yang sebenarnya.” Gumam Panglima Naju dalam hati.
Energi yang keluar dari tubuh Ki Ranujagat itu perlahan membesar dan menyeruak ke atas hingga mengakibatkan sebuah getaran yang sangat mengerikan.
Untung saja panglima Naju memiliki segel yang kuat dan mampu menghambat energi yang menyeruak keluar menuju langit itu.
Setelah itu kini Ki Ranujagat wujudnya telah berubah dengan di lapisi sebuah energi berwarna coklat yang sangat kuat.
Itu adalah Energi Semesta yang hanya mampu di Kuasai oleh Dewa Azar dan Dewa Wasa, yang berarti Ki Ranujagat adalah salah satu Dewa dengan kesaktian tak terhingga yang memilih tinggal di bumi.
Belum di ketahui secara pasti, siapa Ki Ranujagat yang sebenarnya, apa hubungan dia dengan Dewa Azar dan Dewa Wasa, karena dia mampu menguasai sebuah energi langka yang hanya mampu di kuasai oleh kedua Sosok Dewa Tersakti itu.
Kini Ki Ranujagat terlihat sangat tampan dan dengan wajah beserta tubuh yang kembali muda, akan tetapi masih dengan mata yang tertutup.
Bahkan kini terlihat jelas ada simbol api berwarna cokelat di keningnya.
Setelah membuka semua segel yang ada pada tubuhnya, dia akhirnya mengambil Bunga Semesta itu dengan Energinya.
Setelah mengambilnya, dia pun langsung membuka matanya, yang membuat semua orang yang ada di sana sangat terkejut, begitu juga dengan Panglima Naju.
Dia lalu menatap Bunga Semesta itu dan tiba-tiba saja bunga itu terserap masuk ke dalam matanya, sontak tindakan yang di lakukan Ki Ranujagat itu membuat semuanya terbengong.
__ADS_1
”I-inikah alasan Guru tidak membuka matanya.” gumamnya lagi dalam hati.
Setelah memasukan Bunga Semesta itu, dia menarik kembali semua kekuatannya dan kembali lagi menjadi sosok lelaki tua dengan kedua mata yang tertutup.
Setelah selesai dengan apa yang dia lakukan, Ki Ranujagat menyuruh Panglima Naju dan yang lainnya untuk segera pulang dan membiarkan segel yang mereka buat terpasang seperti itu, lalu kemudian sosok Ki Ranujagat menghilang dari pandangan semua orang tanpa sebuah Portal.
Namun Ki Ranujagat tidak menyadari bahwa sedari tadi perbuatannya itu telah di amati oleh sosok pemuda dengan bola mata berwarna biru indah yang juga menghilang bersamaan dengan perginya Ki Ranujagat.
***
Di sisi utara di sebuah bekas bangunan rumah bekas terjadinya perang besar, Terlihat Rama dengan nafas yang tersengal-sengal sedang menatap jauh ke arah selatan.
”Hampir saja“ Gumamnya dalam hati.
Ternyata Pemuda yang mengamati Ki Ranujagat sedari tadi adalah Rama,
Dia terbangun dari tidurnya ketika merasakan sebuah energi langka yang ada dalam tubuhnya memaksanya untuk keluar dan seperti ingin menunjukan sesuatu kepada Rama.
Lantas dia pun langsung berdiri dan melesat menggunakan kecepatan cahaya menuju ke arah selatan, yang waktu itu Ki Ranujagat sedang membuka seluruh kekuatannya.
Sesampainya di sana, Rama mengamati apa yang di lakukan lelaki tua itu hingga selesai.
Dia juga merasakan adanya sebuah energi yang sama pada tubuh lelaki tua itu dengan dirinya.
Energi yang ada pada tubuhnya pun seperti ingin keluar dan bergabung dengan energi yang di keluarkan lelaki tua itu.
Akan tetapi Rama masih dapat menahannya, dan berkata di dalam hati bahwa nanti dia akan mencari lelaki tua itu, dan seakan mengerti akan keinginan pemiliknya, energi itu kembali tenang dalam tubuh Rama.
Sehingga hampir saja dia tertangkap oleh mata Ki Ranujagat ketika dia akan menghilang, Namun beruntung Rama telah menyadarinya dahulu dan melesat pergi meninggalkan tempat itu.
”Tuan.” Suara seorang gadis bernama Putri Ana yang menyadarkan Rama dari lamunan.
Rama yang mendengar itu pun sedikit kaget, dan membalikan badannya untuk melihat siapa yang berbicara kepadanya.
”Ka-kamu.? apa yang kamu lakukan di sini? kembalilah tidur bersama bibi Hasa.” jawab Rama yang sedikit terlihat kikuk karena melihat sebuah kecantikan dan keindahan pada wajah dan tubuh gadis itu.
”A-aku terbangun tuan,“ jawabnya dengan raut wajah malu.
”Jika begitu maka tidurlah kembali sebelum mentari terbit, agar tubuhmu kembali pulih dengan baik.” ungkap Rama dengan lembut, hingga membuat Putri Ana menunduk malu.
”Aku tidak bisa tertidur lagi tuan, aku ingin di sini menemani tuan, apakah boleh.?” jawabnya yang masih menuduk malu
”Haihh.. baiklah duduklah disini,” Jawab Rama sambil menepuk-nepuk kursi yang juga dia duduki.
Setelah itu Putri Ana pun duduk di sebelah Rama, hingga membuat jantung Rama berdebar-debar kencang begitu pun juga dengan perasaan Putri Ana.
Mereka berdua telihat sangat kaku, dan hanya berdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
***