
Rambutnya yang tadi seluruhnya berwarna putih, saat ini terlihat berganti hitam namun hanya di ujungnya saja, dan matanya yang merah semua, kini terlihat berubah menjadi biru pada bola matanya saja,
Dan sebuah zirah energinya kini terlihat muncul sebuah api berwarna warni yang menjadi satu dan membentuk sebuah bola berjumlah sesuai rantai yang mengingkatnya.
Lalu kemudian bola-bola itu menempel pada rantai-rantai yang mengikat pergelangan tubuhnya, Sehingga tak butuh waktu yang lama, Rantai itu pun melebur dan hilang menjadi cahaya secara perlahan.
Kini Raka menjadi sosok yang sangat berbeda dengan kekuatan yang berbeda, karena Rama ternyata telah meminjamkan kekuatannya.
”A-ayahh.” Gumam Raka lirih yang membuat Warta terkejut.
Dia mematung mendapati energi kegelapan milik Raka yang mampu menyatu dengan kelima energi langka yang ada pada tubuh Rama.
Karena bahkan Dewa Wasa dan dirinya pun tidak mampu menyatukannya.
Mereka berdua memang pernah mencoba, akan tetapi berakhir dengan Warta yang malah hampir mati.
Dewa Wasa yang tak sanggup melihat Warta menderita pun akhirnya mengorbankan salah satu energinya untuk membatalkan proses penyatuan itu, hingga akhirnya membuat Warta kembali pulih kembali.
Kini akhirnya terdengar suara Dewa Wasa yang menyadarkannya.
”Wooeee sialan, cepatlah selesaikan ini, aku ingin segera menemui guru. cepat selesaikan.” teriak Dewa Wasa di dalam pikirannya.
Suara itu akhirnya menyadarkan dirinya, dan menjawab panggilan dari putranya itu.
”A-anakku.. kemarilah.” jawabnya sembari merentangkan tangannya.
Namun tanpa Warta duga, ternyata Raka malah melancarkan sebuah serangan energi dari jarinya.
Raka menjulurkan jarinya menunjuk ke arah depan dan saat itu juga muncul sebuah cahaya berwarna coklat kebiruan yang sangat cepat meluncur ke arah kepala Warta.
”Siall.. jika kau biarkan cahaya itu mengenaimu, aku akan hancur brengsek, minggirlah.” maki Dewa Wasa di dalam pikiran Warta dan langsung mengambil alih tubuhnya kembali.
Hingga tiba-tiba saja muncul sebuah kipas yang sudah terlapisi energi di tangannya.
Entah bagaimana cara Dewa Wasa memanggil kipas itu, yang mana beberapa detik yang lalu kipas itu masih melayang-layang di luar segel.
Dia pun langsung menutupi keningnya dengan kipas itu mengakibatkan cahaya yang di luncurkan oleh Raka pun terhisap masuk kedalam kipas itu.
Setelah merasa bahwa cahaya itu menghilang akhirnya dia menurunkan kipasnya.
Dan tepat di hadapannya kini, tubuh Raka telah tak sadarkan diri dan sedang meluncur terjatuh menuju daratan.
Melihat itu, Dewa Wasa pun akhirnya melesat cepat menyambar tubuh putranya dan dengan mudahnya dia melewati sebuah segel tingkat tinggi yang di buat oleh Ki Ranujagat dan yang lainnya.
Hal itu membuat semua orang yang membuat segel lagi-lagi harus terkejut, dan hampir pingsan.
Glekk..!!
”Manusia macam apa sebenarnya dia.” Gumam Maha Dewa Jaya yang melihat sosok Dewa Wasa seperti monster, karena dengan mudahnya dia keluar dari sebuah segel tingkat tinggi.
__ADS_1
Setelah Dewa Wasa keluar dari segel, itu menandakan bahwa pertempuran mereka telah usai, dan di menangkan oleh Dewa Wasa beserta Warta.
Sehingga pada akhirnya Ki Ranujagat dan yang lainnya menarik kembali energi mereka hingga membuat kubah perisai lenyap dan memperlihatkan daratan yang sangat kacau akibat pertempuran ayah dan anak itu.
Melihat Dewa Wasa yang sedang menggendong tubuh Rama, akhirnya Ki Ranujagat dan kakak-kakaknya melesat turun menghampirinya berikut juga dengan Sona yang sudah kembali di wujudnya semula.
Sedangkan di istana awan, Panglima Naju dan teman-temannya yang melihat pertempuran itu sepertinya sudah berakhir, akhirnya kembali turun serta membawa semua penduduk desa yang telah di ungsikannya.
Panglima Naju membuat sebuah awan yang sangat besar untuk membawa para penduduk naik maupun turun.
Sesampainya di daratan, Panglima Naju menyuruh prajuritnya untuk memperbaiki beberapa rumah dan bangunan yang telah roboh, dan setelah itu dirinya beserta teman-temannya melesat cepat menuju kediaman Ki Ranujagat.
Singkat cerita kini semua orang sudah berada di dalam rumah Ki Ranujagat.
Mereka semua sedang bingung karena melihat Rama yang tak kunjung sadar.
Bahkan Dewa Wasa juga tidak sanggup memulihkan Rama dengan semua energi yang ada di dalam tubuhnya.
Padahal kini terlihat tubuh Rama yang semakin lama semakin memburuk.
Mereka semua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Rama, padahal sebelum tubuh Rama terjatuh, Rama masih dalam keadaan yang sangat sehat, bahkan kekuatannya masih stabil.
Namun ketika semua orang sedang kebingungan dan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara wanita yang di ikuti sebuah tangisan yang sangat keras sedang memanggil Rama dan berlari ke arah Rama.
Dia adalah Putri Ana, dia berlari menuju tempat Rama terbaring dan tanpa rasa malu langsung memeluk tubuh Rama dengan mengungkapkan semua perasaannya.
Dia berteriak dan menangis sekencang kencangnya di tubuh Rama, Sehingga tanpa dia sadari, dirinya telah membuka sebuah energi langka yang telah lama tersegel dalam tubuhnya.
Seperti apa yang di katakan Batara Graha waktu pertama kali dulu, bahwa Putri Ana memiliki sebuah energi yang sangat langka, dan suatu saat itu akan membantu Bibi Hasa dan rombongannya.
~
Dan ternyata energi itu adalah energi berwarna hijau ke emasan yang berarti adalah sebuah energi untuk pengobatan.
Mengapa energi itu terbilang langka, karena energi itu mampu menyerap energi alam dan energi semesta secara bersamaan.
Selama ini yang mengetahuinya hanyalah Batara Graha saja, karena di saat dirinya berada dalam tubuh Putri Ana, Energi semestanya mampu di kendalikan dengan cepat dan bahkan langsung patuh kepada pemiliknya.
Kembali di dalam kediaman Ki Ranujagat.
Putri Ana yang menangis dari tadi tak sadar bahwa dirinya mulai mengeluarkan sebuah energi berwarna hijau keemasan dari tubuhnya yang langsung merambat melapisi tubuh Rama.
Kejadian itu membuat semua orang terkejut, mereka tidak tahu akan energi apa yang muncul dari tubuh Putri Ana.
Namun berbeda dengan Maha Dewa Fatir dan Dewa Wasa, yang mana saat ini di sana hanya mereka yang mengetahui akan energi apa itu.
Dia menggumamkan beberapa patah kata yang mampu di dengar oleh Dewa Wasa.
__ADS_1
”Energi pengobatan, dan hanya di miliki oleh seorang Dewi sakti yang menurut kabar berita, Dia tinggal di sebuah Alam yang memiliki ratusan semesta.“
Dewa Wasa yang mendengar itu hanya terdiam dan mencernanya, karena dia seperti teringat sosok Dewi saat melihat energi yang muncul itu.
”Benar, Maha Dewi Riri.” gumamnya yang juga di dengar oleh Maha Dewa Fatir, yang akhirnya membuat mereka saling menatap dan mengangguk secara bersamaan.
Hal itu menandakan bahwa Dewa Wasa ternyata pernah bertemu dengan sosok Maha Dewi Riri.
Di saat Maha Dewa Fatir dan Dewa Wasa saling berbisik, begitu pula dengan semua orang yang masih tegang.
Kini tiba-tiba muncul suara yang sangat akrab dari arah Putri Ana, yang akhirnya membuat mereka semua langsung menatap Rama yang berada di balik pelukan Putri Ana.
”Pu-Putri..” ungkapnya lirih sambil mengangkat tangan kirinya untuk mengusap kepala Putri Ana.
”Putri, terimakasih telah menyembuhkanku, tapi kumohon lepaskan dulu pelukanmu, aku merasa ada yang aneh pada perutku, seperti tertimpa sebuah dua batu yang besar.“ lanjut Rama lemas dengan senyum bodohnya.
Sontak saja semua orang yang mendegar itu pun terbelalak kaget, hingga membuat mereka terjatuh kebelakang dengan tatapan mata yang bodoh dan aneh.
Dewa Wasa pun yang mendengar itu, langsung mengernyitkan keningnya dengan tatapan yang aneh juga.
Namun di sisi Putri Ana, dia sungguh benar-benar di buat malu oleh Rama dengan beberapa patah kata yang keluar dari mulutnya, sehingga membuat dirinya langsung berdiri dengan tatapan membunuh ke arah Rama.
Setelah itu pun energi hijau yang keluar dari dalam tubuhnya pun kini berganti dengan energi semesta yang berwarna merah.
Tanpa berpikir panjang, dia pun berteriak dan menendang tubuh Rama yang masih terkapar lemas dengan begitu kuat.
”Kaanndaaaaa.”
Bhuughh..!!!
Heuugghh...
”Aaa..aaaa..!!!” teriak Rama.
Rama yang mendapat perlakuan seperti itu dari Putri Ana pun hanya tersenyum bodoh, tanpa memperdulikan dirinya yang masih terkapar lemas.
Dia kini terbang meluncur menghancurkan dinding bangunan Ki Ranujagat dan menuju ke arah hutan hingga menabrak sebuah batuan yang sangat besar.
”Ka-kanda, maafkan aku.” gumam Putri Ana yang di ikuti dengan menghilangnya dirinya untuk menyusul tubuh Rama.
Perlakuan Putri Ana kepada Rama pun membuat semua orang lagi-lagi terkejut hingga terjengkang kebelakang kembali, bahkan saat ini Dewa Wasa pun melakukan hal yang sama.
”Wanita jika sudah marah memang seperti itu, seperti monster.” gumam Rangga lirih, namun mampu di dengar oleh kekasihnya, sehingga pada akhirnya dia pun ikut terkena tendangan dari kekasihnya dan terbang meluncur menyusul tubuh Rama.
Ki Ranujagat yang melihat itu hanya mampu menghela nafas dan terduduk lemas.
Dia hanya menggelengkan kepalanya karena melihat perlakuan Putri Ana kepada Rama yang mana hampir sama seperti perlakuan dari Dewi Keadilan kepada Dewa Wasa dahulu.
”Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Dia sama saja bodoh seperti ayahnya.. huuhhhh.!!” gumam Ki Ranujagat lirih namun masih bisa di dengar oleh Dewa Wasa.
__ADS_1
Membuat Dewa Wasa hanya mampu tersenyum bodoh dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
***