RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 31 Memulai Perjalanan (PDPS)


__ADS_3

Beberapa tarikan nafas kemudian Rama akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


”Sebenarnya siapakah dirimu Putri.” ungkap Rama canggung yang hanya menatap ke arah depan.


”A-aku hanya manusia biasa seperti tuan, untuk asal usulku sendiri, Paman Batara sudah memberitahunya.” jawab Putri Ana dengan lembut.


”Jadi kalian sudah saling terhubung.” Tanya Rama penasaran.


”Iya tuan, sebelum paman Batara pergi, dia meninggalkan sebuah ingatan masalaluku, dan dia juga memberiku sebuah mantra untuk memanggilnya jika sewaktu waktu aku membutuhkan bantuan.” jawab Putri Ana yang sudah berani mengangkat wajahnya.


Namun ketika dia mencoba melihat Rama, dia kembali tertunduk malu, karena ketampanan Rama sungguh membuat jantungnya berdebar kencang.


”Jadi begitu, apakah aku boleh tahu bagaimana kau bisa sampai di sini ?” Ungkap Rama dengan lembut.


“Boleh tuan, akan sedikit ku ceritakan.” jawab Putri Ana.


Setelah itu, Putri Ana menceritakan beberapa hal yang perlu di ketahui saja kepada Rama.


Dia bercerita sedikit dengan menggunakan emosinya, hingga membuatnya meneteskan sedikit airmata, sehingga hal itu di sadari oleh Rama.


Rama pun dengan berat hati dan menahan rasa malunya menjulurkan tangannya untuk mengusap air mata yang jatuh itu.


Namun tanpa Rama duga Putri Ana ternyata malah langsung memeluknya erat dan menangis keras dalam pelukan Rama.


Hal itu membuat Rama bingung harus bagaimana, hingga pada akhirnya membuat sosok Rangga dan Bibi Hasa terbangun dan berlari menuju ke arah sumber tangisan.


Ketika sesampainya di sana, Rangga dan Bibi Hasa terbelalak kaget melihat apa yang sedang terjadi di depan mata mereka.


”A—apa yang sedang mereka lakukan dinda?” tanya Rangga bingung


”Aku juga tidak tahu kanda, tapi sepertinya Putri Ana sedang dalam keadaan hati yang tidak baik, biarkan saja dulu kanda.” jawab Bibi Hasa lembut kepada kekasihnya.


”Ta-ta—tapi, lihatlah Rama itu, mengapa dia seperti itu, haiiihhh.. sungguh bodoh sekali bocah itu” ungkap Rangga dengan wajahnya yang terlihat aneh.


”Hehehe, Kau harus ingat kanda, Rama kini baru menginjak umur 15 tahun, dia masih kecil dan belum pernah merasakan seperti itu, jadi biarkanlah saja,“ jawab kekasihnya.


”Benar juga, aku lupa dinda, tapii mengapa dia tidak membalasnya, baiklah biarkan aku mengajarinya.” ungkap Rangga yang membuat kekasihnya tiba-tiba menjewer telinganya.


”A-aw—aw—aww.. lepaskan dinda, sakit sekali, ku mohon lepaskan dinda, aw-a—a-a..” Teriak Rangga yang  membuat Rama dan Putri Ana tersadar bahwa mereka sudah di lihat oleh paman dan bibinya.


Sontak dia pun melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Putri Ana, kini dia kembali menundukan wajahnya karena sangat malu.


”Dasarr laki-laki brengsekk.. akan ku pukul lagi kau, coba katakan lagi kau ingin apa? ha? kau ingin mengajari memeluknya? ha?” teriak bibi Hasa kepada Rangga yang di ikuti oleh sebuah energi yang keluar dari tubuhnya.


Glek.!!!


”Bu-bu-bukan, be-bebegitu dinda, ampunii aku dinda, redamlah amarahmu, lihatlah mereka menatapmu aneh.” ujar Rangga dengan ketakutan dan memegangi kepalanya serta menggunakan badannya untuk menunjuk ke arah Rama.


Bibi Hasa yang mendengar itu pun lantas menengok ke arah Rama dan Putri Ana yang di akhirnya dengan senyum bodohnya, sehingga membuat energinya kembali hilang masuk dalam tubuhnya.

__ADS_1


”Huuhhh..huh-huh-huhh.. untung saja.” gumam Rangga yang kemudian mendapat tatapan tajam lagi dari kekasihnya, hingga membuatnya langsung memalingkan wajahnya.


“Hehehe, maafkan bibi, telah mengganggu kalian berdua.” ucap bibi Hasa sembari menyeret tubuh kekasihnya masuk ke dalam rumah.


Hal itu pun membuat Rama dan Putri Ana kembali tertawa melupakan kesedihannya.


Setelah bibi dan pamannya pergi, akhirnya Putra Ana bercerita kembali kepada Rama, hingga tak terasa pagi pun dengan cepat tiba.


***


Singkat cerita mereka ber empat yaitu Rama,Rangga, Bibi Hasa dan Putri Ana menghabiskan hari-harinya dengan berlatih, membangun rumah, dan berkebun.


Mereka juga membuat sebuah pagar pada mata air yang biasa sering Rama kunjungi.


Tak terasa lima tahun pun telah berlalu.


Rama kini mampu menguasi beberapa teknik jurus tingkat tinggi, dan juga mampu menguasai 6 energi yang ada pada tubuhnya.


Tak lupa juga dengan Putri Ana, Bibi Hasa dan Rangga juga melatihnya agar mampu menjadi pendekar yang kuat.


Dan ternyata hanya dalam waktu lima tahun saja Putri Ana mampu menguasai beberapa teknik jurus tingkat tinggi.


Hal itu membuat Bibi Hasa dan Rangga sedikit terkejut dan menebak-nebak bahwa sepertinya Putri Ana adalah anak turun dari sosok Dewa yang sakti juga.


Karena menurutnya untuk menguasai teknik jurus tingkat tinggi itu memakan waktu puluhan tahun, namun untuk Putri Ana hanya membutuhkan waktu lima tahun saja.


Itu mengingatkannya kepada Rama yang juga sangat cepat sekali menguasai energi beserta jurus-jurus tingkat tinggi.


”Iya paman, aku pernah melihat ada prajurit dan seorang sakti di daerah selatan sana,” ungkap Rama.


”Kapan kamu melihatnya?” jawab Rangga dengan cepat.


”Lima tahun lalu ketika Putri Ana memelukku dan terlihat oleh kalian paman.” jawab Rama dengan senyum bodohnya sambil menggaruk kepalanya.


Mendengar jawaban dari Rama, Rangga dan Bibi Hasa pun sampai terjatuh kebelakang secara bersamaan dengan raut wajah yang aneh karena saking terkejutnya.


Sedangkan disisi lain, Putri Ana yang mendengar itu pun juga merasa malu dan menundukan kepalanya, karena mengingat waktu itu saat dirinya baru pertama kali bersama mereka.


“Me-mengapa kau tidak katakan sedari dulu bocah? sial!! huuhhhh…” teriak Rangga yang kemudian terduduk lemas mengingat kelakuan bodoh dari Rama.


Melihat itu, Bibi Hasa pun lantas menenangkan kekasihnya.


”Sudahlah kanda, mungkin waktu itu Rama lupa untuk memberitahu kita, sekarang beristirahatlah kanda, besok kita akan memulai perjalanan,” Ungkap bibi hasa lembut kepada kekasihnya.


”Dan untuk kalian, Rama dan Putri Ana, segeralah beristirahat, karena kita mulai besok akan melakukan perjalanan yang sangat panjang” lanjutnya kepada Rama dan Putri Ana.


”Baik bibi.” jawab kedua orang itu secara bersamaan, lalu kemudian mereka menuju kamar masing-masing.


”Haiihh..aku harus sedikit lebih keras kepada mereka berdua.” gumamnya dalam hati, lalu kemudian dia juga bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


Saat itu, waktu memang masih menunjukan sore hari, namun karena mereka berempat akan melakukan sebuah perjalanan yang panjang, maka mereka memutuskan untuk beristirahat lebih awal.


Singkat cerita, pagi pun menjelang datang, dan terlihat ada empat sosok yang sedang berdiri di belakang rumah.


Mereka berempat telah bersiap untuk melesat pergi menuju arah selatan.


”Baiklah mari kita berangkat semua.” Teriak Rama yang melesat terlebih dahulu, karena hanya dia yang tahu akan tempat yang akan mereka tuju.


Lalu kemudian di ikuti oleh Putri Ana, Bibi Hasa, dan yang terakhir adalah Rangga.


Mereka melesat cepat bagaikan pantulan cahaya berwarna warni yang indah.


Menurut perkiraan Rama, jika mereka menggunakan kecepatan seperti ini, kemungkinan akan sampai pada malam hari.


akhirnya mereka berempat pun memutuskan untuk mempercepat lagi laju mereka, agar segera sampai di tempat tujuan.


Singkatnya, karena di perjalanan mereka tidak menemukan sebuah halangan, maka mereka kini sudah sampai di tempat Rama saat mengamati sosok lelaki tua .


”Di sini Paman, tempat ini terdapat segel yang sangat kuat, apakah kalian bisa membukanya.” ungkap Rama.


”Serahkan kepadaku Rama.” jawab Rangga dengan sombongnya.


Namun ketika dia mencoba menjebol segel itu, yang ada malah mendapati dirinya terpental dan terbakar oleh energi pada segel itu.


Bibi Hasa dan Rama yang melihat itu pun saling berpandangan dan menggumamkan sebuah nama secara bersamaan.


”Putri Ana..?” ungkap mereka berdua dan menatap Putri Ana secara Bersamaan.


Melihat kelakuan bibinya dan juga Rama, Putri Ana tahu akan maksud dari tatapan itu.


Dia pun akhirnya turun dan menyuruh Rangga untuk kembali, karena Putri Ana akan membuka sedikit kekutannya.


Setelah Rangga kembali, akhirnya Putri Ana membuka sedikit energinya, dan merapal sebuah mantra pemberian dari Batara Graha.


Dan tak berselang lama, akhirnya segel yang menutupi tempat itu pun berhasil terbuka dan menghilang.


”Berhasil.. kau hebat Putri.” teriak Rama dengan menjulurkan ibu jarinya dan segera melesat turun.


Ketika berada di bawah mereka melihat sebuah batu seukuran manusia dengan lubang yang tidak ada isinya.


”Mereka menuju ke arah sana paman.” teriak Putri Ana tiba-tiba karena mendapati sebuah jejak kaki yang belum hilang karena tempat itu tertup rapat dengan segel.


Setelah itu mereka pun langsung melesat lagi mengikuti arah jejak kaki, meskipun jejak kaki itu hanya sedikit, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk memberi petunjuk kepada mereka.


**


Di sisi lain di sebuah rumah yang sangat sederhana dan terbuat dari kayu-kayu yang di tumpuk rapih, di dalamnya terdapat seorang lelaki tua.


Dia terlihat sedang menutup matanya, dan sedikit bergumam.

__ADS_1


”I-inii.. Grahaaa.. sialan kau makhluk tua brengsek, kau bahkan tak memberitahuku jika berkunjung ke bumi.” gumamnya lirih dengan di iringi sebuah senyum bahagia.


***


__ADS_2