
Kini telah terlihat sebuah segel yang sangat amat kuat, mengurung sosok Rama dan Dewa Wasa di dalamnya.
Namun masih dengan sikap yang waspada, mereka berempat masih berada di posisi masing-masing, guna untuk menahan sebuah efek ledakan yang mungkin bisa saja menghancurkan perisai mereka.
Di dalam sebuah perisai segel yang amat sangat kuat itu, kini terdapat dua sosok makhluk yang sangat berbeda sedang saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang sangat tajam.
Mereka berdua terlihat mengeluarkan sebuah senyuman licik yang sama-sama mengerikan.
Tidak ada sepatah kata pun yang leluar dari mulut mereka, namun meskipun begitu, mereka saat ini sedang beradu sebuah energi.
Dari jarak yang lumayan jauh, mereka hanya berdiri diam dan saling menatap, namun dari tubuh mereka terlihat sebuah energi yang keluar dan semakin lama energi mereka semakin besar dan mengakibatkan sebuah benturan energi yang sangat dahsyat.
Hal itu mengakibatkan sebuah getaran yang sangat hebat di daratan, bahkan ada beberapa rumah warga yang sudah ambruk terkena getaran itu, karena saking kuatnya.
Untung saja Panglima Naju dan yang lainnya sudah mengevakuasi semua orang.
Dia membawa semua orang pergi ke istana awan, dan membuat segel di sekelilingnya yang di bantu oleh Rangga dan teman-temannya.
Sontak saja semua penduduk desa yang saat ini berada di tempat itu hanya mampu terkejut dan kagum akan keindahan istana awan.
Mereka semua tidak pernah mengira bahwa Ki Ranujagat pendiri desa Sahda memiliki istana yang sangay indah seperti itu.
“Sungguh energi yang sangat mengerikan,.” Gumam Panglima Naju yang di setujui sebuah anggukan dari Rangga dan teman-teman.
Sedangkan di daratan kini masih terlihat sosok Rama yang menjelma menjadi Raka, dan Sosok Dewa Wasa yang menjelma menjadi Warta.
Pertarungan sebuah energi yang keluar dari tubuh mereka kini terlihat sedikit demi sedikit menghilang, hingga pada akhirnya membuat energi itu kembali menyelimuti tubuh masing-masing.
Dan tanpa sepatah kata pun, akhirnya mereka berdua saling melesat maju untuk menyerang.
Warta yang tadinya tidak memiliki senjata pun, kini terlihat sudah memegang pedang energi berwarna hitam pekat yang di lapisi dengan api berwarna ungu.
Dan di sisi Raka, dia kini juga telah memegang sebuah tombak berwarna hitam keemasan.
Dhuuaarrr..!!
Trangg..
Trangg..
Akhirnya pertarungan jarak dekat pun terjadi di ketinggian.
Di awali dengan pedang milik Warta yang menangkis Tombak milik Raka hingga menciptakan percikan bunga api yang cukup besar.
Trang..
Treng..
Trang..
__ADS_1
Trang..
Suara benturan dua senjata yang terbentuk dari energi itu memilik kekerasan yang hampir sama dengan sebuah besi baja sehingga di setiap benturannya mengakibatkan suara yang sangat nyaring.
”Tombak seribu alam kematian.”
Teriak Raka yang saat ini sedang mengambil jarak karena menghindari sebuah tebasan pedang dari Warta.
Setelah itu tombaknya terbelah menjadi ribuan dan berputar cepat hingga membentuk tornado yang meluncur cepat menuju Warta.
“Pedang Neraka.” Teriaknya sembari melemparkan pedang itu menuju ke arah tombak.
Dan setelah pedang itu di lemparkannya, pedang itu pun berubah wujud menjadi sebuah tameng yang di lapisi dengan ribuan pisau.
Lalu kemudian pedang yang sudah berubah menjadi tameng itu berputar berlawanan arah dengan cepat hingga mengakibatkan pisau-pisau yang ada langsung meluncur menghadang ribuan tombak milik Raka.
Di sisi lain, Ki Ranujagat dan yang lainnya sungguh merasakan sebuah ketakutan yang amat besar, karena di samping energinya yang semakin menipis karena membuat segel, mereka semua juga merasa ngeri dengan jurus-jurus yang di keluarkan oleh sosok ayah dan anak itu.
~
”Pertarungan macam apa ini, aku sungguh di buat kecil di hadapannya.” Gumam Maha Dewa Fatir yang selalu mengamati mereka di balik segel.
Brusshhhh…
Dhuaarrr...
Bahkan efek dari ledakan energi itu mampu membuat retakan tipis pada perisai milik Ki Ranujagat dan yang lainnya.
Yang menandakan bahwa mereka berdua memang bertarung dengan serius.
Setelah suara benturan dan ledakan itu terjadi, tanpa mengambil nafas lagi, mereka berdua pun kembali melesat lagi tanpa memperdulikan sebuah efek ledakan yang baru saja mereka ciptakan.
Seakan-akan ledakan itu bukan berarti apa-apa bagi mereka.
Akan tetapi kini pertarungan itu terlihat berbeda, karena saat ini mereka bertarung dengan tangan kosong.
Raka terlihat menyeringai lebar saat mengayunkan sebuah tendangan yang di tujukan ke arah rusuk kiri lawannya.
Warta yang cukup waspada pun akhirnya mampu merasakan sebuah tekanan dari arah kirinya, dia mencoba menghindar dengan menyeret tubuhnya kebelakang.
Namun tanpa dia sadari, ternyata Raka memang sengaja melakukan itu untuk mengelabuhi lawannya.
Lalu kemudian Raka malah menendang angin dengan sangat cepat hingga membuat tubuhnya berputar cepat 360 derajat, dan kini berganti tangannya yang meluncurkan sebuah tinjuan menuju ke arah kepala lawannya dengan cepat.
Warta yang melihat itu pun tak sanggup menghindarinya lagi, namun terlihat sedikit ada senyuman di bibirnya,
Dhuuarrr..!!!
Booommss...
__ADS_1
Sebuah ledakan yang sangat keras kembali terjadi.
Warta dengan telak terkena pukulan energi milik Raka di kepala bagian atasnya dan menciptakan sebuah ledakan.
Hingga kini membuat tubuhnya meluncur cepat terjun kebawah.
”Dirimu sudah berkembang sangat cepat nak. Baiklah, terima ini.” gumamnya dalam hati yang di ikuti sebuah seringai pada bibirnya
”Halimun cahya. Rantai jiwa nirwana keluarlah.”
Di sisi Raka, Tendangannya yang sudah mengenai kepala lawannya dengan telak, langsung mengambil langkah mundur sedikit menjauh, dan melihat tubuh lawannya yang meluncur cepat menuju daratan.
Namun tiba-tiba saja dirinya terkejut karena tidak bisa bergerak.
Setelah beberapa tarikan nafas, dia akhirnya mampu merasakan bahwa energi dan kekuatannya berkurang menipis secara cepat.
Setelah mengamatinya, ternyata di tangan dan semua tubuhnya terdapat beberapa rantai yang sudah melilit setiap pergelangannya, dia baru tersadar, bahwa dirinya sudah terkena segel oleh Jurus milik Warta.
Rantai itu tiba-tiba saja sudah muncul di berbagai pergelangan pada tubuh milik Raka dan membuat dirinya seperti boneka tergantung.
Warta yang melihat jurusnya sudah berhasil, akhirnya dia merubah tubunya menjadi sebuah asap dan muncul kembali di depan Raka.
Meskipun memiliki aura dan wujud yang sangat mengerikan, Dia juga memiliki hati yang lembut selayaknya Dewa Wasa.
Lantas dia pun langsung berbicara kepada Raka dengan lembut.
“Putraku.. kau telah berkembang dengan cepat, ayah bangga kepadamu.” ungkap Warta dengan suara parau.
Raka yang mendengar itu hanya mampu menatap ayahnya dengan lemas.
”Namun kau melupakan sesuatu yang seharusnya kau jaga, yaitu kau selalu menyombongkan diri dengan kekuatanmu.” lanjut ungkap Warta.
Dheegg..!!!
Suara detak jantung Raka yang tiba-tiba berhenti setelah mendengar perkataan dari ayahnya.
Dia pun akhirnya teringat ketika dirinya sedang melawan Rama dengan kesombongannya yang akhirnya malah membuatnya terluka sendiri.
Dia juga teringat akan apa yang pernah di bicarakan oleh Rama, bahwa dirinya selalu saja merasa sombong.
Ingatan-ingatan itu pun akhirnya menimbulkan sebuah rasa penyesalan yang saat ini ternyata Rama juga merasakannya.
Di sisi lain, Rama terlihat sedang duduk bersila dengan menutup mata di dalam pikirannya.
Lalu kemudian dia membuka matanya sehingga membuat tubuh Raka yang tadinya lemas karena terkena jurus Rantai jiwa, kini kembali pulih secara perlahan.
Saat ini pun terlihat ada perubahan yang benar-benar berbeda dan dapat di lihat oleh mata semua orang.
***
__ADS_1