RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 43 Kemunculan Sosok Kekasih Masalalu (PDPS)


__ADS_3

Tanpa terasa mereka melewati hari dengan begitu cepatnya.


Rama kini sudah pulih seutuhnya, begitupun keadaan kampung sahda yang sudah di perbaiki semua.


Di sore hari, kini terlihat Dewa Wasa yang sedang berdiri dari sebuah penghormatannya kepada gurunya, di tempat itu terdapat juga Maha Dewa Fatir dan juga Maha Dewa Jaya yang berada di belakangnya.


Tampak ada 4 orang yang sedang berkumpul di dalam kediaman Ki Ranujagat yang sedang menunggu sebuah penjelasan darinya.


Kini juga terlihat Rama dan juga rombongannya yang sedang berjalan menuju kediaman Ki Ranujagat.


Tak berselang lama mereka pun akhirnya sampai juga di rumah itu, dan ikut bergabung dengan Dewa Wasa bersama yang lainnya.


Setelah semua terduduk rapih melingkar, Ki Ranujagat akhirnya membuka suara untuk memulai obrolannya.


”Sebenarnya saat ini bukanlah sebuah pertemuan untuk kalian semua, namun karena kalian ada keterkaitannya dengan Wasa, maka aku perbolehkan untuk ikut dalam pertemuan ini.” ungkap Ki Ranujagat, lalu kemudian dia langsung melanjutkan pembicaraannya.


”Baiklah ini adalah pembicaraan khusus kepada Wasa, jadi kalian kumohon mendengarkannya saja dulu, dan jangan menyela.” lanjutnya tegas.


”Wasa, apa yang membuatmu datang kemari secara tiba-tiba.?“ tanya Ki Ranujagat sembari menatap tajam ke arah Dewa Wasa.


Dewa Wasa hanya mampu menunduk mendengar pertanyaan itu dan menjawabnya dengan adanya sedikit ketakutan karena ingin meminta sesuatu yang berharga dan berbahaya dari Gurunya.


”A-anu Guru.. sebenarnya tujuanku datang kemari untuk mengambil Bunga Semesta yang telah guru simpan.” Jawab Dewa Wasa yang masih menundukan kepalanya.


Hal itu membuat semua orang di sana mengernyitkan dahinya karena mendengar jawaban dari Dewa Wasa tersebut.


Akan tetapi ekspresi terkejut muncul pada wajah Maha Dewa Jaya, dia terkejut dan penasaran tentang Bunga Semesta itu, namun karena adiknya melarang semua yang ada di sana untuk tidak menyela omongannya, maka dia hanya mampu menahan rasa penasarannya untuk menghormati adiknya.


Sedangkan Ki Ranujagat sendiri sedikit mengernyitkan keningnya, namun tak berselang lama, dia langsung mengeluarkan Bunga Semesta dari sebuah kekosongan.


”Apakah Bunga ini yang kau maksud muridku.?“ tanya Ki Ranujagat memastikan.


Setelah mendengar pernyataan dari gurunya itu, akhirnya Dewa Wasa mengangkat kepalanya untuk melihat bunga itu.


”Be-benar Guru, aku mendapat informasi ini dari Uwa Guru Satir.” jawab Dewa Wasa menjelaskan.


”Baiklah, aku juga pun sebenarnya mendapat perintah dari Maha Guru untuk memberikan bunga ini kepadamu, namun apakah kau tahu cara penggunaanya.?” jawab Ki Ranujagat.


”Murid tahu cara penggunaanya guru, aku juga tahu akan resiko jika menggunakan bunga itu.” jawab Dewa Wasa tegas, lalu sedikit melihat ke arah Rama dengan tatapan yang sedih, begitupun dengan Ki Ranujagat.


Ki Ranujagat yang mengetahui niat dari muridnya itu, bahwa bunga semesta ini akan dia gunakan untuk mengobati istrinya, maka dia langsung menyerahkannya saja.


Dewa Wasa pun langsung mengambilnya, dan menyimpannya di ruang dimensinya.


Hanya dengan sekali kibasan tangan saja, bunga itu sudah menghilang dari pandangan semua orang.


Setelah itu Ki Ranujagat pun melanjutkan pembicaraannya yang membuat semua orang di sana lagi-lagi terkejut.

__ADS_1


”Baiklah, ini mungkin sedikit lancang, tapi ini juga untuk kebaikanmu Wasa,.” ungkap Ki Ranujagat.


”Sebenarnya aku sangat berat menyerahkan bunga itu kepadamu, aku juga sebenarnya sudah tahu akan maksudmu mengambil bunga itu untuk memulihkan istrimu.” ungkap Ki Ranujagat yang membuat Rama beserta rombongannya mengernyitkan dahinya.


”Tapi aku juga tidak bisa melarangmu, itu adalah tanggung jawabmu dan juga kau sudah tahu akan resiko penggunaan bunga itu adalah mengambil setengah jiwa darimu, dan jika gagal itu akan membunuhmu sendiri.” lanjut Ki Ranujagat.


Rama yang mendengar itu pun lantas langsung saja menatap ke arah Ayahnya, yang saat ini sedang menunduk merasa serba salah.


”Namun semua sudah menjadi pilihanmu, ku harap kau bisa berhasil, alangkah baiknya kau membawa Putri Ana untuk membantumu, karena energinya mungkin akan sangat kamu butuhkan.” Lanjut Ki Ranujagat yang langsung di setujui sebuah anggukan oleh Dewa Wasa.


Setelah itu dia mengeluarkan dua larik sinar berwarna putih yang langsung di arahkan menuju kening Dewa Wasa dan juga Putri Ana.


Itu adalah sebuah ingatan tentang tata cara penggunaan Bunga Semesta.


"Terimakasih Guru." ungkap Dewa Wasa.


"Aku akan berusaha Guru." Ungkap Putri Ana.


Lalu setelah itu Ki Ranujagat membubarkan semua orang, sehingga kini yang tersisa di rumahnya hanya Dewa Wasa, kedua kakaknya dan juga sosok Rama yang tidak mau pergi dari sana.


~


”Haihh.. kau sama keras kepalanya dengan ayahmu Rama.” ungkap Ki Ranujagat lemas.


Hal itu pun membuat Dewa Wasa menggaruk kepalanya dengan sebuah senyum bodohnya.


”Guru, apakah Rama boleh ikut dengan ayah barang sebentar saja kembali ke semesta wandasukma.” lanjut Rama dengan tatapan yang memohon.


Ki Ranujagat yang mendengar permohonan dari Rama pun hanya menatapnya dan juga menatap Dewa Wasa secara bergantian.


”Hahhh. sebenarnya ini sangat berat Rama, yang mana kekuatan bunga semesta itu akan memancing beberapa musuh kita, karena selain untuk mengobati, bunga semesta adalah salah satu bunga yang sangat di cari oleh para dewa terdahulu, guna untuk membuat diri mereka kekal.” jawab Ki Ranujagat yang membuat Maha Dewa Jaya akhirnya mengerti sedikit tentang resiko dan manfaat Bunga Semesta itu.


”Jadi mengapa aku tadi bilang, jika gagal itu juga akan membunuh penggunanya itu karena jika penggunanya tidak memiliki segel yang sangat kuat, dia dapat di serang oleh dewa terdahulu dengan mudah.”lanjut Ki Ranujagat.


”Tapi semua itu ku kembalikan kepada ayahmu, apakah dia mengizinkanmu atau tidak itu sekarang adalah urusannya, bertanyalah langsung.” ungkap Ki Ranujagat sambil menatap Dewa Wasa mengisyaratkan Rama agar bertanya langsung.


”Huuhhh.. baiklah aku akan mengizinkanmu, namun bawa juga semua temanmu nak.” ungkap Dewa Wasa lemas.


”Aku juga akan ikut denganmu Wasa,” sela Maha Dewa Jaya yang membuat Dewa Wasa terkejut, apalagi Sona yang saat ini tertidur pun langsung bangun dan berdiri menatapnya dengan aneh.


”Aku juga,“ sambung Maha Dewa Fatir.


Hal itu pun malah membuat Ki Ranujagat sangat senang, karena dirinya sebenarnya ingin memohon kepada kakak-kakaknya agar membantu muridnya dan melindunginya, akan tetapi dirinya tidak berani mengungkapkannya.


Namun tanpa dia duga, ternyata kedua kakaknya malah senantiasa untuk membantu muridnya, sehingga membuat dirinya menjadi lebih lega akan keselamatan muridnya.


Bukannya Ki Ranujagat meremehkan kekuatan dari Dewa Wasa dan yang lainnya, Dia bahkan percaya bahwa Dewa Wasa mampu melawan Para Dewa Terdahulu, namun yang dia khawatirkan adalah, di saat Dewa Wasa sedang dalam keadaan lemah karena penyerapan energi dari Bunga Semesta, dia mungkin saja bisa di serang secara diam-diam oleh Para Dewa yang mengincar Bunga Semesta itu.

__ADS_1


Hal itu tentu sangat mudah untuk membunuhnya, sehingga membuat dirinya sangat khawatir.


Dan seiring berjalannya waktu, Akhirnya perbincangan itu pun selesai, setelah semua tahu akan resiko dan rintangan saat menggunakan Bunga Semesta itu.


Lalu kemudian Ki Ranujagat membubarkan semuanya, dan menyuruh mereka beristirahat dulu di sini malam ini, karena dia merasakan adanya sebuah energi dari seseorang yang ada di masalalunya sedang menuju ke arah rumahnya.


Setelah semua mengangguk setuju, mereka semua lalu menghilang menuju tempat istirahatnya masing-masing.


Ki Ranujagat yang melihat semuanya sudah pergi pun akhirnya mampu menghela nafas lega.


Sebenarnya ada beberapa hal yang tidak dia ungkapkan, karena dia takut akan membuat Rama bersedih, yang mana sebenarnya penggunaan Bunga Semesta itu ternyata adalah metode perantara saja untuk menukar sebuah jiwa dan kekuatan.


Tentu saja hal itu sudah di ketahui oleh Dewa Wasa, namum meskipun harus kehilangan semua kekuatannya, dia bersedia untuk menyembuhkan istrinya, karena dia sangat ingin hidup damai dengan keluarganya yang lengkap.


Setelah itu Ki Ranujagat pun berjalan keluar dari rumahnya dan menatap ke arah langit sambil berbicara kepada kehampaan.


“Apa yang sebenarnya kau inginkan.?” ungkapnya kepada kehampaan malam.


Namun tanpa kita duga ternyata ada sebuah suara menjawab pertanyaan Ki Ranujagat itu.


”Hihihi.. Ranu , apa kau tidak merindukanku? aku bahkan sudah hampir 500 tahun mencarimu, dan akhirnya aku menemukanmu. hihihi.” jawab sosok misterius itu.


Ki Ranujagat yang mendengar jawaban dari suara itu pun, akhirnya hanya menundukan kepalanya, dan menghela nafas.


”Sebenarnya aku juga sangat merindukanmu Asih, akan tetapi kau malah memilih jalan yang salah, itu membuatku sangat menyesali perbuatanmu.” jawab Ki Ranujagat


Setelah menjawab itu, kini terlihat Ki Ranujagat yang kembali mengangkat kepalanya, namun saat ini dengan kedua matanya yang telah terbuka, dan wujudnya yang tiba-tiba berubah menjadi sosok Dewa yang sangat tampan dengan rambut putih panjangnya.


”Hihihi..kau masih saja terlihat tampan Ranu.” jawab suara itu menggoda, lalu kemudian dia menampakan dirinya.


Ki Ranujagat tidak heran kenapa sosok bernama Asih itu mampu melewati segelnya tanpa di sadari semua orang, Karena sebenarnya Asih adalah pemilik asli dari segel yang di gunakan oleh Ki Ranujagat untuk menutupi Kampung Sahda.


Dan yang paling mengejutkan lagi adalah, ternyata Asih dan Ki Ranujagat dahulu adalah sepasang pendekar sakti yang sudah melalui ribuan peperangan bersama.


Bahkan mereka berdua pernah di juluki sebagai Sepasang Kesatria Pati, karena selalu saja ikut campur dalam berbagai perang untuk memberikan sebuah ketentraman hidup.


Namun suatu ketika Asih di hasut oleh sosok makhluk dan memutuskan hubungannya langsung dengan Ki Ranujagat, setelah itu mereka berdua berpisah dan memilih jalannya masing-masing.


Asih yang melihat mata Ki Ranujagat hanya tersenyum dan melayang turun dengan anggun.


Dia mendarat tepat di depan Ki Ranujagat dan langsung memegang pundaknya.


Hingga akhirnya membuat mata mereka saling bertatapan.


Alasan mengapa Asih tidak terpengaruh oleh mata milik Ki Ranujagat adalah karena dirinya juga memiliki mata yang sama, namun bedanya mata milik Asih lebih sempurna , yang mana mata putihnya hanya akan berfungsi jika pemiliknya menghendakinya.


***

__ADS_1


__ADS_2