RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 45 Munculnya Dewa-Dewa Kuno di Semesta Wandasukma (PDPS)


__ADS_3

”Dan yang terakhir, ku perkenalkan dia adalah Asih, kalian bisa panggil dirinya dengan sebutan Nyai, dan dia juga akan ikut dengan kalian ke Semesta Wandasukma.” ungkap Ki Ranujagat kepada semua orang yang ada di sana.


Mendengar apa yang di katakan Ki Ranujagat, Dewa Wasa pun menggangguk setuju dengan raut wajah yang sangat senang, karena dengan adanya Nyai Asih, dirinya pasti akan lebih tenang dan aman ketika nanti memulai pengobatannya.


Setelah itu Ki Ranujagat pun mengakhiri pembicaraannya dan membubarkan mereka semua.


Pada akhirnya, semua orang pun keluar dari kediaman rumah Ki Ranujagat dan bersiap untuk pergi ke semesta wandasukma.


Rangga yang melihat Dewa Wasa dan yang lainnya keluar satu persatu pun menunjukan ekspresi yang sangat senang, karena akhirnya dirinya akan segera pulang.


”Lihat, mereka sudah keluar, ayo kita pulang.. hahahha” teriak Rangga sambil menunjuk ke arah rombongan Dewa Wasa.


Setelah itu Rangga dan rombongannya pun melesat menghampiri rombongan Dewa Wasa.


Dewa Wasa yang melihat kelakuan Rangga seperti seorang anak kecil pun hanya mampu menggelengkan kepalanya dan di ikuti dengan tangannya yang menciptakan sebuah portal dimensi yang sangat besar.


”Ayo semua, kita berangkat.” Teriak Dewa Wasa, lalu dirinya masuk ke dalam portal yang langsung di susul oleh Rama dan yang lainnya.


***


Di Semesta Wandasukma.


”Adik, sepertinya kita akan kedatangan tamu.” ungkap sosok Dewa dengan rambut berwarna putih dan di keningnya terdapat ikat kepala tipis.


”Iya kak, sepertinya Wasa membawa banyak sekali orang,“ jawab sosok Dewa tampan yang memiliki mata berwarna biru indah.


Dan mereka berdua adalah Maha Dewa Tunggal yang berbicara dengan adiknya yaitu Maha Dewa Azar yang sedang berkunjung ke Istana.


Namun tak berselang lama, apa yang mereka pikirkan ternyata adalah sebuah kesalahan, yang mana beberapa detik setelah Maha Dewa Azar menjawab pertanyaan kakaknya, di ujung semesta wandasukma terlihat sedang muncul sebuah portal dimensi dan diikuti dengan keluarnya dua sosok makhluk yang mempunyai wujud selayaknya Dewa pada umumnya, namun dengan aura membunuh yang sangat pekat.


”Kakak apa benar disini tempat tujuan dari portal itu?” tanya sosok makhluk yang memiliki taring sangat panjang dan hanya memiliki tangan kiri saja.


”Aku merasakan arah tujuan dari portal itu menuju tempat ini Yasa, kita tunggu saja kedatangan mereka disini, karena aku merasakan adanya energi dari Azar di tempat ini, aku tidak mau mengejutkannya,“ jawab sosok yang di panggil kakak itu.


Mereka berdua adalah Dewa Yasa dan kakaknya adalah Dewa Lingga.


”Haihhh.. apakah kakak tidak mau menemui si brengsek itu dulu?“ ungkap Yasa kepada kakaknya.


”Aku sedang malas berdebat dengannya, tunggu di sini saja, aku merasakan adanya berbagai energi aneh dan asing sedang menuju ke tempat ini.” jawab Lingga.


”Huuhhhh.. baiklah kak, tapi apakah menurut kakak Nyai Guru ikut dengan mereka.?” lanjut tanya sang adik.


”Aku juga tidak tahu Yasa, tapi semalam aku sempat merasakan adanya energi Nyai Guru dan energi milik Paman Ranu.” jawab Lingga.


”Bersiaplah, karena yang datang sekarang bukan rombongan dari Wasa.” lanjutnya mengingatkan adiknya.


”Sudah ku duga, pasti Nyai Guru telah menemukan kediaman Paman, setelah ratusan tahun menghilang untuk mencarinya, sungguh kekuatan cinta yang hebat.” gumam Yasa sembari menggelengkan kepalanya.


Setelah itu di depan Yasa dan Lingga terlihat sebuah portal dimensi yang muncul tiba-tiba dengan di ikuti beberapa asap keluar dari portal itu.


Melihat ada yang tidak beres, Lingga pun langsung merapalkan sebuah jurus membentuk segel yang mengurung mengelilingi portal itu.


”Segel keabadian. terciptalah.” gumamnya dalam hati, yang kemudian di ikuti dengan terciptanya sebuah cahaya putih yang mengelilingi portal itu dan mengurung beberapa asap yang keluar .


“Sial, ini sepertinya akan menjadi peperangan yang tak bisa terelakkan kak. haihhh..” ungkap Yasa yang langsung di jawab anggukan oleh kakaknya.


Setelah segel pengurung itu tercipta dengan sempurna, akhirnya beberapa asap yang keluar dari portal itu pun merubah wujud mereka.


”Hahaha… ternyata sudah ada makhluk yang menunggu kita teman-teman.” Teriak salah satu sosok yang tercipta dari asap itu.


Dia memiliki tubuh yang sangat tinggi, dan memegang sebuah pedang berwarna hitam pekat yang sangat besar.

__ADS_1


Dia adalah Waruk, sosok Dewa terdahulu yang memiliki sifat tamak, dan karena merasakan adanya energi bunga semesta, dia akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya untuk mengambilnya.


”Sial, sepertinya benar, bahwa bunga itu mengandung sebuah petaka, cepatlah sampai Wasa, semestamu akan hancur jika kau terlalu lama.” gumam Lingga di dalam hati sambil menggertakan giginya.


~


Di sisi lain, di ujung semesta wandasukma yang berada di dekat istana, ternyata juga muncul dua portal dimensi.


Portal itu masing-masing memunculkan satu sosok Dewa terdahulu dengan ciri fisik yang aneh juga.


Portal yang satu memunculkan sosok Dewi bernama Fara dengan wujud yang sangat cantik dan mempesona, namun memiliki sifat yang licik dan sadis.


Sedangkan portal yang satunya lagi memunculkan sosok Dewa bernama Bangka yang memiliki wujud seperti dewa pada umumnya, namun meskipun begitu, dia adalah salah satu sosok legenda yang mungkin hanya didengar oleh segelintir makhluk saja, karena keberadaannya tidak pernah ada yang bisa menemukannya.


Namun dia juga di kenal dengan sosok Dewa yang kejam dan ambisius.


Disisi lain, di dalam istana, kini terdapat Dewa Azar, Dewa Tunggal, Gama, Amar dan Jala.


Mereka sedang berkumpul karena merasakan banyak sekali energi asing yang sedang datang ke semestanya.


”Sepertinya kau salah Adik, sepertinya mereka semua sama mengincarnya bunga semesta yang di bawa oleh Wasa.” ungkap Dewa Tunggal dengan wajah yang cukup serius.


“Sial.. sepertinya ini akan terjadi perang semesta lagi. Amar, Jala, cepat kalian bawa semua penduduk ke dunia dimensiku, karena cepat atau lambat pasti perang ini akan dimulai.” ungkap Dewa Azar yang langsung di laksanakan oleh Amar dan Jala.


”Gama, kakak, cepat ikut denganku, di dekat sini aku merasakan adanya energi yang sangat kuat,” lanjut Dewa Azar.


Setelah itu mereka bertiga pun menghilang dan muncul kembali di tempat yang sedikit jauh dari istana.


Sesampainya di sana , mereka langsung bertemu dengan Bangka dan Fara yang sepertinya mereka berdua habis melakukan sebuah kesepakatan.


Dewa Azar yang melihat mereka berdua pun hanya mampu terdiam dan belum berani bergerak, karena dirinya tidak mampu mengukur tingkat kekuatan lawan, yang berarti Bangka dan Fara adalah sosok Dewa yang memiliki tingkat kanuragan yang lebih tinggi dari dirinya.


Tentu saja hal itu adalah sebuah petaka, yang mana di semesta wandasukma, yang memiliki kekuatan tertinggi pun hanya Dewa Azar, Dewa Wasa dan Dewi Keadilan saja.


Hal itu pun membuat Dewa Azar berpikir ulang, dan harus lebih berhati-hati lagi.


Dia pun mencoba bertanya dengan baik-baik kepada Bangka.


”Mohon maaf kisanak, apakah yang kalian cari sehingga membuat kisanak berkunjung ke semesta kami.?” tanya Dewa Azar dengan sopan.


Namun ternyata lawan bicaranya hanya mengabaikannya saja, dan hanya menatapnya dengan tatapan yang tajam.


”Cihh.. sepertinya cecunguk ini akan sedikit mengganggu kita Bangka.” Ungkap Fara dengan cetus yang di ikuti dengan sebuah lirikan sadis.


”Sepertinya memang seperti itu, baiklah jika begitu maka aku akan dengan senang hati melenyapkan mereka demi kau Fara..hahaha.” jawabnya, lalu di ikuti dengan tawa yang keras.


Dewa Azar yang mendapati dirinya di abaikan, bahkan dirinya mendengar perkataan lawan yang merendahkannya pun langsung mengambil langkah sedikit mundur kebelakang dan bersiap.


”Gama, kau pergilah ke utara, karena aku merasakan adanya satu sosok lagi yang muncul di sana., disini biar aku dan kakak yang menghadapinya.” perintah Dewa Azar yang langsung di laksanakan oleh Gama.


Setelah itu sosok Gama pun langsung menghilang dan muncul kembali di jarak yang cukup jauh sebelah utara istana.


Dan benar apa kata Dewa Azar, ketika dirinya sampai, di tempat itu juga terdapat satu sosok Dewa yang baru saja muncul.


Dia menggunakan sebuah mahkota, dengan jubah berwarna emas, sehingga membuatnya terlihat sangat tampan dan bijaksana.


Sosok itu adalah salah satu sosok Dewa terdahulu juga, namun dari gelagatnya sepertinya dirinya tak memiliki niat jahat sama sekali.


Dia bernama Maha Dewa Zura dengan sebuah wajah yang sangat tampan dan tubuh yang tinggi dan tegap, hingga membuatnya terlihat gagah.


Setelah keluar dari portal dimensinya pun, dia langsung melihat ke sekeliling dan melihat Gama, namun sepertinya dia tak terlalu memperdulikannya, dan kembali melihat ke sekelilingnya lagi, seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


”Haaihhh.. setelah sekian lama, akhirnya para dewa yang tamak itu kembali muncul.” gumamnya lirih namun dapat di dengar oleh Gama.


Sehingga membuat Gama langsung mengernyitkan dahinya, dan membuatnya memberanikan diri untuk bertanya.


~


“Maaf tuan, kalau saya boleh tahu, apa yang membuat tuan Dewa berkunjung di semesta kami.?” tanya Gama dengan sopan.


Mendengar sosok yang memiliki taring itu bertanya dengan sopan, lantas Maha Dewa Zura pun sedikit tertarik dengannya, dan langsung menjawabnya dengan sopan kembali.


”Oh, aku datang kemari karena merasakan adanya energi bunga semesta yang menuju kemari anak muda, dan juga karena ada banyak sekali Dewa Kuno yang menuju kemari,“ jawab Maha Dewa Zura yang diikuti dengan senyuman.


”Baiklah tuan, dan apa yang anda inginkan dengan bunga semesta itu tuan.” tanya Gama kembali dengan sopan.


”Aku hanya ingin melindunginya dari makhluk-makhluk tamak itu, dan juga aku masih memiliki tugas yang belum selesai, yaitu menghukum para Dewa Kuno yang saat ini sedang menuju kemari, bahkan aku sudah merasakan adanya beberapa Dewa Kuno yang sudah berada di semesta ini.” jawab Maha Dewa Zura dengan jelas.


Mendengar pernyataan itu pun, Gama dapat menilai bahwa Dewa yang ada di depannya itu adalah Dewa yang baik, sehingga membuatnya tenang, sebelum akhirnya dia memperkenalkan dirinya.


”Kalau begitu, mohon maaf atas kelancangan hamba tuan, perkenalkan hamba adalah Gama,“ Ungkap Gama yang di ikuti dengan membungkukan setengah badannya.


Namun baru saja selesai memperkenalkan diri, tiba-tiba saja ada dua  portal dimensi lagi yang muncul lagi di sebelah Maha Dewa Zura.


Dan setelah beberapa detik kemudian, ada sosok makhluk dengan aura yang sangat mengerikan keluar dari salah satu portal itu, sehingga membuat Maha Dewa Zura mengernyitkan keningnya dan menghela nafasnya.


Sedangkan yang satunya lagi keluar sosok Dewa dengan wajah yang menyeramkan dan aura yang sangat mengerikan.


Namun naas nasib Dewa itu, yang mana Maha Dewa Zura yang melihat ada Dewa Kuno keluar, dia langsung menghempaskan tangan kanannya dengan ringan dan di ikuti oleh sebuah energi yang sangat amat panas menuju ke makhluk yang terakhir kali muncul, sehingga tak butuh waktu yang lama, makhluk itu langsung hancur lebur menjadi serpihan cahaya.


Hal itu pun di saksikan langsung oleh Gama, sehingga membuat dirinya gemetar ketakutan, yang mana bahkan Gama sendiri pun tidak mampu membaca tingkat kekuatan makhluk yang baru saja di hancurkan itu.


Namun sosok Dewa yang di depannya itu mampu melenyapkannya dengan mudah, Sehingga saat ini pun Gama tidak mampu lagi untuk berfikir dengan tenang, dan hanya terdiam menatap sosok makhluk yang satu lagi dengan wujud yang mengerikan hampir mirip dengan seekor beruang.


Dan ketika Gama berfikir bahwa seekor beruang itu juga akan di lenyapkan, ternyata dirinya malah di kejutkan dengan sesuatu yang mengejutkan.


”Woeee Zura, sialan kau, mengapa meninggalkanku brengsek.” teriak sosok yang menyerupai beruang itu.


”Hehehe.. aku tidak ingin kau merusak pestaku beruang sialan.” jawab Maha Dewa Zura dengan senyum bodohnya.


Hal itu membuat Gama terbelalak lebar hingga hampir terjatuh.


“Haihh.. ternyata mereka sama seperti Wasa dan Sona.” gumamnya lemas dalam hati.


Setelah itu pun, Gama memberanikan diri untuk maju dan bertanya tentang sosok beruang itu kepada Maha Dewa Zura.


”Maaf tuan, apakah makhluk itu teman dari tuan.?” tanya Gama dengan tubuh yang sedikit bergetar.


”Hahh.? oh iya, sebelumnya perkenalkan, aku adalah Zura, dan beruang busuk itu adalah Dega.” jawab Dewa Zura.


”Apa kau bilang ? kau yang busuk dasar sialan.” teriak Dega kepada Zura,


Lalu setelah itu pun, mereka berdua akhirnya malah berdebat panjang lebar, sehingga membuat Gama sedikit mundur menjauh dengan raut wajah yang sangat aneh.


***


Di sebelah istana tepatnya di tempat Dewa Azar dan Dewa Tunggal, terlihat mereka berdua yang sedang kuwalahan melawan Fara dan Bangka.


Bahkan kini terlihat Dewa Tunggal sudah terluka parah dan terkapar tak berdaya, sehingga membuat Dewa Azar mau tak mau melawan mereka berdua sendirian.


Terlihat juga wujud Dewa Azar yang sudah berubah, menjadi sosok raksasa, dan telah mengeluarkan seluruh kekuatannya.


Namun tetap saja dia bukanlah lawan dari Fara dan Bangka, yang mana kekuatan Dewa Kuno itu sudah terlampau sangat jauh, bahkan sepertinya, jika gurunya yaitu Maha Dewa Satir pun melawannya, kemungkinan juga bisa di kalahkan dengan mudah.

__ADS_1


***


__ADS_2