
Mendengar Pertanyaan dari sang ayah, Dewa Wasa pun lantas bercerita tentang beberapa pengalamannya selama berkelana melintas antar semesta dan alam raya.
Dewa Tunggal pun langsung duduk bersiap untuk mendengarkan semuanya, karena ada banyak sekali rahasia yang di simpan dan di sembunyikan oleh Dewa Wasa, dan kali ini adalah sebuah kesempatan untuk mendengar beberapa rahasia dari putranya tersebut.
Di mulai dengan sebuah cerita ketika Dewa Wasa meninggalkan Semesta Wandasukma untuk mencari seorang Dewa yang konon katanya Dia lah satu-satunya Dewa yang mampu menciptakan sebuah alam raya yang sangat luas.
Bahkan menurut cerita dari Dewa Dewa kuno yang menjadi sahabat dari Dewa Wasa Seperti Maha Dewa Gangga dan yang pernah di jumpainya, konon menurut legenda ada beberapa alam raya yang sudah Dewa itu ciptakan, bahkan tak menutup kemungkinan alam raya tirta masuk ke dalam salah satunya.
Setelah hampir puluhan tahun melalui banyak sekali alam raya dan ratusan bahkan ribuan pertempuran, akhirnya Dewa Wasa sampai pada alam yang seluruh isinya hampir berwarna Emas.
Dewa Wasa yang waktu itu baru saja keluar dari portal dimensi sangat terkejut melihat semua yang ada di depan matanya.
Bahkan setelah memasuki alam itu, dirinya seperti sebuah patung yang tidak bisa bergerak sama sekali karena sebuah tekanan yang maha tinggi yang entah berasal dari mana.
Di saat itu, hanya untuk menggerakkan jari-jari kakinya saja pun Dewa Wasa tidak mampu, dan hanya mampu bergumam sendiri.
“Sial.. memang alam yang indah, namun tekanannya sungguh membuatku mati sia-sia." Gumamnya dalam hati.
Sedangkan waktu itu Dewa Wasa sendiri sudah berada pada tingkat kekuatan yang sangat tinggi, bahkan sudah setara dengan Ki Ranujagat.
Namun di dalam alam raya yang berwarna emas itu, dirinya hanya seperti butiran debu, bahkan hanya untuk menggerakan satu jari saja dirinya tidak mampu.
Dadanya pun mulai terasa sesak, dan badannya juga sudah mulai menunjukan pemberhentian syaraf dan pembekuan darah.
Dewa Wasa hanya mampu menyesal dan menangis di dalam hatinya, dia merasa sudah sangat pasrah.
Beruntung Sona waktu itu berada di dalam dimensi Dewa Wasa untuk berlatih, sehingga dia tidak terkena dampaknya.
Namun jika pemilik dimensi itu mati, maka makhluk yang di dalamnya juga akan ikut mati dan lenyap.
“Si-si-siialll.. tekanan macam apa ini, jantungku sudah hampir meledak” gumamnya dalam hati.
Tepat di saat detik-detik darah yang memompa jantungnya sudah mulai perlahan berhenti, muncul sebuah hembusan angin yang sangat kencang hampir membentuk sebuah pusaran dan menutupi seluruh tubuh Dewa Wasa.
__ADS_1
Dengan angin itu, akhirnya Dewa Wasa bisa kembali bernafas, sehingga membuat dirinya bertanya-tanya, siapakah makhluk yang menolongnya.
Meskipun angin itu mampu menggores kulitnya namun Dewa Wasa sangat beryukur, karena angin itu memberikan sebuah kesempatan ke dua untuk hidupnya.
~
Di saat dirinya masih menerka nerka siapakah sosok yang menolongnya, tiba-tiba saja dirinya di seret oleh pusarang angin yang menutupi dirinya.
Hingga tak berselang lama, angin yang menutupi tubuhnya mulai perlahan memudar.
“Aa-aapaan ini, Sungguh tempat yang sangat indah.” Gumam Dewa Wasa setelah melihat apa yang ada di hadapan matanya.
Sebuah istana yang hanya berwarna emas, dengan sebuah jalan menuju istana berwarna emas juga.
Bahkan hampir semua tanaman, buah-buahan dan pepohonan juga berwarna emas.
Beberapa kali Dirinya mengucek matanya, namun masih saja sama, yang berarti itu semua bukanlah sebuah mimpi.
“Apa yang kau cari di Alam Raya Gandi ini anak muda?” tanya sosok asing yang belum memperlihatkan wujudnya.
Dewa Wasa yang mendengar itu pun, langsung menjawabnya.
“Aku hanya tersesat Maha Agung, Terimakasih sudah menolongku dari tekanan alam ini.” jawabnya sambil sedikit membungkukan badannya.
Meskipun belum melihat wujudnya, tapi Dewa Wasa paham sekali akan suara siapa itu, karena dirinya memiliki bekal pengalaman yang sangat banyak.
Di balik sebuah tabir transparan, sosok makhluk yang mengajak Dewa Wasa berbicara tersebut, terlihat tersenyum seperti telah menemukan apa yang selama ini dirinya cari.
Dengan begitu sosok makhluk tersebut akhirnya menampakan dirinya di hadapan Dewa Wasa, yang sudah merubah ukuran tubuhnya menjadi setara dengan Dewa Wasa.
“Jangan risau anak muda, kau boleh memperkenalkan dirimu terlebih dahulu ” ungkapnya setelah muncul di hadapan Dewa Wasa.
“Baik Baginda Maha Agung, namaku adalah Wasa, aku hanyalah manusia biasa baginda.” jawabnya.
__ADS_1
“Hahaha.. aku suka dengan tata kramamu anak muda, baiklah, aku adalah Hyangjiwa, Pemilik Semesta Dula yang ada di alam Raya Gandi ini, Kau bisa memanggilku Sang Hyangjiwa” Jawabnya sembari tertawa.
“Baiklah Sang Hyangjiwa.”
Di mulai dari situlah Dewa Wasa memiliki sebuah kekuatan asing lagi di dalam tubuhnya.
Dewa Wasa cukup lama tinggal di Semesta Dula, dan dirinya di berikan banyak sekali ilmu, jurus, dan segel oleh Sang Hyangjiwa.
Bahkan dari situlah Dewa Wasa memiliki sahabat yang saat ini bersamanya di semesta Wandasukma, yaitu Maha Dewa Zura yang ternyata adalah putra ke-2 dari Sang Hyangjiwa.
Setelah semuanya cukup, akhirnya Dewa Wasa ingin melanjutkan perjalanannya, namun kali ini dia tidak sendiri, karena Sang Hyangjiwa menyuruh putranya untuk menemani perjalanan Dewa Wasa.
Yang menurutnya pada perjalanannya kali ini akan ada banyak sekali rintangan yang sangat berat, sehingga Sang Hyangjiwa khawatir terhadap Dewa Wasa.
Karena dirinya sudah menganggap Dewa Wasa seperti anaknya sendiri.
Akhirnya waktunya melanjutkan perjalanan pun tiba.
Dewa Wasa dan Maha Dewa Zura berkelana berdua melewati ratusan semesta dan alam raya untuk mencari sesosok makhluk yang memiliki kekuatan penciptaan tertinggi.
Dengan perjalanan itu, mereka berdua semakin terlihat akrab, bahkan saking akrabnya mereka sudah seperti kakak beradik yang susah senang di lalui bersama.
Ribuan peperangan antar semesta pun mereka juga turut andil membela siapa yang benar dan membasmi berbagai makhluk yang serakah, entah itu Dewa, Iblis, ataupun siluman, Jika mereka berada di jalan yang salah maka mereka akan sadarkan terlebih dahulu, namun jika dengan cara pengampunan tidak membuatnya berubah, maka kematianlah yang mereka dapat.
Begitulah cara kerja Dewa Wasa, karena menurutnya semua orang berhak mendapat kesempatan yang ke dua, namun jika di beri sebuah kesempatan mereka tolak, maka kesempatan itu akan Dewa Wasa tarik kembali.
Sudah puluhan tahun Dewa Wasa berkelana berdua bersama Maha Dewa Zura, hingga membuat mereka berdua akhirnya menyerah dan memutuskan untuk kembali ke Semesta Gandi terlebih dahulu.
Namun sebelum rencana mereka laksanakan, tiba-tiba saja muncul sebuah badai hitam dari sebuah kekosongan yang menuju ke arah mereka.
“Si-siaall.. kekuatan macam apa ini.” gumam mereka berdua bersamaan.
***
__ADS_1