RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 39 Pertemuan Ayah dan Anak (PDPS)


__ADS_3

”Apa yang kau inginkan kera brengsek, sialan.” teriak Maha Dewa Jaya kepada Sona yang sedang melayang menatapnya dengan tatapan membunuh.


”Hahaha.. kau datang secara tiba-tiba, jadi aku hanya waspada Dewa sialan.” jawab Sona dengan sebuah makian yang akhirnya membuat Maha Dewa Jaya marah.


Mendengar sebuah makian dari seekor kera putih kecil, Maha Dewa Jaya pun akhirnya membuka sedikit energinya, hingga membuat tanah di sekitarnya bergetar.


Dia merasa terhina oleh ucapan kera itu, karena bahkan kakaknya sendiri tidak berani menghina dirinya.


Setelah itu, kini terihat dari tubuhnya yang mengeluarkan sebuah energi yang sangat panas dan berubah menjadi sebuah api putih menyelimuti tubuhnya dengan ribuan petir berwarna putih.


Dan terlihat juga dari tangan kirinya kini muncul sebuah sarung tangan besi yang kemudian merambat menutupi pundaknya sehingga membuat dirinya seperti menggunakan jirah perang.


”Si..siall, aku salah memilih lawan.” gumam Sona di dalam hati, namun kera itu masih terlihat sangat tenang, yang menandakan bahwa dirinya sudah melewati ribuan perang yang membuat mentalnya menjadi kuat.


Setelah itu, Maha Dewa Jaya pun kembali menghilang tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan muncul di belakang Sona dengan tangan yang sudah meluncurkan sebuah tinjuan.


”Braja wesi..” Teriaknya yang membuat Sona akhirnya sadar dan berbalik.


Kera itu terkejut karena tidak melihat lawannya menghilang, lantas itu membuat dirinya terkena serangan telak di kepalanya yang membuatnya terpental.


Tidak berhenti di situ, Maha Dewa Jaya pun langsung menghilang kembali dan muncul di belakang Sona yang masih meluncur terkena serangan sebelumnya.


Dia kembali meninju Sona dengan tangan kirinya.


Maha Dewa Jaya melakukan seperti itu hingga mencapai hampir lima puluh kali, dan kini terlihat Sona sudah babak belur dengan tubuh yang masih meluncur kesana kemari menjadi sasak latihan Maha Dewa Jaya.


Di sisi lain Maha Dewa Fatir yang melihat itu pun hanya mampu menatap dengan lemas, karena dirinya sendiri pun tidak mampu membaca gerakan dari adiknya itu, yang mana gerakan dari Maha Dewa Jaya adalah suatu jurus yang menggunakan dimensi untuk berpindah tempat.


”Baiklah.. terima ini kera busuk, mati kau.” Ungkap Maha Dewa Jaya.


”Braja Wesi Tirtamaya.” teriaknya keras.


Setelah itu terlihat tangan kirinya yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah api berwarna putih yang semakin besar, hingga membentuk sebuah kepala naga.


Tinjuan itu pun melesat cepat menuju arah punggung Sona yang saat ini sudah lemas terkapar tanpa sebuah perlawanan dengan tubuh yang masih melesat menuju daratan.


Namun saat jurus dari Maha Dewa Jaya itu hampir mengenai tubuh Sona, tiba-tiba saja muncul sebuah kipas yang terbuat dari pisau dengan di selimuti api berwarna coklat keemasan yang menghadang serangan dari Maha Dewa Jaya dengan begitu mudahnya.


Terlihat kipas itu menahan serangan tingkat tinggi dari Maha Dewa Jaya dengan sangat mudah, sehingga membuat serangan itu pecah menjadi sebuah cahaya tanpa adanya ledakan.


Sontak saja Maha Dewa Jaya terkejut melihat kejadian itu, yang mana setahu dia yang mampu melenyapkan sebuah jurus tingkat tinggi tanpa adanya ledakan hanyalah gurunya.


Di sisi lain Maha Dewa Fatir pun juga demikian sama terkejutnya seperti adiknya, namun dirinya masih mampu menahan diri dan mengamati kipas itu untuk mengetahui siapa pemiliknya.


”Pantas saja, Kipas itu ternyata adalah pusaka tingkat tinggi yang hanya mampu di kendalikan oleh makhluk di atas tingkat Cipta, a-apaa? siall. tidak mungkin.” gumamnya namun di akhiri dengan sebuah keterkejutan oleh sebuah pemikirannya sendiri.


Dan kini terihat Dewa Wasa yang perlahan-lahan muncul dari sebuah butiran cahaya kecil yang menyatu secara perlahan hingga mewujudkan dirinya di samping sebuah kipas itu.

__ADS_1


Dengan tenang dia mengambil kipas itu dan melipatnya kembali.


”Jika kau ingin bertarung, maka pilihlah lawan yang sepadan paman, jangan mencari lawan yang berada di bawahmu, itu bukanlah sebuah penghormatan untuk dirimu, melainkan sebuah hinaan.” ungkapnya pelan sambil menatap Maha Dewa Jaya.


Glekk..!!!


”Sial.. kekuatan macam apa ini, aku bahkan tidak mampu mengukur tingkat kekuatannya.” gumam Maha Dewa Jaya dalam hati.


Dia sangat terkejut dengan aura yang sangat mengerikan yang keluar dari tubuh Dewa Wasa.


Bahkan kini terlihat Maha Dewa Jaya mengeluarkan sebuah keringat kecil-kecil di keningnya, yang menandakan dia memiliki sedikit rasa takut.


Namun sungguh baik nasibnya, di mana saat ini adiknya yaitu Ki Ranujagat muncul secara tiba-tiba di samping kakaknya, dan di ikuti oleh Maha Dewa Fatir di samping Dewa Wasa.


Tak berselang lama juga kini terlihat Rama, Rangga, Putri Ana, Panglima Naju dan juga Bibi Hasa yang tiba paling terakhir bersama Sona yang saat ini terlihat baik-baik saja dan malah berada di pelukannya.


“Apa yang kau lakukan kak,? Dia adalah muridku, apakah kau ingin bertarung dengannya.?” Tanya Ki Ranujagat dengan di iringi alisnya yang di naik turunkan.


“Hehehe.. maafkan aku Ranu, aku hanya sedikit marah karena perkataan dari kera yang di sana..” jawabnya sembari menunjuk ke arah tempat Sona terkapar, namun dia malah terkejut melihat tempat yang dia tunjuk tidak ada siapa-siapa.


”A-apaa.? dimana kera itu.? siall.” jawabnya sembari matanya yang melihat kesana kemari mencari keberadaan Sona.


”Apa maksud paman adalah paman Sona ini.?” jawab Bibi Hasa tiba-tiba.


~


Ternyata Sona memang sengaja tidak membalas serangan dari Maha Dewa Jaya, karena dia mendapat pesan dari Dewa Wasa agar tidak mengeluarkan kekuatannya yang sesungguhnya di depan lawan yang baru.


Di sisi lain Dewa Wasa juga mengikuti sumber suara itu, karena dia merasa suara itu tidak asing di telinganya.


Namun setelah matanya melihat sampai pada tempat bibi Hasa berdiri, dia juga ikut terkejut dengan wajah yang sangat aneh, menatap Sona yang berada tepat di bawah gunung milik Bibi Hasa, dan malah tertidur dengan tenang tanpa sebuah rasa malu.


Sontak saja hal itu malah membuat dirinya terlihat sangat malu karena kelakuan Sona, dan juga memang hanya Bibi Hasa dan Rangga saja yang tahu akan sahabatnya itu.


“Woee, Kera sialan, cepat bangun, apa yang kau lakukan di situ, brengsek, kau membuatku malu saja.” teriak Dewa Wasa dengan di ikuti beberapa makian.


Namun Sona ternyata tidak memperdulikan omongan dari Tuannya itu, dan bahkan dia malah mengorek-ngorek telinganya sendiri, seperti mengejek Tuannya yang akhirnya membuat Dewa Wasa melesatkan sebuah jarum kecil yang dia ambil dari dalam kipasnya ke arah pantat Sona.


Wuusshh..


Sleebb...


”A-aa—aw—aw—awww… brengsek kau Tuan.” teriak Sona yang langsung beranjak melepaskan pelukan dari bibi Hasa dan melesat melayang tinggi.


”Kau pantas mendapatkannya brengsek.” jawab Dewa Wasa dengan di sertai senyuman yang licik.


Di sisi lain, Semua orang terlihat sangat aneh dengan tatapan yang bodoh menatap kelakuan Sosok lelaki tampan kepada seekor kera yang di hadapannya.

__ADS_1


Namun keanehan itu tak berlaku kepada Bibi Hasa, Rangga, dan juga Ki Ranujagat, yang mana mereka sudah tahu akan kelakuan kedua makhluk itu.


”A-apa yang sebenarnya terjadi Ranu.?” Ungkap Maha Dewa Jaya yang sudah tersadar dari keterkejutannya.


Mendengar pertanyaan dari kakaknya, Ki Ranujagat pun akhirnya mengajak mereka semua berkumpul di dalam rumahnya untuk melakukan sebuah pembicaraan.


Namun saat semua sudah pergi menuju rumah Ki Ranujagat, kini terlihat dua orang di atas daratan yang saling menatap.


Mereka memiliki wajah yang sangat mirip, bahkan untuk rambut dan matanya sekilas hampir sama.


Bola mata berwarna biru pekat itu saling menatap, dan mengeluarkan sebuah airmata.


Dan dari tubuh masing-masing pemiliknya saling memunculkan sebuah energi yang berbeda meskipun mereka berdua mempunyai 5 energi langka yang sama.


Ya.. Mereka adalah Ayah dan Anak, yaitu Dewa Wasa dan juga Rama, yang saat ini terlihat sudah saling melesat mengeluarkan sebuah jurusnya masing-masing.


”Tapak Wasa, keluarlah..!!” teriak dua orang secara bersamaan yang meluncurkan sebuah jurus yang sama namun dengan energi yang berbeda.


Yang mana untuk Dewa Wasa sendiri mengeluarkan sebuah energi pelebur tertinggi berwarna coklat keemasan, di sisi lain Rama mengeluarkan energi penghancur berwarna emas kebiruan.


”Siall.. mereka berdua berniat menghancurkan tempat ini.” gumam Ki Ranujagat yang saat ini sedang duduk bersama semua orang di dalam rumahnya.


Dia menunggu Rama dan Dewa Wasa yang tak kunjung datang, namun dia begitu terkejut karena merasakan adanya dua energi tingkat tinggi sedang di keluarkan.


Hal itu membuatnya sadar bahwa yang belum datang adalah mereka yaitu Ayah dan Anak, yang mana jika seorang pendekar betemu keluarganya maka tidak ada sebuah kata sambutan namun yang ada adalah sebuah pukulan sambutan.


Sontak saja Ki Ranujagat menyuruh semua orang yang ada di sana keluar dan menyuruh semua untuk membuat segel tingkat Alam Cipta secara gabungan, untuk menghalangi dampak dari ledakan yang sebentar lagi akan terjadi.


Namun setelah sampai di depan rumah, Ki Ranujagat dan semua orang terkejut, karena mereka sudah mendapati sebuah segel setingkat alam cipta, namun sedikit lebih kuat yang sudah menghalanginya.


Di sisi Maha Dewa Jaya dan Maha Dewa Fatir, mereka berdua lebih terkejut, karena saat ini mereka melihat sosok Kera yang tadi di hajarnya, sedang berdiri tenang di balik sebuah segel bersama kipas dan tongkat kecil yang melayang di sebelahnya.


Dan ternyata segel itu adalah milik Sona, yang mana saat tadi dirinya melesat ke atas karena terkena tusukan jarum yang di lempar tuannya, dia juga mengamati wilayah itu untuk membuat segel, karena dia sangat paham akan sifat tuannya, yang pasti akan meggunakan sebuah pukulan di saat bertemu dengan sahabat ataupun keluarganya.


Sosok Sona dan dua benda itu melayang tenang, dan malah seperti menonton sebuah pertunjukan yang sudah lama sekali tidak mereka lihat.


Gleekk..!!!


”Sial.. ternyata kera itu telah menyembunyikan kekuatannya. untung saja Ranu tadi datang menghentikan Jaya, Jika tidak maka hancur sudah tubuhnya tadi.” gumam Maha Dewa Fatir yang sedang menatap Sona.


”Untung saja Ranu tadi datang, jika tidak, maka habis sudah riwayatku.” gumam Maha Dewa Jaya dalam hati, yang saat ini juga sedang menatap Sona dengan tubuh yang bergetar.


Padahal jika di ukur dengan tingkatan kekuatan, Maha Dewa Jaya memiliki tingkatan yang cukup tinggi, bahkan hampir sama dengan Ki Ranujagat dan juga Maha Dewa Fatir.


Namun yang lebih mengerikannya adalah bahwa Dewa Wasa sendiri saat ini kekuatannya sudah jauh melampaui Ki Ranujagat.


***

__ADS_1


__ADS_2