RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 36 Kepingan Jiwa Guru Dari Ki Ranujagat (PDPS)


__ADS_3

Di hari pertama latihan Rama dan teman-temannya ternyata harus di tunda terlebih dahulu, karena datangnya saudara beserta sosok kepingan jiwa Guru dari Ki Ranujagat.


Akhirnya dengan berat hati latihannya harus di tunda, namun di sisi lain mereka juga di barengi rasa yang sangat senang.


Sedangkan Bibi Hasa, Putri Ana, Panglima Naju, dan Rangga yang kini sudah terbangun dari pingsannya merasakan seperti hidup di zaman dahulu karena melihat ada 4 Maha Dewa sakti yang sebelumnya hanya mereka dengar dari sebuah dongeng legenda masalalu.


Kini terlihat sosok Rama yang berwujud sedikit berbeda karena mengeluarkan dua energi langka secara bersamaan dari dalam tubuhnya, dan juga dengan bola mata yang berbeda.


Dengan mata kanan yang masih sama berwarna biru pekat yang indah, dan kini di mata kirinya berwarna putih bersih menyeluruh.


Wujud itu menjadikannya sosok makhluk yang begitu indah, apalagi dengan sebuah aura yang sangat mendamaikan.


Sosok Rama dengan setengah kesadaran yang berbeda pun kini sedang melayang menuju ke tempat Ki Ranujagat dan dua saudaranya yang masih saja terlihat berpelukan.


Ki Ranujagat, Maha Dewa Fatir, dan Maha Dewa Jaya yang merasakan adanya energi dan aura yang tidak asing sedang menuju ke tempatnya pun membuat mereka langsung saling melepaskan pelukannya.


Setelah itu mereka bertiga dengan cepat membalikan tubuhnya ke belakang yang membuat tubuh Maha Dewa Fatir langsung bergetar lemas, karena tak mampu menahan sebuah keterkejutannya sendiri.


Sedangkan untuk Ki Ranujagat dan Maha Dewa Jaya, mereka berdua sama-sama terbengong dengan tubuh yang mematung kaku, bahkan Ki Ranujagat sampai membuka sebentar kedua matanya lalu menutupnya kembali untuk benar-benar memastikan, apakah itu nyata atau hanya sebuah hayalannya saja.


Di saat semua orang sedang terkejut, Rama yang hampir sampai di tempat tiga bersaudara itu akhirnya membuka suaranya.


”Anak-anakku.” ungkapnya lirih, namun masih terdengar jelas di telinga tiga bersaudara itu.


Bahkan Bibi Hasa dan teman-temannya yang mendengar itu pun hanya mampu terkejut mematung mendengar sosok Rama membuka suaranya kepada Gurunya.


Mendengar suara yang tidak asing dari dalam tubuh Rama pun, akhirnya mereka bertiga pun seperti anak kecil yang sedang merengek, dan menangis serta berlari secara bersamaan untuk memeluk sosok lain yang ada pada tubuh Rama.


Terutama untuk Maha Dewa Jaya, dia adalah yang pertama menyadari dan dia juga yang pertama berlari untuk memeluk sosok yang ada pada tubuh Rama.


”Gu-Gu—Guru.!!!” Teriak Maha Dewa Jaya yang di ikuti dengan berlarinya dirinya seperti anak kecil.


”Aku sungguh bersedih kehilangan guru, Jaya tidak mampu hidup dengan tenang setelah kepergian guru..” Ungkap Maha Dewa Jaya yang bertingkah seperti anak kecil.


”A-aaiihhh.. mengapa aku memiliki adik yang cengeng seperti itu.” Gumam Maha Dewa Fatir, dengan sebuah airmatanya yang terjatuh.


”Huuhh.. kakak Jaya masih saja seperti itu.” gumam lirih Ki Ranujagat.


Karena hal ini, Ki Ranujagat sampai lupa bahwa dirinya sedang melatih murid-muridnya, dia bahkan tidak sadar jika yang ada di hadapannya itu adalah Rama dengan salah satu energi langka milik Maha Dewa Satir.


Bahkan dia juga sama sekali tidak memperhatikan Bibi Hasa dan teman-temannya yang sedang memandang mereka dengn aneh, karena kini dia sedang dalam keadaan yang sangat senang sehingga membuatnya lupa akan semua hal yang ada di sekitarnya.


Mereka berempat akhirnya pun berpelukan dan saling menuangkan rasa rindu yang sudah ratusan bahkan ribuan tahun tidak pernah bertemu.


Momen ini akan di manfaatkan Ki Ranujagat dengan sebaik-baiknya, karena dengan adanya mereka, maka pikirannya bisa lebih tenang.

__ADS_1


Setelah saling meluapkan rasa rindu, meskipun hanya dengan sebuah pelukan, akhirnya mereka bertiga di bawa ke kediamanan Ki Ranujagat tanpa memperdulikan Bibi Hasa dan teman-temannya.


Sesampainya di kediamannya, Ki Ranujagat baru menyadari bahwa sepertinya ada yang aneh dengan ini semua.


Dia pun langsung menengok kesana kemari untuk mengetahui apa yang sedang dia rasakan.


Melihat kelakuan aneh dari adik bungsunya, Maha Dewa Fatir pun langsung memukul kepala Ki Ranujagat dengan ujung jari.


Plakkk..!!!


”A-aw-aw.. sakit kak, apa yang kamu lakukan, dasar lelaki tua.” ungkap Ki Ranujagat yang sedang memegangi kepalanya dengan di barengi sebuah makian yang akhirnya membuat mereka semua tertawa.


”Hahaha.. apa yang kau cari adik sialan.?“ Tanya Maha Dewa Fatir di sertai dengan tawa.


“Aku hanya merasa ada yang kurang saja kak.” jawab Ki Ranujagat yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Plaakk..!!!


”Aw-aw-aw.. apa yang kau inginkan lelaki tua brengsek, sialan, jangan memukulku seenaknya saja, huhh.” gerutu Ki Ranujagat yang di akhiri dengan mengembungkan pipinya seperti anak kecil.


Kelakuan mereka berdua pun membuat suasana menjadi ramai, apalagi kini terlihat Maha Dewa Jaya yang sedang tertawa tak ada hentinya, dia seperti menertawakan kebodohan adiknya itu.


~


Melihat itu Ki Ranujagat pun sedikit marah kepada kakak-kakaknya, sehingga membuat dirinya tanpa sadar mengeluarkan sebuah energi berwarna coklat ke emasan dari tubuhnya.


Maha Dewa Jaya dan Maha Dewa Fatir yang melihat adiknya sepertinya sedang marah pun langsung terdiam menahan tawa.


”Sepertinya si bungsu itu benar-benar marah kak.. hihihi.” bisik Maha Dewa Jaya kepada Maha Dewa Fatir.


”Hu-umm..hihihi” jawab Maha Dewa Fatir.


Sedangkan di sisi Maha Dewa Satir yang berada dalam tubuh Rama pun, malah terlihat tersenyum lembut dan akhirnya dirinya pun membuka suara yang kemudian membuat Ki Ranujagat tenang.


”Ranu, kemarahanmu akan menghancurkan tempat tinggalmu sendiri, sadarlah.” ungkapnya tenang.


Setelah mendengar suara peringatan dari Gurunya itu, akhirnya Ki Ranujagat mampu meredam emosinya, dan menarik kembali semua energinya.


”Huuhhh.. Dasar para kakak-kakak brengsek.” makinya kepada kakak-kakaknya yang di ikuti dengan wajah yang lemas tertunduk.


”Kau masih saja bodoh Ranu, kau bahkan melupakan tubuh yang ku singgahi ini, dan juga murid-murid barumu di sana.” Lanjut ungkap sosok Guru yang berada dalam tubuh Rama sembari menunjuk ke arah rombongan Bibi Hasa.


Mendengar perkataan dari gurunya tersebut, lantas membuat Ki Ranujagat menatap ke arah tempat yang di tunjuk oleh gurunya.


Hingga pada akhirnya dia melihat murid-muridnya yang sedang berdiri di depan rumahnya dengan tatapan yang aneh.

__ADS_1


Hal itu pun langsung membuat Ki Ranujagat menggaruk kepalanya yang tidak gatal yang di ikuti dengan senyum bodohnya.


”Hehehehe.. maafkan aku sampai melupakan kalian.” ungkapnya dengan menggaruk kepala yang tidak gatal.


Di sisi lain Maha Dewa Jaya yang sudah tidak bisa menahan tawanya lagi pun akhirnya melepaskan tawanya dengan sekencang kencangnya.


Sontak hal itu membuat semua orang yang ada di sana melesat menjauh, bahkan Maha Dewa Satir pun juga ikut menjauh.


Karena tawa yang di keluarkan oleh Maha Dewa Jaya mengandung kekuatan yang sangat besar karena terlapisi oleh energinya sendiri.


Hingga akhirnya Maha Dewa Jaya pun menghentikan tawanya, dan di susul dengan sebuah keheningan.


Setelah beberapa tarikan nafas, tiba-tiba terdengar sebuah suara reruntuhan kayu yang patah-patah dan menimpanya.


Krakk..


Krakk..


Brushh.!!!


Dan akhirnya rumah milik Ki Ranujagat pun roboh terkena efek tawa yang mengandung energi tadi, sehingga menimpa Maha Dewa Jaya yang masih berada di dalamnya.


Ki Ranujagat yang melihat itu pun, hanya mampu terduduk lemas di samping rumahnya.


”Haihhh.. mereka selalu saja membuatku kerepotan.” gumamnya lemas.


*


Singkat cerita akhirnya mereka semua beserta Bibi Hasa dan rombongannya bekerjasama membangun ulang rumah milik Ki Ranujagat.


Dari situlah mereka semua saling berkenalan dan menjadi lebih akrab.


Rangga kini terlihat sedang bersama Maha Dewa Jaya yang sedang mengobrol tentang wanita, hingga pada akhirnya mereka berdua di tendang langsung oleh Bibi Hasa menuju ke tengah sungai.


”Maafkan aku paman, wanita itu memang seperti itu...hehehe” Ungkap Rangga yang sudah melayang di atas sungai bersama Maha Dewa Jaya.


Namun Maha Dewa Jaya tak terlihat marah sama sekali, malah dia tertawa melihat kelakuan Rangga dan kekasihnya.


Di sisi lain semua orang bergotong royong membangun sebuah rumah beserta mendesain sebuah pagar halaman yang nanti akan di gunakan untuk latihan.


Bahkan saat ini terlihat beberapa penduduk desa juga datang ingin membantu.


Melihat ada dua orang yang hampir mirip dengan Pelindung desanya, para penduduk meyakini bahwa dua orang itu adalah kakak atau adik dari Ki Ranujagat.


Yang jelas dalam pikiran semua orang, dua orang yang mirip dengan pemimpin desanya itu adalah saudara dari Ki Ranujagat.

__ADS_1


***


__ADS_2