
Semakin lama energi yang sangat dia kenali itu semakin mendekat ke arahnya.
Hingga pada akhirnya sebuah cahaya berwarna kuning ke emasan muncul di hadapannya dan menampakkan sosok wanita yang sangat cantik yang sedang membopong tubuh Rama selayaknya membopong anak kecil.
Wanita itu memiliki postur tubuh yang sangat indah dan ideal dengan gaun berwarna putih bersih serta selendang berwarna biru muda dengan di hiasi pernak-pernik berwarna emas.
Wajahnya sangat anggun dan menawan dengan hidung yang sedikit mancung serta mata yang sedikit besar dan bola mata yang juga berwarna kuning cerah.
Dengan kulit yang putih kekuningan dan rambut panjang yang di atas kepalanya terdapat sebuah benda mirip seperti bando berukir bunga.
Setelah sampai di hadapan Dewa Wasa, dirinya akhirnya membuka suara.
"Kanda." Ucap Wanita itu dengan lembut kepada Dewa Wasa.
Suara itu pun akhirnya membuat Dewa Wasa tersadar dari lamunan singkatnya dan menatap haru ke arah sosok wanita itu.
"Di-dinda." Jawab Dewa Wasa lirih dengan tubuh yang masih sedikit bergetar.
Setelah menjawab itu pun, Dewa Wasa akhirnya menangis haru dan langsung mengambil alih tubuh Rama untuk di baringkan di samping mereka agar bisa memeluk wanita yang sangat ia cintai itu.
Tak lupa juga dirinya langsung memberi energi pemulihan untuk Rama, setelah itu dirinya langsung menyambar tubuh kekasihnya itu untuk melepas rindunya yang telah bertahun-tahun dia pendam sendiri.
Dia adalah Dewi Suci, namun biasanya dia di sebut dengan sebutan Dewi Keadilan dan juga sosok Ibu dari Rama yang berarti dia adalah Istri dari Dewa Wasa.
Dewi Keadilan adalah sosok yang bijak dan memiliki peran penting saat menciptakan Semesta Wandasukma dulu.
Karena dengan kekuatannya yang benar-benar murni di turunkan dari Sang Pencipta, Dewi Keadilan mampu membaca perasaan dan hati makhluk-makhluk lain.
Entah itu, Hewan, Manusia, Dewa, Iblis, atau bahkan Tumbuhan sekalipun.
Dia juga memiliki satu kelebihan yang sangat langka yaitu mampu melihat kilasan-kilasan masa yang akan datang.
Dewa Wasa yang masih memeluk erat istrinya itu pun akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya lagi untuk memastikan jika ini bukanlah sebuah mimpi.
"Kanda, maafkan aku karena telah menambah beban pada dirimu." Ucap Dewi Keadilan lirih sembari menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang hampir jatuh.
Dewa Wasa yang mendengar itu akhirnya menjulurkan tangannya ke arah wajah istrinya agar menatapnya.
"Dinda, semua yang terjadi adalah kesalahanku karena tidak bisa melindungimu, maafkan Kanda juga." Jawab Dewa Wasa sembari mengusap air mata istrinya dan setelah itu mengusap rambutnya.
"Baiklah Dinda, ini bukan waktunya kita untuk saling bersedih, dirimu sembuhkanlah luka dalam pada Rama terlebih dahulu, lalu setelah itu kita lawan dia." Lanjut Dewa Wasa sembari menatap ke tempat Rajanarya berada.
"Sebaiknya kanda di sini saja dan sembuhkanlah putra kita, aku tahu akan rencana kanda, maka biarkanlah aku yang melawannya." Jawab Dewi Keadilan.
Wushhh...
Setelah itu, dirinya pun langsung menghilang dari pandangan Dewa Wasa untuk menuju tempat Ki Ranujagat dan Rajanarya yang saat ini sedang beradu jurus masing-masing.
Sehingga di saat Ki Ranujagat sedikit lengah karena merasakan sebuah energi yang sangat dia kenali sedang melesat lewat di belakangnya, di saat itu juga Rajanarya memanfaatkan kesempatan dengan mengeluarkan sebuah jurus yang aneh, namun seperti ilusi.
Sehingga membuat tubuh Ki Ranujagat tidak bisa di gerakan sama sekali.
Bahkan matanya pun saat ini sudah tak berfungsi lagi di hadapan Rajanarya, sehingga itu juga membuatnya sangat kesulitan untuk membalas setiap serangannya.
Dan jika di ukur dari sebuah kekuatan, memang Rajanarya sudah berada jauh di atasnya, Hal itu juga yang menjadi masalah.
__ADS_1
Bahkan Ki Ranujagat juga harus lebih berhati-hati dengan setiap jurus yang ia keluarkan, karena jika saja salah sasaran maka Semesta Wandasukma dan semesta bawah akan hancur.
Itu membuat Ki Ranujagat harus berpikir lebih keras, apalagi sesaat yang lalu dirinya juga lalai karena kemunculan sebuah energi milik Dewi Keadilan.
"Hahaha... Apakah dengan kekuatanmu itu kau akan mampu melawanku adik buta.?" Ucap Rajanarya.
"Aku akui kau saat ini memang sangat kuat, bahkan sudah setara dengan guru, akan tetapi aku jauh lebih kuat karena aku sudah berada di tingkatan yang berbeda dari makhluk seperti kalian... Hahaha" Lanjut Rajanarya.
Ki Ranujagat yang mendengar itu pun hanya mampu menggertakan giginya.
Karena saat ini energinya semakin menipis terserap oleh jurus dari Rajanarya.
Jurus itu hampir mirip dengan sebuah jurus Rantai jiwa yang pernah di gunakan oleh Bibi Hasa, Rangga dan Gama dulu saat menyadarkan Rama yang sedang bertarung dengan Raka.
Namun jurus milik Rajanarya lebih mengerikan, karena tidak memunculkan sebuah benda seperti rantai untuk mengikat lawannya.
Bahkan jurus itu tidak bisa di lihat oleh mata, sehingga membuat lawannya terlihat hanya seperti mematung.
Namun di saat itu juga jurus dari Rajanarya bekerja untuk menyerap energi dari lawannya, bahkan serapan itu bisa sampai membuat pemilik energi sangat tersiksa karena meskipun energi yang diserap sudah habis, maka setelah itu jurus itu akan menyerap roh serta jiwanya.
"Si-siall.. Bagaimana bisa dia menguasai jurus dari Sang Hyang Tunggal." Gumam Ki Ranujagat dalam hati sembari menahan rasa sakitnya, karena energinya sudah hampir habis.
"Hahaha.. menyerahlah adik buta, maka aku akan langsung membunuhmu dengan cepat." Ucap Rajanarya dengan di iringi tawanya.
"Ti-tidak akan ku biarkan.. Haha.. Hughh." Jawab Ki Ranujagat yang juga di iringi dengan tawanya meskipun setelah itu dirinya tersedak oleh nafasnya sendiri.
Meskipun seperti itu, Dia tertawa karena merasakan kehadiran energi dari Dewi Keadilan, sehingga membuatnya dapat bernafas sedikit lega.
Setelah itu tiba-tiba saja muncul sebuah kilatan cahaya berwarna kuning ke emasan yang langsung menyambar tubuh Ki Ranujagat dengan mudah untuk membawanya menjauh.
"Mengapa dia bisa hidup kembali, siaall.. Jika seperti ini maka aku akan pergi saja, apalagi Bunga Semesta sudah ku dapatkan." Lanjut gumamnya dalam hati.
Kini Rajanarya terlihat sedikit gelisah karena merasakan energi dari Dewi Keadilan.
Entah apa yang membuatnya khawatir seperti itu, sedangkan untuk kekuatannya saja sudah jelas Rajanarya lebih kuat.
Meskipun seperti itu, namun ada sebuah jurus yang sangat di takuti oleh Rajanarya, dan jurus itu sudah di kuasi dengan sempurna oleh sosok Dewi Keadilan.
Maka dari itu, dirinya lebih memilih untuk pergi, dari pada harus menghadapi jurus dari Dewi Keadilan.
"Sial.. Aku akan kembali lagi untuk mengambil tubuh bocah itu." gumamnya lirih lalu langsung menghilang.
Wushhh..
Dewi Keadilan yang merasakan kepergian dari Rajanarya pun berusaha untuk mengejarnya.
"Cihh.. tak akan ku biarkan kau untuk pergi makhluk petaka." ucap Dewi Keadilan yang bisa melihat kepergian Rajanarya di saat dirinya sedang membaringkan tubuh Ki Ranujagat di samping tubuh Rama.
"Jiwa Surga, Dewi Bunga Kematian, Keluarlah.!!! " Ucap Dewi Keadilan dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Setelah itu muncul sebuah asap putih yang sangat tebal dan berubah menjadi sosok Dewi yang hampir mirip dengannya, namun sosok itu memiliki empat Sayap putih yang sangat besar serta aura kematian yang sangat dahsyat.
Meskipun wajahnya hampir sama cantiknya dengan Dewi Keadilan, akan tetapi bentuk fisik dan auranya sangat berbanding terbalik.
Yang mana Dewi Keadilan tidak memiliki sayap seperti dewa-dewi pada umumnya melainkan malah seperti manusia, serta auranya yang sangat mendamaikan.
__ADS_1
Bahkan Dewa Wasa yang di sampingnya saja, sampai menggigil ketakutan melihat sosok itu.
Meskipun sangat cantik, namun jangan terpancing oleh kecantikannya, karena dari kecantikannya itulah yang membuat sosok itu disebut dengan Bunga Kematian.
"Kejar makhluk itu." Perintah Dewi Keadilan dengan tegas.
Setelah mendengar perintah itu sosok itu pun langsung melesat mengejar Rajanarya di dalam portal dimensinya.
Akan tetapi tak berselang lama setelah Bunga Kematian pergi, sosok itu langsung kembali lagi dan melaporkan sesuatu.
"Tuan Putri, Makhluk itu menuju ke semesta Tunggal dimana Sang Hyang Tunggal berada saat ini, aku tidak bisa mengejarnya karena aku tidak bisa melewati pembatas ruang dan waktu milik Sang Hyang Tunggal." Ucap Bunga Kematian sembari menundukkan kepalanya.
"Baiklah tidak apa-apa, yang terpenting kita memiliki sedikit informasi kemana tujuannya, sekarang kembalillah." Jawab Dewi Keadilan.
Namun perintah itu tidak segera di laksanakan oleh Bunga kematian dan masih berdiri menunduk di hadapan Dewi Keadilan.
Sontak saja hal itu membuat Dewi Keadilan bingung, dan bertanya lagi.
"Ada apa adik.?" Tanya Dewi Keadilan.
"Tuan Putri, aku tadi sempat melihat dan merasakan energi dari Kakak Tuan Putri, Namun aku masih tidak yakin apakah itu benar atau salah." Jawab Bunga Kematian dengan menundukan kepalanya.
Dewi Keadilan dan Dewa Wasa yang mendengar itu pun langsung saling menatap bingung, dan hanya mengangguk secara bersamaan.
"Baiklah, kembalillah, Terimakasih adik." Jawab Dewi Keadilan dengan lembut.
Setelah itu sosok Bunga Kematian pun langsung hilang menjadi asap putih.
"Tenanglah dinda, Bunga Semesta itu sudah ku beri segel pelebur, jadi hanya menunggu waktu saja Bunga Semesta itu akan melebur menjadi cahaya nantinya." Ungkap Dewa Wasa menenangkan istrinya.
"Akan tetapi yang aku takutkan, Kakak Reya mampu menyerapnya kanda, itu bisa menjadi sebuah ancaman kembali jika dia bergabung bersama Rajanarya." Jawab Dewi Keadilan dengan raut wajah yang gelisah.
"Tenanglah, semoga saja itu tidak terjadi." Jawab Dewa Wasa sembari mengusap rambut istrinya dengan manja.
Dan tak berselang lama pun Rama juga telah bangun dari pingsannya di tengah-tengah obrolan kedua orang tuanya itu.
Sedangkan untuk Ki Ranujagat sendiri dia masih sadar namun terlihat sangat lemah.
Melihat itu pun Dewa Wasa langsung memberikan energi regenerasinya, sehingga membuat Ki Ranujagat berubah menjadi wujud tuanya lagi dan mengambil sikap lotus untuk memulihkan seluruh energinya kembali yang sudah terkuras habis oleh jurus Rajanarya sebelumnya.
Beruntungnya Rajanarya saat itu belum sampai menyerap habis energi Ki Ranujagat, jika saja itu sudah terjadi maka sama saja dengan pecahnya kantong energi seperti yang terjadi pada tubuh bayangan Dewa Wasa sebelumnya.
Setelah semuanya sadar dan pulih, Dewa Wasa dan Dewi Keadilan pun mengajak Ki Ranujagat dan Rama kembali ke istana.
Yang mana semuanya saat ini ternyata sudah berada di istana milik Dewa Tunggal.
Dewa Azar yang tidak terlihat dari tadi ternyata membawa semuanya kembali dan menyembuhkan luka-luka mereka di bantu dengan Putri Ana.
"Ibunda." Ucap Rama lirih di belakang Dewa Wasa sebelum mereka semua pergi menuju istana.
Suara Rama itu pun akhirnya membuat Dewi Keadilan berbalik dan menatap sosok Rama dengan perasaan yang bercampur aduk antara sedih, rasa sakit, senang, dan bahagia menjadi satu.
Tatapan mata sosok Ibu dan Anak itu pun akhirnya bertemu.
Melihat itu Dewa Wasa pun berjalan kesamping bersama Gurunya untuk memberi jalan dan ruang kepada keduanya agar bisa saling melepas rindu dan saling memberi kasih sayang selayaknya ibu dan anak.
__ADS_1
...****************...