RAMA SANG PUTRA DEWA

RAMA SANG PUTRA DEWA
Bab 48 Bertemu Sahabat Lama (PDPS)


__ADS_3

Benar saja, tak berselang lama dari itu, terdengar suara anak kecil yang sangat keras namun tidak menampakan dirinya.


”Hihihihi…. ternyata kau disini Zura, pantas saja keberadaan mereka langsung lenyap.” ungkap suara itu.


Maha Dewa Zura yang mendengar suara itu pun sontak langsung terkejut, dan hanya mematung, begitu pun dengan Dega, beruang itu tahu jelas suara siapa itu.


”Hihihi… Aku tidak akan mencampuri urusan kalian semua, aku hanya ingin melihat-lihat saja, apakah bocah dari Wasa sudah tiba atau belum, hihihi..” lanjutnya yang di ikuti dengan tawa.


Terlihat memang sepertinya sosok suara anak kecil itu hanya mencari seseorang, itu di buktikan karena dia tak juga memunculkan dirinya, dan bahkan tak memberi serangan kepada Maha Dewa Zura yang saat ini sedang terdiam.


”Baiklah.. aku akan pergi saja, melawan dirimu hanya membuang waktuku Zura..” Ucap sosok tak terlihat itu yang kemudian benar-benar menghilang.


Setelah suara itu menghilang, kini terlihat Maha Dewa Zura dan juga Dega meneteskan sebuah air mata yang mengalir di pipi mereka.


Mereka pun kemudian menggumamkan sesuatu yang berbeda namun sepertinya memiliki arti yang sama.


”A-a-adik.?” gumam Maha Dewa Zura lirih.


”Na-nawa.?” gumam Dega.


Namun setelah itu, mereka di sadarkan oleh sebuah portal dimensi yang muncul di sebelahnya.


Lalu kemudian satu persatu orang keluar dari portal itu yang di pimpin oleh Rama, dan di ikuti Dewa Wasa bersama Sona, Rangga, Bibi Hasa, Putri Ana, Panglima Naju, Dewa Fatir, Dewa Jaya dan yang terakhir Nyai Asih.


Kemunculan mereka pun membuat Maha Dewa Zura mengernyitkan dahinya, karena ada satu orang yang tidak asing untuknya, yang kemudian membuatnya terperanjat kaget dan berlari seperti anak kecil.


Hal itu pun membuat Dewa Azar dan yang lainnya yang sedang merasakan senang karena kedatangan mereka, di buat terkejut juga oleh kelakuan Maha Dewa sakti itu.


”Hahaha.. wooee Dega, siapa yang tiba, lihatlah.. hahaha.” teriaknya sambil berlari ke arah rombongan Rama.


Dega yang mendengar itu pun tak tinggal diam, lalu kemudian dirinya menghilang dan melesat mendahului sahabatnya itu.


Di sisi lain, Rama yang melihat kelakuan orang asing yang ada di depannya itu sangat aneh, langsung mengajak teman-temannya sedikit menjauh.


Namun itu tidak berlaku kepada Dewa Wasa dan juga Sona, yang ternyata mereka malah berlari menghampiri Maha Dewa Zura.


”Hahaha.. kakak sialan..” teriaknya sambil menyambar tubuh dari Maha Dewa Zura.


Hingga pada akhirnya Dewa Wasa dan Maha Dewa Zura pun saling berpelukan seperti anak kecil, begitu pun dengan Sona dan Dega yang juga menari-nari bahagia dengan tubuh kecilnya masing-masing.


Kejadian itu pun membuat mereka semua yang ada di sana terbelalak lebar sangat terkejut.


Sehingga Rama pun hampir terjatuh melihat kelakuan ayahnya itu, namun akhirnya dia pun juga hanya mampu menatap dan mengamati apa yang akan di lakukan lagi oleh ayahnya itu.

__ADS_1


Baru saja dirinya dapat menenangkan diri atas keterkejutannya, namun malah ada sebuah suara dari Nyai Asih yang lagi-lagi harus membuatnya terkejut.


”Ma-maha Dewa A-agung.?” gumamnya yang di dengar oleh Rama dan yang lainnya.


”Ma-maha Dewa Zu-zura, benar sekali, dia adalah Dewa Agung penuh keadilan.” lanjut gumamnya lirih, yang membuat semua orang yang ada di sana hampir terjatuh pingsan.


Bukan karena mereka kagum akan Dewa Agung itu, namun mereka terkejut atas kelakuan Dewa Wasa kepada Dewa Agung itu.


Apalagi Rama, dia menjadi orang yang merasa paling malu atas kelakuan ayahnya itu.


~


Pletakk..!!!


“Hahaha.. adik sialan, ternyata kau berada di semesta bawah ini.” teriak Maha Dewa Zura yang di iringi dengan sebuah pukulan pada kepala Dewa Wasa


“A-aa—aww.. mengapa kau selalu memukulku kakak sialan.” jawab Dewa Wasa yang langsung memegangi kepalanya.


”Karena kau tak pernah memberiku kabar bocah,” ungkap Maha Dewa Zura.


”Hehehe… maafkan aku kak, karena aku disini mempunyai istri dan anak, tidak sepertimu.” jawab Dewa Wasa yang langsung menghilang.


”Dasar adik brengsek.” gumam Maha Dewa Zura sambil menggelengkan kepalanya.


Dewa Wasa langsung menghilang setelah mengatakan itu kepada Maha Dewa Zura, karena dia tahu jika tidak langsung kabur, maka dia akan mendapat pukulan lagi darinya.


Namun itu tak berselang lama, ketika Dewa Wasa tiba-tiba menyeret tubuh Sona dan membawanya turun untuk menemui ayah mertuanya.


Karena jika Sona tidak di seret oleh Dewa Wasa maka perdebatan mereka tidak akan selesai meskipun seharian penuh.


Akhirnya ketika Dewa Wasa sampai di hadapan Dewa Azar, dia langsung mendapatkan sebuah pertanyaan.


”Sebenarnya apa hubunganmu dengan makhluk itu Wasa .? “ tanya Dewa Azar penasaran.


”Nanti akan aku ceritakan ayah, sebaiknya sekarang ayah dan semua kembali ke istana, ada sebuah energi yang sangat besar sedang menuju kemari, aku akan menunggunya di sini bersama kakak Zura.” ungkap Dewa Wasa.


Setelah itu pun Dewa Azar langsung mengajak semua orang yang ada di sana untuk kembali ke istana, dan hanya meninggalkan Dewa Wasa, Maha Dewa Zura, Dega dan Sona di sana.


Mereka semua tahu jika Dewa Wasa sudah berkata seperti itu maka yang datang memang adalah sosok makhluk yang memiliki kekuatan besar.


Apalagi Dewa Azar yang memang sudah paham sekali dengan sifat menantunya itu, yang mana Dewa Wasa tidak akan pernah serius menghadapi musuhnya jika tidak memiliki kekuatan di atasnya.


Setelah itu mereka semua pun kini tiba di istana, dan terlihat Nyai Asih, bibi Hasa, dan juga Putri Ana membantu menyembuhkan mereka yang terluka.

__ADS_1


Bahkan Putri Ana mampu menumbuhkan kembali tangan kanan dari Dewa Yasa yang membuat semua orang di sana terkejut dan kagum akan kekuatan itu.


"Ba-bagaimana bisa ini terjadi?" gumam Dewa Yasa sembari melihat tangannya yang tanggal tumbuh kembali secara perlahan.


Sedangkan untuk Dewa Lingga sendiri, dirinya hanya mengamati dengan serius proses penyembuhan itu, namun dengan raut wajah yang rumit dan seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Energi alam sempurna? Dewi Riri?". Gumam Dewa Lingga dengan tubuh yang sedikit bergetar.


"Ba-bagaimana energi itu bisa ada di tubuh wanita ini? apa jangan-jangan, ahh siiall, itu tidak mungkin." Lanjut gumamnya sambil menerka-nerka.


Sedangkan untuk Rama dan yang lainnya tidak terlalu terkejut akan hal itu, yang mana sebelumnya mereka semua sudah tahu dari penjelasan ayahnya dan Maha Dewa Fatir waktu di kediaman ki Ranujagat.


Lalu setelah mereka yang terluka kembali pulih dan sampai kembali di istana Semesta Wandasukma.


Dewa Azar menyuruh semua yang ada di sana menciptakan sebuah segel pelindung untuk menghadang dampak pertarungan yang bisa saja sampai di semesta bawah atau bisa disebut bumi, karena setelah ini pasti akan ada pertempuran yang sangat besar.


Dan tak membutuhkan waktu yang lama, segel itu pun tercipta hingga terlihat sangat kuat dan kokoh karena adanya energi dari Nyai Asih yang memang pada dasarnya adalah pembuat segel terkuat di alam raya Tirta.


Pas setelah segel itu terbentuk pun, tiba-tiba saja muncul sebuah gelombang energi yang cukup besar, dan menekan semua orang yang ada di dalam segel, sehingga membuat mereka semua tak mampu berkata-kata lagi akan siapa pemilik energi itu, karena tekanan energinya saja bisa sampai sejauh ini dan mampu menembus sebuah segelnya yang sangat kuat.


Di sisi lain, terlihat Dewa Wasa dan Maha Dewa Zura, sedang menatap lekat ke arah sebuah portal yang muncul di hadapan mereka.


Mereka terlihat tidak terpengaruh oleh tekanan energi itu, yang menandakan bahwa memang kekuatan Dewa Wasa sangatlah tinggi atau mungkin memang ada salah satu energi yang sama dalam tubuh Dewa Wasa.


Setelah itu, tak berselang lama pun ada sosok makhluk yang muncul dari portal itu yang membuat Dewa Wasa dan Maha Dewa Zura semakin menatap tajam.


Bahkan Dega dan Sona saja juga menunjukan sebuah tatapan membunuh.


Mereka berempat seperti memiliki sebuah dendam yang sama kepada sosok yang muncul dalam portal itu.


Sosok makhluk itu memiliki sebuah mata dan rambut yang berwarna kuning ke emasan, dan membawa sebuah kipas yang sama persis dengan milik Dewa Wasa, hanya saja bedanya warna kipas milik makhluk itu berwarna emas dengan corak hitam dan putih, sedangkan milik Dewa Wasa berwarna putih dengan corak emas saja.


Dia menggunakan sebuah jubah berwarna putih hingga munutupi penuh kakinya, di belakang jubah itu terdapat tulisan aksara aneh berwarna emas dan sebuah ikat pinggang yang juga memiliki warna emas.


Sehingga membuat jubah itu terlihat sangat mahal dan indah.


Wajahnya terlihat sangat tampan dan gagah, dengan mengenakan sebuah kalung emas berukir bintang di tengahnya.


Setelah menampakan diri sepenuhnya, sosok asing itu pun terlihat sedikit menyunggingkan setengah bibirnya, dengan tatapan yang tajam menatap ke arah Dewa Wasa dan yang lainnya.


Namun tak berselang lama, sosok itu pun akhirnya menghembuskan nafas panjang, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bahkan senyumannya yang aneh tadi kini berubah menjadi sebuah senyuman bodoh.


”Huuuhhhhhh… Hehehe..”

__ADS_1


”Hmm..Sialll.. mengapa harus mereka yang pertama kali ku lihat.” lanjut gumamya.


***


__ADS_2