
Kini Dewa Azar terlihat sangat kelelahan sekali dengan nafasnya yang terengah-engah, dan energi yang semakin lama semakin menipis.
Namun berbeda dengan Bangka, dia ternyata memiliki sebuah jurus yang mampu menghisap suatu energi dari lawannya jika bersentuhan dengannya.
Itulah yang membuat Dewa Azar dan kakaknya tidak mampu melawannya langsung, sehingga membuat mereka berdua harus berfikir dengan keras untuk mencari celah dari musuhnya.
Dewa Azar memang sosok Dewa yang sakti dan memiliki kekuatan tinggi, namun itu hanya di semesta wandasukma, sedangkan menurut pengetahuan, Semesta Wandasukma hanyalah salah satu semesta yang berada di alam raya tirta, dan untuk alam raya sendiri bahkan ada ribuan di luar sana, bahkan alam raya tirta sendiri hanyalah satu dari ribuan alam raya.
Bisa di bayangkan betapa besarnya dunia tanpa batas ini, Tak terkecuali untuk sebuah kekuatan, yang berarti masih ada tingkatan yang lebih tinggi lagi di luar sana, mungkin ada yang melebihi tingkatan Esa.
”Hahaha…ternyata generasi sekarang semakin lemah saja, bahkan aku tidak sampai mengeluarkan setengah dari kekuatanku itu sudah mampu membuat mereka hampir mati Fara.” teriak Bangka kepada Fara yang di iringi dengan sebuah tawa.
Dewa Azar yang mendengar itu pun akhirnya muak dan saat ini terlihat dirinya sedang memejamkan matanya dan bersamaan dengan itu dia membacakan sebuah mantra.
Setelah bibirnya berhenti untuk berucap, tiba-tiba saja tubuhnya kembali menyusut seperti semula, namun bersamaan dengan itu, keluar sebuah energi yang sangat besar, hingga menggetarkan dataran.
Bangka dan Fara pun yang melihat itu sedikit mengernyitkan dahinya, dan saat ini dirinya mulai merasakan adanya sebuah tekanan dari lawan, hingga membuatnya untuk membuka sedikit kekuatannya lagi.
“Sial.. jangan lakukan jurus terlarang itu adik bodoh, kau bisa mati sia-sia jika melawannya.” teriak Dewa Tunggal kepada adiknya, namun teriakannya mampu di dengar oleh Bangka yang membuatnya sedikit mengembangkan senyuman.
”Cihh.. ternyata itu adalah gerbang kegelapan terakhir..” gumam Bangka dalam hati.
”Kekuatan seperti itu saja di banggakan.” lanjutnya.
Dari sini kita dapat melihat, bahwa ternyata Dewa Azar yang di juluki sebagai Dewa terkuat di Semestanya pun tidak berarti apa-apa di depan Dewa Kuno itu.
Yang menandakan bahwa Dewa terdahulu adalah makhluk yang memang sangatlah kuat.
Namun meskipun begitu, ada sebuah kendala yang mana para Dewa terdahulu tidak bisa menjadi kekal dan abadi, dan jika ingin mendapatkan itu, mereka harus membuat sebuah ramuan obat yang mana dalam ramuan itu harus ada Bunga Semesta.
Sedangkan untuk Bunga Semesta sendiri pun akan muncul pada 10.000 tahun sekali dan hanya berjumlah 10 bunga saja, maka dari itu, bunga semesta menjadi incaran para Dewa yang tamak dan mencari sebuah keabadian.
Di sisi lain, kini Dewa Tunggal hanya mampu terduduk lemas melihat adiknya yang membuka segel terakhirnya, yang mana nanti nyawa menjadi gantinya, yang berarti setelah ini Dewa Azar akan mati jika energinya sudah habis.
Dewa Azar pun kini menjelma menjadi sosok makhluk dengan memiliki sebuah hidung panjang dan bola matanya yang tadi biru kini bercampur dengan warna merah, dan keningnya seperti timbul sebuah mata lagi seperti milik Arjuna.
Tubuhnya mengeluarkan sebuah aura berwarna ungu kehitaman yang sangat pekat dan kuat.
Kini tatapannya tajam ke arah Bangka, dengan tangan kosong, dia tiba-tiba saja menghilang dan muncul kembali di depan Bangka dengan sebuah sapuan tangan yang sudah terlapisi energi dari arah kiri ke kanan berniat untuk menebas leher Bangka.
Bangka yang mampu melihat pergerakan dari Dewa Azar dengan jelas pun kemudian menarik kepalanya kebelakang dan melompat mundur tanpa memberi sebuah balasan.
”Siall.. untung saja aku tidak memegangnya, ternyata dia bertukar jiwa, jika saja menyentuhnya langsung maka energiku yang akan terserap.” gumam Bangka dalam hati.
”Kekuatan yang unik.” gumam Fara dalam hati dengan sebuah senyum liciknya.
Fara hanya terlihat melayang berdiri di sisi lain untuk melihat pertarungan antara Dewa Azar dengan Bangka.
Tak berhenti di sana, Dewa Azar ternyata kembali menghilang dan muncul kembali di belakang Bangka, bersamaan dengan Bangka yang melompat kebelakang.
Sehingga membuatnya kali ini benar-benar terkena pukulan pada punggungnya, yang akhirnya membuatnya jatuh tersungkur ke depan.
”Siall.. baru saja lolos, cepat juga ternyata, baiklah jika seperti itu maumu, maka akan ku ladeni.” gumamnya dalam hati.
Setelah itu tanpa sepatah kata pun, Bangka kemudian bangkit lagi namun dengan sebuah tekanan yang lebih besar.
Memang tidak ada perubahan dalam fisiknya, namun itulah salah satu kelebihannya, yang mana dia mampu meningkatkan kekuatannya dengan waktu yang sangat singkat.
Dan setelah itu pun, akhirnya Bangka juga menghilang dari tempatnya yang kemudian di susul oleh Dewa Azar.
Hingga akhirnya pertarungan jarak dekat tingkat tinggi pun terjadi.
__ADS_1
Mereka berdua hanya terlihat seperti bayangan yang saling berlesatan kesana kemari.
Tak lupa juga Bangka selalu melapisi tubuhnya dengan energi Dewa Azar yang sempat dia ambil pada pertarungan sebelumnya.
Ada pepatah mengatakan, Jika Api Abadi tidak akan mati dengan air, melainkan akan mati jika di timpa dengan Api Abadi itu sendiri.
Bukk..
Bakk..
Brushh..
Brushh..
Wushh..
Hanya terdengar suara benturan antara tangan dan kaki di ketinggian.
Mereka berdua terlihat seimbang, ratusan pukulan dan tendangan sudah mereka lakukan hingga pada akhirnya mereka berdua saling menarik tubuhnya kebelakang dan memasang kuda-kuda untuk mengeluarkan sebuah jurus jarak jauh secara bersamaan.
~
”Jagatpurwa..!!” Teriak Dewa Azar.
”Cihh.. dia ternyata merepotkan juga.” gumam Bangka sebelum akhirnya juga meneriakan sebuah jurus.
”Wasesaraya.. Badai Jiwa.” Teriak Bangka yang di barengi dengan kedua tangannya diangkat ke atas.
Lalu setelah itu tiba-tiba muncul pusaran badai dari atas langit.
Awalnya badai itu terlihat kecil, tapi lama kelamaan badai itu menjadi sangat besar, dengan energi serap yang sangat tinggi yang di lapisi oleh ribuan petir merah menyeramkan.
Sedangkan di sisi Dewa Azar, dari atas kepalanya seperti muncul sebuah gumpalan bola berwarna hitam pekat yang perlahan lahan membesar dan meluncur cepat ke arah Bangka.
Namun efek dari jurus itu adalah, harus menggunakan energi dan kekuatan yang sangat besar juga, dan kini terlihat Dewa Azar sudah benar-benar kehabisan energi hingga membuatnya hampir terjatuh.
Dia hanya mampu berharap, semoga jurus yang terakhirnya mampu mengalahkan lawan.
Namun sayang, bola hitam itu ternyata bukanlah sesuatu yang sulit bagi jurus milik Bangka.
Yang mana , bola itu malah tiba-tiba saja menghilang setelah bertabrakan dengan jurus milik Bangka.
Bahkan jurus milik Bangka kini malah tambah semakin membesar dengan cepat setelah melahap bola hitam milik Dewa Azar.
”Hah-hah-haahhh.. sial.! apa ini sungguh akhir dari hidupku dan semesta ini, selalu jaga putriku Wasa.” gumamnya meracau dalam hati dengan nafas yang terengah-engah, dan tatapan mata yang sangat layu.
Setelah itu dirinya pun hanya pasrah melihat jurus milik lawan sudah hampir mencapai pada dirinya.
Hingga pada akhirnya..
Bruushhh..!!!!!
Jurus milik Bangka pun mengenai Dewa Azar dan mencoba untuk melahapnya, hingga membuat Bangka yang melihat itu pun tertawa bahagia.
”Hahahahha.. cecunguk seperti kalian saja ingin melawanku.” teriaknya yang di ikuti dengan sebuah tawa menyombongkan diri.
Namun beberapa detik setelah dia tertawa terbahak-bahak, kini dirinya terlihat langsung terdiam dengan tatapan mata yang menunjukan seperti orang yang sangat ketakutan.
Bahkan jurus miliknya pun saat ini tiba-tiba sudah benar-benar lenyap begitu saja dan menunjukkan Dewa Azar yang masih berdiri menatapnya, yang kemudian dia akhirnya terjatuh kebawah karena sudah tidak bisa menahan tubuhnya yang terluka sangat parah.
”Terimakasih Dewa Agung.” gumamnya lirih sebelum akhirnya dia terjatuh ke bawah.
__ADS_1
Dewa Tunggal yang melihat adiknya terjatuh pun hanya mampu menangis lirih dan menatapnya.
Dia sebenarnya ingin menolongnya, tapi saat ini dirinya untuk bangkit pun sudah tidak bisa.
Namun setelah itu dia malah sedikit memunculkan senyum di bibirnya, karena melihat adiknya ternyata di tangkap oleh Gama, dan membawanya di sisi Dewa Tunggal.
”Mohon maaf Yang Mulia, jika hamba terlambat.” ungkap Gama kepada Dewa Tunggal sembari membaringkan tubuh sahabatnya di samping Dewa Tunggal.
”Terimakasih Gama.” jawabnya lirih sambil memunculkan sebuah senyuman.
Setelah itu tatapannya pun kembali menuju ke atas di tempat Dewa Azar tadi berada, dan ternyata disana sudah terdapat sosok makhluk dengan tubuh gagah yang menggunakan mahkota sedang berdiri dengan tenang menatap Bangka bersama seekor beruang kecil lucu di genggaman tangan kananya yang sedang meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri.
”Lepaskan aku sialan, dasar Dewa brengsek, kau bisa membunuhku jika seperti ini.. uhuukkk..!!” teriak beruang itu dengan suaranya yang sangat lucu dan menggemaskan.
Sedangkan di sisi lain, Dewa Tunggal kini menatapnya dengan wajah yang sangat bahagia, karena ternyata dirinya mendapatkan sebuah bantuan.
”Siapakah dia Gama.? mengapa diriku tidak mampu merasakan kehadirannya.?“ tanya Dewa Tunggal penasaran.
“Apakah dia adalah teman dari Rama .?” lanjut tanya Dewa Tunggal dengan rasa penasaran yang tinggi.
Mendengar pertanyaan seperti itu, lantas Gama langsung menjawabnya dan menjelaskannya secara singkat.
”Aku juga tidak tahu Dewa itu datang dari mana, namun aku sempat berkenalan dengannya,.” jawab Gama.
”Dia adalah Maha Dewa Zura, dan beruang itu namanya Dega.” lanjutnya sambil menatap ke atas.
Dewa Tunggal yang melihat itu pun sangat terkejut, karena dia tahu sedikit tentang sosok sakti itu melalui sebuah cerita di dalam buku leluhurnya.
”Ternyata Dewa itu sungguh benar adanya.” gumamnya lirih, tapi mampu di dengar oleh Gama, sehingga membuatnya sedikit mengernyitkan dahinya.
Di sisi Bangka, dia sangat terkejut dan tubuhnya kini terlihat seperti sedang menahan ketakutan dengan tatapan yang kosong.
Namun dia di sadarkan oleh Fara yang menyusulnya dan sekarang berada di sampingnya.
”Sekarang bagaimana Bangka.? aku sungguh tidak menyangka makhluk itu datang di tempat sekecil ini.” tanya Fara lirih yang kemudian hanya di jawab oleh Bangka dengan gelengan kepalanya saja.
“Baiklah, kita melarikan diri saja.“ lanjut Fara yang di ikuti dengan membuat portal di belakangnya.
Namun sayang, portal itu tiba-tiba saja menghilang dan tubuh mereka berdua tidak mampu di gerakkan sama sekali, bahkan untuk berucap saja mereka sudah tidak bisa, sehingga membuat mereka berdua sangat ketakutan.
Apalagi saat ini mereka mendengarkan suara tawa dari sosok makhluk yang ada di depannya itu, yang membuat mereka berdua akhirnya harus pasrah tanpa bisa melakukan sebuah perlawanan.
”Hahaha.. Ku kira Dewa kuno siapa yang membuat kekacauan di sini, ternyata hanya sebatas prajurit saja..Cihh, terlalu jumawa.” Ungkapnya dengan di iringi sebuah tawa.
”Woee, beruang busuk, aku akan melepasmu, tapi lenyapkan mereka berdua dan segera segel jiwanya di ruang dimensi milik pusakaku.” ungkapnya lirih kepada Dega.
"Iya..iyaa..iyaa dasar Dewa menyebalkan." Jawab Dega dengan wajah yang menurut.
Setelah itu, dia pun melepaskan beruang itu, yang kemudian langsung berubah wujud menjadi beruang yang sangat menyeramkan.
Sedangkan untuk Bangka dan Fara, mereka sangat benar-benar ketakutan saat melihat Dega yang sudah merubah bentuknya.
Beruang itu seperti sebuah momok sendiri untuk mereka berdua.
Entah seberapa tinggi pangkat dan kekuatan Maha Dewa Zura beserta Dega, sehingga mampu membuat sosok Bangka dan Fara yang memiliki kekuatan lebih tinggi dari Dewa Azar benar-benar sangat ketakutan.
Setelah tubuhnya berubah menjadi sosok besar dan menyeramkan, tanpa menunggu lama, beruang itu langsung melesat ke arah Bangka dan Fara.
Namun sebelum beruang itu sampai, ternyata dia tiba-tiba berhenti, dan menggerakan sedikit tangan kanannya.
Gerakan itu malah membuat Maha Dewa Zura menepuk keningnya, karena melihat kebiasaan bodoh dari sahabatnya itu.
__ADS_1
“Sungguh sial nasib mereka berdua.” gumam Maha Dewa Zura lirih.
***